Jumat, 22 Desember 2017

Lalu aku harus bagaimana?

Rasanya ingin ku hentikan waktu.
Menenggak lagi kesepian dan mengubahnya menjadi kedamaian.
Entah berapa lama air mata ini menetes begitu saja.
Berkali-kali ku sesakkan agar berhenti.
Mengalir lagi dan lagi.
Membuat kepalaku rasanya ingin pecah.
Ketika ku menutup mata...
Ku bayangkan banyangannya ada.
Ketika ku menutup mata.
Desakan rasa sakit ini semakin menggila.
Tak cukupkah aku merasa untuk merelakan?
Dan jangan lagi kesenduan ini datang.
Kepalaku tak cukup menahan tangis yang meramu seperti benturan aspal.
Ku hembuskan nafas dan ku hirup lagi.
Berharap sedikit redakan pedam di kepala.
Nyatanya tetap tak mau hilang.
Lalu apa yang harus ku lakukan?

Rabu, 20 Desember 2017

Tidur

Ada banyak hal yang akhirnya membuat sakit kepala.
Dan hari ini entah yang aku pikirkan sebelumnya.
Diriku.
Aku.
Lagi....
Tidak hanya aku yang memikirkan kematian.
Bagaimana harus kuakhiri hidup.
Dan ketakutanku yang lainnya.
Kepalaku sungguh sakit.
Kutahan daritadi.
Biasanya cepat menghilang.
Tapi ini tidak.

Kau ingin tidur.
Tapi tak bisa.

Jumat, 15 Desember 2017

Kecewa? Haha. Iya. Rasanya sakit. Tapi dari ini aku cukup tau.

Ingin rasanya ku menangis sendiri.
Belum pernah rasanya ku memaki diriku yang ternyata tak pernah mau tau tentang semuanya.
Cukup tau ternyata bahkan orang tersayangmu menusuk dirimu seakan dia bukan siapa-siapa.
Cukup tau dan semua itu tak bisa seenak jidat menghindari dan membuatmu sadar kau memiliki hidup sendiri.
Ingin rasanya ku berteriak pada semua orang....
Aku pun ingin kau dengar dengan segala lelah upayaku dan apa yang harus kulakukan.
Aku pun ingin sesenggukan manja pada pelukan dan semua yang kulakukan cukup.
Bahkan sedikit saja meski tanpa ucapan, setidaknya tatapan sayang menandakan bahwa aku sudah berusaha keras.
Aku sudah sangat berterimakasih.

Bahkan tak pernah sedikitpun...
Selain kata-kata yang kini kuanggap sampah dan kau ucapkan ketika saat yang membuatku hanya memasang wajah gagu.
Bingung?
Ini sama seperti kekasih yang memohon maaf padamu, namun besoknya melakukan lagi kesalahan yang sama namun kau tetap berusaha mempertahankan yang ada.
Jika saja....
Jika saja....
Semua kejikaan itu hanya sebuah pengandaian dan aku sudah lelah untuk berlari.

Setiap hari ku belajar tau diri.
Agar semua tau bahwa ku juga sedang menanti.
Sedang berdo'a.

Cukup lelah ketika kau tau semua yang kulakukan tak sama dengan yang kukatakan.
Sangat lelah.

Memang selalu salah mengharapkan sesuatu apapun pada mahkluk bernama manusia.
Cukuplah ku berharap pada Tuhanku dan diriku.

Tak pernah ada setitik pun aku pun berharap dimengerti sehari saja.
Setidaknya kalian menghormati setiap keputusanku...
Aku sudah sangat berterimakasih.

Minggu, 10 Desember 2017

Lagi...

Memandang semu nan jauh bukan kebiasaanku.
Tapi perlahan kau mengajariku sewindu ini.
Mengelap kehampaan yang harusnya telah berpulang.
Nyatanya hanya sebagian yang mengerti perbedaan ketulusan dan keangkuhan.

Aku bukanlah makhluk suci.
Tak berparas apik.
Hanya mengagumi dan mensyukuri sebagaimana aku bisa.

Kamis, 07 Desember 2017

Hujan ini lagi

Pernahkah kau berdo'a agar diajari bagaimana harusnya bersikap secukupnya?
Dan sambil memohon di guyuran hujan tadi....
Jika memang sebenarnya salah satu berencana untuk berpisah.
Sampai berdarah berjuang tak akan pernah bersatu.
Pernahkah kau berdo'a untuk seseorang yang berharga dalam hidupmu agar cepat menyadari bahwa semua yang terjadi memang harusnya begini?
Dan memintanya tak pernah lagi menyebut namamu.
Pernah?

Jauh dari perasaan tentang mencintai.
Kuungkapkan rasa terimakasihku yang kusebut syukur agar senantiasa aku tidak lupa.
Bahwa Tuhan selalu di samping manusia-manusia yang mempercayaiNya.

Hujan ini lagi....
Menjadi lebih dingin ketika berhenti.
Dalam keremangan menuliskan sesuka hati.
Memeluk cangkir kopi yang mulai dingin.
Lelap pun rasanya ingin terasa lagi.

Hujan....
Jangan sebut dirimu hujan.
Ketika kubuka mata karenamu.
Ternyata kau tak lagi di sampingku.
Hanya ruang kosong bersama udara hampa.
Sadarkah hujan ini mengingatkanku lagi?
Membangunkanku lagi dari mimpi burukku.
Tentangmu....
Bahwa kau masih di sisiku.

Jumat, 01 Desember 2017

Aku lagi

Bertemu dengan macam-macam orang sepertinya menjadi takdirku.
Banyak rencana yang tak sesuai dengan perkiraan awal pun sangat sering mengujiku.
Berkali-kali terkhianati juga seperti selalu menjadi pelajaran bagiku.
Terjatuh, sendiri, dan yang kutemukan mereka lagi.
Tertatih, dan dengan senyumnya waktu membuatku bertemu dengan kekasih terbaik yang tak pernah tertulis namanya dalam hidupku.
Mereka yang tak pernah lelah mendengar segala omong kosongku.
Dan aku sadar sekali lagi....
Bahwa takdir semua pencarianku seharusnya sudah terhenti.
Dan kuputuskan dalam hati.
Aku ingin hidup dengan mereka.
Jaga mereka.
Yang sering kulupakan.
Keluarga yang tak pernah terdaftar.
Saudara yang tak pernah sedarah.

Tuhan lagi-lagi memelukku dengan caranya.
Tuhan yang selalu kuyakini dalam hati.
Tuhan yang selalu kuyakini dalam darah yang mengalir.
Tuhan yang kini selalu ku berdo'a dalam sujud tak teraturku.
Dan TUHAN yang mulai sering kusapa dalam tangisku.

Aku memang makhluk berTuhan.
Aku sadar aku hanya manusia angkuh yang lemah.
Bersembunyi di balik kesombongan asa.
Dan selalu menjadi pelupa dengan segala alasannya.

Lupa bahwa memang semua karena-Nya.
Lupa bahwa usaha ini akan berarti bersama banyak hal yang terestui oleh-Nya.
Lupa bahwa seharusnya tidak berharap pada manusia.
Dan sering lupa bahwa Dia melihat dengan cara-Nya.

Aku bukan orang yang gila dengan segala doktrin tentang hal agamis.
Bukan karena tak ingin taat.
Mengkotak-kotakkan diri bukan hal yang selama ini kuanggap benar.

