Rabu, 30 Juni 2021

terulang lagi

Postingan yang begitu banyak sebelumnya adalah postingan yang sudah terpoating namun kudraft karena banyak kalimat erotis menurutku. Yang entah kenapa, menjadi suatu tanda tanya jika seseorang membacanya. Tetapi kuposting ulang. Karena, peduli apa dengan pendapat mereka tentang perasaanku.
Yah, aku begitu egois tentang perasaan. Dapat kutahan dan juga kulepas semaunya. Hingga lupa cara mengontrol yang semestinya.

Namun, saat ini. Aku mulai merasakan kelelahan lagi tentang rasa. Yang harusnya indah membiru. Berubah menjadi kelabu. Seharusnya memang tidak perlu kudramatisir begitu. Karena semua semu menjadi satu ketika diri ini memilih untuk denganmu.

Yang merasa pernah menjadi segala untuk seseorang, yang entah memang harusnya itulah yang perlu kita bicarakan tentang diri kita.

Selasa, 29 Juni 2021

Pernah

Aku pernah mencintaimu.
Menganggapmu rumah.
Menyerahkan segalanya.
Bahkan berani bermimpi setelah seputus asanya aku bermimpi.
Tetapi logika ini memilih pergi.
Dan kau dengan bajingannya pergi seolah aku yang bersalah.
Menghilang seakan kau memiliki segalanya.

Lupakan...
Itu sudah tidak penting.

Lelaki lainnya...
Aku bersamanya sewindu.
Berkali-kali dia mengkhianati pun tetap kubukakan pintu sembari menunggu ia memelukku sambil menangis.
Alih-alih ia menyesal karena mendua hingga memadu dengan yang lainnya.

Aku tau aku yang terlalu bodoh.

Hingga semua yang kutunggu hanya sekedar penantian.
Seperti menunggu kematian.

Aku hanya ingin sejenak berdua

Bertemu denganmu pernah sejenak terlintas di pikiranku. 
Namun tak pernah secanggung itu. 
Ingin memelukmu tapi tak bisa.
Mendekap hangat tubuhmu rasanya kau menjauh. 
Apa karena kita tak mengakhiri dengan benar?
Perasaanku menjadi secarik kertas yang teremas.
Diam. Rindu. 
Rindu. 

notes

Sorry kalau tulisannya agak kacau.  Tiba-tiba ngerasa semua yang ada di hari ini g bener. Berkali-kali di kepala cuma ada peristiwa-peristiwa yang harusnya udah lama gue lupain. Harusnya semuanya g tiba-tiba hadir kaya gini. Harusnya semua g kaya gini. Dada rasanya nyeri. Pengen semuanya udah cukup. Gue pengen tidur. Tapi g bisa. Semuanya salah di mata gue. Kenapa lagi ini? Harusnya gue yang lebih tau penyebab diri gue kenapa. Harusnya.... Harusnya.... Harusnya.... Air mata ini g bisa berhenti. Ada apa? Kenapa tiba-tiba? Sekali lagi gue cancel semua yang udah direncanain. Gue kecewain lagi. Gue bener-bener ulung buat ngehindar. Gue bener-bener sakti buat alasan. Gue pinter banget buat sembunyi. Dasar pengecut! Gue pengen sudahi. Sungguh.... Tanpa ngerasa gini lagi. Sungguh.

terlewat

Seharian kemarin ternyata nggak sempet nulis sama sekali.
Tidur lebih awal. Dan yah, tidur terus dari kemarin. Sakit kepala yang sangat nggak nahan sebenernya. Tapi gue males minum obat.

Minggu, 27 Juni 2021

Novemberku

Sepertinya melodi suaramu terukir jelas di otakku.
Menjadi lullaby dalam lelapku.
Memelukkan senja pada untaian hangatku.
Dan sejukku yang menjadi lembutmu.

Menetes setitik demi setitik.
Bahkan seperti bahagia yang melebur.
Menatap segala rasa.
Aku tau engkau akan menjadi bahagia dan sedihku.

Tak ingin naif jika bersamamu tidak akan terus tersenyum.
Mili masa akan terus memaksa kita dengan kisah terburuknya.
Seperti maut yang siap di depan untuk selalu menunggu.

