Sabtu, 06 November 2021

Ternyata aku masih cemen

Masih sering kepikiran apa yang dikatakan orang. Masih sering menganggap, yang mungkin seharusnya tidak diseriusi tidak terlalu dipikirkan.
Sepertinya aku perlu mengenal diriku sendiri lagi. Aku siapa? Aku bagaimana? Aku harus seperti apa? Manakah prinsipku? Memang sungguh perlu meraba, apakah yang kulakukan sudah tepat atau belum? Atau ini salah?

Overthinking? Tidak juga menurutku. Tapi yah, aku sedikit terganggu. Dan merasa apa yang sudah kubangun, bisa runtuh seketika. Apa yang kumulai, bisa saja kuhentikan seketika. Apa yang sudah kurencanakan, bisa begitu saja kubatalkan.

Apa perlu aku periksa? Aku merasa sudah lebih baik. Tapi memang, aku merasa ada yang..... Apa yang kutakutkan? Tidak ada. Aku hanya merasa bisa kuselesaikan sendiri. Aku bisa menikmati masalahku. Hanya perlu belajar, hanya perlu pembiasaan. Hanya perlu tidak ragu dan siap untuk kuhadapi semua yang terjadi, ya sudah.

Salahkah? 

Senin, 01 November 2021

Tertata

Kehidupanku sudah mulai tertata. Artinya mentalku pun sama, mulai stabil dan tidak ada pikiran buruk yang dapat mengganggu cara berpikirku.
Beberapa hari terakhir, aku disibukkan dengan permasalahan yang cukup membuat sakit kepala. Mulai dari insomnia, padahal bekerja begitu lembur. Dari pagi ketemu malam. Ditambah laporan dan beberapa deadline yang kubuat sendiri untuk membuat apa yang kubangun ini lebih baik. Kubuat dengan bahasa yang lebih sederhana.
Agar yang mungkin bisa menjadi penerusku lebih mudah memahami dan mengaplikasikan.
Yah, meskipun ada beberapa yang masih tertunda. Satu persatu bisa kulakukan. Padahal sebelumnya rasa²nya aku tidak mungkin melakukan semua itu. Ingin ku apresiasi diriku sendiri. Syukurku.

Aku ingin sedikit memhmbahas tentang religiusitasku. Yang saat ini kuanggap hanya berdasar tau, meyakini, tapi belum pada tahap melakukan sebagaimana jika dianggap beriman. Jujur, dan kuakui sungguh rasanya ateis lebih tepat kusandingkan pada diriku. Atau bukan atheis. Percaya Tuhan. Percaya saja. Hinga saat ini cukup berat memulai. Tapi perlahan, kubuat hidupku tidak perlu untuk semenyedihkan dan kutangisi. Kucoba menerima diri. Meneduhkan hati. Belajar mengungkapkan. Menyelesaikan sendiri. Kubuat seefisien mungkin regulasi diriku. Dampaknya emosiku masih belum stabil. Dalah satu staffku yang sering sekali membuat kesalahan jadi imbasnya. Ada rasa bersalah. Karena tidak biasanya aku marah, dan seakan tidak ada jalan tenang menyelesaikan itu semua. Entah aku yang tidak enakan atau memang sebaiknya mendapat teguran karena dalam kerja tim, komunikasi dia sangat minim. Tidak seperti pada awal kerja dulu.

Entahlah, dengan menjalankan pusat terapi ini sendiri saja sudah kewalahan. Ketambahan dengan staff yang harusnya membantu malah begini. Cukup membuatku lelah. Apalagi sebulan ini tidak ada hari libur sama sekali.