maaf hanya memberimu Luka
namun percayalah. hti ini sayang padamu
jika perpisahan yg km inginkan. ku rela ini menjadi takdir kita. semoga km bahagia selalu. smua yg ku lakukan padamu berdasar pada syankku padamu. walau akirnya hanya melukaimu. memamg sudah seharusnya aku menghilang dari hidupmu. diriku yg hanya memberi luka
Senin, 03 Oktober 2016
gomen ne, sayonara Pride...
Maaf
aku tak bisa menepati janji. Maaf. Aku lebih memilih mengucapkan selamat
tinggal dengan begini. Entah kau akan membenciku, mengutukku atau justru
sebaliknya. Bertemu denganmu akan menjadi rantai dalam ikatan merah lagi.
Sedangkan aku, menginginkan untuk melepaskan semua. Seharusnya sejak aku tahu,
aku lebih memilih menjauh. Tapi kenyataannya, aku tak akan pernah bisa menjauh.
Semua tentangmu cukup menguras air mataku dan membuatku seakan-akan ingin
mengulang waktu. Itu semua bukan apa yang aku mau. Ku harap kau mengerti.
Banyak pertanyaan yang ingin kutumpahkan bersama
amarah, hingga aku memutuskan akan lebih baikkah jika kau membaca ini?
Kenapa dia? Atau memang sudah lamakah kau berencana
dengannya? Aku ingin berteriak, mengapa bukan aku?! Apa karena terlalu
bodohkah? Hingga tak ada tantangannya? Atau aku terlalu terenyuh dengan semua
kemanisanmu yang tak pernah kucela dan hanya kupendam sehingga dengan indahnya
kau mainkan saja bermain peran 'seperti tak terjadi apa-apa'? Aku juga ingin
kau menjawab semua pertanyaan yang hanya ada dalam kepalaku ini. Bagaimana
mungkin semua yang telah pergi datang lagi tanpa permisi dan.... Begitu saja
semua terjadi dan mempermainkan perasaan hingga campur aduk tak keruan. Ini
hanya rasa yang hampir 8 tahun terbendung dan tak akan pernah berubah. Kau
mengenalku dengan sangat baik. Seandainya hari ini kita bertemu. Aku mungkin
memilih untuk tetap di sampingmu. Tetapi hati kecilku mengatakan sebaliknya.
Menutup hati dengan segala cara agar kau tak pernah masuk lagi meski dengan
memohon, kau pikir mudah? Iya, aku akan belajar menjadikan semua menjadi mudah.
Kita, cukup menjadi ulasan kata dengan kenangan dalam
kepala kita. Aku tak akan pernah menyalahkan takdir yang mempertemukan dan
memilihmu, aku tak akan pernah menyesal. Cinta pertama memang akan selalu
menyenangkan, begitu juga kau. Tapi takdir yang kau pilih bukan aku.
Mengertilah untuk pilihanmu yang terakhir, kau telah menjadi dermaga untuk
kapal dan menjadi rumah jangkar serta tempatnya pulang. Jaga janji yang kau
ucap. Aku akan dengan senang hati menjaganya juga. Maafkan aku yang sempat
egois memilih menyakitimu. Datang dan pergi seenakku, begitu pula dirimu. Mari
kita hentikan keegoisan kita. Kau tahu, kita bukan lagi anak SMP dan SMA yang
dengan gampang datang lalu pergi. Berganti baju, makan, lalu meninggalkan semua
tanggung jawab dan kita tersenyum gembira, bermain seakan melupakan semua
masalah.
Lepaskanlah. Aku tahu kita tak akan pernah saling
melupakan, tetapi memilih meninggalkan untuk kali ini cukup indah tanpa perlu
tahu air mata masing-masing dalam pelukan yang sekali kurasakan, kau tahu tak
akan pernah mudah untuk terlepas. Dan kita perlu untuk belajar melepaskan.
Mari kita tidak usah bertemu lagi. Cukup untuk saling
tersenyum dengan hidup yang kita pilih. Dan jangan pernah menyesal kita
menjalaninya. Buat hidupmu penuh dengan bahagia. Jangan lupa untuk tersenyum,
bahkan ketika mengingat kenangan paling pahit. Maaf. Terimakasih banyak. Mari
kita bahagia.
Setidaknya berjanjilah pada dirimu sendiri untuk
kalimatku yang terakhir. :’)
Rabu, 31 Agustus 2016
R
jika memelukmu bisa tenangkan hati ini, aku ingin memelukmu setiap hari.
jika dengan menatap matamu bisa buat jantung ini berdetak karuan, seharusnya tak pernah kulepas tanganmu dariku sejak dulu.
jika belaianmu bisa buatku sebegitu nyaman, tertidur seharian dalam bahumu akan selalu jadi obatku.
namun itu semu adalah jika.
kini kau tak pantas lagi kurasa.
bahkan, ciuman terakhir kita, tak akan pernah berakhir sejak kau mengucap janji suci.
sayang...
benarkah cinta sejati itu ada?
bukan aku yang mengkhayalkannya atau berharap kau memang tercipta untukku?
beribu pelabuhan kusinggahi untuk tahu apa memang bisa kupautkan jangkarku.
namun, kau dan aku, bersatu lagi dalam kebisuan nyaman dan saling memeluk mesra.
aku tak pernah ingin buatmu menangis
tetapi nyatanya, aku selalu buatmu menangis.
aku pendosa. entah dirimu.
dia baikkah? dia mengerti dirimukah?
atau dia tahukah dengan semua kesukaan dan kebiasaanmu?
atau aku yang memang merindukan di tempatnya untuk buatkan makanan dan segala kebutuhanmu?
aku terlalu buta untuk memeluk dan melepaskanmu lagi.
aku bahkan terlalu pincang hingga tak bisa berpikir jernih.
kurelakan cinta ini tanpa harap yang pasti.
balasan dengan keindahan cinta yang kutahu....
kau dan aku akan selalu di sini.
maafkan aku wahai bunga tanpa nama yang tak pernah kukenal.
kau bukan malaikat, tapi aku juga tahu... kau hanya kau.
tanpa tahu dia akan selalu sama.
bahkan bahagiaku, cukup untuk melihat kau mengerti dia sepertiku mengerti dirinya.
bisakah?
agar kurela melepasnya...
agar kutahu, kau memang pantas untuknya.
jika dengan menatap matamu bisa buat jantung ini berdetak karuan, seharusnya tak pernah kulepas tanganmu dariku sejak dulu.
jika belaianmu bisa buatku sebegitu nyaman, tertidur seharian dalam bahumu akan selalu jadi obatku.
namun itu semu adalah jika.
kini kau tak pantas lagi kurasa.
bahkan, ciuman terakhir kita, tak akan pernah berakhir sejak kau mengucap janji suci.
sayang...
benarkah cinta sejati itu ada?
bukan aku yang mengkhayalkannya atau berharap kau memang tercipta untukku?
beribu pelabuhan kusinggahi untuk tahu apa memang bisa kupautkan jangkarku.
namun, kau dan aku, bersatu lagi dalam kebisuan nyaman dan saling memeluk mesra.
aku tak pernah ingin buatmu menangis
tetapi nyatanya, aku selalu buatmu menangis.
aku pendosa. entah dirimu.
dia baikkah? dia mengerti dirimukah?
atau dia tahukah dengan semua kesukaan dan kebiasaanmu?
atau aku yang memang merindukan di tempatnya untuk buatkan makanan dan segala kebutuhanmu?
aku terlalu buta untuk memeluk dan melepaskanmu lagi.
aku bahkan terlalu pincang hingga tak bisa berpikir jernih.
kurelakan cinta ini tanpa harap yang pasti.
balasan dengan keindahan cinta yang kutahu....
kau dan aku akan selalu di sini.
maafkan aku wahai bunga tanpa nama yang tak pernah kukenal.
kau bukan malaikat, tapi aku juga tahu... kau hanya kau.
tanpa tahu dia akan selalu sama.
bahkan bahagiaku, cukup untuk melihat kau mengerti dia sepertiku mengerti dirinya.
bisakah?
agar kurela melepasnya...
agar kutahu, kau memang pantas untuknya.
Reup : 06 08 2016
Sabtu, 20 Agustus 2016
16 08 20
Aku bermimpi lagi tentangnya.
Bagaimana kau di surga?
Aku senang melihatmu tersenyum lagi.
Sesaat yang tetap kuanggap semenit yang dapat membuatku tenang sementara ini.
Menatap saja di jendela tanpa nama.
Menunggu orion datang bersama bulan.
Saling memandang.... Awan hanya menggantung indah bagai menari dalam orkestra teromantis dan mengharu.
Kusesapi lagi kopi yang sama. Aromanya. Pahitnya. Bersama angin yang temani. Sedikit terpaksa kupakai sweater dan jaket ini lagi.
Ah, perempuan ini. Dia menelepon lagi...
Entah apa yang terpikirkan di kepalanya. Hari ini dia bahkan menghubungiku tiga kali.
Sejenak datang, lalu hilang. Aku putuskan menjauhi telepon genggamku juga.
Tapi malam ini, setidaknya perlu kutanyakan mengapa ia menghubungiku.
Kita tak pernah bertemu lagi semenjak ia berkenalan dengan pria di kafe.
Bahkan untuk bertukar pesan sekali saja, rasanya aneh. Aku tak ingin mengganggunya. Aku juga tak ingin diganggu.
Kukirimkan pesan menanyakan kabar, tidak ada balasan. Mungkin sedang ada urusan. Seperti aku... Haha, kesehatanku tak tentu. Entah cuaca, atau pikiranku yang sedang tidak di sini, tapi cukup membuat lelah tubuh ini. Cepat lelah.
Ku sesaki ruang itu lagi dengan tangisan. Tetapi itu hanya harap. Tak ada airmata yang keluar.
Mungkin ku sedang lelah. Haha, lelah sudah bukan lagi menjadi kata sifat sepertinya.
Ia membalas. Hanya ingin saja, mengobrol denganku. Aneh. Mengapa tak mengajakku ke kafe biasanya saja. Kutanyakan keberadaannya saat ini. Oh, pantas, sedang ada di ibu kota, yang aku tahu memang di sanalah ia seharusnya.
Kabar, pekerjaan, basa basi yang kulaiukan, ia balas bertanya, yah sekalipun ada satu pertanyaan yang kuhindari. Tugas akhirku. Haha. Sekalipun aku sudah berniat menyelesaikan tahun ini, tapi tetap saja, membahas itu dengannya, bukan aku, aku tak seberapa tertarik dengan obrolan akademis pribadi.
Aku menutup diri? Oh, bukan. Aku sendiri merasa sudah cukup terbuka dengan orang-orang di sekitarku. Tapi, aku tak pernah merasa nyaman dengan mereka. Tidak suka, tidak senang? Suka dan senang-senang saja aku bercerita. Tetapi, entahlah... Atau aku memang orang yang tak mudah dipahami? Haha... Entahlah.