Moral dan empati yang tergerus begitu saja dengan alasan tak berdasar.
Merasa sangat manusia ketika (maaf) tak ada daya berguna bagi sesama.
Akupun masih belum sepenuhnya benar.
Akupun masih dengan segala hitam dan busuknya.
Toleransi adalah hal yang pernah kuteguk madunya.
Menatap sedih dengan segala yang terjadi.
Cukup buatku sadar.
Aku harus berdiri sendiri dengan hal yang kuyakini.

Dan Tuhanku...
Biarkan menilai dengan cara-Nya.
Aku percaya Tuhanku yang membuatku masih bernafas...
Menerkakan apa yang kulihat.
Menuntun yang kupikirkan.
Dan meneduhkanku dengan hal yang sering kulupa.
Aku selalu bersamanya, meski raga dan jiwaku berbelang-belang penuh hitam dengan segala ketidaksadarannya.

Senin, 20 November 2017

Hanya aku?

Rasanya selalu tenggelam di waktu ini.
Bukan untuk kembali.
Tapi menyadari bahwa yang tulus hanya aku.
Membuatku serasa sesak.
Seakan jantung ini diinjak seenak jidat.
Kemudian dengan santai kau coba sambungkan lagi.
Tak mudah.
Bahkan, memulai lagi waktu itu membuatku yakin.
Hanya aku yang tulus mencinta.
Hanya aku yang sepertinya ingin memeluknya.
Hanya aku yang sepertinya masih menjadi orang yang sama.
Orang sama yang terpenjara oleh rasa yang sama.

Sabtu, 11 November 2017

Entah

Butuh berpikir lama untuk menulis judul tulisanku ini. Banyak menulis membuatku begitu ketagihan menulis dan menulis lagi.

Apa memang 24 tahun sudah cukup untuk seseorang memulai lembar baru kehidupan?
Apa 25 tahun sudah cukup untuk akhirnya menemukan arti hidup dan mengharapkan semua berjalan sebagaimana adanya dan sedikit berpikir gila untuk mulai mewujudkannya.
Dengan orang yang memiliki pemikiran yang tak sama.
Yang kadang juga akan saling berteriak 'bodoh' entah terucap atau dalam hati saja?
Atau mungkin 25 tahun memulai kehidupan baru akan bisa sebegitu sempurna?

Atau....

Jumat, 10 November 2017

Senjaku hari ini

Mengenal seseorang bukan hanya sekedar nama.
Lalu baik keluarganya dan juga materinya.
Tidak juga hanya sekedar bukti ala kadarnya dengan segala alasan yang metafora.
Senjaku kini....
Mengajarkanku hal itu.

Memeluk orang juga tak seindahnya bahwa kusuka dia.
Dan hanya dia yang ada.
Tapi lebih pada kubutuh dia, karena tanpanya apa yang jadi pinta hanya sekedar kata.
Atau mungkin... Kubutuh dia, karena tanpanya nyamanku terusik gelisah.
Resahku meraja prasangka.
Karena itu, aku butuh dia tuk tenangkanku. Kuingin memeluknya.

Sedihku...
Tak banyak pasangan yang kukenal memaknai percaya dan saling mengerti sebagai dasar.
Atau memang ada kata lain yang membuat hubungan mereka tetap bersama?
Atau sebenarnya hati sudah lama ingin berpisah tapi tak cukup kuat karena semua terlanjur sudah kuberi semua?
Atau mungkin.... karena sendu menyelimuti karena dengannya lebih baik daripada kesendirian menyertai?
Pikirku masih dangkal dengan pikiran seputar itu saja.
Atau memang aku yang terlalu dalam memikirkan hal yang semestinya tak perlu dipikirkan dan tinggal dijalani?

Senjaku hari ini....
Membuatku tersenyum sinis.
Ketika sadar bahwa hidup hanya sekali.
Ketika sadar seyogyanya mencintai harusnya juga hanya sekali.
Ketika sadar memiliki seseorang dengan kesempatan kedua juga sekali, bahkan kadang tidak perlu ada kesempatan lain.
Hanya sekali saja.

Senjaku hari ini....
Membuatku mengingat bagaimana senjaku tiap pulang di atas jalan itu.
Memeluk bumi yang mulai tenggelam.
Menggenggam sendu yang mulai menari.

Senjaku hari ini....
Membuatku ingin memeluk sahabatku yang jauh di sana dan mengangis sepuasnya.

Senjaku hari ini....
Membuatku mengingat betapa hidup memang seperti ketakutan akan kehilangan.
Kehilangan menjadi yang lain.
Kehilangan bahwa rasa manusianya tidak ada lagi yang peduli.
Ketakutan lagi dengan segenggam rindu yang meronta ingin terbang tapi tak tahu dimana sarangnya berada.

Senjaku hari ini....
Mengajari bahwa Tuhan selalu mengelusmu dengan senyum manisnya.
Menyapamu dengan segenap rindumu padaNya.
Dan ketika kau sadari...
Tuhan begitu dekat hingga hina dan caci maki kau ucapkan pada dirimu sendiri yang selalu lupa padaNya.
Dan Tuhan dengan indahnya menuntunmu perlahan bersama senjaNya, bahwa sudah saatnya pulang bersamaNya.

All by Myself - Eric Carmen

Dengerin lagu ini jadi keinget zaman-zaman 'Meteor Garden 2'. Waktu Sanchai (entah gimana nulis namanya yang bener) muter-muter nyari Tao Mingtse di Barcelona. Dan disitulah gue ngerasa, hanya dari cerita itu... betapa sakitnya perpisahan. Nggak pernah terbayang sedikit pun kalo kehilangan bisa sangat ngehantui kaya gini.

Gue juga nggak seberapa ngikutin alur cerita drama Taiwan itu sampe selese. Tao Mingtse ketemu Yesha di situ dan mereka saling jatuh cinta sampe Yesha harus sembuh dari penyakitnya pun, buat gue... Cukup Sanchai berjuang buat Tao Mingtse. Dan semenjak itu, gue putusin hidup yang penuh perjuangan kaya Sanchai yang notabene melabeli diri dengan rumput liar, harusnya bisa gue jalani. Orang cuma gitu doang. Tapi kenyataannya, tidak pernah semudah itu. Mulai dari awal buka mata sampe tidur dan banyaknya variabel-variabel yang bakal muncul di keseharian. Semua itu jauh dari kata nyaman. Buat gue? Nggak, buat semua orang yang berpikir. Tapi sayangnya kebanyakan nggak berpikir sampai sana. Hidup yah dijalani. Lulus dari satu tempat ke tempat lainnya. Sampai pada satu titik, belajar untuk hidup tidak pernah ada kata lulus. Kecuali batu nisan sebagai ijazah loe buat nandain loe udah lulus dari kehidupan. Dan.... hidup nggak pernah mudah dijalani seperti khayalan. Menghela nafas karena semua yang terjadi. Ketakutan mulai merambati.... Membuat banyak orang lebih memilih berlari. Atau hanya sekedar mencoba berlari dan menggagalkan pilihan rencana hidupnya itu, dan -belajar- menerimanya.