Aku mencintaimu dengan caraku.
Kau mencintaiku dengan caramu.
Namun memilihmu untuk menjadi tidurku....
Rasanya selalu menjadi bagian paling menyenangkan dalam keseharianku.
Mengukir namamu.
Menjemput cintamu.
Bermanja denganmu.
Menciumi bibirmu.
Memeluk erat pinggulmu.
Bermesraan dengan deru nafasmu.
Menatap lekat wajahmu.
Menggenggam jemari-jemarimu.
Bergandengan tangan dengan banggaku.
Mencium aroma tubuhmu.
Mendengar detak jantungmu.
Merasakan segala rasa dalam emosimu.

Aku tak pandai membacamu.
Bahkan ketika aku menangis ingin rasanya kau menjadi persinggahan sebelum lelapku.
Aku tak pandai melipur laramu.
Bahkan ketika sendu itu datang, aku hanya mampu menahan isak dan tangis agar kau tak tahu aku menangis untukmu.

Merindumu merajamku.
Ingin rasanya segera esok hari dan berlari ke arahmu.
Ingin rasanya dalam dunia hanya ada kita berdua.
Dalam lamunan kisahnya.
Dalam balutan kemesraannya.

Agar yang kau lihat hanya aku.
Memeluk senja.
Merindunya.
Biar aku saja yang terluka.
Bukan kamu.

Peluk

Aku tak pernah mampu melepaskan... 
Apalagi bertemu denganmu meski tak setiap hari seperti dulu. 
Lagu-lagu yang belum pernah kudengar saja bisa membuatku memikirkanmu lagi. 
Berangan memeluk lagi dirimu.
Yang saat itu memilih sibuk dengan gadgetmu. 
Aku menangis sesenggukan. 
Kujawab dengan suara yang kukuatkan.
Agar tak pecah, biar air mataku jatuh dalam baju yang kau pakai. 
Kita berpelukan.
Ah, bukan.....
Aku yang memelukmu terlalu erat.
Dan kau hanya mengelus manja rambutku yang kau suka harumnya.
Tak ingin lepaskan. 
Seperti esok tak ada waktu lagi untuk kita. 

Kadang aku membenci diriku yang begitu mengedepankan realita. 
Harus menjalankan logika sebagaimana mestinya. 
Aku merindukan diriku yang tak peduli.
Dikatakan bodoh karena benar-benar jatuh dan mencinta. 
Meluapkan segala asa dengan bertahan sekuatnya. 

Peluk ini....

Aku akan banyak bertanya tentangku

Denganmu.
Apa saja bisa menjadi indah.
Denganmu.
Akan aku tanyakan segala tentangku di matamu.
Agar aku tetap bisa mendampingimu.
Atau mungkin kau akan menegurku dengan cara memeluk dan menciumku.
Aku suka segala caramu memperlakukanku.
Semua yang kau hadirkan dalam hidupku.

Aku sempat bertanya dalam hati.
Kutatap lekat wajahmu.
Dari dahimu...
Alismu...
Kelopak matamu...
Lentiknya bulu matamu...
Hidungmu...
Bibirmu...
Semua tentangmu....
Apa memang aku mencintainya?
Apa memang aku sudah menggilainya?

Dapatkah ia menerima segala cintaku?
Apakah ia akan bosan?
Apakah ia akan menerima segala kekuranganku?
Dan bahkan bisa menerima segala kelebihanku?
Aku sendiri terlalu takut untuk memilikinya...
Takut rasaku semakin besar dan takut untuk berpisah dengannya.

Jika ini disebut ku menuhankannya...
Maut rasanya ingin kubuntu agar tak bertemu dengannya.
Sampai nafasku terhenti.
Bisakah ku selalu di sampingmu?

ada ada saja cowok jaman sekarang

kali ini postingan tentang yang benar-benar ada-ada saja.
ingin rasanya gue berkata kotor dan kasar untuk para lelaki yang sejatinya tidak bisa membedakan mana cinta dan pengungkapan sayang serta kekhilafan yang membuat para lelaki sungguh tak termaafkan.

semuanya memang tidak dalam satu waktu terjadi, tetapi cukup membuat sakit kepala ketika ada di depan mata. ini cuma sebagian kecil yang gue alami.

