Jumat, 07 Desember 2018

Aku muak menjadi orang baik

Ada banyak hal yang berlalu lalang di pikiranku.
Entah harus kuapakan.
Semua menghilang begitu saja ketika menatap wajahmu.
Kurasakan lagi siapa aku.
Aku ternyata orang yang begitu pengecut.
Selalu saja berlari menjadi pilihanku yang pertama ketika semua menjadi pilihan dan tak ada pilihan sekalipun.

Hancur lebur badan.
Pikiran. Hanya sebagian kecil asa yang sedikitpun tidak terlintas bahwa aku mengalami masalah.
Tapi kini aku sadari.
Ada banyak yang harus kuubah.
Menjadi tertutup misalnya.
Hanya perlu menjadikan dunia ini duniaku saja.
Dengan aku yang tak perlu menjadi orang lain.
Dengan aku yang tak perlu berpura-pura bahwa semua pilihan hidupku ini adalah pilihan orang.
Bukan. Ini pilihanku.
Itu hanya sedikit pembelaan yang memang sering dilakukan banyak orang mengapa mereka tiba-tiba merasa menyesal atas kesalahan yang sudah mereka pilih.
Aku? Sama...
Tapi sepertinya cukup sampai sini.
Aku ingin menjadi orang yang egois.
Dalam sisa hidup yang aku kira sudah cukup ku hidup untuk orang lain.

Aku tak ingin menjadi orang baik lagi.
Nyatanya semua sudah kuusahakan. Terlalu banyak ekspektasi mereka padaku yang .....
Hidupku bukan dalam pusaran ekspektasi mereka.

Aku bukan orang suci. Jadi sebenarnya aku pun bukan orang baik. Labil? Bukan. Sudah terlalu tua untuk merasa labil dengan segala upaya agar terlihat sok dewasa.
Realitas yang sesungguhnya inilah yang perlu dilihat.
Semua menjadi sedikit "yang dibutuhkan adalah ketenangan dalam hidup".

Aku tidak butuh menjadi orangnya yang bijak, meskipun dielu-elukan sangat menggoda dan menyenangkan.
Aku tidak butuh menjadi orang yang baik, meskipun tau sematan gelar baik cukup membuat orang untuk percaya dan bisa memberi 'segala'.

Bisakah mereka mengerti? Aku muak menjadi orang baik.

Rabu, 28 November 2018

Wajarkah?

Ada banyak yang terjadi. Sepertinya blog memang satu-satunya yang bisa menepiskan rasa khawatirku.

Pertama...
Pertama...
Semua ada padamu menjadi yang pertama...
Gundahku. Raguku. Sayangku. Dan ketidakrelaanku hingga begini.
Katanya egoku yang jadi taruhan. Nyatanya logikaku juga ikutan.

Apa yang harus kulakukan?
Menunggu saja tanpa tahu apa yang harus kulakukan?
Aku bukan tipe yang begitu.
Aku ingin rasanya menapikkan semua.
Asa...
Rasa...

Hanya cukup tentang kita.
Tentang kita.
Kita.... Dan kita.
Semuanya jadi sedikit ambyar dengan segala cerita baru tentang ketidaktulusan, ketidakbenaran, semua kebohongan, dan segala tetek bengek yang ingin kumusnahkan.

Sungguh.. ingin ku musnahkan!!!

Aku tidak tahu harus berusaha bagaimana lagi.
Aku tidak tahu harus berencana bagaimana lagi.
Memelukmu selalu atau cukup mendekap erat tanganmu yang selalu saja menerima pelukanku dengan tangan terbuka?
Atau mungkin membunuhnya yang telah membuatmu terluka dan hanya bisa menyakiti raga dan jiwamu?

Sungguh... Aku ingin membunuhnya.
Wajarkah?
Tak rela ada yang membuatmu menangis.
Aku saja mati-matian menjagamu agar tetap tersenyum di dekatku.
Tak perlu lelap dengan segala bahagiamu karenaku.
Cukup cerita kau bagi denganku saja sudah cukup.
Dan dia ingin kumusnahkan lagi.

Lagi, lagi, lagi dan lagi.
Aku ingin memusnahkannya.

