Kamis, 31 Maret 2016

Malam ini saja

Bersemayam dalam dada. Semua kebisuan yang memandangku hampa. Bukan lagi tentang cinta. Rasa yang kini entah apa aku rasa dengan cara pandang yang seperti apa. Kemarin seperti pelepuh. Melihat awan begitu abu-abu. Kelabu yang begitu menyesakkan hingga air mata tak hentinya memelukku sambil menulis 'namamu'.

Pintu terketuk. Sejenak kuhentikan tangisku bersama fantasi dan kenangan. Masuk bidadari khayalanku. Membelai rambutku dan mengelus semua lelahku. Detik berlalu, dan mata ini tetap tak mau terpejam. Padahal malam ini, tak satupun kafein masuk dalam tubuhku. Bahkan, dari teh setetes saja. Beruntung ditemani dentingan lagu yang ku pilih. MLTR - that's why yo go away. Bukan meratapi dengan lagu sendu. Tapi nada-nadanya begitu sempurna. Bahkan instrumen 'romance' yang selalu mengingatkanku dengan Barcelona menjadi teman lelapku. Malam ini saja.... Ingin rasanya aku menangis dan kau memelukku tenang seperti dulu. Hanya untuk mencoba tidurkanku. Sejenak terlupa dari beban. Bahkan, hanya untuk mencoba bernafas aku mulai merasa dada ini begitu sempit. Bahkan kerongkongan seperti pelan-pelan tersendat menghalangi oksigen masuk ke paru-paruku. Andai niat ini jebol. Mungkin kaki ini sudah melangkah berjalan ke supermarket dan membeli sebungkus tembakau kecil kesukaanku dulu. Bahkan, hanya membeli sekaleng bir seperti dulu, niat ini seperti membelenggu pelan-pelan. Hanya memandang kosong langit-langit kamar yang berwarna kuning cerah. Cukup untuk menambah semangat ketika mata mulai terbuka setiap paginya. Bahkan 'dream chatcer' yang terpasang di jendela tak cukup membuat tidur terlelap dengan mimpi yang sekedar indah. Dingin mulai merasuki. Kacamataku mulai berembun. "Yaah.. Aku ingin bertemu denganmu". Rasanya tanpa sadar kuucapkan dalam bahasa Korea. Pikiran seperti meminta-minta, andai nikotin ada di tangan, mungkin tak seberat ini. Namun, hanya andai. Pilu tentang pedih yang sendu, bahkan kubiarkan seakan terlupa dan berlindung di pintu yang terketuk. Nyatanya semua hanya dalam khayalku untuk puaskan hasratku yang ingin pergi.

Tak ada pintu terketuk. Hanya angin yang mulai membukanya tanpa bisa permisi lebih sopan. Tulisan-tulisan di dinding yang berisi semangat sepertinya juga tak bermakna dan bisu dengan sewajarnya kata. Membiru, delusi-delusi berkeliaran dan mulai berhalusinasi lagi dengan mimpi. Malam ini saja, cukup kuhabiskan waktuku dengan begini. Berjalan saja, dan mereka akan tetap memandangku sama. Dandelion kecil, dengan sejuta keangkuhannya. Cuma bisa tertawa. Diam. Dan sadar bahwa pintu mulai terkunci lagi. Tanpa perlu ahlinya. Tanpa butuh anak kuncinya. Tanpa peduli lagi, rasa yang sempat membuat bahagia.

Rabu, 30 Maret 2016

Lagi?

Sudah berapa lama aku mendekam diam?
Bahkan, badai datang tak ku hiraukan.
Apa sekarang memang sedang ingin?
Ah, aku tak tau.


Memandang langit yang tak sama. Begitu abu-abu. Bukan aku tak suka. Hanya saja, langit seperti tau apa isi hatiku. Putih dan biru bukankah lebih indah? Bahkan senja begitu pudar. Merindukan diriku yang bisa berlari juga tidak pernah sesulit ini. Apakah memeluk bulan selalu penuh dengan jalan yang begitu rumit begini?
Sudah kubuka mata, tapi rasanya masih tetap ingin menatap lebih bebas. Memandang luasnya langit yang kuanggap laut. Dan burung-burung yang terbang bebas itu ikan. Indahnya....
Jangan bilang kalau saat ini, lebih omong kosong dari biasanya. Bahkan, aku tak merencanakan semua, tapi sakit ini begitu saja hadir menikam berkali-kali. Apa perasaan ini selalu saja benar? Ingin kumaki saja diriku sendiri. Bahkan menjadikan diriku berkeping-keping begini.
Yah, mungkin aku sudah gila. Begitu gilanya, bahkan saat aku tau. Semua ini tidak bisa hanya jadi kesalahanku. Terlalu baik? Aku bahkan tak tau mana orang baik dan tidak. Buatku, sama saja...

Aku ingin pulang. Entah pulang kemana pun aku rela. Dengan siapapun yang memelukku setelah tau kekuranganku, aku akan terus di sampingnya. Terlalu mustahil, ya? Rasanya seakan matahari tau betapa bodohnya aku mematikan diri perlahan. Pilunya, mereka pun tertawa. Seakan tertawa, tanpa kusadari, tanpa kumengerti, seakan dosaku dan aku adalah yang paling hina.

Apa mengenalnya juga bagian dari cerita? Apa bertemu tak sengaja juga bagian dari rasa yang harusnya terimpan di pandora? Aku ingin lepaskan semua. Bukan untuk lari. Tapi memulai lembar baru. Tanpa membuang lembar usang yang sedikit terbakar, cukup menutupnya. Agar tak menghantui seperti hari ini. Seakan dosaku ini begitu brutal untuk aku, yang wanita ini.