Percakapan singkat via pesan itu berlangsung singkat. Ia tak membalas, dan aku pun menjauhi telepon genggamku. Seperti sedang enggan saja. Dan aku memutuskan untuk masuk. Ah, selimutku, dia baikkah di sana? Aku tahu... Menatapnya lagi, hanya membuatku semakin sakit saja.
Bagaimana kau di surga?
Aku senang melihatmu tersenyum lagi.
Sesaat yang tetap kuanggap semenit yang dapat membuatku tenang sementara ini.
Menatap saja di jendela tanpa nama.
Menunggu orion datang bersama bulan.
Saling memandang.... Awan hanya menggantung indah bagai menari dalam orkestra teromantis dan mengharu.
Kusesapi lagi kopi yang sama. Aromanya. Pahitnya. Bersama angin yang temani. Sedikit terpaksa kupakai sweater dan jaket ini lagi.
Ah, perempuan ini. Dia menelepon lagi...
Entah apa yang terpikirkan di kepalanya. Hari ini dia bahkan menghubungiku tiga kali.
Sejenak datang, lalu hilang. Aku putuskan menjauhi telepon genggamku juga.
Tapi malam ini, setidaknya perlu kutanyakan mengapa ia menghubungiku.
Kita tak pernah bertemu lagi semenjak ia berkenalan dengan pria di kafe.
Bahkan untuk bertukar pesan sekali saja, rasanya aneh. Aku tak ingin mengganggunya. Aku juga tak ingin diganggu.
Kukirimkan pesan menanyakan kabar, tidak ada balasan. Mungkin sedang ada urusan. Seperti aku... Haha, kesehatanku tak tentu. Entah cuaca, atau pikiranku yang sedang tidak di sini, tapi cukup membuat lelah tubuh ini. Cepat lelah.
Ku sesaki ruang itu lagi dengan tangisan. Tetapi itu hanya harap. Tak ada airmata yang keluar.
Mungkin ku sedang lelah. Haha, lelah sudah bukan lagi menjadi kata sifat sepertinya.
Ia membalas. Hanya ingin saja, mengobrol denganku. Aneh. Mengapa tak mengajakku ke kafe biasanya saja. Kutanyakan keberadaannya saat ini. Oh, pantas, sedang ada di ibu kota, yang aku tahu memang di sanalah ia seharusnya.
Kabar, pekerjaan, basa basi yang kulaiukan, ia balas bertanya, yah sekalipun ada satu pertanyaan yang kuhindari. Tugas akhirku. Haha. Sekalipun aku sudah berniat menyelesaikan tahun ini, tapi tetap saja, membahas itu dengannya, bukan aku, aku tak seberapa tertarik dengan obrolan akademis pribadi.
Aku menutup diri? Oh, bukan. Aku sendiri merasa sudah cukup terbuka dengan orang-orang di sekitarku. Tapi, aku tak pernah merasa nyaman dengan mereka. Tidak suka, tidak senang? Suka dan senang-senang saja aku bercerita. Tetapi, entahlah... Atau aku memang orang yang tak mudah dipahami? Haha... Entahlah.
Percakapan singkat via pesan itu berlangsung singkat. Ia tak membalas, dan aku pun menjauhi telepon genggamku. Seperti sedang enggan saja. Dan aku memutuskan untuk masuk. Ah, selimutku, dia baikkah di sana? Aku tahu... Menatapnya lagi, hanya membuatku semakin sakit saja.
Jumat, 12 Agustus 2016
Lagi
Rasanya seperti turbulensi waktu yang mengekang.
Tiruan angin dan hujan berdinamis membentuk dimensi ke-aku-an.
Sajak ku dendangkan bersama cahaya.
Benarkah Andromeda ada di sana?
Peluk sesal tahun itu menghantui.
Hanya senyuman miris dan mendekap lutut.
Sayang.... Menatap senyumanmu bisakah tenangkan gundaku?
Atau pelukmu mampu lipurkan laraku?
Menapaki jalan ini, menatap hamparan awan.
Berbaring saja bersama rumput ilalang.
Damaikan asa...
Ingatkanku tentangnya.
Dosakah? Bahkan tanpa sadar tetesan bening menghiasi pipi.
Pualam nisan kupandangi. Namanya.
Dan aku pergi...
Tiruan angin dan hujan berdinamis membentuk dimensi ke-aku-an.
Sajak ku dendangkan bersama cahaya.
Benarkah Andromeda ada di sana?
Peluk sesal tahun itu menghantui.
Hanya senyuman miris dan mendekap lutut.
Sayang.... Menatap senyumanmu bisakah tenangkan gundaku?
Atau pelukmu mampu lipurkan laraku?
Menapaki jalan ini, menatap hamparan awan.
Berbaring saja bersama rumput ilalang.
Damaikan asa...
Ingatkanku tentangnya.
Dosakah? Bahkan tanpa sadar tetesan bening menghiasi pipi.
Pualam nisan kupandangi. Namanya.
Dan aku pergi...
Minggu, 24 Juli 2016
Apa memang selalu begitu?
Ada banyak cerita yang kutahu semua berakhir sama. Entah dalam film, novel, bahkan drama yang jelas-jelas kenyataan tak akan bercerita secara dramatis seperti itu. Tapi kenyataan yang kujalani.... Apakah nanti juga berakhir begitu? Semua seakan menjadi sugesti.
Bahkan, aku kuliah sekarang pun seperti jalan salah yang telah kuambil. Hanya untuk sebuah gelar. Gelar yang dulu kuyakini mampu membuat bangga. Sarjana. Aku kadang berpikir, apa hanya aku manusia yang berpikir mendapatkan ijazah atau gelar ini menjadi sebuah penyesalan? Atau hanya aku satu-satunya orang yang diberi kesempatan dan menyia-nyiakannya? Dengan alasan keadaan pribadiku yang sekarang? Aku akui, aku orang yang berbeda sekarang. Bukan lagi Fall yang dulu. Dan aku tak menyesali perubahanku ini. Justru pilihan-pilihan yang dulu kubuat, dan masih kujalani hingga saat ini, membuatku banyak merasakan penyesalan.
Mengapa dulu tak kuambil jalan yang lain? Tetapi mengenal mereka semua. Menjadi suatu kehormatan. Yang mungkin, apabila kuambil jalan lainnya, aku tidak akan bertemu mereka. Yang saat ini, beberapa membuatku merasa seperti pecundang terbesar. Haha. Bukan, aku tak mengolok mereka. Justru menertawakan diriku. Yang mungkin sedang mereka lakukan di belakangku.
Apa semua berakhir seperti yang kuharapkan?
Entah apa yang merasukiku atau memang banyak hormon yang berubah dalam diriku. Tetapi aku menikmatinya. Sungguh. Bahkan, bertemu perempuan-perempuan yang sempat kuceritakan sebelumnya membuatku percaya. Hidup ini memang tak mudah.
Menangis sendirian pun. Terlintas untuk mengakhiri hidup pun, pernah terbang dalam pilihan hidup yang kupilih. Yeah, aku tahu. Aku sangat lemah. Bahkan, pelangi yang dulu kuanggap indah, tak lagi sama di mataku. Hanya kesemuan. Yang memang indah tetapi kehilangan makna. Dan kita manusia, hanya menikmati itu. Keindahan... Tanpa tahu makna-makna sejati apa tujuan kita untuk hidup. Jujur, kesuksesan bukan tujuan hidupku. Aku mencari bahagia. Bahagia seperti apa? Bahagia yang bahkan aku sendiri ingin menghapus segala sesak hidup ini. Yang seperti tadi kutuliskan, andai dulu aku memilih sisi yang lain.
Aku bukan orang yang pandai memulai interaksi. Bukan orang yang mudah akrab, jika memang seseorang itu tak membuka diri padaku. Aku bukan ingin mengunci diriku. Aku juga bukan orang yang ingin diremehkan. Jauh dari itu semua.... Tidak ada yang mengenalku. Mereka anggap, saat aku diam, aku menyukainya. Saat aku tersenyum, aku menikmatinya. Saat aku bersedih, aku merenungkannya. Saat aku menikmati, aku menginginkannya. Bahkan, saat tersenyum getir adalah pilihan terakhirku untuk melewati hariku, di mata mereka, aku hanya memanjakan diriku. Semua bisa saja hanya kamuflase.
Seperti fatamorgana. Dan di dunia ini, aku hidup bukan untuk diriku. Dalam budaya ini. Harusnya aku bisa memutuskan. Tetapi aku masih takut. Jika masalahnya uang. Yah, salah satu kendala utama. Namun, andai aku lebih berani. Senyuman ini, tak perlu diwarnai tangis diam-diam pada malam harinya.
Samudra senja, 11:40 pm.
Bahkan, aku kuliah sekarang pun seperti jalan salah yang telah kuambil. Hanya untuk sebuah gelar. Gelar yang dulu kuyakini mampu membuat bangga. Sarjana. Aku kadang berpikir, apa hanya aku manusia yang berpikir mendapatkan ijazah atau gelar ini menjadi sebuah penyesalan? Atau hanya aku satu-satunya orang yang diberi kesempatan dan menyia-nyiakannya? Dengan alasan keadaan pribadiku yang sekarang? Aku akui, aku orang yang berbeda sekarang. Bukan lagi Fall yang dulu. Dan aku tak menyesali perubahanku ini. Justru pilihan-pilihan yang dulu kubuat, dan masih kujalani hingga saat ini, membuatku banyak merasakan penyesalan.
Mengapa dulu tak kuambil jalan yang lain? Tetapi mengenal mereka semua. Menjadi suatu kehormatan. Yang mungkin, apabila kuambil jalan lainnya, aku tidak akan bertemu mereka. Yang saat ini, beberapa membuatku merasa seperti pecundang terbesar. Haha. Bukan, aku tak mengolok mereka. Justru menertawakan diriku. Yang mungkin sedang mereka lakukan di belakangku.
Apa semua berakhir seperti yang kuharapkan?
Entah apa yang merasukiku atau memang banyak hormon yang berubah dalam diriku. Tetapi aku menikmatinya. Sungguh. Bahkan, bertemu perempuan-perempuan yang sempat kuceritakan sebelumnya membuatku percaya. Hidup ini memang tak mudah.
Menangis sendirian pun. Terlintas untuk mengakhiri hidup pun, pernah terbang dalam pilihan hidup yang kupilih. Yeah, aku tahu. Aku sangat lemah. Bahkan, pelangi yang dulu kuanggap indah, tak lagi sama di mataku. Hanya kesemuan. Yang memang indah tetapi kehilangan makna. Dan kita manusia, hanya menikmati itu. Keindahan... Tanpa tahu makna-makna sejati apa tujuan kita untuk hidup. Jujur, kesuksesan bukan tujuan hidupku. Aku mencari bahagia. Bahagia seperti apa? Bahagia yang bahkan aku sendiri ingin menghapus segala sesak hidup ini. Yang seperti tadi kutuliskan, andai dulu aku memilih sisi yang lain.