Dan pengandaian kita tentang waktu yang tak bisa datang lagi.
Pengandaian kita akan masa yang menjadi debu tak bernama dengan segala rasa kita.
Pengandaian kita tentang rasa kita yang tak pernah menyerah hingga kini.

Aku ingin memelukmu.
Sungguh.
Aku ingin mencumbumu.
Sungguh.
Aku ingin mengecupmu sepuas hatiku.
Sungguh.
Aku ingin selalu berada di sampingmu.
Sungguh.

Wajarkah?

Jumat, 09 November 2018

Kenapa banyak yang meragukanmu?

Apa pengalaman burukku sebegitu buruknya?
Apakah kamu pun sama?
Pantaskah sebenarnya aku mengharapmu?
Aku tak ingin lagi kehilangan.
Bukan yang kemarin. Tidak.
Aku tak ingin kehilanganmu.

Satu persatu meragu muncul datang padaku.
Bukan dari raguku.
Aku hanya ingin membaca.
Apakah memang cerita kita akan berakhir bahagia?

Aku ingin selalu ada di sampingmu.
Aku ingin selalu ada di pelukmu.
Menggenggam jemarimu.
Menggandeng bangga dirimu.

Cukup hanya untuk mendengar ceritamu.
Menatap lelapmu.

Minggu, 28 Oktober 2018

Rumah

Menganggapmu rumah tak pernah ada dalam daftarku.
Karena persinggahan yang mampu kuhindari sekian lama adalah rumah.
Tak pernah membayangkan sedikitpun juga bahwa memilikimu adalah candu.
Dengan segala tentangmu mampu buatku menjadi pengagummu.

Aku tak pernah terpikir Tuhan memberi yang ingin kumiliki.
Rumahku yang kuimpikan.
Bahkan belaian yang selalu kedambakan.
Nyatanya memang cerminku adalah kamu.

Aku mencintaimu.
Menggilaimu.
Dengan waktu sesingkat ini.
Sungguh buatku berpikir lagi.
Apa kita telah mencinta sebelumnya?

Senin, 22 Oktober 2018

Kamu

Denganmu mulai lagi kutata hati.
Semua yang terbaik untuk kita rela kau berikan untukku.
Aku mahfum saja.
Memilikimu seutuhnya tak pernah terlintas di benakku.
Menjadikan namamu bersanding denganku pun tak pernah.
Bahkan memikirkan dirimu yang selalu ada untuk menjadi pelabuhan terakhirku pun tidak.

Tuhan tak pernah berbagi rahasia ini.
Datang dalam mimpi pun tidak.
Jika kugenggam tanganmu lebih awal, dan memelukmu dengan erat.
Apakah akan berbeda jalannya?

Minggu, 21 Oktober 2018

Harusnya tak perlu dicari

Melewati reruntuhan memang tak seharusnya diiringi dengan harapan untuk tetap hidup.
Hanya bertahan agar nafas tidak terhenti saja harusnya sudah cukup.
Tapi yang kulakukan justru sebaliknya.
Harapan yang ingin terus selamat.
Dan angan-angan lainnya jika nanti berhasil melewati reruntuhan.

Dia menggenggam tanganku pada awalnya.
Dengan segala rasa yang ada.
Tak lebih dari ingin menjaga.
Pemakluman dengan segala atributnya dalam hubungan persahabata.
Rasa itu teramini dengan segala rsa yang tak pernah berubah.
Atau lebih tepatnya, menikmati dengan tembok yang tak sengaja terbangun lebih kokoh untuk bahagianya masing-masing.

Aku masih ragu untuk menyatakan kau takdirku.
Dengan segala rasa sakit reruntuhan.
Aku lebih memilih melihatmu untuk bisa menjadi milikku seutuhnya.
Sekarang.....
Kau belum menjadi milikku.
Sedangkan ku?
Entah apakah memang sudah kuberikan hatiku??

Kututup semua hati.
Berjalan menjauhi segala labuh dalam kerinduan diri.
Mereka yang sempat menyapa....
Kuberi senyum saja, sambil dalam genggamanku ku peluk jemarimu erat.

