Kamis, 28 Juni 2018

Ijinkan aku menangisinya terakhir kali

Menengadah sendu tanpa paras jinggamu.
Ini malam ketika ku menantikan hadirmu.
Namun semua kelelahan seperti memutar lagi.
Bagai angkasa kesedihan di pipi.

Lagi.
Tiba-tiba rindu ini menjadi.
Merindumu berkecamuk menjadikanku orang yang patah hati.
Bukan karena tak bisa berdampingan mesra.
Tapi tiba-tiba saja kesesakan yang dulu pernah kurasa seperti menendang-nendang ingin menjarah.

Menggenggam tanganmu saja tak pernah.
Hanya pelukan hangat.
Yang semakin ku rindu.

Hai sang rindu.
Izinkanku merindukannya malam ini.
Agar tak perlu kau melihatku yang sesenggukan merindukannya.
Bukan malam spesial yang harus dikenang.
Hanya kelelahan yang berakhir membengkakkan mata.

Bukan mendua.
Hanya tiba-tiba merindukan jiwa yang tak lagi beraga.
Karena merindumu sudah cukup menyesakkanku.
Tapi sepertinya tak cukup untuk rasa yang membelenggu.

Rindu.....
Jika kita bertemu.
Bisakah kurasakan ranum merah bibirmu?
Memeluk erat tubuhmu?
Menggenggam hangat jemarimu?
Atau hanya sekedar menyandarkan kepala yang lelah ini di pelukanmu?

Jangan samakan dengan nafsu.
Bukan karena ku bernafsu.
Tetapi rindu seperti membutakanku.
Bahwa dirimu ingin selalu kuyakini bahwa hadiah terindah dari Pencipta.

Rindu.....
Jangan kau bayangi diriku dengan bayangmu.
Berimaji nafasmu memelukku saja sudah membuatku jatuh.
Aku kelelahan, menunggumu.

Selasa, 26 Juni 2018

Review Garis Waktu - FIERSA BESARI

Mengenalmu membuatku belajar merelakan.
Menangisimu dengan segala egoku juga menjadi pelajaran untuk hidupku.
Bertahun memperjuangkan, memang bukan hal mudah.
Yang kemudian menjadi porak poranda karena orang ketiga.
Seandainya sedikit saja waktu itu kuambil keputusan yang berbeda.
Apa mampu kuperbaiki lagi?
Realita seperti mendefinisikanmu dengan bahasanya kepadaku.
Kehidupan tak pernah salah seperti waktu yang tak pernah berhenti meski kita menginginkannya.
.
Bahasa kalbu seperti menafikkan segala rasa kita.
Kita pernah mencinta, namun bukan untuk bersama.
Seperti sekedar kenangan yang menjadikannya cerita agar hati pernah belajar rasa dikhianati dan disakiti.
Yah, ke depannya agar kita juga lebih menghargai pada orang yang akan saling mengikat janji dengan kita.
Semua tidak ada yang sia-sia sekalipun yang pernah kita perjuangkan berakhir tak seperti seharusnya.
.
Bung, mungkin itu yang bisa kutangkap setelah membaca bukumu yang pertama.
Atau mungkin aku yang terlalu teringat pada hal bernama kenangan, sehingga terlalu lebur pada cerita kita yang hampir sama.
.
Terimakasih sudah menyuguhkan rangkaian sajak yang mampu membuat hati kita agar lebih mudah merelakan. Karena sejatinya cerita lalu, akan tetap menjadi cerita yang menjadikan kita sekarang. Tidak pernah hilang, namun akan teringat lagi saat penikmat senja (salah satunya mungkin aku), yang lama sudah tak dapat menikmati walau warna seindah apapun, karena hati yang belum cukup siap untuk merelakan.

Pagiku bersama gereja. Sayangku....

Menuliskan lagi...
Merangkai sajak-sajak lagi katanya.

Sayang, kebahagiaan kita.
Ingin kuniatkan hanya pada Sang Pemilik Hati.
Bahagia kita, tidak akan ada tanpaNya.
Jangan lupa untuk selalu bersyukur dalam mengingatNya di setiap hembus nafasmu.
Detak jantungku masih berdegup pun karena kuasaNya.
Sekali lagi, jangan pernah kau lupakan bahwa semua adalah jalanNya.

Sayang...
Dalam peluk malam yang dingin.
Fatamorgana bersama elegi kadang membelenggu.
Bersama mimpi sendu dan sesekali kebersamaan kita.
Jarak mungkin memisahkan kita, namun percaya semua hanya sementara.

Palungku kutancap untuk selalu menjaga hati.
Dengar suara angin sambil menatap senja yang lama tak pernah kunikmati.

Ku mulai kesulitan lagi merangkak dan memeluk.
Pena yang dulu sempat kusatukan.
Tapi denganmu...
Inginku raih lagi keapa adaannya diriku.
Bersamamu kuingin menjadi diriku.