Aku bukan orang yang pandai memulai interaksi. Bukan orang yang mudah akrab, jika memang seseorang itu tak membuka diri padaku. Aku bukan ingin mengunci diriku. Aku juga bukan orang yang ingin diremehkan. Jauh dari itu semua.... Tidak ada yang mengenalku. Mereka anggap, saat aku diam, aku menyukainya. Saat aku tersenyum, aku menikmatinya. Saat aku bersedih, aku merenungkannya. Saat aku menikmati, aku menginginkannya. Bahkan, saat tersenyum getir adalah pilihan terakhirku untuk melewati hariku, di mata mereka, aku hanya memanjakan diriku. Semua bisa saja hanya kamuflase.
Seperti fatamorgana. Dan di dunia ini, aku hidup bukan untuk diriku. Dalam budaya ini. Harusnya aku bisa memutuskan. Tetapi aku masih takut. Jika masalahnya uang. Yah, salah satu kendala utama. Namun, andai aku lebih berani. Senyuman ini, tak perlu diwarnai tangis diam-diam pada malam harinya.
Samudra senja, 11:40 pm.
Rabu, 20 Juli 2016
semua hanya tentang bagaimana bersikap
hari ini aku bertemu lagi dengan perempuan ketiga. memandangnya dengan wajah yang benar-benar berbeda dari kemarin. bukan tawa ceria dan senyum merekah. tiba-tiba setelah melihat handphone, wajahnya tak lagi sama. tetap sayu, tetapi menyedihkan. aku bukan orang yang mudah menanyakan 'ada apa?' pada seseorang. sekalipun ia sedekat dalam dekapan dan mengerti bagaimana seharusnya bersikap padaku dan menyenangkanku. aku hanya terdiam dengan kopi green tea-ku. mengamatinya secara sembunyi-sembunyi. dengan rokok yang pernah kuhirup bersamanya dulu. ia mulai menawarkanku. aku menolak sopan, aku sudah berhenti sejak dua tahun lalu. nikotin bukan lagi teman curhat setia. hanya teman pelepas dahaga yang membuatmu ingin sendiri. dan aku, tanpa mereka sudah cukup menikmati kesendirian.
ia tersenyum memandangku. kali ini ia bersama seseorang. laki-laki. dan dia baru mengenalnya. laki-laki itu cukup baik. cukup humoris. dan aku menyukai humornya yang berkelas dan tahu bagaimana caranya memuji wanita. bahkan perempuan yang enggan bercinta itu, sempat tertawa lepas sesaat sebelum akhirnya laki-laki itu pergi setalah meminta contact person dari perempuan yang kusebut 'Hitam'. dalam mataku cukup kuamati saja perempuan ini dengan pandangan sayuku sendiri. dengan lembut ia meraih pipiku. sambil berkata semua baik-baik saja. aku kaget, apa maksudnya? kemudian ia bercerita seperti pendongeng ulung. persis seperti yang dilakukan ayahku dulu ketika aku kecil. yang bertahan selama usiaku 5-7 tahun. setelah itu, jangan tanya. kenangan indah tetap ada. tetapi tidak ada dalam memoriku. ia tahu aku mengamati wajah sendunya. ia bilang cinta itu tak mudah. dan ia merasa kesulitan untuk mencintai dirinya sendiri. mengenal aromanya sendiri. aku hanya tertegun. apa yang ingin kau ceritakan?
demi seseorang ia pernah jatuh. demi seseorang ia pernah merasakan bahagia duniawi yang indah. demi seseorang ia pernah menjadi pencinta yang rela memberikan nyawa. demi seseorang ia pernah menangis haru tak berhenti bertahun-tahun. demi seseorang ia pernah memeluk cinta dengan rajutan kasih dan merasa melayang. berfatamorgana dengan guyuran hujan dan ia rela menangis bersama rintik-rintik air dari awan hanya untuk seseorang.
tetapi seseorang itu pergi.
ia ingin menggapai dalam pikirnya untuk dapat hidup tanpa dia. ia pernah ingin untuk mengakhiri hidup dengan rasa cinta yang membuncah itu. bahkan, ia rela menari dengan maut bahwa semua akan ia lepaskan. tetapi seseorang itu pergi. bahkan dengan kata maaf yang berwajah tanpa dosa. bisa kalian bayangkan? seseorang yang kau beri cinta dengan segenap jiwa dan hatimu, meninggalkanmu dengan kata maaf, tetapi wajahnya tidak menunjukkan kata maaf, seseorang itu hanya pergi dengan tangisan buaya hina, dan setelah itu ia hanguskan untuk selamanya.
selama ini perempuan ini menyimpan rasa dengan melihat pergelangan tangannya yang kecil. urat hijau yang senada dengan nadi bersama jantung yang berdetak. dengan keinginan menyayatnya, tetapi selalu hanya dalam khayal dan pecah pada kelenjar air mata dan dada yang menusuk. ia bercerita seperti pendongeng dengan nada kaset usang. tanpa ekspresi yang sesuai dengan jalan cerita yang ia ucapkan pada bibir merahnya. tidak ranum, tidak delima, tetapi tidak hitam juga dengan kebiasaannya merokok. cerita sendu yang ia ucapkan bahwa keingannya untuk mengakhiri hidupnya itu, ia ucapkan degan senyum bibir miris yang sangat kukenal. tak ada genangan air mata setitik pun pada matanya. hanya senyum getir. sambil menatapku dengan mata sendu lembutnya. aku? hanya duduk dengan kopi green tea-ku yang mulai dingin.
lalu aku memotong, apa itu yang membuatmu sedih? jawabannya, bukan. bukan rasa itu, tetapi menghentikan perasaan bersalah pada dirinya yang tak bisa mencintai dengan benar itulah yang membuatnya begitu sayu. untuk sebagian orang mungkin itu adalah hal yang tidak penting. tetapi untuk hidup yang hanya sekali ini. buatku, yah penyesalan selalu datang terlambat, tetapi kata penyesalan itu ada bukan untuk dikenang. penyesalan itu seharusnya masih tetap bisa kita nikmati, seperti kopiku yang hampir dingin ini.
aku bukan munafik. tetapi aku tahu, aku dan perempuan ini sama. ia terobsesi dengan kebebasan dan aku menginginkan kebahagiaan dalam hidup. oh, jangan ada dalam pikiran kalian aku jatuh cinta padanya seperti di film-film. aku masih normal untuk ukuran orang yang pesimistis tentang hidup. tetapi aku sadari, aku dan dia sama. mencoba bersikap dingin dan menikmati, mencari kesejatian hidup yang penuh misteri. berakhir seperti sungai yang tak lagi menjadi indah, bergitu busuk dan semakin digali kita tahu, kehidupan hanya tentang bagaimana kita bersikap. tidak akan ada penyesalan. penyesalan sejati itu bukan dari perkataan orang yang di negara ini begitu peduli dengan anggapan apa kata orang. dan penyesalan yang ia rasakan, bukan datang dari itu semua. penyesalan sejati datang ketika kau tak menikmati momen itu, dan bersikap sebagaimana mestinya.
dalam imajiku ketika detak-detak jam berdetk dalam keheningan. diikuti suara televisi yang meramaikan, atau agar orang-orang dari setiap meja tidak tahu apa yang diicarakan oleh meja sebelahnya. kunikmati kopiku yang sepenuhnya tidak dingin, tidak panas. biasa saja. seperti diseduh air putih. tetapi rasanya cukup membuatku nyaman. perempuan itu pamit. dan aku tetap sendiri, ku putuskan untuk pulang dengan berjalan. menatap kosong jalan di depanku, berusaha menjaga keseimbangan agar tetap lurus kemana mau da tujuanku. langkah kakiku begitu berat. ingin menangis saja malam ini. tapi air mata ini tak mau pecah. ia tertahan di sesenggukan dengan mataku yang mulai berkaca. Tuhan..... perempuan itu, perempuan ini, perempuan-perempuan dalam hidupku, bahkan laki-laki yang hadir alam kisahku. apakah salah dengan jalan hidupku yang sekarang? sedang tersesatkah aku? aku bukan lagi pemuja dan pujangga. kuputuskan untuk menutup mata. tetapi mata ini tak mau terpejam. terjaga hingga dua jam. hujan datang lagi. gerimis. aku......... berjalan saja dalam mimpi dan imaji. langkahku kuteruskan saja sekalipun banyak yang memaki dan mencaciku.
Selasa, 19 Juli 2016
aku bukan berkata benar dan salah, hanya saja cinta ini banyak rasa
duniaku memang tak sesemu senja yang kilaunya selalu hangatkan hati yang lelah.
bahkan semua kataku tak pernah terpuji dengan sebuah kata percaya yang mengeluhkanku dengan perasaan bangga.
tidak. bukan. hanya sebagian orang yang mampu menikmati itu semua. tetapi salah satunya bukan aku.
ini sebagian kisahku, sebagian milik mereka, dan sebagian lagi hanya sebuah 'destiny' yang entah memang ada atau tidak.
bukan. bukan aku tak percaya. aku percaya semua sudah tertulis. hanya semua 'destiny' yang kutulis di sini adalah AKU.
sebut saja dia 'Mutiara'. kububuhkan kisahnya dalam jemari malamku yang lelah seusai kerja. mendengar ceritanya semakin aku yakin bahwa memang cinta begitu banyak arti dalam setiap kehidupan manusia. ketika terjatuh dan mencoba bangkt, menahan rasa rindu yang membuncah, dia datang, mencoba bermanja, tetapi nyatanya untuk berkata selamat tinggal yang dengan brengseknya (menurut saya) ia menjatuhkan si Mutiara berkata ia memiliki seseorang yang akan dinikahinya. wuah, hebat. dunia sedang bersandiwarakah? atau menunjukkan, tidak perlu menonton bioskop dengan alur yang tak terduga untuk menangis haru apa yang 'coba' sedang kau rasakan. see? dalam kehidupan nyatamu, kamu punya tokoh utama lain selain dirimu yang sedang menikmati pahitnya kehidupan.
dan yang satunya lagi, sebut saja 'Wanita'. menjalin asmara selama bertahun-tahun, lalu kemudia ia ditinggalkan. tanpa kata. hingga ia memutuskan, ini sudah berakhir. se-simple itukah? tidak. dengan rumah yang sudah dicicil, perusahaan yang sedang jatuh bangun, bahkan tangisan dan kerinduan seakan tak cukup terucap dari pesan-pesan menguras air mata, tanpa tahu apa yang harus diperbuat.