Cukup erat.
Dan kaupun juga.
Satu hal yang sama-sama tak bisa kita toleransi hanya satu.
Membuka dan memberi hati pada orang lain selain aku dan kamu.
Kesepakatan yang sebelumnya hanya menjadi saksi bisu ceritaku yang mengajarkan ketulusan dan keikhlasan.
Atau dengan kata lainnya, kebohongan yang seribu kali terjadi dan membuatku menahan tangis untuk selalu menerima.

Kita seakan berjanji untuk menghabiskan sisa hidup bersama.
Memelukku erat dengan cara yang buat agar aku dan kau menjadi rasa.
Meleburkan curiga dengan saling percaya.
Menanam kasih yang tak akan pernah terpisah.

Jika semua tanpa jalan Tuhan.
Harusnya denganmu tak perlu mencari.
Atau bahkan rasa ini tak pernah ada.
Jika semua tanpa jalan Tuhan.
Harusnya denganmu tak perlu mencari.
Kita bisa saling menjaga dan memeluk untuk saling menghabiskan rasa.

Jumat, 12 Oktober 2018

Bread

Remahan yang tiba-tiba datang lagi tidak perlu ditangisi, bukan? Nyatanya bukan salahku. Hanya sedikit kesedihan yang kutahan. Mengenang lagi keriuhan. Meredam lagi kisah sunyi tak bermuara.

Perlukah namanya kuukir dengan do'a? Percuma kau berdo'a jika dia malah menjadi makhluk Tuhan yang tak pernah mengerti do'a. Bukan kusangsikan. Tapi teruntuk dirinya. Tak lebih dari tembok kosong yang menganggapku masa depan cerahnya.

Senin, 08 Oktober 2018

Lock

Biarkan angin ini menghampiri...
Biarkan kicau gereja bangunkan pagiku...
Biarkan sesak ini memenuhi nafasku...
Biarkan guyuran hujan ini mendekapku dalam sepi...

Jalan ini buatku terjatuh.
Begitu sakit kaki ini menapakkan jari.
Mendekap kesunyian yang berlari kecil jauhi pilu.
Namun, malam tetap memeluknya tak mau pergi.

Terenyuh kumenangis menatap wajah harumu.
Ciptakan kesenduan senja di malam tanpa bintang.
Kepakan sayap sadarkanku bulu-bulu ini terluka.
Membekapnya dengan kain putih lusuh, untuk sembuhkan perih yang menjauh...

Bukan kuratapi keindahan ini...
Bukan juga kusiakan sisa hidup untuk berdiri.
Terlalu jemu surga kudesaki dengan air mata.
Bahkan kerinduan perlahan menyisipi relung hati yang hampa.

Melodi seperti mengalunkan nada ajaibnya.
Berdendang tak seperti biasa.
Apa bulan sudah memecah bintang yang tutupi angkasa?
Atau awan menutupi semua dengan abu-abu keangkuhan?
Kekasih tak akan datang sepagi ini.
Mendekapnya dari kelelahan punggung yang mulai menua.
Biarkan bintang ini menari.
Pergilah hujan hadirkan pelangi.
Senjaku kuciumi dengan rela...
Bahkan untuk selamanya pergi dari dunia.

Senin, 01 Oktober 2018

Menghilang?

Sadar menangis menjadi bagian yang sulit lagi kulakukan.
Merindukan sesenggukan dan menjadi sakit karenanya, apakah bisa menjadi baik-baik saja?
Rasanya hampa.
Entah sudah berapa lama.

Satu persatu dunia maya kutinggalkan.
Kutanggalkan semua kesenangan tentang mengatakan pada dunia bahwa aku biasa saja.
Menghilang seakan menjadi keseruan dan membangun kerangkengku sendiri.

Tak sadar sudah seperempat abad aku bernafas.
Menghilangkan jejakku.
Mengabadikannya sendiri.
Menghapus langkah demi langkah.
Benarkah aku baik-baik saja dengan melepaskan satu persatu yang dulu menjadi jalan hidupku?

Aku mulai kehilangan arti berharga.
Aku mulai mati rasa bagaimana caranya mengeja rasa.
Aku mulai lagi merasa buta untuk mengukirkan hidupku harus melangkah kemana?
Aku mulai mempertanyakan untuk melepas semua mimpi yang dulu pernah kuperjuangkan.