Jika memang waktu menakdirkan kita untuk bisa mengikat janji.
Ku abdikan untuk menjadi teman hidupmu.
Mulai dari setiap jengkal jari dan langkahmu...
Inginku ikuti dan kuamini setiap do'amu.
Sayang....
Mungkin belum pantas kutuliskan segala keinginan membuncah ini.
Tapi bersamamu.
Menenangkanku dengan caramu.
Dalam diamku, kau mengerti diriku.
Tak perlu kata-kata.
Semua kau lakukan dengan bukti tulusmu.

Sayang....
Jika ini juga kau anggap berlebihan dalam ku mengungkapkan.
Maafkan semua metafora dalam majas hiperbolaku.
Karena padaNya tempat mengadu ku sematkan selalu namaMu.
Bersama dengan para malaikat-malaikatku yang membuat diriku ada.
Sayang....
Jangan kau salah takdir jika kita memang belum dituliskan untuk bersama.
Karena ku tau, semua yang terbaik akan selalu menjadi bagian kehidupan kita.

Sabtu, 09 Juni 2018

First note at my facebook (2010.11.03)

hatiku sudah terperangkap jauh dalam bayangmu .
rasa ini sudah terlalu kuat untuk aku tahan .
sakit ini terlalu sakit untuk aku bertahan .
rasakan tangisan sendu di pekat malam .

dada ini sudah tak mampu menahan jantung yang remuk .
mata ini sudah lelah menangis untukmu .
rindu ini sudah menggunung tuk ingin bertemu kamu .

sadarkah ?

rasa sakit ini sudah tak mampu ku topang .
bagai panah yang di tusuk tepat di jantungku .
sakit teramat .
tanpa tahu kapan rasa sakit ini berakhir ?

ku hanya mengenangmu , dalam balutan embun pagi .
ku hanya mampu memandang gambarmu yang tersimpan di hati .
dan ku sadar ku tak pernah mampu membunuh rasa ini untukmu .

sadarkah kau rasa ini sudah mencapai ubun ?

kepala ini rasanya di hantam palu godam ,
bagai panah yang tertancap tak bisa ku lepas ,
seperti pisau yang tak pernah membunuhku walau beribu kali ku sayatkan di nadiku .

2010.05.18

ku menangis di pojok sana .
menatap bintang yang tak pancarkan sinar .
ku lelah akan semua semua fatamorgana .
ku tak kan lagi lari tuk hadapi semua .

tapi tak ada yang peduli .
aku mati pun tak akan ada yang peduli .
lelah akan semua rasa .
lelah akan semua asa .
lelah akan semua hampa .

ingin ku memelukmu tuk tenagkan aku .
tapi itu tak akan mungkin .
biar ku jadi butiran salju yang indah .
biar ku jadi api .

yang indah , lalu mati .
yang hangat , lalu hancur menjadi abu .

kenangan semu yang tlah ku lalui .
hancurkan rasa yang tak lagi ada .

kini ku menangis di pojok sana .
berharap kau datang memelukku .
kini ku menangis di hari itu .
di derasnya hujan yang tag lagi tenangkan ku .

ku berharap ku mati , sekarang .
menghilang bersama derasnya deru air .
terbang bersama debu .

Akhir tahun waktu itu (2012.12.28)

terkisah ku mengarungi samudra kehidupan .
kakiku menginjak semua yang terlalui .
kehidupan ada bukan untuk menjadikan kesedihan .
ku patuhi semua jalan .
arah yang kadang membelokkan di persimpangan .
 
dunia hadir bukan untuk menghancurkan .
kita yang kadang menghancurkannya tanpa sadar .
tak mau disalahkan .
mencari kambing hitam .
 
manusia itu kejam .
sangat .
hati tak mencinta dan tak ada rasa saja bisa melukai .
lebih sakit dari pisau .
 
tuhan ...
menciptakan semua bukan untuk mengangkat senjata dan menyalahkan .
 
sedih .
ku lalui semua dengan senyuman dan kekosongan agar  tak melarut dengan penyesalan .
sudah cukup ?
belum .
butuh ketabahan dan kesabaran yang kadang kita membuatnya kecil .
istighfar ....
istighfar ....
Tuhan tidak suka melihat makhluk yang menyiksa dirinya sendiri .
 
sabar ...
kata yang akan menenangkan hatimu .
jika kamu percaya .
dan kesedihan akan berlalu .
tidak harus hari ini keinginanmu terpenuhi .
Tuhan tidak akan ingkar seperti manusia meskipun yang paling mengasihimu .
 
Dia akan membalasnya .
keinginan nafsu itu tipis dengan keinginan malaikat .
malaikat menerima apapun .
karena waktu terus berjalan dan tidak akan terhenti .
waktu akan terus ada .
walau kita tak tahu kapan itu berakhir .
dan kita mampu lalui itu di waktu nanti .
dengan senyum .
dan indah yang selalu ada .

Mars & Venus part 5 (2013.01.21)

gereja bersiul ceria bersama mentari . dengan candaan dan gurau pelangi semua bercengkrama dalam simfoni keindahan .
pemandangan menyejukkan setra dengan awan yang sedikit kelabu karena memuat terlalu banyak air .
semua begitu indah , entahlah karena apa .
negeri langit selalu memiliki kenikmatan pemandangan yang memanjakan mata .
 
