Selasa, 28 Februari 2017

banyak tanya, bag 1

Ada banyak pertanyaan pada diriku. Melakukan banyak hal dengan harapan bisa menjadi hal yang berguna. Entah untuk siapa, yang pasti berharap tak ada yang terbebani dengan adanya kehadiranku di sekitar mereka. Hanya saja, sampai detik ini aku berkutat dengan ilusi diri yang membuatku merasa "aku sudah berguna". Tanpa sadar apa yang membuatku bahagia kemungkinan besar tidak membuat orang di sekitarku bahagia.

Pernah berkali-kali terjatuh, berencana bangkit. Bahkan, dalam hati ingin membangun tembok besar agar semua orang tahu, aku bukan orang lemah. Tetapi tetap saja... Ego, simpati, empati bahkan afeksi sekalipun seperti menghancurkan batu-batu yang ditumpuk. sebenarnya tulisan ini sudah mengendap hampir selama dua minggu tanpa kutoleh. Hari ini kutengok lagi, dengan harapan dapat menjadi bagian kisah pelajaran kesekian untuk hidupku.

Banyak tanyaku tentang kehidupan, seperti membuatku naif dengan ketamakan arti. Sekalipun hanya sebagai girauan senja yang dulu sangat kusuka, hingga menjadi kepiluan yang mengingatnya saja.... selalu tertorehkan luka lagi, mengendap, bernanah, dan akhirnya aku memilih menutupnya. Selebihnya, semua yang kutuliskan memang hanya diriku yang membaca, dan yang lainnya, kebanykan membaca tanpa mengerti makna. Atau hanya sekedar kesesakan seperti diriku adalah pembuangan kesekian untuk dinikmati bersama.

Nyatanya... Aku hanyalah aku. Bukan maumu, maunya, mau-mereka, atau hanya sekedar mauku. Seandainya aku komputer, mungkin aku lebih memilih me-reset diriku tanpa perlu lagi kata undo atau back-up untuk memulihkan apapun yang pernah kutahu. Mungkin jika aku pelangi, aku tak pernah cukup menginginkan tujuh warna saja untuk menaungi hariku, karena kulebih menyukai abu-abu yang mendung, cukup abu-abu, hingga semua warna yang akhirnya muncul tak perlu lagi menutupi diri menjadi topeng-topeng dengan label 'ke-aku'an'. Dan mungkin jika aku kucing (seperti Hide  -*nama kucing baruku- yang dengan setia menontonku mengetik hingga tertidur, aku setidaknya cukup tahu makan, berlari, kencing, berak, dan menatap lucu pemilikku. Hanya saja aku terlahir sebagai manusia.

Tanyaku apakah kau mengerti? Sesaat seperti atom-atom berlarian dan mengerti, sedetik kemudian semuanya melebur dan kau hanya membacanya sekali lagi berharap kau mengerti. Tapi aku hanya tahu, semua yang kurasakan, butuh bertahun-tahun lamanya untuk menyadari bahwa semua hanyalah kepalsuan yang kuciptakan sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^