Kenyataan bahwa aku melangkah sendiri.
Kenyataan bahwa memang hanya aku berdiri sendiri.
Kenyataan bahwa aku memang memilih untuk begini?
Benarkah? Atau memang aku sedang bercanda lagi dengan dunia?

Kesakitan yang menjadi biasa.
Rutinitas yang menjemukan asa.
Kembali pada realita tentang semua tak lebih mencari lembaran angka.
Dan kehilangan perasaan berharga yang dulu sempat terjaga.
Memandang bahwa semua sudah tak berarti lagi dan sia-sia.

Rabu, 19 September 2018

Bisakah kau ucapkan selamat tinggal untuk selamanya?

Aku yang mati rasa.
Membuatku mulai lagi dengan kisah yang terlelap.
Bergerak menghilang tak pernah kurasa sesakit ini.

Kubuka lagi luka yang dulu kusadari untuk kupergi.
Yang harusnya tak kupaksakan kenangan itu bisa diperbaiki.
Tak perlu ada yang ada.
Tak butuh ku ada yang mengerti.

Bisakah kesadaranku terus ada? Bahwa itu semua hanya rayuan semumu, untuk mengikatku.
Sesaat kau tak ada.
Rasanya ingin kusudahi semua.

Ingin kini kau yang ucapkan selamat tinggal.
Bukan aku.
Bisakah?
Kini ingin rasanya ku hilangkan semua.
Berharap hanya kenangan yang bisa kukuburkan.
Kuharapkan hanya kenangan indah.
Tapi nyatanya terus-terusan kubuat luka.
Dan dirimu....
Membuatku lagi dengan rasa bersalah yang sama.

Aku tau ini hanya dalam pikirku.
Tapi kini ku mulai mengerti mengapa setiap detik rasanya ingin kusudahi.
Tak sanggup menatap wajah mungil itu.
Bahkan hanya gambar yang kadang kau sanjungkan.

Aku tak berharap lagi kau menjadi rumahku.
Aku bukan meninggalkanmu.
Kenyataannya kau memang bukan untukku.
Dapatkah kau meninggalkanku?

Jumat, 14 September 2018

Lelah

Seberapa banyak waktu aku harus menunggu.
Sayangnya aku tak pernah lelah menunggumu.
Aku yang terlalu naifkah?
Atau memang tempatku pulang hanya dalam pelukmu?

Ketika waktu itu ku memilih pergi.
Penyesalanku masih tetap menghantuiku.
Apakah aku yang harus pergi merelakanmu?
Atau tetap menjaga perasaanku dan mengenangmu saja dalam hatiku.

Aku hanya takut.
Jika kita bertemu...
Luruh sudah apa yang kubangun.
Apakah itu juga untukmu?

Rabu, 12 September 2018

Home

Harusnya aku sadar....
Rumah itu senyaman-nyamannya tempat kembali.
Rumah itu senyaman-nyamannya tempat yang paling bisa nerima apa adanya.

Harusnya gue sadar....
Nggak akan ada tempat lain selain rumah yang bisa nyintai gue sebrengsek apapun gue.
Label pemberontak bahkan ada di diri gue, dan rumah tetap nerima gue.

Harusnya gue sadar....
Sekalipun fisik tetap di lain tempat.
Hati nggak akan pergi kemana pun.

Harusnya gue sadar....
Loe rumah buat gue, dan gue rumah buat lu.

Atau gue yang terlalu bodoh jadiin rumah persinggahan?
Atau memang rumah yang seharusnya loe tempatin?

Harusnya gue gak ninggalin rumah saat itu.
Dengan segala kehausan gue akan ilmu.
Dengan segala keegoisan gue akan diri.
Dengan segala keserakahan gue akan mimpi.

Dampaknya?
Tiga tahun gue berhasil jadi makhluk hidup gak bernyawa.
Mulai nyebat.
Logika balik lagi muncul, diiringi kesadaran....
Nggak lama. Hilang lagi kaya mayat.

Gue tau, mungkin bisa gue sikapi sekarang.
Tapi keinginan buat mengakhiri rasa sakit ini tetep ada.
Terlintas pun rasanya begitu mudah.
Mudah-mudahan hanya sekedar bayangan.
Tak ingin direalisasikan.