"aku bahagia Tuhan selalu memberiku kenikmatan dan selalu hadirkan senyuman tulus dari mereka yang selalu temani hariku. Kau berikan semua yang ku butuh untuk lalui semua meski tanpa semua yang ku ingini. terimakasih. terimakasih banyak." aku bersujud sejenak menujuNya yang selalu ada dalam darahku .
 
malam ini akan ku beri manusia cahaya paling terang . mungkin hujan pun juga menemani , tapi sudah cukup ku bagikan bahagiaku .
 
^^

Note (2018.06.09)
Menggapai lagi syahdu keimutan di masa lalu. Kurangkaikan kata dan telesik embun dalam hangatmu. Ah... Bersedu saja rasanya mengerti apa yang dulu kutuliskan pada takdir. Bahagia, dapatkah kau mendengarku? Sudah lama ku gak menyapamu... Bahagia? Aku sudah melakukan hal yang baik kan hari ini? Untuk diriku? Yah, minimal itu. Untuk lingkunganku? Itu nilai plus. Bahagia... Jangan datangkan sedih jika memang kau bisa selalu di sini.

Mars & Venus part 4 (2013.01.20)

Kali ini ku temui mentari yang tersenyum . ia begitu anggun dengan balutan cahaya yang bersemu jingga di ufuk Timur .
“Begitu cantiknya ia. Seandainya mampu ku seperti dia menerangi hari-hari dengan balutan bahagia untuk semua manusia.” Ah, aku sungguh iri padanya .
Aku mulai beranjak pergi dari lamunanku tentang mentari yang begitu indah . Venus melangkah menemaninya sebagai gantiku menemani Langit .
“Venus pun begitu cantik dengan cahayanya yang berkilau di pagi hari.” Aku terlalu sering memikirkan orang-orang diekitarku akhir-akhir ini .
 
Aku terduduk di temani senja di kesejukan . dia berbinar menenangkan dalam sayupan angin sepoi . aku rindu senyumnya yang indah itu .
“Selamat pagi bintang!” katanya menyapaku sambil berlari kecil .
“Pagi juga. Ada apa gerangan kau begitu bersemangat pagi ini?”
“Aku akan pulang untuk bertemu ayah dan ibuku.” Katanya sambil berbinar . matanya seperti berkata bahwa ini impian yang selama ini ditunggunya .
“Benarkah?” aku ikut antusias melihatnya bersemangat .
Ia hanya mengagguk. Semangat sekali . aku jadi ikut bersemangat melihatnya bahagia . aku juga bahagia . bulan tak lama datang . dengan senyumnya yang menenagkan itu , aku merasa hari ini begitu indah . terimakasih Tuhan .
 
“Wah, kalian sepertinya bahagia sekali? Apa karena kedatanganku?” ia suka sekali bercanda .
“GR , senja akan pulang. Ia semangat sekali, aku jadi ikut bahagia dan bersemangat juga.”
“Apakah kau juga tak ingin pulang?” tanyanya padaku .
Aku terdiam , yah ayah dan ibu . entah bagaimana kabar mereka . aku hanya menanggapinya dengan senyuman .
“Kalian ingin oleh-oleh apa setelah aku kembali?” senja memecah kebisuan karena kita terdiam cukup lama .
“Aku cukup kue bulan, sudah lama aku tak memakan itu. Kau bagaimana?” ia menyenggol sikuku yang bersebelahan dengannya
“Aku cukup melihatmu kembali lagi kesini dengan baik-baik saja. Dan salamkan untuk kedua orangtuamu senja.”
“Siap!” ia lalu melangkah pergi . ia benar-benar pulang .
 
“Aku juga ingin bertemu ayah dan ibuku.”
“Pejamkan matamu.” Mars tiba-tiba datang diantara kami .
Aku menurut saja . saat ku pejamkan mata , aku melihat mereka berlari memelukku . oh , aku sangat merindukan mereka . kita makan bersama adik-adikku . aku juga sangat merindukan mereka . bermain , bercengkrama , bercerita tentang keadaan masing-masing , hingga ku tidurkan si kecil dalam pangkuanku . aku juga terlelap . dalam mimpiku aku bertemu dengan Mars . ia menyuruhku untuk bangun .
 
“Apa kau sudah bertemu mereka?” Mars tersenyum .
“Sudah, aku sangat bahagia. Aku merindukan mereka.” Mataku rasanya tergenang sesuatu .
“Kau ingin pulang juga?”
“Tidak, ini belum waktuku pulang. Tidak apa-apa. Tadi sudah cukup. Terimakasih.” Lalu aku berlari untuk menjalankan tugasku lagi .
Aku merasa sangat bahagia . entah mengapa . mungkin bertemu dengan semangatku .
 
Bagi kalian mungkin ini hal biasa . tapi tidak denganku . kalian yang masih memiliki waktu bersama dengan mereka yang tercinta , yang terkasih , bahagiakanlah mereka . aku tahu kalian sangat mencintai mereka . seperti kapal yang mencintai daratan . ia rela menerjang ombak dan badai yang dahsyat . untuk kembali dengan daratan . kalian rela melakukan apa saja untuk mereka . waktu tercipta bukan untuk terulang . renungkan yah .....