Jujur, sampe umur 23 beranjak 24 ini. Di mana udah pada nanyain kapan nikah? Dan komentar jangan ditunda. Ntar Mama kenalin sama anak temen Mama. Rasanya ada pertanyaan yang terus muncul. Apa hidup harus dijalani begitu? Bagaimana kalau sedang asyik mahsyuk dengan kesendirian ini. Rasanya aku belum bahagia sejenak saja menjadi diriku sendiri. Setelah kuselesaikan yang harusnya sudah lama selesai, rasanya seperti harus siap membuka pintu baru lagi.

Dan kembali pertanyaan muncul, apa memang hidup untuk dinikmati di kesendirian ini adalah sebuah dosa? Rasanya seperti hutang yang harus segera dibayar tanpa tahu siapa penagih hutang. Ah, bukan... Hanya saja entah belum siap atau memang sedang ingin bermesraan dengan diri sendiri, atau standart "orang yang akan hidup dengan gue sudah jadi kaya milih rumah yang bakal gue tempati". Entahlah....

Membuka wish list yang dibuat beberapa tahun yang lalu saja sangat cukup enggan atau lrbih tepatnya takut. Karena sadar banyak yang sudah terlewat. Bukan masalah waktunya atau kegiatan apa yang harus dilakukan. Tapi begitu banyak hal yang terlewat untuk tau bahwa gue selama ini hidup buat diri gue seperkian persen, dan buat keegoisan gue hampir 90%. Gue nggak mau nyangkal itu. Tapi bukan untuk bermesraan, tapi keegoisan. Meski gue tau, egois dan kata yang merembet lainnya bakal jadi sumpah serapah buat kelakuan gue.

Gue juga nggak terlalu bangga dan sedih dengan kehidupan gue. Karena jauh di sana, gue terlalu menikmati hidup gue sampe lupa banyak orang yang hidupnya jauh lebih di bawah gue.

Yah, bahkan semuanya gue lakuin sendiri. Dan waktu gue nulis ini di pagi buta jam satu lebih, gue sadar. Air mata gue, cuma sekedar perasaan. Dan gue.... Masih terlalu takut untuk melangkah. Mengenal lagi. Memulai lagi. Bertanya-tanya lagi, apa memang dia bisa nerima gue yang gini? Apa bisa hidup gue sama kaya yang gue jalani sekarang? Pertanyaan mulai muncul dan semenit kemudian mulai enggan lagi untuk melangkah. Dan melangkah sendirian untuk jalani kualitas hidup yang lebih bisa buat gue bahagia, jadi pilihan gue. Bukan lagi untuk mengenal dan dikenal lagi.

Kamis, 26 Oktober 2017

Mendung yang banyak b**ot!!

Kadang pertanyaan tentang hidup tidak akan pernah ada habisnya.
Semua tentang bagaimana rasa yang dirasa seperti menjejakkan kaki ke tanah. Dan bentangan kehidupan yang dilalui.
Semua terpaku pada kenangan rasa. Percaya....
Hanya kenangan rasa.

Ah, menulis tentang apalagi ini?
Ketika perut menahan mulas tak bisa ke toilet.
Dan dengan tololnya mengomentari tentang hidup.

Selasa, 24 Oktober 2017

Awan

Kadang tak perlu untuk ucap...
Cukup dengan bahasa rasa yang melegakan.
Memiliki mereka adalah takdir.
Cukup untuk kumiliki.
Dan ketika tau cukup itu seyogyanya, hanya cukup.
Kau sadar. Hidupmu harusnya lebih baik jika bertemu dengan mereka yang baik.

Tidak usah lebih baik.
Membuat hati merasa baik selalu, bukannya itu yang kau cari agar hidupmu lebih berharga?
Salahkah keinginan hidup yang baik itu menjadi suatu keharusan?
Aku tidak perlu dielu-elukan.
Tak perlu dipuji-puji.
Tak perlu dibangga-banggakan.
Selayaknya idealis seorang manusia bukanlah untuk eksistensi semata.

Ketika menemukan menjadi ungkapan bahwa hidup ini menjadi lebih berharga.
Mengapa kau anggap itu suatu keangkuhan?
Jika yang dicari hidup adalah tentang baik di mata orang.
Semua yang pernah ada di dunia. Tak akan pernah menjadi lebih baik.
Karena hanya sibuk mencari yang terbaik untuk mata mereka sendiri-sendiri.
Begitupun aku....

Landasanku berharap semua bisa saling menghargai.
Baik keputusan maupun apapun yang dipilih.
Tapi....
Menghargai katanya ada harganya.

Kupertanyakan lagi... Lagi... Dan lagi...
Apa ketulusan itu?
Apa kesungguhan itu?
Apa memang tak ada?

Awan mengiringi langkahku...
Sejuknya.
Sayapnya....

Dan aku, tetapi berada di bawahnya...
Mengaguminya.
Dan ingin memeluknya.

Minggu, 08 Oktober 2017

Entah ini kutulis kapan

dan aku merasa kehilangan.
ketakutan memunculkan lagi kenangan tentangnya.
awan tak lagi sama.
terkadang bersemu malu, sedetik kemudian menangis.
waktu memang tak akan terulang.
bahkan selalu mengulang kesalahan hanya dipenuhi harapan kesemuan.
mereka... tak akan mengerti.
ini hanya coretan di pinggir jalan.
bersuarakan kepiluan.
bukan tentang pengandaian.
nyatanya....
sejelas bulan menampakkan senyumnya.
mereka tetap tak mengerti....

Jumat, 06 Oktober 2017

Camelion

Kau tau hal yang paling menyakitkan?
Entah yang kurasa itu paling atau bukan, tapi setiap kali mengingatnya sungguh menyakitkan.
Benarkah aku bisa melewatinya?
Atau memang sudah seperti ini harusnya?

Ada kata-kata yang sangat kusuka.
Manusia memang dirancang untuk tersakiti.
Mereka begitu rapuh.
Cukup rapuh untuk percaya bahwa mereka cukup kuat untuk bertahan pada jalan hidup yang setiap orang memiliki kesakitannya masing-masing.

Menohok cukup dalam.
Berkali-kali, bahkan aku harus menghukum diriku sendiri. Semua yang butuh ku lewati sangat tidak mudah.
Harus berkali-kali jatuh dan....
Mereka bilang di sisi. Tapi nyatanya?
Hanya ingin didengar. Hanya ingin dilihat.
Tanpa mau mendengar. Tanpa mau melihat.

Bukankah hal yang paling menyakitkan dari hal yang paling sederhana?
"Karena hatimu terlalu lemah."
"Benarkah?"
Dengan tatapan kosong seperti biasa, entah apa yang kulihat. Dan semua seperti lalu lalang komentar. Bukan menguatkan. Bahkan sangat indah. Tapi semua tak seperti dirimu ada. Hanya kicauan yang semakin membuatmu sendiri.
Dalam sajak. Kutemukan satu kata yang membayangi.
"Ada banyak orang yang dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan mendengarkan. Tapi tidak semua. Jika orang yang mendengarkanmu tulus, bebanmu akan terangkat."
Seketika otak dan badanku mundur. Terasing. Semua. Mereka. Berarti tak pernahkah tulus? Adilkah aku berpikir seperti itu?

Uraian air bening dan asin di pipi, seperti menjelaskan semuanya. Tapi tak pernah terkata. Semua.... Rasanya seperti terkhianati.

"Ini adalah hal sepele. Ngapain dipikir pusing?"
Realitas dan logikaku mengaduk kepala. Pikir hal yang penting.
"Jadi hal tentang menghargai, ketulusan adalah hal yang tidak cukup penting dalam logika."
Aku sadar...