Kata mereka dekatkan diri saja pada Tuhan.
Bagaimana? Aku sudah lama tak berTuhan.
Atheis?
Mungkin. Tapi jauh dari itu....
Aku percaya Tuhan ada.
Aku percaya segala ceritaNya di hidupku akan selalu ada makna.

Melompat saja di terpaan angin, tapi ternyata bisa jatuh...
Aku takut. Sungguh...
Karena tak pernah ada tempat untuk pulang lagi.
Tak ada lagi canda tawa menyapaku saat mentari bersedih.
Pelukanmu yang selalu menghangatkanku.
Bahkan hanya belaian lembutmu bisa buatku terlelap dalam lelahku.

Sesederhana itu....
Bahkan sejak saat itu.
Rasanya jatuh bukan lagi alasanku untuk bersedih.
Dan kini merelakanmu lagi.... Seperti membunuhku kedua kali.

Atau belum ada pengganti?
Nyatanya sama.
Sesaat saja....
Dan kau kembali memenuhi lagi hormon endorfinku untuk bergejolak dan buat airmata ini lagi dan lagi ada.

Sayangnya.... Tak pernah ku sempatkan untuk bertukar cerita dengan siapapun.
Kamu, hanya untukku.
Bukan yang lain.
Meski kau bagian hidupku.

Selasa, 11 September 2018

Bacot gue

Aku tau g akan sama lagi.
Nyakitin kamu.
Dan aku bisa lagi dengan bebas deket sama siapa aja.

Tapi cukup kamu tau.
Cuma kamu...
Dan realitasnya begitu.

You just answer "as your wish"

"As your wish."

Selalu...
Jawaban yang kamu kasih. Entah senang atau sedih.
Yang aku tau. Kita..... Lagi nyakitin diri sendiri.

Kepikiran bgt kalo ini balas dendamku. Baru aja terlintas. Sedetik. Nahan kamu. Semauku. Hidup rasanya kaya hari esok yang g ada tapi harus tetep kita jalani.

Tapi balas dendam? Ke kamu? G pernah sedetik pun selain aku sama kamu, udah.

Kalo aku hidup sendiri. Mungkin apapun asal sama kamu aku rela.
Sebegitu butanya sayang ini ke kamu.

Maaf dengan segala egoisku.

* Abis enak-enak gue seneng. Abis itu loe gue buang. G ada sedikit pun ini ada. Tapi gue kaya bilang gitu ya?

This is just my diary, if you read this.

I just really love you.

Kalo pun entah apa yang akan kita lalui, akhirnya kita bisa sama-sama lagi. Aku g akan ngelepasin kamu lagi. Sedetikpun.

Senin, 03 September 2018

Gue lagi sensi kayanya

Entah gue yang sensi atau apa. Atau rasa humor gue mulai meluap. Tapi bacain komik yang isinya body shaming gitu agak gimana ya...

Gue gak gendut, gue kurus banget malah. Gue pengen gendut minimal berisi lah ya...
Tapi gue sadar, gue cuma perlu syukurin apa yang ada.

Loe aja sih gak pernah ngerasa gendut, itu hiburan tau'. Tapi lama-lama risih juga, padahal gak ngejek jadinya sensi. Gue yang emang cuek atau gimana ya biasa aja, mau dibilang kecil, cebol, anak SD. Loe manggil gimanapun juga gur senyum doang. Awet muda kan jadinya. Padahal umur udah mo seperempat abad aja.

Iya, balik lagi. Serius gak suka aja. Bahan humor aja buat hiburan. Tapi kalo hal kaya gitu jadi lumrah. Gue pernah nangani secara gak sengaja di tempat gue dulu jadi konselor abal-abal. Gegara model begituan yang dibilang bercanda ada yang sampe berniat bunuh diri. Emang bukan itu aja faktornya. Banyak pendukung lainnya, kaya ngerasa sendiri (gak punya temen), keluarga, pola pikir. Sedangkan yanh dibutuhkan sebenernya support.