satunya lagi, panggil saja 'Hitam'. terombang-ambing dengan obsesi tentang kebebasan. dalam hidup. dalam memilih. dan akhirnya menutup telinga dan tenggelam dalam setiap kata yang tercurah sambil memeluk jaket hangat. lalu apa hubungannya dengan cinta? yah, dia memutuskan untuk tak lagi mencinta, tapi ia habiskan waktunya untuk mengagumi cinta.
semua kudengarkan dengan sesenggukan tanpa air mata. yah, mereka perempuan. aku tak pernah berencana bertemu mereka. hanya pekerjaan yang membuatku melangkah keluar, dengan harap semu semua mampu membuatku hidup lagi.
untuk perempuan ketigalah yang membuatku sedikit bingung. si Hitam. bagaimana mungkin mengagumi cinta tanpa mencinta? hampir 4 bulan dia hanya berkutat dengan segala rutinitas gila menurutku. menangis sejadi-jadinya hingga lingkaran hitam menjadi pelengkap kecantikannya yang sayu. kemudian, bahagia sejadi-jadinya dengan keceriaan yang membuatku juga ingin bahagia dalam ceritanya. kemudian kami berempat hanya terduduk sendiri di minuman masing-masing sambil menikmati hingga tegukan suara 'sruuut' berhenti.
ini bukan tentang bagaimana juga perempuan kelima selain aku menikmati bermanja dengan mantan kekasihnya, yang ia tahu sudah memiliki pengganti. tak masalah buatku jika memang ingin saling menikmati satu sama lain tanpa ada yang tersakiti. bukankah cinta sendiri cukup untuk buatmu tersenyum saat kelelahanmu dalam kehidupan sudah terasa di ujung ubun? cinta ini menguatkan. hanya yang kusesalkan dari cintanya. logika dan realitas bukan lagi menjadi prioritas. membanggakan perasaan bukan hanya tentang perempuan mencintai dan berpikir begini-begitu. bukan. tetapi perempuan lain di samping lelakinya ini yang mungkin terluka. pedulikah aku? aku tidak peduli juga. hanya...... cinta memang selalu bisa membuat orang menjadi bodoh. tapi sebodoh inikah? aku pribadi memang pernah mencinta dengan bodoh. namun hati nurani dan logika semuku selalu menang. dan akhirnya kupupuskan rasa dan memendam kebodohan itu dalam puisi-puisi yang membuatku sesenggukan sendiri.
cinta.
jujur saja tidak akan pernah habis kata untuk menggambarkan satu kata itu. terlebih, jika cinta itu sudah seperti darah kental. dan membunuhmu pelan dengan harapan semua virus kenangan itu hanya terdapat keindahan. agar menikmati hidup dengan sebagaimana keinginan,
samudra senja. jam sebelas malam. tanggal 19 Juli.
bahkan semua kataku tak pernah terpuji dengan sebuah kata percaya yang mengeluhkanku dengan perasaan bangga.
tidak. bukan. hanya sebagian orang yang mampu menikmati itu semua. tetapi salah satunya bukan aku.
ini sebagian kisahku, sebagian milik mereka, dan sebagian lagi hanya sebuah 'destiny' yang entah memang ada atau tidak.
bukan. bukan aku tak percaya. aku percaya semua sudah tertulis. hanya semua 'destiny' yang kutulis di sini adalah AKU.
sebut saja dia 'Mutiara'. kububuhkan kisahnya dalam jemari malamku yang lelah seusai kerja. mendengar ceritanya semakin aku yakin bahwa memang cinta begitu banyak arti dalam setiap kehidupan manusia. ketika terjatuh dan mencoba bangkt, menahan rasa rindu yang membuncah, dia datang, mencoba bermanja, tetapi nyatanya untuk berkata selamat tinggal yang dengan brengseknya (menurut saya) ia menjatuhkan si Mutiara berkata ia memiliki seseorang yang akan dinikahinya. wuah, hebat. dunia sedang bersandiwarakah? atau menunjukkan, tidak perlu menonton bioskop dengan alur yang tak terduga untuk menangis haru apa yang 'coba' sedang kau rasakan. see? dalam kehidupan nyatamu, kamu punya tokoh utama lain selain dirimu yang sedang menikmati pahitnya kehidupan.
dan yang satunya lagi, sebut saja 'Wanita'. menjalin asmara selama bertahun-tahun, lalu kemudia ia ditinggalkan. tanpa kata. hingga ia memutuskan, ini sudah berakhir. se-simple itukah? tidak. dengan rumah yang sudah dicicil, perusahaan yang sedang jatuh bangun, bahkan tangisan dan kerinduan seakan tak cukup terucap dari pesan-pesan menguras air mata, tanpa tahu apa yang harus diperbuat.
satunya lagi, panggil saja 'Hitam'. terombang-ambing dengan obsesi tentang kebebasan. dalam hidup. dalam memilih. dan akhirnya menutup telinga dan tenggelam dalam setiap kata yang tercurah sambil memeluk jaket hangat. lalu apa hubungannya dengan cinta? yah, dia memutuskan untuk tak lagi mencinta, tapi ia habiskan waktunya untuk mengagumi cinta.
semua kudengarkan dengan sesenggukan tanpa air mata. yah, mereka perempuan. aku tak pernah berencana bertemu mereka. hanya pekerjaan yang membuatku melangkah keluar, dengan harap semu semua mampu membuatku hidup lagi.
untuk perempuan ketigalah yang membuatku sedikit bingung. si Hitam. bagaimana mungkin mengagumi cinta tanpa mencinta? hampir 4 bulan dia hanya berkutat dengan segala rutinitas gila menurutku. menangis sejadi-jadinya hingga lingkaran hitam menjadi pelengkap kecantikannya yang sayu. kemudian, bahagia sejadi-jadinya dengan keceriaan yang membuatku juga ingin bahagia dalam ceritanya. kemudian kami berempat hanya terduduk sendiri di minuman masing-masing sambil menikmati hingga tegukan suara 'sruuut' berhenti.
ini bukan tentang bagaimana juga perempuan kelima selain aku menikmati bermanja dengan mantan kekasihnya, yang ia tahu sudah memiliki pengganti. tak masalah buatku jika memang ingin saling menikmati satu sama lain tanpa ada yang tersakiti. bukankah cinta sendiri cukup untuk buatmu tersenyum saat kelelahanmu dalam kehidupan sudah terasa di ujung ubun? cinta ini menguatkan. hanya yang kusesalkan dari cintanya. logika dan realitas bukan lagi menjadi prioritas. membanggakan perasaan bukan hanya tentang perempuan mencintai dan berpikir begini-begitu. bukan. tetapi perempuan lain di samping lelakinya ini yang mungkin terluka. pedulikah aku? aku tidak peduli juga. hanya...... cinta memang selalu bisa membuat orang menjadi bodoh. tapi sebodoh inikah? aku pribadi memang pernah mencinta dengan bodoh. namun hati nurani dan logika semuku selalu menang. dan akhirnya kupupuskan rasa dan memendam kebodohan itu dalam puisi-puisi yang membuatku sesenggukan sendiri.
cinta.
jujur saja tidak akan pernah habis kata untuk menggambarkan satu kata itu. terlebih, jika cinta itu sudah seperti darah kental. dan membunuhmu pelan dengan harapan semua virus kenangan itu hanya terdapat keindahan. agar menikmati hidup dengan sebagaimana keinginan,
samudra senja. jam sebelas malam. tanggal 19 Juli.
Minggu, 10 Juli 2016
20160810
hujan mengguyur lagi dengan santainya.
mengalami hal yang seindahnya dalam khayal tak pernah mudah.
bahkan tersandung dan melangkah pergi seperti menjadi pilihan yang terpatri.
merasuk sukmaku... mengaliri asaku.
ku dengarkan lagu-lagu yang menyentuh hati.
"yanghwa bridge" dan "day by day.
lagu dari negeri gingseng yang mulai membuatku bermimpi untuk ke sana.
satu hari saja. yang mungkin akan kuharapkan sebulan hingga setahun.
banyak hal yang tersembunyi,
yang entah dituliskan dan diceritakan untuk siapa.
berkali-kali logika mengatakan "aku mampu bangkit", "aku bukan begini", "dll"...
semua hanya dalam suara yang bisa kudengar sendiri.
bahkan berbicara bayangan menjadi kemustahilan.
aku jatuh cinta, tetapi untuk melewatinya aku memilih cinta bukan pilihan yang akhirnya membuatku jatuh cinta.
rasanya seperti menelan darah kesekian kali meyakinkan diri semua baik-baik saja,
tapi semua tak pernah berjalan dengan semestinya.
kekosongan ini....
entah mampu ku jalan atau hanya kesemuan.
dihadapi bagaimanapun rasanya ingin berhenti.
aku terlalu perasa? atau sebutannya alay? rendah diri?
entah....
aku hanya tahu.
AKU INGIN BAHAGIA BERSAMANYA........
9 tahun bukan waktu yang singkat 'kan?
tapi kenapa tetap saja waktu seperti menarik ulur pikiran dan memori yang sedang enak-enaknya dipendam dan pulas tetidur?
entah......
atau aku mungkin yang sudah terbiasa.
i spend the night alone at the place you once wanted us to come to together
i told stories of our love to the falling stars (to the stars)
the memories we had, as numerous as the stars, bring tears to my eyes
the sky, clear as tears, comforts me
but my tears keep falling...
im not sad even though i'm alone because i have memories of us
but the memories can't fill the deep void inside of me
i wont wait for you even though im alone since you have already forgotten me
you were weren't even upset when we parted
you can always live without me
the cold words of your goodbye
my only words i have to say to you are tears
so i can't face you
as each day goes by, will i get used to it?
since i can see you every time i close my eyes
but now that i cannot be your joy
i will become sad again
as each day goes by, will i be able to forget
the memories of you and our love?
end the promise that i can't forget
i resign myself to sadness...
you can always live without me
the cold words of your goodbye
my only words i have to say to you are tears
so i can't face you
as each day goes by, will i get used to it?
since i can see you every time i close my eyes
but now that i cannot be your joy
i will become sad again
as each day goes by, will i be able to forget
the memories of you and our love?
end the promise that i can't forget
i resign myself to sadness...
mengalami hal yang seindahnya dalam khayal tak pernah mudah.
bahkan tersandung dan melangkah pergi seperti menjadi pilihan yang terpatri.
merasuk sukmaku... mengaliri asaku.
ku dengarkan lagu-lagu yang menyentuh hati.