Semua norma yang diagung-agungkan demi kesopanan. Tapi tak pernah sedikitpun rasanya norma, moralitas, menghormati apa yang harusnya manusia perlu syukuri.

Dari ketulusan semuanya berhamburan hancur. Siklus yang tak pernah ada ujung untuk merangkai lagi apa yang telah hancur.

Hanya kata-kata tentang cinta

This is love... Cinta itu memberi. Cinta itu menemani. Cinta itu upaya untuk saling memahami. Cinta itu kadang pahit. Cinta itu murni. Cinta itu berwarna. Cinta itu cukup antara aku dan kamu. Cinta itu satu. Cinta itu kita. Cinta itu melindungi. Cinta itu menerima (menerima apa-adanya pasangan kita). Cinta itu cukup mengerti. Cinta itu memaafkan. Cinta itu tau kapan datang disaat yang tepat. Cinta itu tak akan menyerah hanya karena sering bertengkar. Cinta itu putih. Cinta itu menenangkan. Cinta itu mendamaikan. Cinta itu tau bahwa untuk saling memahami butuh pengorbanan. Cinta itu perjuangan. Cinta itu kesetiaan. Cinta itu tau bahwa hati cukup diisi dengan satu belahan jiwa yang menerima siapa dan bagaimana kita. Cinta itu tak peduli harta. Cinta itu ketulusan dan keikhlasan. Cinta itu menyenangkan. Cinta itu membahagiakan. Cinta itu banyak rasa, cokelat, vanilla, mocca, kopi, pahit, manis. Cinta itu sendu. Cinta itu bersabar. Cinta itu .....

Entah

kenapa rasanya tiba-tiba merindu?
bahkan sebulan lalu aku belajar untuk mengucap janji.
agar tidak menyebut namamu lagi dalam do'aku.
9tahun bukan waktu yg singkat kan?
tidur pun masih berharap mimpi beberapa tahun lalu terulang.
menggelikan kan?
merindukan orang yang sama selama itu?
drama? yah, mungkin terlalu banyak nonton drama.
masalahnya yang dirindukan tak pernah datang.
tak akan pernah.... bahkan dalam detik ia melintas di depanmu bersama siluet.
hujan waktu itu seperti guyuran serdadu menghujam jantungku yang berdetak.
bahkan orang-orang yang tersesat saja bisa menemukan jalannya....
kenapa aku tidak? Tuhan, apa karena aku meraguMu? atau aku yang berkali-kali menyerah membuatMu jengah?
aku sendiri mulai jengah. meski belum sepenuhnya.
Tuhan... frustasikah ini? Kau membuatku merasakan begini. tapi rasanya Kau juga yang membuatku menyerah, dan mereka katakan ini pilihanku, tidak akan ada sangkut pautnya denganMu. jangan bilang yang kutulis adalah kebohongan.

Langit

Mengingatkanku pada semesta.
Bahwa di bumi ini akan selalu bersama.
Tak ada kata sendiri.
Tak ada secuil sepi menghampiri.

Cukup bahagiakah dengan itu?
Langit mengajarkanku dengan cara yang tak sama.
Peluknya bukan dekapan hangat.
Candanya bukan pujian gombal yang membuat pipi merah.
Tegurannya bukan sentilan tajam tak boleh ini itu.

Entah...
Sadarku cukup buta.
Mulutku terlalu kelu untuk ucapkan 'jangan buat aku merasa ingin lebih dari ini'.
Dekap hangat yang hanya kau beri saat semua terasa jatuh, 'jangan buat ku terbiasa dan memintamu melakukan itu setiap waktu.' Maaf dulu ku pergi.
Nyatanya yang kupilih tak baik untukmu maupun diriku.
'Jangan g ad kabar lagi'.
Iya...
Jika memang aku lelah, ak tak kan pernah pergi lagi tanpa kata.

Ibu

Mendengarmu saja miliki hati berparas kesejukan. Entah harus ku apakan sesak-sesak kenangan yang menitikkan airmata dapat terhenti?
Bayang... denting-denting kaca seperti wadah bagi tetesan ini. Airnya seperti berdetak mengikuti ritme jantung yang sedikit melemah. Tersenyum. Ingatan itu yang mungkin tak akan terlupa. Memeluk siluet dengan do'a yang kuucap. Semoga Tuhan meluangkan sejenak... "Pitutur nggambaraken watak, menawi sae ayu tenan kowe nduk." Ibu. Ibu dari ibuku... akan tetap jadi bagian hidupku yang paling berharga. Waktu memang tak akan membeli saat bersamamu. Dan aksara kasih nan tulus, mungkin tak sempat terdengar telingamu. Untukmu yang terkasih. Potret mungkin akan kukunci. Cukup kusimpan dalam hati. Siluet manja denganmu. Ku rindu... serindunya ini, ku berdo'a tak hanya aku.

Aamiin...

Lovesick again?

Kau tahu bahwa memiliki rasa yang seperti ini menyakitkan.
Menjaga hati yang tak pernah tersampaikan pada kelaraan hampa.
Aku sempat memiliki dan melepaskan.
Namun nyatanya semua hanya kesakitan yang tetap terjaga di malam hari.
Tak pernah kudengar lagi deru nafasmu tuk tenangkan aku.
Bahkan, melirikmu ke brlakang lagi sangat kusesalkan nanti.
Cukup kumiliki hati...
Mencintai hal yang tak patut dicinta.
Menjaga hati yang tak patut terjaga.
Entah alasan apalagi hingga ku disebut bodoh bagi mereka.
Cukup kumengerti memilikimu akan selalu sesakit ini setiap kali kumengingatmu.
Dan aku tak mau selamanya begini.
Rasanya cukup menyakitkan....

Yes Love Always could be diffirent

Kita bertemu di dunia berbeda.
Mencoba bersatu dengan hiasan sedih dan suka.
Semua seakan pergi dan datang dalam waktu yang sama.
Hari berganti, detak jantung tetap berpacu di simfoni pelita.

Tak bisa kupejamkan mata.
Luapan rasa tak bernama mengulum hati ini bulat-bulat.
Perihku kupeluk saja.
Senduku kunikmati semua.
Tangisku tetap tertahan di ujung lidah.
Perasaan yang mulai hidup perlahan mati lagi dengan semua bahasa yang terjamah.

Pernah pintaku untuk merengkuhmu sejenak.
Pernah mauku untuk memilikimu sekejap.
Pernah airmataku kau usap dan terlepas.
Pernah kau teteskan sendumu berharap mati dan lenyap.

Bukan piluku kuumbar untuk simpati.
Bukan sedihku kuungkap untuk mengerti.
Bukan syahduku kunyanyikan untuk teresapi.
Bukan sakitku kuceritakan untuk mengharap belas kasih.

Bagai opera drama yang kubuat sedih.
Memilih tuk tetap terjaga di lubuk hati yang terpatri.
Pohon gaharu seperti melantunkan rindu.
Harum aroma kayu tenangkan hati bersama memelukmu.

Bawa pergi saja hati ini...
Kuliti saja perasaan yang teresapi dan mulai mati.
Kubur saja dengan nisan berharap tanah lapukkan rasa.
Perlahan seperti menanti dan akhirnya hilang tak terasa.
Deburan ombak saat itu kunikmati...
Sambil memelukmu dalam wangi tembakau khas dari desah nafasmu.
Luapan kasih ini ingin milikimu yang terjerat waktu.
Kau tak usah mengerti.
Cukup aku dalam genggamanmu, sampai aku mati.