Mars & Venus part 3 (2013.01.19)

"Tuhan ampunkanku telah menjadi bintang yang hanya bisa mengeluh. Tuhan maafkan aku yang selalu dalam kasihMu namun sering ku dustakan dengan amarah iblisku. Tuhan aku terlalu takut untuk mencintaiMu hingga rasanya menyiksa hari-hariku. Tuhan, bintang ini butuh belaimu dalam tangisnya yang menyesakkan dan harap untuk menemukanMu dalam setiap aliran darahku. Tu.han ...."
Senja menatapku miris , buru-buru ku hapus airmata ini dan menutupi semua yang ada .
aku tak mau dia terbebani dengan apa yang ada difikirku .
"Kau kenapa?" tanyanya sambil menatap heran sekaligus iba mungkin .
"Aku baik-baik saja. darimana? mengapa kau berjalan sendiri tidak bersama teman-temanmu yang lain?" aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja . yah , akan  selalu baik-baik saja .
"Mereka pergi dengan mentari dan awan. mengapa kau tak dengan bulan? apa kalian sedang bertengkar?" ia mulai memegangtanganku yang basah oleh keringat .
"Kami baik-baik saja. tak perlu bicarakan siapapun. aku baik-baik saja." aku mencoba tersenyum . entah senyumku bagaimana waktu itu . aku membenci diriku yang begini .
"Bisakah kau meninggalkanku sendiri? malam hampir tiba , mendung sedang sakit . air-airnya sedang menyembuhkan. aku harus segera bertugas." aku berdiri dan mulai beranjak .
"Bintang, jangan pernah kau merasa sendiri. aku di sini. aku ....." entah mengapa butiran kristal bening mulai berkaca-kaca di bola matanya yang indah .
"Tenang saja. maaf membuatmu khawatir tentangku. aku baik-baik saja. tak perlu kau membebani pikiranmu. aku juga akan selalu ada untukmu." ku berjalan dengan berat . ingin sekali ku memeluknya dalam keadaan menyedihkan begini. apakah aku buta ? membiarkannya berpikiran tak karuan tentangku dan ku sibuk dengan duniaku ? betapa bodohnya aku ini . aku mulai tak peduli pada tatapan Venus yang memandangku dari jendela kamarnya . aku mulai berlari mengejar langkah senja . hampir saja aku jatuh . tapi tidak , kau tidak boleh terjatuh . konyol jika aku terjatuh saat seperti ini . tapi terlambat , aku tak mendapatinya di kursi taman tadi . aku duduk di sana , berharap dia kembali , sedang jam tugasku seakan berjalan lebih cepat dari biasanya .
 
"Menunggu siapa, bintang?" aku menoleh . ternyata Mars .
"Tidak menunggu siapa-siapa. aku menunggu jam kerjaku." jawabku seadanya .
"Mengapa tak kau suruh waktu memppercepat jam di dimensimu? aku bisa memanggilkannya jika kau perlu." katanya lagi .
"Tidak usah, seandainya ingin. mungkin aku lebih memilih mengulang waktu." suaraku ? kenapa lirih dan rasanya tiba-tiba sesak ? aku menghapus genangan bening i pelupuk mataku yang akan jatuh . tidak boleh jatuh .
"Kau ada masalah?" tanya Mars lagi .
"Aku harus pergi. Maaf." aku mulai bangkit dari kursi taman yang sejuk . ah , andai aku mampu sadari betapa nikmat Tuhan begitu banyak untukku .
 
"Bersyukurlah. jangan pernah menyerah ya. bintang pasti mempu melewati cobaan demi cobaan. hanya perlu bersabar dan bersyukur. jangan pernah lupakan kewajibanmu. aku akan selalu mendo'akanmu." Mars pun beranjak pergi meninggalkanku .
betapa bodohnya aku jika mengaggap semua ini hanya isapan jempol dan Tuhan itu tidak adil pada hidupku . betapa mirisnya dan gobloknya aku . apakah aku mampu memperbaiki semuanya ? oh Tuhan , inikah dunia yang kataMu dapat memalingkan cipataanMu dari diriMu ? maafkan aku .....

Mars & Venus part 2 (2013.01.18)