"yanghwa bridge" dan "day by day.
lagu dari negeri gingseng yang mulai membuatku bermimpi untuk ke sana.
satu hari saja. yang mungkin akan kuharapkan sebulan hingga setahun.
banyak hal yang tersembunyi,
yang entah dituliskan dan diceritakan untuk siapa.
berkali-kali logika mengatakan "aku mampu bangkit", "aku bukan begini", "dll"...
semua hanya dalam suara yang bisa kudengar sendiri.
bahkan berbicara bayangan menjadi kemustahilan.
aku jatuh cinta, tetapi untuk melewatinya aku memilih cinta bukan pilihan yang akhirnya membuatku jatuh cinta.
rasanya seperti menelan darah kesekian kali meyakinkan diri semua baik-baik saja,
tapi semua tak pernah berjalan dengan semestinya.
kekosongan ini....
entah mampu ku jalan atau hanya kesemuan.
dihadapi bagaimanapun rasanya ingin berhenti.
aku terlalu perasa? atau sebutannya alay? rendah diri?
entah....
aku hanya tahu.
AKU INGIN BAHAGIA BERSAMANYA........
9 tahun bukan waktu yang singkat 'kan?
tapi kenapa tetap saja waktu seperti menarik ulur pikiran dan memori yang sedang enak-enaknya dipendam dan pulas tetidur?
entah......
atau aku mungkin yang sudah terbiasa.
day by day (haru haru)
by tashannie
i spend the night alone at the place you once wanted us to come to together
i told stories of our love to the falling stars (to the stars)
the memories we had, as numerous as the stars, bring tears to my eyes
the sky, clear as tears, comforts me
but my tears keep falling...
im not sad even though i'm alone because i have memories of us
but the memories can't fill the deep void inside of me
i wont wait for you even though im alone since you have already forgotten me
you were weren't even upset when we parted
you can always live without me
the cold words of your goodbye
my only words i have to say to you are tears
so i can't face you
as each day goes by, will i get used to it?
since i can see you every time i close my eyes
but now that i cannot be your joy
i will become sad again
as each day goes by, will i be able to forget
the memories of you and our love?
end the promise that i can't forget
i resign myself to sadness...
you can always live without me
the cold words of your goodbye
my only words i have to say to you are tears
so i can't face you
as each day goes by, will i get used to it?
since i can see you every time i close my eyes
but now that i cannot be your joy
i will become sad again
as each day goes by, will i be able to forget
the memories of you and our love?
end the promise that i can't forget
i resign myself to sadness...
Sabtu, 28 Mei 2016
12:18 am 28th may 2016
Trenyuh ku sangsikan waktu.
Berdekap pada kesendirian memandang jendela...
Memandangi hujan yang teramat rindu.
Untaian bait demi bait lirik dalam lantunan nada seperti tahu apa yang terlukis pada pena.
Menguratkan denyut-denyut asa dan ku terbujur lagi meringkuk sepi.
Sesengguklah karena tangisan yang pecah.
Tak kutemukan wajah yang dulu lingkupi rasa.
Ah, ini bukan nostalgia.
Menapaki tilas kisah, tak sadari aku hanya pualam.
Yang ditemani angin senja dan ku memeluk warna ini.
Pejamkan telinga, tajamkan rasa, gali lebih dalam lagi rasa, dan cium segala yang tampak indah.
Semua berbalut dalam kisah yang kuyakini memiliki rasa.
Kau memelukku, dan aku tak akan pernah melepasmu.
Adakah insan yang sudi?
Berdekap pada kesendirian memandang jendela...
Memandangi hujan yang teramat rindu.
Untaian bait demi bait lirik dalam lantunan nada seperti tahu apa yang terlukis pada pena.
Menguratkan denyut-denyut asa dan ku terbujur lagi meringkuk sepi.
Sesengguklah karena tangisan yang pecah.
Tak kutemukan wajah yang dulu lingkupi rasa.
Ah, ini bukan nostalgia.
Menapaki tilas kisah, tak sadari aku hanya pualam.
Yang ditemani angin senja dan ku memeluk warna ini.
Pejamkan telinga, tajamkan rasa, gali lebih dalam lagi rasa, dan cium segala yang tampak indah.
Semua berbalut dalam kisah yang kuyakini memiliki rasa.
Kau memelukku, dan aku tak akan pernah melepasmu.
Adakah insan yang sudi?
Rabu, 25 Mei 2016
Mei ini
Mulai tergugu ku menjalani hidup.
Sesak nafasku seakan sudah jenuh dengan kekhilafan.
Semua layaknya keserakahan akan ada maka dia ada yang menjadi alasan.
Tanpa tahu mengapa.
Tanpa peduli harus bagaimana.
Semua terkurung dalam ego.
Berpuluh tahun kumaklumi, bahkan menerima bahwa memang ini harus diterima.
Semua seperti prosa lama.
Mengulang lagi episode gila yang semakin mengerti mengapa kebodoham melewati masa hibernasi yang tak kunjung usai.
Aku yang terlalu perasa? Benarkah?
Berkali-kali ku sesaki dan ku jejali diri jika ini memang seharusnya.
Bahkan kupasrahkan diri dengan berharap perubahan yang berarti mulai menapakiku dengan indah.
Semua hanya sampah!!!!!
Perhtikan kata-kataku! Hanya S.A.M.P.A.H!!!!!
Keegoisan seperti menjadi raja.
Berlari menghunus pedang dan siap mencabik ketika kulewat.
Bahkan nuraniku yang berkata cukup ku tepis karena ini memang jalan yang harus kujalani.
Ini jalan berliku yang hanya setapak.
Namun penuh belukar, dan tak ada jalan lain lagi.
Ah, kupaksakan memangkasnya satu persatu tetapi belukar ini seperti tahu aku begitu rapuh bahkan menyayatku berkali-kali.
Se*an! Harus ku maki-kah di depan mereka agar mereka mengerti?
Jika memang yang mereka tawarkan materi, aku siap. Dengan kedua tanganku ku buka lebar mendongak dan meminta berapa-pun yang aku mau.
Tapi ini tidak begitu.
Bahkan, hati yang lelah harus terkoyak lagi dengan ungkapan tak tertatap, dan menjadi do'a dari bibir sang surga.
Tak perlu lagu sendu untuk buatku menangis melihat hidupku saja sudah bisa membuatku terkuku dan diam.
Ingin berlari tapi seperti terjerat dalam kehampaan.
Sesak nafasku seakan sudah jenuh dengan kekhilafan.
Semua layaknya keserakahan akan ada maka dia ada yang menjadi alasan.
Tanpa tahu mengapa.
Tanpa peduli harus bagaimana.
Semua terkurung dalam ego.
Berpuluh tahun kumaklumi, bahkan menerima bahwa memang ini harus diterima.
Semua seperti prosa lama.
Mengulang lagi episode gila yang semakin mengerti mengapa kebodoham melewati masa hibernasi yang tak kunjung usai.
Aku yang terlalu perasa? Benarkah?
Berkali-kali ku sesaki dan ku jejali diri jika ini memang seharusnya.
Bahkan kupasrahkan diri dengan berharap perubahan yang berarti mulai menapakiku dengan indah.
Semua hanya sampah!!!!!
Perhtikan kata-kataku! Hanya S.A.M.P.A.H!!!!!
Keegoisan seperti menjadi raja.
Berlari menghunus pedang dan siap mencabik ketika kulewat.
Bahkan nuraniku yang berkata cukup ku tepis karena ini memang jalan yang harus kujalani.
Ini jalan berliku yang hanya setapak.
Namun penuh belukar, dan tak ada jalan lain lagi.
Ah, kupaksakan memangkasnya satu persatu tetapi belukar ini seperti tahu aku begitu rapuh bahkan menyayatku berkali-kali.
Se*an! Harus ku maki-kah di depan mereka agar mereka mengerti?
Jika memang yang mereka tawarkan materi, aku siap. Dengan kedua tanganku ku buka lebar mendongak dan meminta berapa-pun yang aku mau.
Tapi ini tidak begitu.
Bahkan, hati yang lelah harus terkoyak lagi dengan ungkapan tak tertatap, dan menjadi do'a dari bibir sang surga.
Tak perlu lagu sendu untuk buatku menangis melihat hidupku saja sudah bisa membuatku terkuku dan diam.
Ingin berlari tapi seperti terjerat dalam kehampaan.
Kamis, 28 April 2016
Malam (1)
Malam...
Sedikit kecewa ku pada diri. Begitu lemah untuk bersandar pada anak-anak tangga. Menapaki kesemuan. Dan biarkan waktu melangkah. Bukan lagi tentang diriku. Mengenal lagi seseorang yang baru, namun awal saja sudah buatku ragu. Entah.....
Keraguan yang cukup membuat ku mulai lagi mengetikkan rasa dengan jari-jari mungilku. Sayang.... Semua seperti tenggelam.
Ingin kuhidupkan lagi hati yang sempat mati. Menapaki lagi dengung-dengung sendu yang inginkan surga. Yang harusnya tak pernah pantas rasanya ku mengharap.
Liberal? Sayangnya aku tak seidealis itu. Mengaku ke-kaku-an dan peduli lirik sana-sini berkomentar dan mendengungkan ini benar -ini salah. Aku bukan manusia yang begitu. Demokratis? Aku juga bukan. Menuruti mana yang paling banyak, dan akhirnya untuk rakyat terbodoh pun, tak tahu mengapa, siapa, dimana, bagaimana, dan kapan, setara raja yang dengan licik melakukan apapun untuk kepentingan mereka. Dan aku bukan juga dari kaum borjuis pemilik tahta, namun tak ingin juga disamakan dengan air comberan
Cukup tahu untuk apa dan siapa ku bersua dan beradab. Bersuara layaknya gentongan. Tapi bukan masalah aku ini siapa?
Jiwa ini rasanya ingin bebas. Tapi juga ingin terikat saja dalam nyanyian gema. Melonglong elegi dan memeluk sukma raga yang pergi. Hujan ini.... Tak akan mengerti bahwa angin-angin berhembus tak peduli. Ingin lagi kuterbang... Tapi sayap ini tak lagi sama. Seperti kurasakan sekarang. Berpasrah. Tapi akan kubulatkan tekad.
Demi seseorang bernama Farra. Diriku. Aku. Falla. Yang begitu egois mencintai diri. Melawan ini semua. Dan berkata, aku bisa melewati kepingan-kepingan yang entah kapan akan berserakan retak. Membelengguku....
Sedikit kecewa ku pada diri. Begitu lemah untuk bersandar pada anak-anak tangga. Menapaki kesemuan. Dan biarkan waktu melangkah. Bukan lagi tentang diriku. Mengenal lagi seseorang yang baru, namun awal saja sudah buatku ragu. Entah.....
Keraguan yang cukup membuat ku mulai lagi mengetikkan rasa dengan jari-jari mungilku. Sayang.... Semua seperti tenggelam.
Ingin kuhidupkan lagi hati yang sempat mati. Menapaki lagi dengung-dengung sendu yang inginkan surga. Yang harusnya tak pernah pantas rasanya ku mengharap.