Stupid thing that I think - again

I love you, i am sorry, but i am not gonna do this again. i do not even have the right to approach you. do not love!
I do not have the ability to can give you my heart.
i live everyday exceeds my strength. every day too heavy that i cry.
i do not have any to give you.
but i miss you.
i do not even can give you said love.
but i miss you.
I do not even bold hoping that you would be mine.
but i miss you.
so i pushed you go because, i just women who do not have any, this is my heart.

I held, although it was pain even tears.
so fancy to me i do not even have the right to see you.
do not look at me!
i know that my heart been anywhere you go.
close enough our breath, even it feels like each other.
fused always in the same place more than anyone also in this world.
i love you, but i resisted.

Stupid thing I think

Aku mulai menuliskan lagi rasa yang sempat terkurung jeruji.
Kukunci agar tak seenaknya lepas dari sangkar.
Namun, semua memang memilukan mengingat hati yang terjaga setiap malam hanya untuk mengenang.
Bukan tentang kebahagiaan di masa depan.
Aku mengerti dalam bentuk sayangku padamu.
Aku mengerti dalam rasaku yang tak pernah mati kepadamu.
Namun sayangnya, kau memilih pergi dan aku tetap di sini.
Terlalu bodohkah?
Hanya kesemuan jenuh yang kuresapi bahwa aku menikmati kesendirian ini.
Mendo'akan dirimu bahagia? Tidak.
Aku terlalu naif untuk melakukannya.
Cukup ku butuh bahagia.

Deskripsi Bahagia .... Sebut saja begitu

Kebahagiaan bukanlah sesuatu yg didekte oleh manusia lain, atau bisa diukur oleh parameter uang, ketenaran atau kekuasaan. Kesempurnaan tidak akan pernah ada. Yang ada, hiduplah dalam konsep individuil akan apa makna kebahagiaan itu sendiri.

Mengapa kita begitu takut mengumbar rasa? Sementara ada kebenaran dan ketulusan dalam kejujuran. Ada substansi hakiki dalam absurditas yg ditakut-takuti norma.

Terkadang cukup mengerti saja tak cukup. Harusnya penuh bangga dengan kebahagiaan, tapi dalam arti seperti apa? Yah, akan tetap absurd seperti makna cinta yang tak perlu terurai. Seyogyanya, semua tentang hidup ini perlu tergambar, dalam konsep bahagia, konsep untuk menjalani yg semestinya... namun tak terpenjara dalam belenggu. Dan bahagia.... semoga tak seabsurd cinta.

LJ by NoRiYu, and by myself. Page 118 about 'Normalitas'.

Andai saja?

Kamu tau bayangan ini seperti semu dalam kemunafikan.
Seruan hujan tak ku pedulikan dan hanya memandangnya saja.
Khayal keindahan goyahkan perisa pahit di lidah.
"Andai saja.....", tangisan mulai meradang.
Seperti kesetanan tak mau berhenti.

Waktu... Terlampau sepi untuk ku jalani kegilaan yang menggelayutiku.
Berbicara dengan diri bahkan lebih menyenangkan.
"Ah, aku memang selalu begini..."
Otak kananku seakan bekerja lebih dulu daripada gerak refleks tubuh.
Embun seakan sadarkanku bahwa ini bukan pagi.
Laut bahkan terlukis dalam insan yang berjalan di depanku.
Butuh seribu tahun untuk mengerti makna Tuhan.
Bahkan, seribu tak akan cukup mengartikannya.
Ah.... Kepala ini terlalu banyak berpikir.
Ingin melelapkan mata saja, harus terangkai kata-kata semacam elegi yang terbang dari sangkar.
Kadang amarah menatap remeh mereka lebih menguasai.
Kau bilang ini ***tr*!!! Tau apa kau?
Bahkan aku lebih tau! Kau hanya merayu!

Teringat di ibukota, ku teriakkan sumpah serapah.
Mulai kebun binatang ku sebutkan dan berharap legakan jiwa.
Sesak tadi tak teriakkan saja begundal-begundal yang ingin berontak.
Sial! Aku terlalu memakai hati!
Ah... Malam.
Maukah kau memelukku yang sedang rapuh?
Orang-orang seakan menertawakanku.
Tau apa mereka! Hati?
Benar salah juga belum tentu mereka tau!
Aaaahhhh, binatan*!
Melepaskan, memang tak semudah meludahi aspal seperti hujan tadi pagi yang jatuh tanpa permisi.

Asing

Pernahkah merasa terasing?
Dalam kilauan petir jendela...
Seperti lukisan yang tak pernah mati.
Tapi semua hanya ilusi dan fatamorgana.

Bukan tentang kesedihan.
Apalagi kesendirian.
Hanya tentang perasaan.
Selalu merasa hampa kesepian.
Bahkan seperti tersiksa dalam kesesakan.
Seperti penyakit jiwa yang bermoar tentang angan.

Mereka bilang karena perasa.
Bukan lagi seseorang yang dikenal.
Yah.... Dia sempat tersesat.
Entah terbelenggu di sudut kota mana.
Berkicau tentang realitas dan masa depan.
Namun kehilangan perasaan.
Yah, menghidupkan yang sudah mati itu tak mudah.
Seperti hati ini.

Poem

mungkin aku kan lenyap seperti hujan yang hadirkan pelangi.
dalam kehancuran memandang intan yang tertutup kerang.
ketika sedikit demi sedikit rasa ini melebur.
asaku berlari menapaki jalan yang penuh bunga.
bunga kekasihmu...
bertiup sedikit dan terbang lalui kisah.
aku hadir dalam kesejukkan terik mentari.
perlahan merasuk dalam oksigenmu.
dan buatku selalu ada untukmu.
hingga kau sadari, aku hanya aku.
berdiri terdiam.
memalingkan semua lelah.
menggapai mimpi yang sempat terhenti.
dalam kelembutan harmoni.
angin yang beriringan membelai di bawah sini...

Poem Bintang?

Biarkan angin ini menghampiri...
Biarkan kicau gereja bangunkan pagiku...
Biarkan sesak ini memenuhi nafasku...
Biarkan guyuran hujan ini mendekapku dalam sepi...

Jalan ini buatku terjatuh.
Begitu sakit kaki ini menapakkan jari.
Mendekap kesunyian yang berlari kecil jauhi pilu.
Namun, malam tetap memeluknya tak mau pergi.

Terenyuh ku menangis menatap wajah harumu.
Ciptakan kesenduan senja di malam tanpa bintang.
Kepakkan sayap sadarkanku bulu-bulu ini terluka.
Membekapnya dengan kain putih lusuh, untuk sembuhkan perih yang menjauh...

Bukan kuratapi keindahan ini...
Bukan juga kusiakan sisa hidup untuk berdiri.
Terlalu jemu surga kudesaki dengan air mata.
Bahkan kerinduan perlahan menyisipi relung hati yang hampa.

Melodi seperti mengalunkan nada ajaibnya.
Berdendang tak seperti biasa.
Apa bulan sudah memecah bintang yang tutupi angkasa?
Atau awan menutupi semua dengan keabu-abuan keangkuhan?
Kekasih tak akan datang sepagi ini.
Mendekapnya dari kelelahan punggung yang mulai menua.
Biarkan bintang ini menari.
Pergilah hujan hadirkan pelangi.
Senjaku kuciumi dengan rela...
Bahkan untuk selamanya pergi dari dunia.