"tadi malam aku temui malam." kumulai dengan sapa dan obrolan ringan pagi ini.
"untuk apa?" tanyanya.
"aku ingin tahu mengapa bulan begitu angkuh."
"angkuh? apa maksudmu?" dengan mimik wajah heran yang berlebihan menurutku.
"tidak apa-apa. aku mulai sedikit membenci bulan. bulan sungguh tak mampu temani hatiku yang sepi. dia hanya menampakkan sebagian dirinya. selalu. hingga nanti baru ia tampakkan dirinya seutuhnya. aku lelah menunggu." sedikit menhaan isak ku tumpahkan kekecawaanku terhadap bulan .
lalu aku menoleh padanya yang hanya diam melihatku dengan tatapan kosong .
"ada apa sekarang kau diam? apa ada perkataanku yang salah?"
"tidak. perkataanmu memang benar. tapi bulan tidak angkuh. dia pun sedih, ketika kau membutuhkannya dia tidak dapat memberi semangatnya padamu untuk lalui harimu lebih indah. tapi dia lebih memilih menuruti kehendak langit dan patuh pada titah Tuhannya. agar kelak dia bisa bertemu denganmu di surga dan berbagi kebahagiaan, serta canda tawa. tahukah kamu dengan sikap bulan yang begitu sabar?" jawaban yang sangat jauh dari yang aku pikirkan sebelumnya .
mutiara bening dari bola mataku mulai mengalir . semakin deras . aku takut . takut kehilangannya . (siapa ? pasti kalian bertanya) BULAN .
 
aku takut kehilangannya . aku takut dia pergi .
negara langit ternyata mendengar keluhku dalam balutan kasih dari sang Zeus . Zeus menghapus airmata di pipi merahku . Mars dan Venus mulai menggendongku ke dalam surga . aku mulai takut . jika ke surga , aku tak akan bisa bertemu bulan .
"Venus, bisakah kau turunkan aku di sini saja?"
"Ada apa? tak inginkah kau ke surga?" dia menatapku heran .
"aku ingin sekali ke surga. tapi tidak sekarang. tunggu aku. kelak aku juga 'kan ke surga. dengan bulan. Venus dan Mars tunggu aku ya." ku mulai turun dati pundak kokoh Venus .
dia hanya memandangku dengan senyuman , Mars pun juga sama .
aku ingin bersama bulan . meskipun dia kadang tak ada di sampingku .
aku tahu , dia yang terbaik . untuk menemaniku dalam surga .
dalam balutan kasih dan sayangNya .
 
kalian ingin tahu siapa aku ?
aku bintang . perkenalkan aku bintang .
tadi adalah senja .
senja yang selalu menemani kesahku dan keluhku .
dia begitu bijak , aku tahu itu .
dan aku menyayanginya .
senjaku .
dia sahabatku .
dia belahan jiwaku .
meski tak pernah kita terlihat bersama .
dia adalah senja terbaikku yang pernah ku punya .
mungkin memang aku hanya punya satu senja .
tapi itu sudah cukup dan dia segalanya buatku .
senja , maukah kau membaca kisah imajiku ?
tentang negeri langit dan surga Azza wa Jalla yang mungkin lebih indah .
sangat jauh lebih indah dari bayangan kita .
aku berharap kau selalu dalam lindunganNya .
senjaku .
terima kasih .
 
 

Mars & Venus part 1 (2013.01.17)

"ku dapati Venus sedikit redup pagi ini .
Mars pun tak tampak cerah temani Mentari .
kenapa ?
apa ada yang terjadi di negeri langit ?
semoga pagi dan hari ini selalu indah ."
 
kemana lagi ?
imaji ibu kehidupan yang biru hijau membentang hadir di mimpiku .
arungi biru ombak dengan bangau yang terbang .
ku susuri alam yang tersenyum padaku kemarin malam .
dia datang lagi .
mewarnai , menemani , dan mungkin 'kan mencintai .
ah , tapi aku tak butuh itu .
bukan dia , kamu , atau siapapun di sampingku .
 
karena kesepian telah buatku biasa dengan mentari yang terbenam .
karena kesepian lebih tenangkan jiwaku yang teruari waktu .
karena kesepian mengajarkanku pentingnya arti kebersamaan dalam asaku yang sakit .
dalam gelombang yang mengolengkan perahu rakit .
dalam jiwaku .
senduku .
yang ku tau menyakitimu .
membiarkanmu pergi .
dan maafkan aku .
bintang itu selalu ada kok

2013.02.01

hatiku bergema memanggil nama dalam balutan rindu .
ku susuri indahnya semu dalam kasih abadi .
terurai fatamorgana dalam hujan di ujung waktu .
tak ada yang seindah bintang lagi menemani .
semua terlalu sibuk dengan topeng-topeng semu .
sudahi saja .
aku lelah .
merantai waktu , menenangkan asa .
hari ini , dingin merasuk sum-sumku dan bekukanku dalam kenangan tentangmu di bawah guyuran rintik-rintik doa .
saat ku ucapkan maaf .
semua berbeda .
agar mengerti , kilau bintang ini mulai redup seperti lampu minyak .
jendela terguyur dedaunan jatuh masuk dalam tidurku .
fibra nada-nada lagu tenangkan otak yang seakan pecah .
cukup ku hirup oksigen dan membuangnya .
tak berharga .
terinjak dalam kenangan yang terlewati masa .

