Selasa, 26 Juni 2018

Review Garis Waktu - FIERSA BESARI

Mengenalmu membuatku belajar merelakan.
Menangisimu dengan segala egoku juga menjadi pelajaran untuk hidupku.
Bertahun memperjuangkan, memang bukan hal mudah.
Yang kemudian menjadi porak poranda karena orang ketiga.
Seandainya sedikit saja waktu itu kuambil keputusan yang berbeda.
Apa mampu kuperbaiki lagi?
Realita seperti mendefinisikanmu dengan bahasanya kepadaku.
Kehidupan tak pernah salah seperti waktu yang tak pernah berhenti meski kita menginginkannya.
.
Bahasa kalbu seperti menafikkan segala rasa kita.
Kita pernah mencinta, namun bukan untuk bersama.
Seperti sekedar kenangan yang menjadikannya cerita agar hati pernah belajar rasa dikhianati dan disakiti.
Yah, ke depannya agar kita juga lebih menghargai pada orang yang akan saling mengikat janji dengan kita.
Semua tidak ada yang sia-sia sekalipun yang pernah kita perjuangkan berakhir tak seperti seharusnya.
.
Bung, mungkin itu yang bisa kutangkap setelah membaca bukumu yang pertama.
Atau mungkin aku yang terlalu teringat pada hal bernama kenangan, sehingga terlalu lebur pada cerita kita yang hampir sama.
.
Terimakasih sudah menyuguhkan rangkaian sajak yang mampu membuat hati kita agar lebih mudah merelakan. Karena sejatinya cerita lalu, akan tetap menjadi cerita yang menjadikan kita sekarang. Tidak pernah hilang, namun akan teringat lagi saat penikmat senja (salah satunya mungkin aku), yang lama sudah tak dapat menikmati walau warna seindah apapun, karena hati yang belum cukup siap untuk merelakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^