Malam...
Sedikit kecewa ku pada diri. Begitu lemah untuk bersandar pada anak-anak tangga. Menapaki kesemuan. Dan biarkan waktu melangkah. Bukan lagi tentang diriku. Mengenal lagi seseorang yang baru, namun awal saja sudah buatku ragu. Entah.....
Keraguan yang cukup membuat ku mulai lagi mengetikkan rasa dengan jari-jari mungilku. Sayang.... Semua seperti tenggelam.
Ingin kuhidupkan lagi hati yang sempat mati. Menapaki lagi dengung-dengung sendu yang inginkan surga. Yang harusnya tak pernah pantas rasanya ku mengharap.
Liberal? Sayangnya aku tak seidealis itu. Mengaku ke-kaku-an dan peduli lirik sana-sini berkomentar dan mendengungkan ini benar -ini salah. Aku bukan manusia yang begitu. Demokratis? Aku juga bukan. Menuruti mana yang paling banyak, dan akhirnya untuk rakyat terbodoh pun, tak tahu mengapa, siapa, dimana, bagaimana, dan kapan, setara raja yang dengan licik melakukan apapun untuk kepentingan mereka. Dan aku bukan juga dari kaum borjuis pemilik tahta, namun tak ingin juga disamakan dengan air comberan
Cukup tahu untuk apa dan siapa ku bersua dan beradab. Bersuara layaknya gentongan. Tapi bukan masalah aku ini siapa?
Jiwa ini rasanya ingin bebas. Tapi juga ingin terikat saja dalam nyanyian gema. Melonglong elegi dan memeluk sukma raga yang pergi. Hujan ini.... Tak akan mengerti bahwa angin-angin berhembus tak peduli. Ingin lagi kuterbang... Tapi sayap ini tak lagi sama. Seperti kurasakan sekarang. Berpasrah. Tapi akan kubulatkan tekad.
Demi seseorang bernama Farra. Diriku. Aku. Falla. Yang begitu egois mencintai diri. Melawan ini semua. Dan berkata, aku bisa melewati kepingan-kepingan yang entah kapan akan berserakan retak. Membelengguku....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^