pertama, gue janjian sama temen gue. iya cuma temen, kita janjian nongkrong sama nonton. gue emang orangnya karet, tapi selalu dateng pas banget, jadi bukan tipe orang yang nunggu dari jauh-jauh waktu yang dijanjiin, beda hal lagi kalo gue udah urusan sama kerjaan dan juga mungkin buat orang yang spesial. karena gue cukup ogah-ogahan orangnya, kalau g sesuai sama keadaan gue saat itu. atau bisa dibilang g menarik menurut gue. tapi ini temen gue, ampun.... dia yang janjian, dia yang telat, dia yang g bawa kendaraan, dia yang cuma bayarin makan, gue bukannya g berterima kasih karena udah dibayarin makan dan nonton, toh duitnya g seberapa, ceban doang. terus penampilan, wah, gue tipe yang minimal sebelelnya gue pake baju, kaos oblong sama celana trainin, ya seenggaknya yang sopan. kaya menghargai diri kita sendiri gitu lho. loe ogah-ogahan mandi, dandan, mau pake daster keluar juga gak papa. asal sopan, dan nunjukin diri loe bukan orang yang patut dicibir. apalagi gue abis ngajar, yang pasti pake kemeja, yah emang gak rapih-rapih banget. tapi seenggaknya kalau loe tau gue baru pulang kerja buat nyempetin nongki sama lu, yah.... agak jadi risih aja gue sendiri. gue sih gamau ngelukain harga diri lelaki yah, mau loe keluar sama cewe cuma pake kolor, gpp. tapi minimal loe tau sikon. bukan buat nonton lu pake baju yang cocoknya buat tidur, malah lebih sopan lu pake piyama. gue g ngejauhin temen gue juga, tapi cukup ngebuat mood gue agak down. buat lu cowo-cowo, minimal penampilan rapih dan wangi kalau diri lu mau dihormati sama cewe. love your self. siapa lagi kalau bukan diri lu sendiri.

terus ini ada lagi, yah, lu kalau punya cewek, minimal kalau emang lu juga deket sama cewek lain, itu yah mbok ojo ketoro nemen-nemen. aku seng koncomu isin. eh, eh, jadi basa jawa gue. jadi gini, ada satu temen gue, yang lumayan deket lah, mulai dari kesukaan kita lumayan ada beberapa yang sama, makannya gue betah temenan sama dia. cuma pas dia ngejamu cewek nih, ya ampun, ternyata cukup playboy. gue nanya, kok lu dulu bisa jadian sama cewe lu? karena dia penurut. jadi gue bisa kemana-mana dan g terlalu ngurusin urusan gue. hah? gue jadi bertanya-tanya. apalagi ini cewenya mau dijadiin istri. lu g butuh temen buat berbagi apa? secara kan mau lu jadiin istri. kan ada lu, sharing-sharing sama lu. hahahaha. gue cuma bisa ketawa, iya kalau ntar gue dapet suami yang ngebolehin lu bisa ngonrol sesuka gue kaya sekarang. jadi sebenernya temn-teman lelaki ini maunya begimana? apa menikah haya sekedar mencari wanita penurut, tanpa aling-aling berkomunikasi yang berkualitas?

terus cerita baru, dan yang ngalamin udah buanyak banget. mereka memilih jalan yg bukan saling menjalin rasa, namun imaji semu manipulatif dengan hal yang gue g paham apa yang mereka lakukan. dan saat ini 27 Juni 2021, dan gue pertama kali menuliskan catatan ini tahun 2017/2018, pengubahan kalimat untuk lebih metafora ingin kumunculkan lagi pada diriku yang kelelahan.

aku merindukan diriku yang dulu. pertanyaannya? diriku yang dulu yang bagaimana?

Ini...... Rindukah?

Tahukah kau waktu kuta tidak sebentar?
Kau memelukku dengan caramu.
Dan hanya kau yang mampu buatku terus terngiang.

Aku bukan pencinta yang punya banyak ambisi untuk memilikimu.
Memandangmu yang begitu kelelahan buatku cukup lelah.
Inginku mengusap kepalamu dan menyandarkan di pundakku.
Inginku menghapus keringatmu dan membuatkan teh hangat untuk mengurangi stresmu.

Bisakah kau menyadari sewindu ini telah mengukir namamu dan tak ada yang bisa mengganti?
Benar, kuhapus nomormu.
Benar, kuhapus semua foto kita.
Benar, kurobek dan buang segala kenangan saat kita bersama.