Maybe sejak itu juga, mau gimanapun. Gue nyantai aja. Apalagi masalah kesehatan. Mau gue jogging katanya malah buat kurus, jujur g lebih buat daya tahan tubuh gue. Gue orangnya gampang capek, makan nasi merah juga gitu. Gak lebih buat kesehatan gue. Tapi orang-orang bilangnya gue diet. Lha, bukan serius. Tapi kalo dengerin kata orang emang gak akan ada abisnya.

Semenjak itu, gue gak peduli. But morality, tetep gue jaga. Suka-suka aja. Yang penting gue gak ngerugiin mereka. Kalo apa yang gue lakuin ngerugiin. Gue emang yang harus stop. Udah, simple aja.

Pride

Gue mau jujur. Loe pernah jadi segalanya. Loe pernah jadi yang pertama. Loe yang sampe sekarang selalu ada, di sini. Di hati gue. Tapi gue sadar loe bukan milik gue.

Gue tau semua ini atas dasar suka saling suka. Tapi gatau lagi butuhkah? Bahagiakah? Hanya selingan mata? Atau memang sudah lama terperangkap pake hati?

Gue tau diri. Sejak awal gue bilang. Gue gatau kapan gue capek. Kapan gue nemu lagi yang bisa nyenengin gue. Atau mungkin seseorang yang bakal sandingan sama gue ntar di pelaminan. Atau kapan gue bakal ngubur lagi dalam-dalam perasaan gue ke loe. Atau juga, ada takdir yang gak pernah kita tau.

Gue gak pernah sedikit pun ngerasa terbebani. Seriously. Sekarang, loe dengan kehidupan loe. Gue gatau. Kenapa akhirnya loe tetep lagi baliknya ke gue. Sejak loe pacaran sama yang dulu-dulu, akhir-akhirnya juga ke gue? Apa gue yang emang terlalu cinta sama loe sampe gak peduli apapun yang loe lakuin, gue terima?

Nurani gue berkali-kali bilang loe bangsat. Bajingan. Tapi matamu g pernah bohong. When we meet, we just be our self. You naked me. And you just be you.

Kalo waktu bisa diulang, apa mungkin kita bisa lebih bahagia dari sekarang? Terlepas alasan loe yang ternyata takut orang tua gue gak setuju. Kalo sekarang ya jelas gak setuju. Tapi kalo kemarin-kemarin. For our happy, i've dream everyday when we together for make our happy. No reason for my parents said no for our relationship. But, when you decide, I broke you, I choose for leave, and I regret it.

Kucing dikasih ikan mah yah jelas mau. Apalagi sama-sama cinta. Masalahnya moralnya dimana? Kok ngomongin itu lagi? Dibilang kalo gue capek, gue bakal berhenti. Dan gue yakin loe sangat maklumin itu ketika gue milih buat ninggalin loe lagi.

Do you really love me?
Do you really need me?
Do you really wanna me be with you?
Or just for fun like I think?
For now, you just 'friend with benefits'.
I need you, you need me.
I feel you, you feel me.

No more.

Sabtu, 01 September 2018

Berulang kali

Kita bertemu lagi di ruang yang sama. Aku ingin mulai menceritakan dengan cara biasa. Agar semua tau. Dan agar mereka tau.

Atau memang aku yang tak mau tau.

Tapi rasanya setiap hembusan nafasmu tak lebih hanya segenggam asa yang tak pernah ku mengerti.

Rabu, 29 Agustus 2018

If you read this, you should know yourself.

Pernah kita merasa salah.
Pernah kita merasa berdosa.
Merasa, perasaan. Hal abstrak yang dengan segenap hati ini ingin kukalkulasikan saja menjadi sebuah bilangan.

Jika angka menjadi penentu kehidupan.
Mungkin nilaimulah yang paling rendah di mataku.
Jika angka menjadi penentu kesucian hatimu.
Mungkin nilai minus untukmu di hatiku menjadi yang paling buatku ngilu.

Semua yang sudah tercipta.
Menjadi kesia-siaan.
Dengan segala kesia-siaanmulah.
Perlahan mata batinku seperti terbuka.
Kau mendua.
Kau hanya banyak omong saja.
Kau tak lebih pecundang di mataku.

Aku bukan merendahkanmu.
Sungguh...
Tapi kau buat nanarku menilaimu begitu.