2013.12.27 venuskah?

berterbangan dalam keheningan malam. aku tahu semua akan berakhir seperti ini. sejak kemarin aku seperti debu yang mengikuti saja arah angin. tanpa arah seakan rasaku tak lagi ada. kini semua hadir ketika bayangmu mengaliri relung-relung jiwa. seakan aku berlari menujumu tapi kau hempaskanku. genggaman jemari luruh dalam kepeduliannya. padamu ku alirkan rasa. ketika sudah cukup bentangan sayapku menggapai awan. petir-petir menyambarnya hingga rapuhkan helai demi helai kesakitan yang sempat ku pupus dalam harapan. asaku ada seakan tak pernah peduli. mungkin pesakitan ini mengerti. terlalu lelah menjalani yang tak pasti. keabu-abuan mengerti dirimu. seperti menumpuk memoar-memoar hitam yang terlalu kelam. mengenalmu... menyesalkah? tak pernah. hingga kini ada dalam sujudku namamu. itu hanya do'a karena ku mengingatmu. cukup mengertilah... kadang sayap hitam ini mengepakkan dalam putih dirimu. rumput-rumput yang kau pangkas dalam harapannya yang menjulang. kadang venus ini tetap ada. namun awan-awan itu menutupinya......

2014.04.18 sejenak tentang amarah

sejenak berpikir amarah ini mau ku bawa lari kemana?

sejenak aku berpikir bagaimana amarah ini ku teriakkan saja didepan wajahnya yang telah menyakiti hatiku.

namun itu hanya sejenak.

ketika ku sesaki pikiran ini untuk leburkan semua asa, tak cukup sepertinya berpikir bahwa aku yang paling benar.

ketika sejenak amarah ini menguasai, nama-nama hewan di kebun binatang seakan ingin terucap semua.

amarah....

kemerahan yang bisa hancurkan setahun bahagia, sebulan bahagai, seminggu bahagia, bahkan sejam bahagia yang akhirnya menjadi suasana kelam.

terucap maaf khilaf tak lama setelah marah terluap.

cukupkah?

apa sejenak amarah yang tersirat ini begitu berharga.

apa tak bisa ku pilih sabar?

apa tak bisa ku pilih diam?

tapi amarah ini kubawa kemana?

ku tersesatkan sajakah hingga tak tau arah kemana ia harus kuungkapkan?

atau amarah ini kupendam?

bukan.

suara hati kecil ini....

lalu ku bawa kemana?

sejenak tentang amarah yang mungkin jika terucap hancurkan semua yang ada.

ambillah air dan siramlah amarah itu agar padam.

betapa semua sebegitu mudah?

padam?

memadamkan amarah tak semudah itu.

harus terluapkan.

harus.

HARUS..?

iyakah?

nuraniku tak mengiyakan.

ada Tuhan dinadimu. ada Tuhan yang selalu sesuai prasangkamu.

ku teteskan airmata yang tak sanggup ku bendung.

air kusiramkan tenangkan dadaku yang panas.

sesuci jernihnya...

seperti luruhkan amarah yang sempat bergemelut ingin keluar.

astaghfirullah....

sejenak amarah ini menguasai.

tapi KAU tiupkan sepercik keindahan dalam pikiran yang semrawut ini.

indahlah seakan semua anugerah.

tentang amarah pun kau sulap menjadi do'a.

karena-MU ku tetap ada, karena-MU pula hati ini terselimuti dinginnya salju.

karena-Mu.

sejenak tentang amarah ini, kau padamkan dengan sucinya nikmat-Mu.....

2014 third week of December

hei, apa kabar? sudah berapa lama aku mati tenggelam dalam kubangan yang bernama kesibukan. kesibukan? yah, tugas kuliah dan minggu uas yang tak henti-hentinya datang. (kalau yang ini sepertinya berlebihan).
:')
yah harus selalu dapat ternikmati setiap asa yang ku hadapi. cerita tentang kehidupan ini, aku yang berhak menuliskannya bagaimana. minggu ketiga ini, kuakui tidak mudah untuk menjalani. tanggal 15, cukup ku ingat bagaimana 7 tahun lalu kau pergi. tapi bukan itu yang membuat tahun ini istimewa. tetapi bagaimana untuk tahun ini aku memulai hari yang baru. tanpamu. dan melapaskan yang seharusnya sudah kulepas sejak lama. Tuhan selalu mengajarkan dan memeberi kejutan yang tak pernah terduga. tanggal 16, cukup bahagia kujalani hari yang baru, bertambahnya usia ibuku tercinta, ibuku tersayang, dan 7 tahun sudah bapak meninggalkan bayang yang abadi dalam kehidupan. tanggal 17, hari terindah yang tak pernah kulupa. ayah dan mama. terimakasih kuucapkan untuk semua, yang pasti dan yang pertama, Sang Pembuat Hidup dan kekasih-Nya yang menjadi jalan penenag dalam hariku yang gelap. 21 tahun terindah, yang memang tak semulus jalan pada peta, ada banyak yang Kau beri. Kau ajarkan. dan hanya sedikit yang mampu kupetik. terimakasih banyak. tepat pukul 23.00 dunia serasa menjadi surga. Baiti Jannati. selalu akan tersimpan dalam memori. mungkin ini bukan yang pertama, tapi ini yang pertama setelah sekian lama ku sematkan luka di dada, yang entahlah mengering dengan sempurna atau belum. untuk menulis saja sepertinya merasa kesulitan. ah, sindrom lazy time seperti merasuk dalam nadi ini. tanggal 18, terimakasih yang telah mengucapkan semoga do'a-do'a yang kalian beri dapat terealisasikan dengan baik. (}{) :*
tanggal 19, yah. dasar manusia. bertambah usia malah terperosok jatuh lagi. menyakiti diri lagi. sakitkah aku? hahahaha. bukan-bukan. otak ini yang butuh istirahat. emosi seperti setan yang menguasai saja sedikit rasa, sehingga semua hancur tak tersisa. khilaf. tanggal 20, aku lupa bagaimana berjalannya hari itu. tanggal 21, lebih tepat aku terperangkap dalam penjara tidur panjang. raga ini benar-benar lelah. tapi entah otak bebal ini tak mau merasa. 24 jam serasa tak cukup untuk menjalani hari penuh. satu hari yang..... sebenarnya hanya inginkan lebih baik dari hari kemarin. tapi ini seperti teguran. aku baik-baik saja. dan sekarang. aku tak akan takut berkhayal. sedikit pun tidak. bukan khayal yang sekedarnya. tapi untuk menyalakan mimpi yang mulai meredup satu persatu. do'akan aku.

