Hari ini aku menangis sejadi-jadinya. Hampir dua minggu ku jalani hari dengan tatapan kosong yang kuanggap sebagian jalan yang 'seharusnya' kutempuh ke depan. Aku bukan menyerah. Membuka toko dan usaha online memang tak pernah terngiang sebelumnya. Justru malas. Tetapi entah hati tergerak, tetapi pengorbanan waktu yang sia-sia sungguh buatku bertanya.
"Apa yang sedang kulakukan sekarang?"
"Apa memang harus menjalani proses itu dulu?"
Dan mulai bermunculan kenangan-kenangan bias menyakitkan.
Atau memang keegoisanku yang begitu memabukkan dan membutakan langkahku.
"Apa memang begini yang namanya mencintai?"
"Apa memang begini seharusnya menjalani hidup?"
Bertahun-tahun aku menanyakan hal yang sempat kupikir ada di depan mataku.
namun, sepertinya otakku tanpa sadar mengungkapkan segala kenyataan yang tertutup awan kelam. Aku tahu, jika kau memabaca ini, akan banyak tanda tanya.
"Apa yang sedang dibicarakannya?"
"Bualan omog kosong lagi."
Iya, untuk orang yang hanya membaca, sebagian besar dia hanya mendapatkan rasa saat dia tenggelam dalam keadaan alur yang membius atau keadaan dia merasakan hal yang sama dengan apa yang ditulis. Tetapi untukku, aku mulai mempertanyakan lagi alasan aku hidup? Alasan mengapa semua orang menuntut untuk kuterus berusaha dengan hidup yang seakan tak menginginkanku. Atau hanya sekedar keadaan dimana sebagian hampa terasa begitu sesak dengan segala cacian yang seharusnya tak perlu kau dengar dari orang yang paling kau cinta. Atau setidaknya kau pun menganggapnya ia juga mencintaimu apa adanya. Atau mungkin (hanya kemungkinan yang kusadari hanya sebagai self-defense-ku untuk tidak merasa terluka lebih jauh lagi) hanyalah hati yang terlalu sensitif. Atau mungkin saja.... (lagi) baru pertama kalinya seseorang yang kau cintai di depan matamu dengan sadaratau tidak membicarakan kekecewaannya terhadapmu tetapi tidak denganmu.
Ku coba berkali-kali untuk mengerti dan menempatkan diriku di tempatnya. Mencoba berkali-kali mengatakan "mungkin, jika aku di tempatnya aku juga akan berpikir sama."; "mungkin jika memang aku di sana aku akan ....... (aku kehabisan kata-kata)". Mungkin memang itu yang harusnya dipikirkan olehnya tentangku.
Jika yang berpikir orang lain mungkin tidak akan sesakit ini. Tidak akan membuatku merasa pengecut dan tak seberguna ini. Dan mungkin aku tidak akan pernah tersinggung sedikit pun karena, orang yang kucinta itu adalah sandaranku yang seharusnya. Tetapi nyatanya, semua hanya seakan peduli bodoh dengan apa yang kulakukan.
Ini salahku?
Aku ingin memperbaiki salahku. Namun, bagaimana jika ternyata kesakitan yang kurasa ini begitu menyakitkan. Seharusnya aku yang pergi menemui seseorang untuk menyembuhkan kesakitanku jika kau menginjinkan. Tapi dalam benakmu, jika aku ke sana. Aku tak ubahnya aib besarmu (seperti sekarang) yang akan kau ingat selalu, bahwa aku hanyalah aib.
Seandainya waktu bisa terulang, jujur aku ingin mengulang satu tahun yang lalu. Kemudian, ku perbaiki kesalahanku dan membuatmu tak perlu merasa kecewa tentangku.
Tapi waktu bukanlah hal yang bisa terulang. Aku sadar betul. Berkali-kali akal sehatku mengatakan harus maju, dan yang kumakan mentah-mentah hingga kepalaku rasanya akan pecah hanya sesak dengan tatapan yang enggan menatap, seakan aku kotoran yang tak tahu malu.
Aku hanya orang yang tak berguna, hanya tinggal begini saja tak bisa. Yah, igin sekali rasanya aku memukul dan menyadarkan diriku! Aku bodoh, dan aku harusnya bisa melakukan semua yang kumulai. Namun, sakit ini. Sungguh mengoyak hati. Aku tahu aku sakit. Dan aku akan menjadi aibmu jika kuungkap. Tetapi aku, aku ingin kau merasa cukup dengan memiliki kita. Hidup untuk kita. Dan ajarkanku apa itu ketulusan agar aku tak merasa kesepian lagi.
Bisakah?