Poem Again

Hey..
Pernahkah awan sebegini abu-abunya?
Senduku mewarnai senja.
Yang bahkan ingin kulupakan tetapi selalu ada.
Ilusi ini hanya sementara, 'kan?

Setitik embun saja....
Bisakah pagi membangunkanku lagi dengan senyum hangatnya?
Berlari malu dengan sapaan pagi yang tak pernah bisa terbohongi...
Hatiku yang bahagia, dan teringat janjimu.
Jangan....
Satu dekade ini bahkan tak cukup meski ku arungi kisah sepi.
Bayangan... Akan tetap menghantuiku.
'Aku akan selalu baik-baik saja'.
Hatiku berharap menguatkan.
Untuk melewati setiap kubuka mata ini.
Bahwa akan selalu ada hari yang harus terlewati.
24 jam yang tak pernah cukup menjadi 'hari'.

Keegoisan ini sepertinya abadi.
Mana yang benar, dan mana yang salah.
Mana ketulusan atau hanya sekedar pujian?
Semua hanya sekedar asa.
Omong kosong.
Seperti air ini....
Mengalir ke muaranya.
Kunikmati dengan arusnya.
Raga ini, hanya jasad.
Tanpa perlu tau apapun.

Poem Senyuman

Di guyuran malam ini...
Seperti lenyapkanku sekejap dari peredaran.
Sesaat sepi seperti merajai.
Dan melihat dalam ingatan sekali lagi untuk mengingat.

Senyuman...
Butuh sekian waktu memeluk bayang yang tak tampak.
Siluet-siluet manja.
Seakan keyakinan diporandakan bersama asa.
Butuh sekian waktu mencium kupu-kupu yang menari dan membiarkannya terbang lagi.

Tapi hanya.... butuh sedetik.
Sedetik melepaskan rasa, berujung goresan-goresan pena tangis yang memerah.

Jingga... malam ini terlalu jingga.
Yang bahkan berkhayal dalam nada-nada, masih terpaku berkaca menghapus tangis resah.
Menanti waktu berhenti.
Mengejar tangan yang ingin pergi.
Di persimpangan jejak langkah menyesaki.
Dalam keramaian yang kosong.
Anda...
Akan selalu jadi bayangan, dalam pandora yang entah kemana kuncinya.
Yang buat lelah mencari.
Dan menyerah.

Poem

Setiap harapan akan selalu terbang...
Seperti langit yang tidak selalu cerah.
Kadang kehampaan hanya membuat semua terasa sepi.
Kesepian yang mungkin cukup asakan mimpi.
Ini bukan tentang pengharapan.
Bukan juga tentang keputus asaan.
Hanya tentang sebuah kepastian.

Banyak kisah yang berharap bahagia.
Melewati hari dengan simfoni-simfoni.
Menari indah bersama nada-nada pujangga.
Tapi hidup ini tidak semenarik cerita novel atau tivi.
Biarkan saja kisah ini berjalan dengan arahnya.
Melangkah dengan kaki-kaki yang menuntunnya.

Rabu, 20 September 2017

Kosong

Mengapa rasanya ada yang mendorongku ke jurang?
Sakit yang kurasakan tak pernah seintens ini.
Bahkan mengingat dan menginginkan lagi rasa yang mustahil terulang, aku ingin sekali menjauhkannya dari rasa yang harus kurasakan.

Rasanya seperti angin meniup wajah...
Bersama senja, hingga senyum di wajahmu secara otomatis terlukis di ujung bibir.
Namun, sedetik berikutnya....
Kau sadar itu semua tidak nyata.
Hanya sejenak imaji ketika kau menutup mata.

Jumat, 15 September 2017

Bagaimana rasanya dari dielukan lalu dijatuhkan?

Sejenak kisah tentang diriku kuurai lagi. Belajar lagi merangkai kata yang sempat terhenti karena cukup kusesalkan berhenti tanpa permisi. Raga yang sejatinya lelah dan mulai sakit. Karena hati yang dulu tertegun dalam pahatan sakit sekarang meluber.

Meskipun merasa sendiri. Ia tetap berteguh bahwa tidak pernah sendiri. Bahkan tentang hati yang sejatinya bukan miliknya. Menangis berkali-kali. Bahkan berteriak seribu kali. Kali ini.... Bukan mudah. Tapi seperti rasa asing.

Ketika terjatuh....
Semua orang aku yakin tak akan mampu melewatinya sendiri. Pasti ada andil satu - dua - tiga atau bahkan empat dan lima bagi mereka hanya sekedar figuran pada hidupnya yang membantu bangkit. Entah dalam khayal, kenyataan atau hanya sekedar do'a yang bahkan mereka tak pernah tau seseorang iti berdo'a untuknya.

Bahkan ketika kepercayaan sekali lagi dipertanyakan. Ia ragu bahwa percaya itu jelas nyata adanya. Apa yang ia percayai. Apa yang harusnya ia percaya. Apa yang seharusnya terpikir dalam pikirannya. Bahkan hanya sekedar apa yang harusnya diperbuat agar dirinya dianggap 'normal dan bermoral' untuk mereka.

Kujejalkan saja kata-kata makian untuk melegakan. Tapi tak pernah lega. Justru air mata menetes lagi dan lagi. Tanpa permisi. Dan begitu saja.... Berhenti, lalu datang lagi. Menyisahkan pilu meninghalkan segala nafsu makan ingin menikmati kesepian yang menyakitkan.

Atau dirinya sendiri yang membuatnya begitu menyakitkan? Atau memang kesepian itu akan diambil masa tenangnya, obat gairahnya, dan yang mereka elu-elukan hanya segelintir kata. "Semua harus kau pertanggung-jawabkan". Tanpa berpikir mereka, semua, memperngaruhi atas semua yang seharusnya mereka jaga.

Atau dirinya yang terlalu berharap? Segala angan tentang kebahagiaan? Berkali-kali berdo'a pada Tuhan yang selama ini terpatri pada keyakinannya. Namun, yang terjawab memang kenyataan yang harunya ia terima. Dan mereka berkata, "itulah takdir dan seharusnya." - "bukankah Tuhan mengatakan nasib suatu kaum bisa berubah jika mereka berusaha?" - "nyatanya semua yang harusnya dipercaya, mereka hancurkan."

Iya, dihancurkan tanpa sadar. Atau kesadaran yang tak ingin dilukai ego, bahwa "SEHARUSNYA TIDAK BEGITU".