Jujur, andai saja perilakumu bisa membuatku tau sebagaimana perjuanganmu.
Aku mungkin tak lebih hanya bermodal percaya.
Tapi ini sudah keterlaluan.

Jumat, 24 Agustus 2018

Apakah ini yang sebenarnya?

Rasanya pagiku hampa.
Tapi aku mulai terbiasa.
Bahkan, aku kini mampu lewati sakit ini tanpa terasa.
Apakah kehampaan yang lebih memenuhiku?

Aku tau aku yang salah.
Aku yang bersalah dengan segala keputusanku yang mengira kau dewasa.
Ternyata tak lebih dari anak kecil manja yang sungguh buatku mengelus dada.
Iya, semuanya terletak pada keputusanku yang ternyata tak lebih hanya dalam anganku.

Aku juga bukan wanita baik-baik yang seperti diharapkan.
Aku bukan wanita yang bisa memberi segalanya.
Yang terpenting dari itu semua, kecewaku membuatku takut melangkah lebih jauh untuk mengenalmu.
Dan menguburkan rasa ini.

Jika perasaan yang kurasa bagimu tak penting dan akhirnya kita tetap bersama.
Aku tak yakin.
Apa baiknya kita sendiri-sendiri saja untuk waktu yang lama?
Menikmati kesendirian dengan intropeksi diri.
Tapi rasanya diammu, sungguh kini kuterbiasa dan acuh tak acuh.

Jika komunikasi menurutmu bukan hal terpenting.
Itu sungguh bukan kebiasaanku.

Ada banyak hal yang memang sangat berseberangan aku dan kamu.
Aku tak pernah ada rasa. Dulu saat ku akhirnya memutuskan menghabiskan waktu denganmu. Aku sudah punya kekasih. Dan dia ada denganku saat malam itu.
Aku memang tak sampai hati menjelaskan ini padamu.
Kita tak pernah ada ikatan. Jika memang ini takdir seperti katamu.
Justru ingin rasanya aku menolak takdir itu.
Seperti takdir yang menolakku dengan orang yang sudah kusayang namun kenyataannya dia tak denganku.

Aku tak pernah suka lelaki lebih muda. Dan nyatanya usia kita memang berbicara segalanya.
Latar belakang pemikiran kita yang berbeda. Bukan perkara basic education kita.
Semuanya yang dulu kumklumi rasanya sudah cukup buatku lelah dengan segala apa yang menurutmu benar.

(Inikah yang selalu membuat aku tak bisa bertahan lama dalam berhubungan? Lalu bagaimana aku dan dia yang hampir sewindu ini? Lalu mereka yang hampir 662 hari menemani hariku yang nyatanya kukecewakan?)

Aku bertanya berkali-kali dalam sepiku, apa aku yang memang tak bisa berpikir jernih?
Pikir pakai perasaan? Perasaan yang bagaimana lagi, yang remuk redam begini mau dibuat mikir.

Aku tak bisa. Jika kamu mengenalku. Aku tak pernah ingkar dengan kata-kataku. Aku bisa berikan yang terbaik. Tapi rasanya yang kulakukan belum cukup dalam nanarmu.

Aku berpikir lagi, apa tiga bulan awal dan sampai akhirnya kutau engkau dengan yang lain hanyalah hormon serotonin dan feromon yang sementara?
Dan setelah itu hilang?
Hari demi hari rasanya begitu cepat. Begitu pun hari yang sudah kita jalani dalam menjalin ikatan tak jelas ini.

Tapi aku menikmati ketidakjelasan ini.
Aku sudah bilang bukan wanita baik-baik.
Aku lebih suka bekerja.
Dan jika kini kau merasa aku berubah.
Tanyakan lagi di hatimu. Siapa yang berubah?
Keadaan? Dan aku tak di sana?
Realitasnya aku tak di sana.
Bukankah memang itu alasannya kita terpisah jarak. Berat diongkos katamu. Sampai di hari bahagiaku pun kau tak datang. Miris.

Tapi memang itu tak penting. Do'amu yang entah aku kau do'akan atau tidak. Aku sudah tak peduli lagi.