Liberal? Sayangnya aku tak seidealis itu. Mengaku ke-kaku-an dan peduli lirik sana-sini berkomentar dan mendengungkan ini benar -ini salah. Aku bukan manusia yang begitu. Demokratis? Aku juga bukan. Menuruti mana yang paling banyak, dan akhirnya untuk rakyat terbodoh pun, tak tahu mengapa, siapa, dimana, bagaimana, dan kapan, setara raja yang dengan licik melakukan apapun untuk kepentingan mereka. Dan aku bukan juga dari kaum borjuis pemilik tahta, namun tak ingin juga disamakan dengan air comberan
Cukup tahu untuk apa dan siapa ku bersua dan beradab. Bersuara layaknya gentongan. Tapi bukan masalah aku ini siapa?
Jiwa ini rasanya ingin bebas. Tapi juga ingin terikat saja dalam nyanyian gema. Melonglong elegi dan memeluk sukma raga yang pergi. Hujan ini.... Tak akan mengerti bahwa angin-angin berhembus tak peduli. Ingin lagi kuterbang... Tapi sayap ini tak lagi sama. Seperti kurasakan sekarang. Berpasrah. Tapi akan kubulatkan tekad.
Demi seseorang bernama Farra. Diriku. Aku. Falla. Yang begitu egois mencintai diri. Melawan ini semua. Dan berkata, aku bisa melewati kepingan-kepingan yang entah kapan akan berserakan retak. Membelengguku....
Senin, 18 April 2016
Kosong
Teringat lagi kenangan pahit.
Haha, harusnya cukup hilangkan saja dari pikir ini.
Sekelebat dan mulai lagi menitikkan sendu-sendu kenangan.
Mulai terasa lagi bagaimana.....
Mulai terngiang lagi-lagi suara-suara.....
Datang lagi bahkan gema-gema delusi yang semegah mentari terbit dan tenggelam memaku mataku.
Harusnya senyum ini mampu buatku berlari.
Bahkan sakitku memaksa untuk merangkak.
Namun, hanya dalam khayalku.
Nyatanya, tubuh ini hanya diam.
Layaknya serpihan bakat, tanpa asahan ia menjadi dirinya.
Dan ketika orang bertanya sejarah.....
Malah menghancur luluhkan semua bakat itu, menjadikannya seperti setir mobil yang hanya dapat berjalan dengan kemudi.
Dan.... Aku tak ingin hidup seperti itu.
Mereka.... Mungkin hanya peduli saja.
Bersimpati, tanpa empati yang menenangkan.
Mereka.... Mungkin hanya tersenyum menguatkan tanpa tahu sakitnya ditinggalkan.
Berjuang memang tak sebercanda itu.
Hasil? Kalau kau tanyakan?!
Aku hanya akan tertawa terbahak melihat kau memandang sinis ke arahku.
Kerinduan...
Kadang menjadi ruam yang tiba-tiba datang dan tak mau hilang.
Sudah kubilang daridulu, jangan pernah percaya kata-kataku!!!!
Seorang penyair, penulis, atau apalah sebutanmu padaku, menuliskan apa yang ia rasa.
Bisa saja itu hanya pandangan semu tanpa arti dari yang orang ceritakan.
Sungguh, jangan pernah percaya!!!!
Bahkan, angin yang mulai jarang berhembus akan jadi musuhnya.
Karena kerinduan yang tak terobati hanya dengan menunggu.
Bualan apa lagi yang ku tulis?
Orang-orang seperti seenak jidat ongkang-angking komentar tanpa dasar dan mau bertanggung jawab dengan apa yang mereka katakan.
Stalking sana-sini dengan dalil, hanya ingin tahu saja bagaimana kabarnya 'dia'.
Entah dia siapa yang mereka maksud.
Bukan tentang 'nyinyir lambe' kata orang Jawa.
Hanya saja, bercanda dengan diam seperti ini.
Cukup menyiksa kepalaku!
Rasanya mau pecah!
Hingga berdiri saja, dengan senyum menertawakan diri yang lemah dan akhirnya lelah mati-matian berjuang untuk bangun, dan tidur lagi di kasur empuk memeluk selimut dan guling sambil berharap semua ini hanya sementara untuk kesekian-kalinya.
Awan mendung bahkan seperti tak tahu malu.
Mengintip seenaknya, namun hujan yang ditunggu-tunggu seperti menunggu kemustahilan.
Rintik-rintik untuk sejukkan pernafasan saja tak turun hanya sekedar mengurangi somatis diri yang begitu kesakitan sambil menenangkan emosi.
Bintang ini biru....
Seperti lautan mati yang mulai kelam.
Bahkan senja hanya menjadi siluet kosong di Negeri ini!
Bedebah apa lagi yang muncul di otakku?
Lambaian ombak, nyanyian gereja, seperti obat pengantar tidur dan lagu 'lullaby' terindah.
Bersautan dengan syaraf-syaraf yang mulai redupkan mata, dan membuat semua pada satu titik....
Tidur.
Saat Tahajud yang kulewatkan sambil menunggu gelisah terbang.
Haha, harusnya cukup hilangkan saja dari pikir ini.
Sekelebat dan mulai lagi menitikkan sendu-sendu kenangan.
Mulai terasa lagi bagaimana.....
Mulai terngiang lagi-lagi suara-suara.....
Datang lagi bahkan gema-gema delusi yang semegah mentari terbit dan tenggelam memaku mataku.
Harusnya senyum ini mampu buatku berlari.
Bahkan sakitku memaksa untuk merangkak.
Namun, hanya dalam khayalku.
Nyatanya, tubuh ini hanya diam.
Layaknya serpihan bakat, tanpa asahan ia menjadi dirinya.
Dan ketika orang bertanya sejarah.....
Malah menghancur luluhkan semua bakat itu, menjadikannya seperti setir mobil yang hanya dapat berjalan dengan kemudi.
Dan.... Aku tak ingin hidup seperti itu.
Mereka.... Mungkin hanya peduli saja.
Bersimpati, tanpa empati yang menenangkan.
Mereka.... Mungkin hanya tersenyum menguatkan tanpa tahu sakitnya ditinggalkan.
Berjuang memang tak sebercanda itu.
Hasil? Kalau kau tanyakan?!
Aku hanya akan tertawa terbahak melihat kau memandang sinis ke arahku.
Kerinduan...
Kadang menjadi ruam yang tiba-tiba datang dan tak mau hilang.
Sudah kubilang daridulu, jangan pernah percaya kata-kataku!!!!
Seorang penyair, penulis, atau apalah sebutanmu padaku, menuliskan apa yang ia rasa.
Bisa saja itu hanya pandangan semu tanpa arti dari yang orang ceritakan.
Sungguh, jangan pernah percaya!!!!
Bahkan, angin yang mulai jarang berhembus akan jadi musuhnya.
Karena kerinduan yang tak terobati hanya dengan menunggu.
Bualan apa lagi yang ku tulis?
Orang-orang seperti seenak jidat ongkang-angking komentar tanpa dasar dan mau bertanggung jawab dengan apa yang mereka katakan.
Stalking sana-sini dengan dalil, hanya ingin tahu saja bagaimana kabarnya 'dia'.
Entah dia siapa yang mereka maksud.
Bukan tentang 'nyinyir lambe' kata orang Jawa.
Hanya saja, bercanda dengan diam seperti ini.
Cukup menyiksa kepalaku!
Rasanya mau pecah!
Hingga berdiri saja, dengan senyum menertawakan diri yang lemah dan akhirnya lelah mati-matian berjuang untuk bangun, dan tidur lagi di kasur empuk memeluk selimut dan guling sambil berharap semua ini hanya sementara untuk kesekian-kalinya.
Awan mendung bahkan seperti tak tahu malu.
Mengintip seenaknya, namun hujan yang ditunggu-tunggu seperti menunggu kemustahilan.
Rintik-rintik untuk sejukkan pernafasan saja tak turun hanya sekedar mengurangi somatis diri yang begitu kesakitan sambil menenangkan emosi.
Bintang ini biru....
Seperti lautan mati yang mulai kelam.
Bahkan senja hanya menjadi siluet kosong di Negeri ini!
Bedebah apa lagi yang muncul di otakku?
Lambaian ombak, nyanyian gereja, seperti obat pengantar tidur dan lagu 'lullaby' terindah.
Bersautan dengan syaraf-syaraf yang mulai redupkan mata, dan membuat semua pada satu titik....
Tidur.
Saat Tahajud yang kulewatkan sambil menunggu gelisah terbang.
Minggu, 10 April 2016
Seucap...
Aku mencari. Bahkan sedetik saja rasanya melelahkan. Seandainya cerita itu milikku. Menemukannya, memutuskan bersama, kalaupun akan kehilangan... Tentunya rasa sakit lagi. Namun, berakhir dengan satu nama. Tetapi hidup tak seenaknya bisa kita tuliskan. Bertemu siapa, jatuh cinta dengan siapa, bahkan merasa nyaman dengan siapa. Semua itu mustahil untuk direncanakan. Namun, cukup terlepas dan sering mereka sebut dengan kebetulan. Seucap saja bertanya dalam hati, apakah ini memang kebetulan?
Namun, sahabat menepuk pundakku dan mengingatkan. Tidak ada yang kebetulan, semua sudah terencana dalam skenario Pencipta. Aaahhh, fikirku. Kemana saja aku kemarin? Melupakan nikmat Tuhan bahwa memang semua jalan hidup ini sudah ter-skenario semedikian rupa. Kita, hanya menuliskan impian dan berusaha mewujudkan! Sial, bagaimana aku bisa lupa? Tersesatkah aku kemarin?
Puing-puing sepi seperti menamparku. Dingin ini, hadirkan rasa sesal! Mengapa aku tak tertidur saja? Berjalan sendirian begini... Sudah terlalu malam. Jam lembur bahkan tak bisa pejamkan mata yang lelah ini. Rasanya seperti membakqr mimpiku.
Namun, sahabat menepuk pundakku dan mengingatkan. Tidak ada yang kebetulan, semua sudah terencana dalam skenario Pencipta. Aaahhh, fikirku. Kemana saja aku kemarin? Melupakan nikmat Tuhan bahwa memang semua jalan hidup ini sudah ter-skenario semedikian rupa. Kita, hanya menuliskan impian dan berusaha mewujudkan! Sial, bagaimana aku bisa lupa? Tersesatkah aku kemarin?
Puing-puing sepi seperti menamparku. Dingin ini, hadirkan rasa sesal! Mengapa aku tak tertidur saja? Berjalan sendirian begini... Sudah terlalu malam. Jam lembur bahkan tak bisa pejamkan mata yang lelah ini. Rasanya seperti membakqr mimpiku.
Kamis, 07 April 2016
Entahlah...