2014 second week of December

Minggu terberat? Sepertinya tidak juga.
Tapi jatuh lagi bahkan dengan cara yang tak pernah terpikirkan. Iya. Sakit? Jelas.
Sedih? Entahlah... lebih tepatnya rasa ini semakin sedikit membuatku sadar. Kurang bersyukur itu, banyak macamnya.

Tgl 8, sepertinya tdk ada yang spesial. Bahkan lebih terkesan, aku hidup di hari itu. Di raga yang sama namun tak pasti jiwaku akhir-akhir ini lebih suka berkelana. Tgl 9 cukup membahagiakan. Setelah sekian lama selasa menjadi hari yang cukup tak dianggap untukku. Tgl 10 hari yang aku berharap segera terlewati. Tgl 11 kebahagiaan terhias di wajah ini. Entah kenapa. Aku tak cukup baik dalam mengingat. Mungkin karena mentari cukup baik, atau karena mimpi dan kenangan yang tanpa permisi lebih memilih untuk teredam tawa bahagia. Tgl 12 aku lupa apa yang terjadi hari itu. Tgl 13  aaaahhhh, harusnya aku lebih berfikir dewasa lagi. Terdiam di zona nyamanku saja. Tgl 14 jatuh untuk kesekian kali. Dengan cara yang berbeda, dengan jalan yang tak sama. Dan merenungi adalah jalan kuambil. Kalau bisa kubeli waktu. Aku ingin mengulangnya dari awal. Dimana tak mengenal siapapun, dan pergi adalah cara yang harusnya aku pilih waktu itu.

Hhhhaaaaa, sayangnya itu hanya pikiran sesat yang sekelebat hilang. Jika memang waktu bisa terbeli. Ak mungkin lebih memilih untuk tetap diam. Menikmati waktu yang terlewat begitu saja. Sekali lagi. Cukup di sana. Bukan takut esok bagaimana. Tapi untukku 24 jam itu terlalu singkat. Dan airmata memilih bersembunyi. Memeluk angin. Terasa hangat. Tapi tak seindah bintang.

2014 first week on December

Butuh jadi pribadi baru untuk bulan indah ini. Hujan yang pertama hadir. Pelangi yang menemani senja. Bintang yang mulai memilih untuk sedikit terlelap dalam selimut awan.

Senyum, murung, tawa, bahkan kesedihan seperti jadi kepingan puzzle untuk menyempurnakan hari yang kadang rumit. Tapi, justru rumit ini yang membuat banyak hal perlu kacamata yang lebih lebar lagi untuk melihat dunia, cermin yang tidak hanya indah, tapi perlu dibersihkan berkala untuk membuat berkaca diri lebih.

Pijakan ini perlu disemen ulang untuk kuat temani langkah yang kadang... aku tak hanya melangkah, tapi berlari dan meloncat girang.

Tgl 1 hidup ini harus berubah. Dan aku ingin berubah. Tgl 2 aku sedikit kehilangan semangat, badan ini sudah mulai kelelahan. Tgl 3 aku memilih diam, bahkan tangisan ini mulai mengalir tak berhenti sedikit. Tgl 4 telah cukup aku beristirahat. Banyak yang perlu diselesaikan. Tugas, tanggung hawab (yang entahlah, atau ini kepribadianku yang membuatnya begitu), tapi tak berjalan lancar, aku ketakutan. Memikirkannya pun, cinta. Akan kesakitan lagi. Tgl 5 ada janji yang kubuat dengan hati yang mulai mati. Hidup ini tak sekedar mampir. Rindu dalam pelukan kedinginan di sudut ruangan. Yah, hari yang seperti biasa. Tgl 6 memandang lagi semangat dari senyum yang pernah kuhancurkan. Setidaknya cukup untuk jadi pemantik kecil hati yang mati. Dan hari ini, aku harus cukup sadar, kematian ini telah cukup. Keombang-ambingan ini perlu dibuatkan perahu. Mimpi-mimpi yang dulu tertulis perlu diyakini lagi. Bahkan perlu melewati lagi lembar-lembar yang sempat terkubur.

