Kamis, 17 Agustus 2017

Semua Hanya tentang Aku

Sepertinya kehidupan bersosialku menjadi sedikit terpuruk. Atau mungkin hanya aku yang merasa. Semua yang kuharap dapat sejalan dengan mudah. Tetapi tidak semudah itu.
Tuhan masih dengan sayang-Nya membantuku....
Aku tahu aku tak pernah sendiri. Mempercayai-Mu adalah satu-satunya hal yang ku percaya.
Keluargaku? Entah, meskipun berkali-kali dikecewakan dengan segala macam caranya, tetap untuk mempercayai kedua orangtuaku dan adik-adikku adalah hal yang paling mungkin.
Ah, entahlah.
Semakin lama, semakin tidak mudah untuk percaya apa yang dilakukan dan dikatakan orang lain. 

catatan saja 17 08 10

Kau tau hal yang paling menyedihkan dalam hidup? Adalah saat kau tidak bisa menikmati apa yang ada di depanmu. Ini juga bukan karena terlalu santai, tetapi menikmati setip detik hidupmu yang berharga. Bukankah dalam menghargai sesuatu artinya kau akan menikmati setiap moment pahit dan manisnya? Bukan hanya sekedar berjalan, melewati setapak dan sampai. Seperti saat ini, aku yang mengetik sambil membayangkan bintang yang bertabur indah. Dan bertanya, kapan aku bisa menikmati seperti ini lagi? Dapatkah aku menympan perasaan berharga ini, mungkin nanti pada saat aku ingin merasakannya kembali aku dapat mengulang lagi perasaan ini? Konyol? Yah.. kadang aku jua berpikir sama. Apa yang aku pikirkan ini tentang kekonyolanku tentang hidup?

Tapi sekalipun dalam bernafas aku kesulitan sepertinya merasa seperti itu bukanlah suatu kekonyolan. Karena apa yang kita rasa, kita inginkan, kitalah pemeran utama, dan setiap orang adalah pemeran utama alam kisahnya masing-masing. Namun, tidak semua menyadarinya. Aku mulai terlelap. Mata ini sungguh tidak kuat sebenarnya. Tapi semua ynag kulakukan bukanlah kekonyolan, kan? Ah, harus bertanya hal seperti ini pada siapa, ya?

Memangnya kau tak memiliki teman? Punya. Tetapi entah mengapa, bercerita rasanya cukup sulit bagiku. Mungkin tidak semua orang mulai menyadari ini, tetapi semua ini mulai terasa nyata. Aku mulai lagi mempertanyakan ketulusan, kejujuran, janji, kesetiaan dan tetek bengek sepele yang mudah kau ucap lainnya, namun tak mudah kau lakukan. Ah, hidup. Mengapa kau kadang begitu kejam padaku?  Apa salahku? Tidak ada yang mau mengaku salah, kecuali dirimu sendiri yang ingin dan memang selalu menyalahkan dirimu. Bukan berarti aku egois menilai seseorang yang seperti itu buruk. Tetapi kenyataannya sifatku yang begitulah, kadang buatku berpikir dua kali. Namun apa daya, kadang kebiasaan berbohong berjalan lancar saja. Atau bisa dibilang bumbu pembenaran diri yang sangat menyerempet kebohongan tercipta.