Kamis, 17 Agustus 2017

Semua Hanya tentang Aku

Sepertinya kehidupan bersosialku menjadi sedikit terpuruk. Atau mungkin hanya aku yang merasa. Semua yang kuharap dapat sejalan dengan mudah. Tetapi tidak semudah itu.
Tuhan masih dengan sayang-Nya membantuku....
Aku tahu aku tak pernah sendiri. Mempercayai-Mu adalah satu-satunya hal yang ku percaya.
Keluargaku? Entah, meskipun berkali-kali dikecewakan dengan segala macam caranya, tetap untuk mempercayai kedua orangtuaku dan adik-adikku adalah hal yang paling mungkin.
Ah, entahlah.
Semakin lama, semakin tidak mudah untuk percaya apa yang dilakukan dan dikatakan orang lain. 

catatan saja 17 08 10

Kau tau hal yang paling menyedihkan dalam hidup? Adalah saat kau tidak bisa menikmati apa yang ada di depanmu. Ini juga bukan karena terlalu santai, tetapi menikmati setip detik hidupmu yang berharga. Bukankah dalam menghargai sesuatu artinya kau akan menikmati setiap moment pahit dan manisnya? Bukan hanya sekedar berjalan, melewati setapak dan sampai. Seperti saat ini, aku yang mengetik sambil membayangkan bintang yang bertabur indah. Dan bertanya, kapan aku bisa menikmati seperti ini lagi? Dapatkah aku menympan perasaan berharga ini, mungkin nanti pada saat aku ingin merasakannya kembali aku dapat mengulang lagi perasaan ini? Konyol? Yah.. kadang aku jua berpikir sama. Apa yang aku pikirkan ini tentang kekonyolanku tentang hidup?

Tapi sekalipun dalam bernafas aku kesulitan sepertinya merasa seperti itu bukanlah suatu kekonyolan. Karena apa yang kita rasa, kita inginkan, kitalah pemeran utama, dan setiap orang adalah pemeran utama alam kisahnya masing-masing. Namun, tidak semua menyadarinya. Aku mulai terlelap. Mata ini sungguh tidak kuat sebenarnya. Tapi semua ynag kulakukan bukanlah kekonyolan, kan? Ah, harus bertanya hal seperti ini pada siapa, ya?

Memangnya kau tak memiliki teman? Punya. Tetapi entah mengapa, bercerita rasanya cukup sulit bagiku. Mungkin tidak semua orang mulai menyadari ini, tetapi semua ini mulai terasa nyata. Aku mulai lagi mempertanyakan ketulusan, kejujuran, janji, kesetiaan dan tetek bengek sepele yang mudah kau ucap lainnya, namun tak mudah kau lakukan. Ah, hidup. Mengapa kau kadang begitu kejam padaku?  Apa salahku? Tidak ada yang mau mengaku salah, kecuali dirimu sendiri yang ingin dan memang selalu menyalahkan dirimu. Bukan berarti aku egois menilai seseorang yang seperti itu buruk. Tetapi kenyataannya sifatku yang begitulah, kadang buatku berpikir dua kali. Namun apa daya, kadang kebiasaan berbohong berjalan lancar saja. Atau bisa dibilang bumbu pembenaran diri yang sangat menyerempet kebohongan tercipta.


Rabu, 26 Juli 2017

Flat

Sulit membedakan dengan mataku yang rabun mana bunga dengan duri dan tidak. Bahkan sesenggukan sakit yang hanya keseduhan tak pernah tau harus kuucapkan pada siapa.
Kunikmati? Bahkan sedetik pun ingin rasanya cepat berakhir. Kutenggelamkan diri dengan berkata aku tak lagi sama. Bisakah kau menjauh? Atau sedikit saja, buatlah ilusiku tentangmu enyah sedikit. Aku kesakitan.
Tapi dengan bodohnya semua kuungkap di belakang. Dan aku hanya keseduhan yang akhirnya menjadi buih.
Senja, tidak ada lagi.
Dua dekade ku hidup, dan tak pernah kuresapi ketulusan. Berkenalan dengan yang kusebut senja, ternyata bukan senja. Rasanya seperti terlalu berharap.
Aku yang sedang sensitif.
Dan aku yang sendiri.
Kalian! Mungkin tak lernah tau dan tak mau tau apa perasaan hatiku.

Jujur, aku bukan ingin dimengerti. Harus selalu dimengerti. Tapi kuseduhkan asa, mengerti kalian. Yang jangan hanya menganggapku 'trash'.

Kamis, 30 Maret 2017

Bisakah?

Hari ini aku menangis sejadi-jadinya. Hampir dua minggu ku jalani hari dengan tatapan kosong yang kuanggap sebagian jalan yang 'seharusnya' kutempuh ke depan. Aku bukan menyerah. Membuka toko dan usaha online memang tak pernah terngiang sebelumnya. Justru malas. Tetapi entah hati tergerak, tetapi pengorbanan waktu yang sia-sia sungguh buatku bertanya.
"Apa yang sedang kulakukan sekarang?"
"Apa memang harus menjalani proses itu dulu?"
Dan mulai bermunculan kenangan-kenangan bias menyakitkan.
Atau memang keegoisanku yang begitu memabukkan dan membutakan langkahku.
"Apa memang begini yang namanya mencintai?"
"Apa memang begini seharusnya menjalani hidup?"
Bertahun-tahun aku menanyakan hal yang sempat kupikir ada di depan mataku.
namun, sepertinya otakku tanpa sadar mengungkapkan segala kenyataan yang tertutup awan kelam. Aku tahu, jika kau memabaca ini, akan banyak tanda tanya.
"Apa yang sedang dibicarakannya?"
"Bualan omog kosong lagi."
Iya, untuk orang yang hanya membaca, sebagian besar dia hanya mendapatkan rasa saat dia tenggelam dalam keadaan alur yang membius atau keadaan dia merasakan hal yang sama dengan apa yang ditulis. Tetapi untukku, aku mulai mempertanyakan lagi alasan aku hidup? Alasan mengapa semua orang menuntut untuk kuterus berusaha dengan hidup yang seakan tak menginginkanku. Atau hanya sekedar keadaan dimana sebagian hampa terasa begitu sesak dengan segala cacian yang seharusnya tak perlu kau dengar dari orang yang paling kau cinta. Atau setidaknya kau pun menganggapnya ia juga mencintaimu apa adanya. Atau mungkin (hanya kemungkinan yang kusadari hanya sebagai self-defense-ku untuk tidak merasa terluka lebih jauh lagi) hanyalah hati yang terlalu sensitif. Atau mungkin saja.... (lagi) baru pertama kalinya seseorang yang kau cintai di depan matamu dengan sadaratau tidak membicarakan kekecewaannya terhadapmu tetapi tidak denganmu.
Ku coba berkali-kali untuk mengerti dan menempatkan diriku di tempatnya. Mencoba berkali-kali mengatakan "mungkin, jika aku di tempatnya aku juga akan berpikir sama."; "mungkin jika memang aku di sana aku akan ....... (aku kehabisan kata-kata)". Mungkin memang itu yang harusnya dipikirkan olehnya tentangku.
Jika yang berpikir orang lain mungkin tidak akan sesakit ini. Tidak akan membuatku merasa pengecut dan tak seberguna ini. Dan mungkin aku tidak akan pernah tersinggung sedikit pun karena, orang yang kucinta itu adalah sandaranku yang seharusnya. Tetapi nyatanya, semua hanya seakan peduli bodoh dengan apa yang kulakukan. 
Ini salahku?
Aku ingin memperbaiki salahku. Namun, bagaimana jika ternyata kesakitan yang kurasa ini begitu menyakitkan. Seharusnya aku yang pergi menemui seseorang untuk menyembuhkan kesakitanku jika kau menginjinkan. Tapi dalam benakmu, jika aku ke sana. Aku tak ubahnya aib besarmu (seperti sekarang) yang akan kau ingat selalu, bahwa aku hanyalah aib.
Seandainya waktu bisa terulang, jujur aku ingin mengulang satu tahun yang lalu. Kemudian, ku perbaiki kesalahanku dan membuatmu tak perlu merasa kecewa tentangku.
Tapi waktu bukanlah hal yang bisa terulang. Aku sadar betul. Berkali-kali akal sehatku mengatakan harus maju, dan yang kumakan mentah-mentah hingga kepalaku rasanya akan pecah hanya sesak dengan tatapan yang enggan menatap, seakan aku kotoran yang tak tahu malu.
Aku hanya orang yang tak berguna, hanya tinggal begini saja tak bisa. Yah, igin sekali rasanya aku memukul dan menyadarkan diriku! Aku bodoh, dan aku harusnya bisa melakukan semua yang kumulai. Namun, sakit ini. Sungguh mengoyak hati. Aku tahu aku sakit. Dan aku akan menjadi aibmu jika kuungkap. Tetapi aku, aku ingin kau merasa cukup dengan memiliki kita. Hidup untuk kita. Dan ajarkanku apa itu ketulusan agar aku tak merasa kesepian lagi.
Bisakah?

