Kita sering sekali bertanya bagaimana jalan untuk bersama orang lain. Alih-alih sebagai alasan, karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Maka dari itu dalam hukum sosial tidak jarang banyak orang yang rela menundukkan kepala, melukai ego, bahkan hanya sekedar 'memakai' topeng agar tak terlupakan di mata orang lain. Tetapi berbeda lagi jika halnya semua memang tentang kerelaan, keikhlasan, atau bisa dibilang ketulusan? Tak pernah ada kata membeda-bedakan teman, mau dia baik atau tidak. Hanya saja tak semua orang menjalani hidupnya dengan segala ucapan naifnya tentang kehidupan.
Semisal saja, aku. Tak dapat dipungkiri sebagian besar waktuku kuhabiskan sendiri. Merenungi? Bukan, melainkan menikmati hidupku yang kadang kutangisi, dan kadang kutertawakan. Jujur memiliki banyak sahabat dan ingin selalu bersama mereka. Namun perbedaan, jarak, kadang mengharuskanku untuk memeluk bayangan saja. Tapi untuk kali ini aku ingin menceritakan sedikit kisah. Entah kepiluan di dalam mataku ketika memandangnya, atau memang hanya keserakahanku pada harapan saat bersamanya.
Dulu sering kusebut ia senja. Kini aku bertanya, senja tak pernah lagi ada, baik dalam hidupku maupun mimpiku. Seakan mimpi yang semua terlukis dalam pahatan agar tak terlupa, semua hanya menjadi sebuah tulisan yang terukir saja. Tanpa perlu mencari apa arti makna ukiran yang dulu dicoba terukir hingga berdarah. Yah, sepertinya terlalu hiperbola untuk kalimat terakhir barusan.
Hanya saja. Ketidakmengertian ini menghantuiku seperti batu. Yang terus membuatku tersungkur berkali-kali. Aku tahu dia mungkin cukup berharga hingga aku merasa seperti ini. Hanya saja, sepertinya tidak denganku untuknya. Atau aku yang merasa tiba-tiba begitu karena tidak dimengerti. Hingga menangis sesenggukan seperti anak kecil. Bertahun-tahun merasa sendiri, sudah cukup menyedihkan bagiku. Bahkan untuk sekedar melihat mentari rasanya, mata ini lebih memilih tertutup lagi dan menghancurkan sendi-sendi agar meremukkan tulang perlahan.
Hmmm.... Aku bahkan tak mengerti bisa merasa begini. Hanya saja, aku mulai menyerah. Dulu kucari kata ikhlas, dimana aku harus mencari? Ternyata memang tak ada. Hingga akhirnya, kata paling bermakna yang begitu banyak dipuja seluruh manusia. TUHAN. Aku tersesat dan tak menemukan cahaya. Aku tak pernah tahu dimana DIA. Hingga semua berkata atas nama-NYA, dan menginjak, menyeru, bahkan memaki kata ter'bangsat' di dunia atas nama-NYA. Aku sungguh tak mengerti.
Dan.... teman? Aku bersangsi bahwa sebenarnya, semua orang ingin TUHAN dapat memeluk mereka seperti TEMAN. Hingga tak perlu lagi kesakitan. Seperti hari ini. Aku bertanya dimana teman, dimana orang yang katanya akan selalu ada? Tapi suara lemparan batu menyadarkan aku. Seindahnya pertemanan, kau harus mampu berdiri sendiri. Untuk mengulurkan tangan, atau hanya sekedar meraih tangan.
Dulu sering kusebut ia senja. Kini aku bertanya, senja tak pernah lagi ada, baik dalam hidupku maupun mimpiku. Seakan mimpi yang semua terlukis dalam pahatan agar tak terlupa, semua hanya menjadi sebuah tulisan yang terukir saja. Tanpa perlu mencari apa arti makna ukiran yang dulu dicoba terukir hingga berdarah. Yah, sepertinya terlalu hiperbola untuk kalimat terakhir barusan.
Hanya saja. Ketidakmengertian ini menghantuiku seperti batu. Yang terus membuatku tersungkur berkali-kali. Aku tahu dia mungkin cukup berharga hingga aku merasa seperti ini. Hanya saja, sepertinya tidak denganku untuknya. Atau aku yang merasa tiba-tiba begitu karena tidak dimengerti. Hingga menangis sesenggukan seperti anak kecil. Bertahun-tahun merasa sendiri, sudah cukup menyedihkan bagiku. Bahkan untuk sekedar melihat mentari rasanya, mata ini lebih memilih tertutup lagi dan menghancurkan sendi-sendi agar meremukkan tulang perlahan.
Hmmm.... Aku bahkan tak mengerti bisa merasa begini. Hanya saja, aku mulai menyerah. Dulu kucari kata ikhlas, dimana aku harus mencari? Ternyata memang tak ada. Hingga akhirnya, kata paling bermakna yang begitu banyak dipuja seluruh manusia. TUHAN. Aku tersesat dan tak menemukan cahaya. Aku tak pernah tahu dimana DIA. Hingga semua berkata atas nama-NYA, dan menginjak, menyeru, bahkan memaki kata ter'bangsat' di dunia atas nama-NYA. Aku sungguh tak mengerti.
Dan.... teman? Aku bersangsi bahwa sebenarnya, semua orang ingin TUHAN dapat memeluk mereka seperti TEMAN. Hingga tak perlu lagi kesakitan. Seperti hari ini. Aku bertanya dimana teman, dimana orang yang katanya akan selalu ada? Tapi suara lemparan batu menyadarkan aku. Seindahnya pertemanan, kau harus mampu berdiri sendiri. Untuk mengulurkan tangan, atau hanya sekedar meraih tangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^