Memandang suasana yang seperti kenyataan.
Merindukan hal yang tak ada.
Bukan aku terlalu pujangga tuk menuliskan semua.
Tertatih menata diri.
Terperosok berkali-kali dan ku nikmati.
Ah, aku sedang sial dengan hidupku.
Tapi aku tak pernah menyesal.
Hanya saja....
Semua berjalan tak seperti yang dipikirkan.
Tak semestinya terlalu perasa.
Bukan.
Ini hanya tentang peka yang mau terungkapkan atau hanya tak perlu dan tak ingin terungkap.
Kalian tak mengerti dan tak akan mengerti.
Seperti kalimat yang kalian baca barusan.
Aku membuat yang mudah dimengerti menjadi tak dimengerti.
Lepaskan saja kesombongan itu.
Pergi saja...
Peluh lelahku tak lagi sama.
Seakan menjadi kotoran untukku sendiri.
Anj++*! Inginku memaki saja.
Kelainan?
Hahahahah, aku mungkin sudah porak poranda sebelum dunia tau aku hanya seorang brengsek dan pengecut yang hanya bermodal topeng sok kuat dan menjadikan nyata kata-kata tak berarti.
Gila!
Mungkin akan tau aku tak seperti ini.
Hanya, mengenalku saja belum cukup.
Kadang kuungkapkan apa yang tak kurasa.
Kulukiskan laku yang tak ku mengerti.
Dan semua berjalan dengan nama kehidupan.
Bersama omong kosong yang berjalan mengiringinya...
Merindukan hal yang tak ada.
Bukan aku terlalu pujangga tuk menuliskan semua.
Tertatih menata diri.
Terperosok berkali-kali dan ku nikmati.
Ah, aku sedang sial dengan hidupku.
Tapi aku tak pernah menyesal.
Hanya saja....
Semua berjalan tak seperti yang dipikirkan.
Tak semestinya terlalu perasa.
Bukan.
Ini hanya tentang peka yang mau terungkapkan atau hanya tak perlu dan tak ingin terungkap.
Kalian tak mengerti dan tak akan mengerti.
Seperti kalimat yang kalian baca barusan.
Aku membuat yang mudah dimengerti menjadi tak dimengerti.
Lepaskan saja kesombongan itu.
Pergi saja...
Peluh lelahku tak lagi sama.
Seakan menjadi kotoran untukku sendiri.
Anj++*! Inginku memaki saja.
Kelainan?
Hahahahah, aku mungkin sudah porak poranda sebelum dunia tau aku hanya seorang brengsek dan pengecut yang hanya bermodal topeng sok kuat dan menjadikan nyata kata-kata tak berarti.
Gila!
Mungkin akan tau aku tak seperti ini.
Hanya, mengenalku saja belum cukup.
Kadang kuungkapkan apa yang tak kurasa.
Kulukiskan laku yang tak ku mengerti.
Dan semua berjalan dengan nama kehidupan.
Bersama omong kosong yang berjalan mengiringinya...
Selasa, 05 April 2016
Tenanglah...
Melupakan. Tidak akan pernah ada cerita mudah. Hampir 8tahun berlalu dan ceritanya tetap sama.
Ingin rasanya jadi pelukis. Jatuh cinta dengan gambarnya. Tak perlu tau bagaimana wajah pelukisnya. Cukup jatuh cinta saja...
Apa sesajak ini menjelaskan?
Ingin rasanya jadi pelukis. Jatuh cinta dengan gambarnya. Tak perlu tau bagaimana wajah pelukisnya. Cukup jatuh cinta saja...
Apa sesajak ini menjelaskan?
Senin, 04 April 2016
Pergi
Kini ku relakan semua tentang kita untuk pulang ke tempatnya masing-masing. Berlarian memecah lagi bagian-bagian semu untuk pergi lagi kemana mereka mau.
Dengan senyum ku tertawakan hari yang pernah ku tangisi.
Berkawankan hujan dan pelangi sekejap yang memanjakan mata dan hati yang bersedih.
Ah... Kata itu lagi. Harusnya ku hilangkan saja dari kamusku.
Kata mereka, mata ini mulai meredup.
Aku bukan keturunan orang C*** yang memiliki mata sipit.
Tapi memang... Tatapanku tak sesendu dulu dengan keriput yang hiasi kelopak mataku yang lelah.
Banyak catatan dalam piluku yang ingin ku buang.
Lingkarang putih hiasi mimpi, seakan sayap-sayap merpati sadarkanku.
"Aku ingin terbang!"
Hiasan suara guntur.
Amarah dalam simfoni kalbu.
Kerikil-kerikil bisu yang hanya menatap diam saat kaki ini melangkah saja tak tentu arah.
Berlari di pagi subuh.
Menghirup oksigen bersama debu.
Membuat semuanya seperti pertama kali aku melangkah.
Belajar untuk mulai bisa berjalan.
Bahkan hanya untuk mendorongku jatuh.
Dan kau ambil lagi serpihan kaca.
Kau lukis satu nama.
Namaku.....
Dan menari. Seperti orang hilang akal.
Kita menari.
Hitamku semakin semu.
Berjalan di keabu-abuan tidak akan pernah menyenangkan.
Berlari....
Memelukmu.
Tidak lagi dalam khayalku.
Pergi.
Dengan senyum ku tertawakan hari yang pernah ku tangisi.
Berkawankan hujan dan pelangi sekejap yang memanjakan mata dan hati yang bersedih.
Ah... Kata itu lagi. Harusnya ku hilangkan saja dari kamusku.
Kata mereka, mata ini mulai meredup.
Aku bukan keturunan orang C*** yang memiliki mata sipit.
Tapi memang... Tatapanku tak sesendu dulu dengan keriput yang hiasi kelopak mataku yang lelah.
Banyak catatan dalam piluku yang ingin ku buang.
Lingkarang putih hiasi mimpi, seakan sayap-sayap merpati sadarkanku.
"Aku ingin terbang!"
Hiasan suara guntur.
Amarah dalam simfoni kalbu.
Kerikil-kerikil bisu yang hanya menatap diam saat kaki ini melangkah saja tak tentu arah.
Berlari di pagi subuh.
Menghirup oksigen bersama debu.
Membuat semuanya seperti pertama kali aku melangkah.
Belajar untuk mulai bisa berjalan.
Bahkan hanya untuk mendorongku jatuh.
Dan kau ambil lagi serpihan kaca.
Kau lukis satu nama.
Namaku.....
Dan menari. Seperti orang hilang akal.
Kita menari.
Hitamku semakin semu.
Berjalan di keabu-abuan tidak akan pernah menyenangkan.
Berlari....
Memelukmu.
Tidak lagi dalam khayalku.
Pergi.
Minggu, 03 April 2016
Sajak saja... Tanpa rasa.
Terimakasih, Tuhan...
Kau hadirkan lagi rasa yang sama.
Yang perlu ku lakukan sekarang hanya memandang awan.
Dengan segala dayaku untuk menjadikannya pelangi tanpa hujan.
Biar seperti memecah andromeda.
Bingkisan terindah di antariksa yang tak terjamah, hanya mengira.
Palung karang membelah ombak di lautan.
Mata sayuku hanya mengawasi dan berharap menjadi camar untuk lari.
Ku nikmati awan yang mulai mengarak matahari bangun.
Warna jingganya....
Sendu senjanya.
Seakan membuatku ingin berlari ke sana dan membelai mesra rona merahnya.
Tak mudah. Aku tau...
Bahkan ku dapati diriku berjalan.
Dan duduk saja seperti peri yang cahaya mati.
Remukkah? Sayap-sayap ini apakah remuk?
Kau hadirkan lagi rasa yang sama.
Yang perlu ku lakukan sekarang hanya memandang awan.
Dengan segala dayaku untuk menjadikannya pelangi tanpa hujan.
Biar seperti memecah andromeda.
Bingkisan terindah di antariksa yang tak terjamah, hanya mengira.
Palung karang membelah ombak di lautan.
Mata sayuku hanya mengawasi dan berharap menjadi camar untuk lari.
Ku nikmati awan yang mulai mengarak matahari bangun.
Warna jingganya....
Sendu senjanya.
Seakan membuatku ingin berlari ke sana dan membelai mesra rona merahnya.
Tak mudah. Aku tau...
Bahkan ku dapati diriku berjalan.
Dan duduk saja seperti peri yang cahaya mati.
Remukkah? Sayap-sayap ini apakah remuk?
Jumat, 01 April 2016
Redial -15 12 15
Hey..
Pernahkah awan sebegini abu-abunya?
Senduku mewarnai senja.
Yang bahkan ingin kulupakan tetapi selalu ada.
Ilusi ini hanya sementara, 'kan?
Setitik embun saja....
Bisakah pagi membangunkanku lagi dengan senyum hangatnya?
Berlari malu dengan sapaan pagi yang tak pernah bisa terbohongi...
Hatiku yang bahagia, dan teringat janjimu.
Jangan....
Satu dekade ini bahkan tak cukup meski ku arungi kisah sepi.
Bayangan... Akan tetap menghantuiku.
'Aku akan selalu baik-baik saja'.
Hatiku berharap menguatkan.
Untuk melewati setiap kubuka mata ini.
Bahwa akan selalu ada hari yang harus terlewati.
24 jam yang tak pernah cukup menjadi 'hari'.
Keegoisan ini sepertinya abadi.
Mana yang benar, dan mana yang salah.
Mana ketulusan atau hanya sekedar pujian?
Semua hanya sekedar asa.
Omong kosong.
Seperti air ini....
Mengalir ke muaranya.
Kunikmati dengan arusnya.
Raga ini, hanya jasad.
Tanpa perlu tau apapun.
Pernahkah awan sebegini abu-abunya?
Senduku mewarnai senja.
Yang bahkan ingin kulupakan tetapi selalu ada.
Ilusi ini hanya sementara, 'kan?
Setitik embun saja....
Bisakah pagi membangunkanku lagi dengan senyum hangatnya?
Berlari malu dengan sapaan pagi yang tak pernah bisa terbohongi...
Hatiku yang bahagia, dan teringat janjimu.
Jangan....
Satu dekade ini bahkan tak cukup meski ku arungi kisah sepi.
Bayangan... Akan tetap menghantuiku.
'Aku akan selalu baik-baik saja'.
Hatiku berharap menguatkan.
Untuk melewati setiap kubuka mata ini.
Bahwa akan selalu ada hari yang harus terlewati.
24 jam yang tak pernah cukup menjadi 'hari'.
Keegoisan ini sepertinya abadi.
Mana yang benar, dan mana yang salah.
Mana ketulusan atau hanya sekedar pujian?
Semua hanya sekedar asa.
Omong kosong.
Seperti air ini....
Mengalir ke muaranya.
Kunikmati dengan arusnya.