Selasa, 28 Februari 2017

banyak tanya, bag 1

Ada banyak pertanyaan pada diriku. Melakukan banyak hal dengan harapan bisa menjadi hal yang berguna. Entah untuk siapa, yang pasti berharap tak ada yang terbebani dengan adanya kehadiranku di sekitar mereka. Hanya saja, sampai detik ini aku berkutat dengan ilusi diri yang membuatku merasa "aku sudah berguna". Tanpa sadar apa yang membuatku bahagia kemungkinan besar tidak membuat orang di sekitarku bahagia.

Pernah berkali-kali terjatuh, berencana bangkit. Bahkan, dalam hati ingin membangun tembok besar agar semua orang tahu, aku bukan orang lemah. Tetapi tetap saja... Ego, simpati, empati bahkan afeksi sekalipun seperti menghancurkan batu-batu yang ditumpuk. sebenarnya tulisan ini sudah mengendap hampir selama dua minggu tanpa kutoleh. Hari ini kutengok lagi, dengan harapan dapat menjadi bagian kisah pelajaran kesekian untuk hidupku.

Banyak tanyaku tentang kehidupan, seperti membuatku naif dengan ketamakan arti. Sekalipun hanya sebagai girauan senja yang dulu sangat kusuka, hingga menjadi kepiluan yang mengingatnya saja.... selalu tertorehkan luka lagi, mengendap, bernanah, dan akhirnya aku memilih menutupnya. Selebihnya, semua yang kutuliskan memang hanya diriku yang membaca, dan yang lainnya, kebanykan membaca tanpa mengerti makna. Atau hanya sekedar kesesakan seperti diriku adalah pembuangan kesekian untuk dinikmati bersama.

Nyatanya... Aku hanyalah aku. Bukan maumu, maunya, mau-mereka, atau hanya sekedar mauku. Seandainya aku komputer, mungkin aku lebih memilih me-reset diriku tanpa perlu lagi kata undo atau back-up untuk memulihkan apapun yang pernah kutahu. Mungkin jika aku pelangi, aku tak pernah cukup menginginkan tujuh warna saja untuk menaungi hariku, karena kulebih menyukai abu-abu yang mendung, cukup abu-abu, hingga semua warna yang akhirnya muncul tak perlu lagi menutupi diri menjadi topeng-topeng dengan label 'ke-aku'an'. Dan mungkin jika aku kucing (seperti Hide  -*nama kucing baruku- yang dengan setia menontonku mengetik hingga tertidur, aku setidaknya cukup tahu makan, berlari, kencing, berak, dan menatap lucu pemilikku. Hanya saja aku terlahir sebagai manusia.

Tanyaku apakah kau mengerti? Sesaat seperti atom-atom berlarian dan mengerti, sedetik kemudian semuanya melebur dan kau hanya membacanya sekali lagi berharap kau mengerti. Tapi aku hanya tahu, semua yang kurasakan, butuh bertahun-tahun lamanya untuk menyadari bahwa semua hanyalah kepalsuan yang kuciptakan sendiri.

Rabu, 15 Februari 2017

teman?

Kita sering sekali bertanya bagaimana jalan untuk bersama orang lain. Alih-alih sebagai alasan, karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Maka dari itu dalam hukum sosial tidak jarang banyak orang yang rela menundukkan kepala, melukai ego, bahkan hanya sekedar 'memakai' topeng agar tak terlupakan di mata orang lain. Tetapi berbeda lagi jika halnya semua memang tentang kerelaan, keikhlasan, atau bisa dibilang ketulusan? Tak pernah ada kata membeda-bedakan teman, mau dia baik atau tidak. Hanya saja tak semua orang menjalani hidupnya dengan segala ucapan naifnya tentang kehidupan.

Semisal saja, aku. Tak dapat dipungkiri sebagian besar waktuku kuhabiskan sendiri. Merenungi? Bukan, melainkan menikmati hidupku yang kadang kutangisi, dan kadang kutertawakan. Jujur memiliki banyak sahabat dan ingin selalu bersama mereka. Namun perbedaan, jarak, kadang mengharuskanku untuk memeluk bayangan saja. Tapi untuk kali ini aku ingin menceritakan sedikit kisah. Entah kepiluan di dalam mataku ketika memandangnya, atau memang hanya keserakahanku pada harapan saat bersamanya.

Dulu sering kusebut ia senja. Kini aku bertanya, senja tak pernah lagi ada, baik dalam hidupku maupun mimpiku. Seakan mimpi yang semua terlukis dalam pahatan agar tak terlupa, semua hanya menjadi sebuah tulisan yang terukir saja. Tanpa perlu mencari apa arti makna ukiran yang dulu dicoba terukir hingga berdarah. Yah, sepertinya terlalu hiperbola untuk kalimat terakhir barusan.

Hanya saja. Ketidakmengertian ini menghantuiku seperti batu. Yang terus membuatku tersungkur berkali-kali. Aku tahu dia mungkin cukup berharga hingga aku merasa seperti ini. Hanya saja, sepertinya tidak denganku untuknya. Atau aku yang merasa tiba-tiba begitu karena tidak dimengerti. Hingga menangis sesenggukan seperti anak kecil. Bertahun-tahun merasa sendiri, sudah cukup menyedihkan bagiku. Bahkan untuk sekedar melihat mentari rasanya, mata ini lebih memilih tertutup lagi dan menghancurkan sendi-sendi agar meremukkan tulang perlahan.

Hmmm.... Aku bahkan tak mengerti bisa merasa begini. Hanya saja, aku mulai menyerah. Dulu kucari kata ikhlas, dimana aku harus mencari? Ternyata memang tak ada. Hingga akhirnya, kata paling bermakna yang begitu banyak dipuja seluruh manusia. TUHAN. Aku tersesat dan tak menemukan cahaya. Aku tak pernah tahu dimana DIA. Hingga semua berkata atas nama-NYA, dan menginjak, menyeru, bahkan memaki kata ter'bangsat' di dunia atas nama-NYA. Aku sungguh tak mengerti.

Dan.... teman? Aku bersangsi bahwa sebenarnya, semua orang ingin TUHAN dapat memeluk mereka seperti TEMAN. Hingga tak perlu lagi kesakitan. Seperti hari ini. Aku bertanya dimana teman, dimana orang yang katanya akan selalu ada? Tapi suara lemparan batu menyadarkan aku. Seindahnya pertemanan, kau harus mampu berdiri sendiri. Untuk mengulurkan tangan, atau hanya sekedar meraih tangan.