Tapi nyatanya aku tetap berharap.
Berharap tak bertemu lagi.
Biarlah jadi angan-angan rindu yang selingkuh.
Jika kita bertemu....
Entah akan berapa lama aku akan memelukmu.
Melumat bibirmu.
Mengecek keningmu.
Dan menggenggam erat jemarimu agar tidak pergi.

Aku tak peduli dengan segala urusanmu.
Biarlah aku jadi pelepas lelahmu.
Tapi ini hanya anganku.
Kau tak lagi di dekatku.
Hanya ada dalam khayalku.

Bualan hina ini tak pernah kutunjukkan untuk yang lain.
Tetap sama yang menggemgamku erat hanya engkau.
Dan aku juga yang melepasmu trga tak menoleh untuk pergi.
Kita tak bisa bersama.

Malaikat itu membutuhkanmu.
Malaikat itu mencintaimu.
Malaikat itu seutuhnya bagian hidupmu.
Kupilih untuk pergi.
Aku tak akan menelan lagi ludah yang kubuang.
Bahagialah dengan pilihanmu.
Aku akan turut bahagia dalam lantunan rinduku.

Menulis lagi...

Setelah sekian lama,akhirnya aku bisa menata kembali rasa. Memutuskan untuk menulis lagi. Dengan harapan apa yang kutulis bisa mengingatkan lagi dan mengurangi rasa yang tak perlu kudramatisi. Badan cukup sakit semua. Mungkin efek vaksin masih terasa. 

mulai sekarang kutulis semuanya

Ingin rasanya memelukmu untuk yang terakhir. Mungkin dengan itu, obsesiku padamu berakhir. Ingin rasanya aku menggenggam erat jemarinu yang lentik. Mungkin dengan itu, anganku dulu bergandengan tangan denganmu sudah menjadi nyata tanpa perlu kuterluka.

Aku merasa jantungku berdegup terlalu kencang, hingga cukup menyesakkan.
Membuat banyangan dan angan gila.
Bukan....
Menciummu hanya akan membuat candu. Dan aku hanya ingin. Entah bagaimana aku meminta tolong padamu. Mimpiku mengalahkan alam bawah sadarku, bahwa aku tak perlu membutuhkanmu agar bisa hidup.

Dan aku tak perlu merasa kau berharga agar rasa yang muncul tak perlu bergejolak dan membuatku terluka.
Alismu yang tegas. Matamu yang tajam. Bulu matamu yang melengkung. Bibirmu yang tak merah. Aku mengganbarkan diriku seakan melihat tangkapan segar akan imaji liarku.

Tak bisakah kita melakukannya sekali saja? Agar aku tau, apa memang perasaan ini nyata atau hanya buatanku saja? 

ternyata aku terlambat menulis hari ini 26 Juni yang telat 2 jam

Ku habiskan waktu untuk mulai terbiasa.
Tetapi semua kelelahan.
Harusnya kubisa lewati.
Entah apa yang sedang kuketikkan ini.
Kau mulai membalas pesanku yang kukirim setiap hari.
Awalnya ku tak ingin menuliskanmu seditik pun. Seperti yg lalu, kuhapus semua jejaknya.
Semua inigurasiku.
Semua kenanganku.
Namun terpatri beku.

Sakit kepala yang kurasakan harusnya tidak ada, kan?
Aku ingin mencintaimu apa adanya.
Tak peduli dengan sekitar dan moral.
Tapi semua malah hanya menjadi buntuku.
Ku golakkan gejolakku sendiri.
Hingga kelelahan. 

Jumat, 25 Juni 2021

awal - do'aku agar aku rutin menuliskan dan kubuat terapiku sendiri. perjalanan awalku dimulai hari ini.

Episode ini datang lagi, hingga membuat semua yang sudah kurencanakan, buyar.
Aku menangis sesenggukan sendirian, dan tak bisa berhenti. Tidak lama. Tapi aku tidak bisa menghentikan tangisanku yang seperti kehilangan orang tersayang. Yang mungkin kali ini adalah diriku.

Aku seperti sudah tau jawabannya. Hanya aku tak bisa melangkah semakin jauh. Aku terperangkap. Sesak sendirian.

Jika bersamanya salah satu pencetus episode ini muncul. Apakah artinya aku harus pergi meninggalkannya? Ketika bersamanya aku kembali merasa seperti manusia.