Dan hari ini, hari dimulai untuk membuang sesakit apapun. Sesempit pikiran yang dulu pernah tergenggam. Merindu... yang dulu mati harus hidup lagi.
Mimpiku, sastra, hidupku, bahkan mata yang menatap dan mati, harus hidup lagi. HARUS! Dan hari ini, aku hanya akan ada aku. Farra Laila. Farra yang akan memulai lagi, mimpi yang sempat mati.

2015.03.17

dua orang sahabat sudah lama tak bertemu. ingin sekali rasanya bintang memeluk bulan dengan tangkapan hangat. tapi.... bulan begitu sibuk termenung, seperti ada hujaman rasa sakit yang menahan air matanya jatuh. hanya karena ada dalam keramaian. bintang akhirnya hanya menepuk bahu bulan. hanya menepuk. senyum getir dan palsu tersungging di bibir bulan. bintang bertanya ada apa, hanya dijawab dengan senyum dan kalimat rasa ini sungguh sesak. berkali bintang bertanya ingin kejelasan yang lebih, tapi hanya jawaban yang sama. seperti kaset rusak, dan bulan menatap kosong. kekesalan dan kesedihan menyatu di benak bintang. ada apa ini, tanpa sadar tangan kanannya melayang dan membuyarkan lamunan kosong bulan. tamparan kasih sayang untuk menyadarkannya.
 
- aku heran melihatmu kenapa begitu tega dengan perasaanmu! beri saja aku satu alasan!
+ satu saja alasan mengapa sampai saat ini aku bertahan.
- apa?!
+ sadar bahwa rasa ini memang butuh keikhlasan.
- maksudmu?
+ rasa ini, cukup menerima apa adanya, memberi segalanya.
- apa maksudmu? aku benar-benar tidak mengerti.
+rasa ini, bin. tentang rasaku yang memang dengan seharusnya dapat menerima segala lebih dan kekurangannya. dan aku memang tidak akan pernah bisa meninggalkannya.
- yakin?
+ kalau aku tidak yakin, aku tidak akan mengorbankan rasa hingga seperti ini.!
- kuatkah?
+ aku tidak tau. (pandangannya mulai tertunduk menatap kosong)
- hmmm (menghela nafas panjang), aku tidak pernah tau bagaimana jalan berfikirmu. cukuplah itu yang kau rasa. tapi perlu kau ingat, aku sahabat yang akan selalu ada.
+ he em.
- (dalam hati) jika memang kau masih peduli denganku.
 
ia pergi... yah, pergi. ia membiarkan segala lamunan dan pikiran itu melambung dengan segala imaji hitamnya. seakan lantunan nada dan simponi kesedihan mengalirkan perasaan pilu untuk semuanya. ia pergi.... yah, pergi. pergi dengan segala kehampaan yang sempat ia ingin merasakan berdua dengan cinta yang terpendam. jalan pikiran ini tidak akan pernah bisa diselesaikan hanya dengan logika hampa. logika yang hanya menyelesaikan bahwa hukum gravitasi ini mampu menarik segalanya ke Bumi. yang membuat semua orang dapat berdiri. yah, sayangnya logika yang begitu umum ini, bukanlah logika bulan yang unik. cukup aku memandang. memandangnya dengan segala kesiapan bahwa bahu ini mampu menopang segala kesakitan. yang memang, cukup untuk membuat cerita pilu pada sebuah novel romantis yang kehilangan kekasihnya.
 
sayangnya, cerita pilu. bukan cerita yang sebenarnya......

Senin, 04 Juni 2018

Tulisan

Dengan lirih kusebut namamu dalam do'aku
Orang-orang bilang jika memang berjodoh hanya perlu dijaga dengan do'a
Namun, kadang logika menjadi kecut
Takut kehilangan seakan menjadi penyakit yang tiba-tiba mengelilingi fikirku

Maaf, bukan bermaksud untuk memaksa mengerti bagaimana aku
Aku pun hanya mengharapkan semua yang telah terjadi bukan mimpi
Ketika semua do'a seakan terjawab, aku hanya selalu mengaharap padaNya
Engkau mungkin jawaban, dan jujur kuamini dengan segala keseriusanmu

Mengingat lagi, bagaimana kau tiba-tiba datang
Entah apakah kini ku percayai takdir yang sempat kutampikkan dan akupun tersesat

Hanya bernafas yang kusyukuri waktu itu
Elegi senja bahkan tak mampu lagi membahagiakan mataku
Sinar mentari pun sempat tak pernah sedikitpun menjadi harapanku
Ingatan ketakutan muncul dan membuatku terpenjara
Sesak yang sudah seperti aliran darah lagi-lagi seperti datang
Tak pernah terasakan, dan kini karenamu aku merasakan lagi
Angan semu muncul lagi bersama ketakutan
Ninabobo suaramu seakan menjadi lagu tidurku, seperti dendang murottal yang kini seakan membuatku menuhankanmu
Tolong, jangan buatku seperti ini....