Menengadah sendu tanpa paras jinggamu.
Ini malam ketika ku menantikan hadirmu.
Namun semua kelelahan seperti memutar lagi.
Bagai angkasa kesedihan di pipi.
Lagi.
Tiba-tiba rindu ini menjadi.
Merindumu berkecamuk menjadikanku orang yang patah hati.
Bukan karena tak bisa berdampingan mesra.
Tapi tiba-tiba saja kesesakan yang dulu pernah kurasa seperti menendang-nendang ingin menjarah.
Menggenggam tanganmu saja tak pernah.
Hanya pelukan hangat.
Yang semakin ku rindu.
Hai sang rindu.
Izinkanku merindukannya malam ini.
Agar tak perlu kau melihatku yang sesenggukan merindukannya.
Bukan malam spesial yang harus dikenang.
Hanya kelelahan yang berakhir membengkakkan mata.
Bukan mendua.
Hanya tiba-tiba merindukan jiwa yang tak lagi beraga.
Karena merindumu sudah cukup menyesakkanku.
Tapi sepertinya tak cukup untuk rasa yang membelenggu.
Rindu.....
Jika kita bertemu.
Bisakah kurasakan ranum merah bibirmu?
Memeluk erat tubuhmu?
Menggenggam hangat jemarimu?
Atau hanya sekedar menyandarkan kepala yang lelah ini di pelukanmu?
Jangan samakan dengan nafsu.
Bukan karena ku bernafsu.
Tetapi rindu seperti membutakanku.
Bahwa dirimu ingin selalu kuyakini bahwa hadiah terindah dari Pencipta.
Rindu.....
Jangan kau bayangi diriku dengan bayangmu.
Berimaji nafasmu memelukku saja sudah membuatku jatuh.
Aku kelelahan, menunggumu.