Teringat lagi kenangan pahit.
Haha, harusnya cukup hilangkan saja dari pikir ini.
Sekelebat dan mulai lagi menitikkan sendu-sendu kenangan.
Mulai terasa lagi bagaimana.....
Mulai terngiang lagi-lagi suara-suara.....
Datang lagi bahkan gema-gema delusi yang semegah mentari terbit dan tenggelam memaku mataku.
Harusnya senyum ini mampu buatku berlari.
Bahkan sakitku memaksa untuk merangkak.
Namun, hanya dalam khayalku.
Nyatanya, tubuh ini hanya diam.
Layaknya serpihan bakat, tanpa asahan ia menjadi dirinya.
Dan ketika orang bertanya sejarah.....
Malah menghancur luluhkan semua bakat itu, menjadikannya seperti setir mobil yang hanya dapat berjalan dengan kemudi.
Dan.... Aku tak ingin hidup seperti itu.
Mereka.... Mungkin hanya peduli saja.
Bersimpati, tanpa empati yang menenangkan.
Mereka.... Mungkin hanya tersenyum menguatkan tanpa tahu sakitnya ditinggalkan.
Berjuang memang tak sebercanda itu.
Hasil? Kalau kau tanyakan?!
Aku hanya akan tertawa terbahak melihat kau memandang sinis ke arahku.
Kerinduan...
Kadang menjadi ruam yang tiba-tiba datang dan tak mau hilang.
Sudah kubilang daridulu, jangan pernah percaya kata-kataku!!!!
Seorang penyair, penulis, atau apalah sebutanmu padaku, menuliskan apa yang ia rasa.
Bisa saja itu hanya pandangan semu tanpa arti dari yang orang ceritakan.
Sungguh, jangan pernah percaya!!!!
Bahkan, angin yang mulai jarang berhembus akan jadi musuhnya.
Karena kerinduan yang tak terobati hanya dengan menunggu.
Bualan apa lagi yang ku tulis?
Orang-orang seperti seenak jidat ongkang-angking komentar tanpa dasar dan mau bertanggung jawab dengan apa yang mereka katakan.
Stalking sana-sini dengan dalil, hanya ingin tahu saja bagaimana kabarnya 'dia'.
Entah dia siapa yang mereka maksud.
Bukan tentang 'nyinyir lambe' kata orang Jawa.
Hanya saja, bercanda dengan diam seperti ini.
Cukup menyiksa kepalaku!
Rasanya mau pecah!
Hingga berdiri saja, dengan senyum menertawakan diri yang lemah dan akhirnya lelah mati-matian berjuang untuk bangun, dan tidur lagi di kasur empuk memeluk selimut dan guling sambil berharap semua ini hanya sementara untuk kesekian-kalinya.
Awan mendung bahkan seperti tak tahu malu.
Mengintip seenaknya, namun hujan yang ditunggu-tunggu seperti menunggu kemustahilan.
Rintik-rintik untuk sejukkan pernafasan saja tak turun hanya sekedar mengurangi somatis diri yang begitu kesakitan sambil menenangkan emosi.
Bintang ini biru....
Seperti lautan mati yang mulai kelam.
Bahkan senja hanya menjadi siluet kosong di Negeri ini!
Bedebah apa lagi yang muncul di otakku?
Lambaian ombak, nyanyian gereja, seperti obat pengantar tidur dan lagu 'lullaby' terindah.
Bersautan dengan syaraf-syaraf yang mulai redupkan mata, dan membuat semua pada satu titik....
Tidur.
Saat Tahajud yang kulewatkan sambil menunggu gelisah terbang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^