Minggu, 28 Oktober 2018

Rumah

Menganggapmu rumah tak pernah ada dalam daftarku.
Karena persinggahan yang mampu kuhindari sekian lama adalah rumah.
Tak pernah membayangkan sedikitpun juga bahwa memilikimu adalah candu.
Dengan segala tentangmu mampu buatku menjadi pengagummu.

Aku tak pernah terpikir Tuhan memberi yang ingin kumiliki.
Rumahku yang kuimpikan.
Bahkan belaian yang selalu kedambakan.
Nyatanya memang cerminku adalah kamu.

Aku mencintaimu.
Menggilaimu.
Dengan waktu sesingkat ini.
Sungguh buatku berpikir lagi.
Apa kita telah mencinta sebelumnya?

Senin, 22 Oktober 2018

Kamu

Denganmu mulai lagi kutata hati.
Semua yang terbaik untuk kita rela kau berikan untukku.
Aku mahfum saja.
Memilikimu seutuhnya tak pernah terlintas di benakku.
Menjadikan namamu bersanding denganku pun tak pernah.
Bahkan memikirkan dirimu yang selalu ada untuk menjadi pelabuhan terakhirku pun tidak.

Tuhan tak pernah berbagi rahasia ini.
Datang dalam mimpi pun tidak.
Jika kugenggam tanganmu lebih awal, dan memelukmu dengan erat.
Apakah akan berbeda jalannya?

Minggu, 21 Oktober 2018

Harusnya tak perlu dicari

Melewati reruntuhan memang tak seharusnya diiringi dengan harapan untuk tetap hidup.
Hanya bertahan agar nafas tidak terhenti saja harusnya sudah cukup.
Tapi yang kulakukan justru sebaliknya.
Harapan yang ingin terus selamat.
Dan angan-angan lainnya jika nanti berhasil melewati reruntuhan.

Dia menggenggam tanganku pada awalnya.
Dengan segala rasa yang ada.
Tak lebih dari ingin menjaga.
Pemakluman dengan segala atributnya dalam hubungan persahabata.
Rasa itu teramini dengan segala rsa yang tak pernah berubah.
Atau lebih tepatnya, menikmati dengan tembok yang tak sengaja terbangun lebih kokoh untuk bahagianya masing-masing.

Aku masih ragu untuk menyatakan kau takdirku.
Dengan segala rasa sakit reruntuhan.
Aku lebih memilih melihatmu untuk bisa menjadi milikku seutuhnya.
Sekarang.....
Kau belum menjadi milikku.
Sedangkan ku?
Entah apakah memang sudah kuberikan hatiku??

Kututup semua hati.
Berjalan menjauhi segala labuh dalam kerinduan diri.
Mereka yang sempat menyapa....
Kuberi senyum saja, sambil dalam genggamanku ku peluk jemarimu erat.

Cukup erat.
Dan kaupun juga.
Satu hal yang sama-sama tak bisa kita toleransi hanya satu.
Membuka dan memberi hati pada orang lain selain aku dan kamu.
Kesepakatan yang sebelumnya hanya menjadi saksi bisu ceritaku yang mengajarkan ketulusan dan keikhlasan.
Atau dengan kata lainnya, kebohongan yang seribu kali terjadi dan membuatku menahan tangis untuk selalu menerima.

Kita seakan berjanji untuk menghabiskan sisa hidup bersama.
Memelukku erat dengan cara yang buat agar aku dan kau menjadi rasa.
Meleburkan curiga dengan saling percaya.
Menanam kasih yang tak akan pernah terpisah.

Jika semua tanpa jalan Tuhan.
Harusnya denganmu tak perlu mencari.
Atau bahkan rasa ini tak pernah ada.
Jika semua tanpa jalan Tuhan.
Harusnya denganmu tak perlu mencari.
Kita bisa saling menjaga dan memeluk untuk saling menghabiskan rasa.

Jumat, 12 Oktober 2018

Bread

Remahan yang tiba-tiba datang lagi tidak perlu ditangisi, bukan? Nyatanya bukan salahku. Hanya sedikit kesedihan yang kutahan. Mengenang lagi keriuhan. Meredam lagi kisah sunyi tak bermuara.

Perlukah namanya kuukir dengan do'a? Percuma kau berdo'a jika dia malah menjadi makhluk Tuhan yang tak pernah mengerti do'a. Bukan kusangsikan. Tapi teruntuk dirinya. Tak lebih dari tembok kosong yang menganggapku masa depan cerahnya.

Senin, 08 Oktober 2018

Lock

Biarkan angin ini menghampiri...
Biarkan kicau gereja bangunkan pagiku...
Biarkan sesak ini memenuhi nafasku...
Biarkan guyuran hujan ini mendekapku dalam sepi...

Jalan ini buatku terjatuh.
Begitu sakit kaki ini menapakkan jari.
Mendekap kesunyian yang berlari kecil jauhi pilu.
Namun, malam tetap memeluknya tak mau pergi.

Terenyuh kumenangis menatap wajah harumu.
Ciptakan kesenduan senja di malam tanpa bintang.
Kepakan sayap sadarkanku bulu-bulu ini terluka.
Membekapnya dengan kain putih lusuh, untuk sembuhkan perih yang menjauh...

Bukan kuratapi keindahan ini...
Bukan juga kusiakan sisa hidup untuk berdiri.
Terlalu jemu surga kudesaki dengan air mata.
Bahkan kerinduan perlahan menyisipi relung hati yang hampa.

Melodi seperti mengalunkan nada ajaibnya.
Berdendang tak seperti biasa.
Apa bulan sudah memecah bintang yang tutupi angkasa?
Atau awan menutupi semua dengan abu-abu keangkuhan?
Kekasih tak akan datang sepagi ini.
Mendekapnya dari kelelahan punggung yang mulai menua.
Biarkan bintang ini menari.
Pergilah hujan hadirkan pelangi.
Senjaku kuciumi dengan rela...
Bahkan untuk selamanya pergi dari dunia.

Senin, 01 Oktober 2018

Menghilang?

Sadar menangis menjadi bagian yang sulit lagi kulakukan.
Merindukan sesenggukan dan menjadi sakit karenanya, apakah bisa menjadi baik-baik saja?
Rasanya hampa.
Entah sudah berapa lama.

Satu persatu dunia maya kutinggalkan.
Kutanggalkan semua kesenangan tentang mengatakan pada dunia bahwa aku biasa saja.
Menghilang seakan menjadi keseruan dan membangun kerangkengku sendiri.

Tak sadar sudah seperempat abad aku bernafas.
Menghilangkan jejakku.
Mengabadikannya sendiri.
Menghapus langkah demi langkah.
Benarkah aku baik-baik saja dengan melepaskan satu persatu yang dulu menjadi jalan hidupku?

Aku mulai kehilangan arti berharga.
Aku mulai mati rasa bagaimana caranya mengeja rasa.
Aku mulai lagi merasa buta untuk mengukirkan hidupku harus melangkah kemana?
Aku mulai mempertanyakan untuk melepas semua mimpi yang dulu pernah kuperjuangkan.

Kenyataan bahwa aku melangkah sendiri.
Kenyataan bahwa memang hanya aku berdiri sendiri.
Kenyataan bahwa aku memang memilih untuk begini?
Benarkah? Atau memang aku sedang bercanda lagi dengan dunia?

Kesakitan yang menjadi biasa.
Rutinitas yang menjemukan asa.
Kembali pada realita tentang semua tak lebih mencari lembaran angka.
Dan kehilangan perasaan berharga yang dulu sempat terjaga.
Memandang bahwa semua sudah tak berarti lagi dan sia-sia.