Raga ini, hanya jasad.
Tanpa perlu tau apapun.
Kamis, 31 Maret 2016
Malam ini saja
Bersemayam dalam dada. Semua kebisuan yang memandangku hampa. Bukan lagi tentang cinta. Rasa yang kini entah apa aku rasa dengan cara pandang yang seperti apa. Kemarin seperti pelepuh. Melihat awan begitu abu-abu. Kelabu yang begitu menyesakkan hingga air mata tak hentinya memelukku sambil menulis 'namamu'.
Pintu terketuk. Sejenak kuhentikan tangisku bersama fantasi dan kenangan. Masuk bidadari khayalanku. Membelai rambutku dan mengelus semua lelahku. Detik berlalu, dan mata ini tetap tak mau terpejam. Padahal malam ini, tak satupun kafein masuk dalam tubuhku. Bahkan, dari teh setetes saja. Beruntung ditemani dentingan lagu yang ku pilih. MLTR - that's why yo go away. Bukan meratapi dengan lagu sendu. Tapi nada-nadanya begitu sempurna. Bahkan instrumen 'romance' yang selalu mengingatkanku dengan Barcelona menjadi teman lelapku. Malam ini saja.... Ingin rasanya aku menangis dan kau memelukku tenang seperti dulu. Hanya untuk mencoba tidurkanku. Sejenak terlupa dari beban. Bahkan, hanya untuk mencoba bernafas aku mulai merasa dada ini begitu sempit. Bahkan kerongkongan seperti pelan-pelan tersendat menghalangi oksigen masuk ke paru-paruku. Andai niat ini jebol. Mungkin kaki ini sudah melangkah berjalan ke supermarket dan membeli sebungkus tembakau kecil kesukaanku dulu. Bahkan, hanya membeli sekaleng bir seperti dulu, niat ini seperti membelenggu pelan-pelan. Hanya memandang kosong langit-langit kamar yang berwarna kuning cerah. Cukup untuk menambah semangat ketika mata mulai terbuka setiap paginya. Bahkan 'dream chatcer' yang terpasang di jendela tak cukup membuat tidur terlelap dengan mimpi yang sekedar indah. Dingin mulai merasuki. Kacamataku mulai berembun. "Yaah.. Aku ingin bertemu denganmu". Rasanya tanpa sadar kuucapkan dalam bahasa Korea. Pikiran seperti meminta-minta, andai nikotin ada di tangan, mungkin tak seberat ini. Namun, hanya andai. Pilu tentang pedih yang sendu, bahkan kubiarkan seakan terlupa dan berlindung di pintu yang terketuk. Nyatanya semua hanya dalam khayalku untuk puaskan hasratku yang ingin pergi.
Tak ada pintu terketuk. Hanya angin yang mulai membukanya tanpa bisa permisi lebih sopan. Tulisan-tulisan di dinding yang berisi semangat sepertinya juga tak bermakna dan bisu dengan sewajarnya kata. Membiru, delusi-delusi berkeliaran dan mulai berhalusinasi lagi dengan mimpi. Malam ini saja, cukup kuhabiskan waktuku dengan begini. Berjalan saja, dan mereka akan tetap memandangku sama. Dandelion kecil, dengan sejuta keangkuhannya. Cuma bisa tertawa. Diam. Dan sadar bahwa pintu mulai terkunci lagi. Tanpa perlu ahlinya. Tanpa butuh anak kuncinya. Tanpa peduli lagi, rasa yang sempat membuat bahagia.
Pintu terketuk. Sejenak kuhentikan tangisku bersama fantasi dan kenangan. Masuk bidadari khayalanku. Membelai rambutku dan mengelus semua lelahku. Detik berlalu, dan mata ini tetap tak mau terpejam. Padahal malam ini, tak satupun kafein masuk dalam tubuhku. Bahkan, dari teh setetes saja. Beruntung ditemani dentingan lagu yang ku pilih. MLTR - that's why yo go away. Bukan meratapi dengan lagu sendu. Tapi nada-nadanya begitu sempurna. Bahkan instrumen 'romance' yang selalu mengingatkanku dengan Barcelona menjadi teman lelapku. Malam ini saja.... Ingin rasanya aku menangis dan kau memelukku tenang seperti dulu. Hanya untuk mencoba tidurkanku. Sejenak terlupa dari beban. Bahkan, hanya untuk mencoba bernafas aku mulai merasa dada ini begitu sempit. Bahkan kerongkongan seperti pelan-pelan tersendat menghalangi oksigen masuk ke paru-paruku. Andai niat ini jebol. Mungkin kaki ini sudah melangkah berjalan ke supermarket dan membeli sebungkus tembakau kecil kesukaanku dulu. Bahkan, hanya membeli sekaleng bir seperti dulu, niat ini seperti membelenggu pelan-pelan. Hanya memandang kosong langit-langit kamar yang berwarna kuning cerah. Cukup untuk menambah semangat ketika mata mulai terbuka setiap paginya. Bahkan 'dream chatcer' yang terpasang di jendela tak cukup membuat tidur terlelap dengan mimpi yang sekedar indah. Dingin mulai merasuki. Kacamataku mulai berembun. "Yaah.. Aku ingin bertemu denganmu". Rasanya tanpa sadar kuucapkan dalam bahasa Korea. Pikiran seperti meminta-minta, andai nikotin ada di tangan, mungkin tak seberat ini. Namun, hanya andai. Pilu tentang pedih yang sendu, bahkan kubiarkan seakan terlupa dan berlindung di pintu yang terketuk. Nyatanya semua hanya dalam khayalku untuk puaskan hasratku yang ingin pergi.
Tak ada pintu terketuk. Hanya angin yang mulai membukanya tanpa bisa permisi lebih sopan. Tulisan-tulisan di dinding yang berisi semangat sepertinya juga tak bermakna dan bisu dengan sewajarnya kata. Membiru, delusi-delusi berkeliaran dan mulai berhalusinasi lagi dengan mimpi. Malam ini saja, cukup kuhabiskan waktuku dengan begini. Berjalan saja, dan mereka akan tetap memandangku sama. Dandelion kecil, dengan sejuta keangkuhannya. Cuma bisa tertawa. Diam. Dan sadar bahwa pintu mulai terkunci lagi. Tanpa perlu ahlinya. Tanpa butuh anak kuncinya. Tanpa peduli lagi, rasa yang sempat membuat bahagia.
Rabu, 30 Maret 2016
Lagi?
Sudah berapa lama aku mendekam diam?
Bahkan, badai datang tak ku hiraukan.
Apa sekarang memang sedang ingin?
Ah, aku tak tau.
Memandang langit yang tak sama. Begitu abu-abu. Bukan aku tak suka. Hanya saja, langit seperti tau apa isi hatiku. Putih dan biru bukankah lebih indah? Bahkan senja begitu pudar. Merindukan diriku yang bisa berlari juga tidak pernah sesulit ini. Apakah memeluk bulan selalu penuh dengan jalan yang begitu rumit begini?
Sudah kubuka mata, tapi rasanya masih tetap ingin menatap lebih bebas. Memandang luasnya langit yang kuanggap laut. Dan burung-burung yang terbang bebas itu ikan. Indahnya....
Jangan bilang kalau saat ini, lebih omong kosong dari biasanya. Bahkan, aku tak merencanakan semua, tapi sakit ini begitu saja hadir menikam berkali-kali. Apa perasaan ini selalu saja benar? Ingin kumaki saja diriku sendiri. Bahkan menjadikan diriku berkeping-keping begini.
Yah, mungkin aku sudah gila. Begitu gilanya, bahkan saat aku tau. Semua ini tidak bisa hanya jadi kesalahanku. Terlalu baik? Aku bahkan tak tau mana orang baik dan tidak. Buatku, sama saja...
Aku ingin pulang. Entah pulang kemana pun aku rela. Dengan siapapun yang memelukku setelah tau kekuranganku, aku akan terus di sampingnya. Terlalu mustahil, ya? Rasanya seakan matahari tau betapa bodohnya aku mematikan diri perlahan. Pilunya, mereka pun tertawa. Seakan tertawa, tanpa kusadari, tanpa kumengerti, seakan dosaku dan aku adalah yang paling hina.
Apa mengenalnya juga bagian dari cerita? Apa bertemu tak sengaja juga bagian dari rasa yang harusnya terimpan di pandora? Aku ingin lepaskan semua. Bukan untuk lari. Tapi memulai lembar baru. Tanpa membuang lembar usang yang sedikit terbakar, cukup menutupnya. Agar tak menghantui seperti hari ini. Seakan dosaku ini begitu brutal untuk aku, yang wanita ini.
Bahkan, badai datang tak ku hiraukan.
Apa sekarang memang sedang ingin?
Ah, aku tak tau.
Memandang langit yang tak sama. Begitu abu-abu. Bukan aku tak suka. Hanya saja, langit seperti tau apa isi hatiku. Putih dan biru bukankah lebih indah? Bahkan senja begitu pudar. Merindukan diriku yang bisa berlari juga tidak pernah sesulit ini. Apakah memeluk bulan selalu penuh dengan jalan yang begitu rumit begini?
Sudah kubuka mata, tapi rasanya masih tetap ingin menatap lebih bebas. Memandang luasnya langit yang kuanggap laut. Dan burung-burung yang terbang bebas itu ikan. Indahnya....
Jangan bilang kalau saat ini, lebih omong kosong dari biasanya. Bahkan, aku tak merencanakan semua, tapi sakit ini begitu saja hadir menikam berkali-kali. Apa perasaan ini selalu saja benar? Ingin kumaki saja diriku sendiri. Bahkan menjadikan diriku berkeping-keping begini.
Yah, mungkin aku sudah gila. Begitu gilanya, bahkan saat aku tau. Semua ini tidak bisa hanya jadi kesalahanku. Terlalu baik? Aku bahkan tak tau mana orang baik dan tidak. Buatku, sama saja...
Aku ingin pulang. Entah pulang kemana pun aku rela. Dengan siapapun yang memelukku setelah tau kekuranganku, aku akan terus di sampingnya. Terlalu mustahil, ya? Rasanya seakan matahari tau betapa bodohnya aku mematikan diri perlahan. Pilunya, mereka pun tertawa. Seakan tertawa, tanpa kusadari, tanpa kumengerti, seakan dosaku dan aku adalah yang paling hina.
Apa mengenalnya juga bagian dari cerita? Apa bertemu tak sengaja juga bagian dari rasa yang harusnya terimpan di pandora? Aku ingin lepaskan semua. Bukan untuk lari. Tapi memulai lembar baru. Tanpa membuang lembar usang yang sedikit terbakar, cukup menutupnya. Agar tak menghantui seperti hari ini. Seakan dosaku ini begitu brutal untuk aku, yang wanita ini.
Langganan:
Postingan (Atom)