Jika kau ingin menjagaku. Nyatanya kau tak pernah menyentuhku. Apa aku yang kelewat berpikir kotor kalau kau tak tertarik denganku?
Dengan segala kurangku.
Jujur, aku tersinggung, bahkan ketika hanya berdua.
Kau bilang karena jaga-jaga.
Nyatanya kedewasaan dan kini aku sadar, kau memang belum dewasa.
Sampai akhirnya lebih milih bermaon dengan wanita lain yang secara fisik memuaskanmu. Dan semakin kau lepaskan suntukmu dengan memandangi mereka.

Muak aku rasanya.

Jika ini cemburu, rasanya bukan.
Jika lelaki lain juga melakukan ini, rasanya tidak.
Dan jika yang telah lalu kau yang membodohiku, yah kau berhasil.
Otakku bagian amigdala-lah yang mungkin harus disalahkan karena terlalu berharap.

Nyatanya kau dari awal memang hanya melihat diriku tak lebih dari peruntunganmu yang dikirim Tuhan.

Kamis, 23 Agustus 2018

Barang sejenak saja

Coba direnungkan lagi.
Berkaca lagi.
Entah apa yang harusnya tertulis.
Atau memang aku yang memaksakan.
Hasilnya....?

Sekalipun sakit itu hanya sesakit.
Keikhlasan untuk semua ini, kadang membuat kita lebih bersandiwara dari semua topeng yang dipakai mereka.

Selasa, 17 Juli 2018

Koma

Aku bahkan lupa kusebut kau apa.
Sewindu lebih kita bersama.
Namun bahkan takdir hanya mempermainkan kita.

Hai, embunku.
Bisakah kita hanya sebatas teman berbagi cerita?
Bisakah kita cukup mengerti batasan dalam hubungan ini?

Atau aku yang kadang tak tahu malu memintamu datang ketika aku kesakitan?
Embunku...
Mentariku seakan menjauh.

Senyumku juga.
Kau mungkin bisa mengembalikannya.
Tapi apakah itu jawaban dari pertanyaan kita?

Seberkas kasih ingin selalu kusematkan.
Bahkan dalam do'a lima waktu mentariku selalu kusebut.
Tapi ia seakan menghilang dalam kilauan andromeda.

Embunku, sakitkah kau sekarang?
Atau sedikit saja kau tebar senyum yang sama padanya?
Bukan untuk pergi.
Aku bahkan tak berniat pergi.

Kamis, 28 Juni 2018

Ijinkan aku menangisinya terakhir kali

Menengadah sendu tanpa paras jinggamu.
Ini malam ketika ku menantikan hadirmu.
Namun semua kelelahan seperti memutar lagi.
Bagai angkasa kesedihan di pipi.

Lagi.
Tiba-tiba rindu ini menjadi.
Merindumu berkecamuk menjadikanku orang yang patah hati.
Bukan karena tak bisa berdampingan mesra.
Tapi tiba-tiba saja kesesakan yang dulu pernah kurasa seperti menendang-nendang ingin menjarah.

Menggenggam tanganmu saja tak pernah.
Hanya pelukan hangat.
Yang semakin ku rindu.

Hai sang rindu.
Izinkanku merindukannya malam ini.
Agar tak perlu kau melihatku yang sesenggukan merindukannya.
Bukan malam spesial yang harus dikenang.
Hanya kelelahan yang berakhir membengkakkan mata.

Bukan mendua.
Hanya tiba-tiba merindukan jiwa yang tak lagi beraga.
Karena merindumu sudah cukup menyesakkanku.
Tapi sepertinya tak cukup untuk rasa yang membelenggu.

Rindu.....
Jika kita bertemu.
Bisakah kurasakan ranum merah bibirmu?
Memeluk erat tubuhmu?
Menggenggam hangat jemarimu?
Atau hanya sekedar menyandarkan kepala yang lelah ini di pelukanmu?

Jangan samakan dengan nafsu.
Bukan karena ku bernafsu.
Tetapi rindu seperti membutakanku.
Bahwa dirimu ingin selalu kuyakini bahwa hadiah terindah dari Pencipta.

Rindu.....
Jangan kau bayangi diriku dengan bayangmu.
Berimaji nafasmu memelukku saja sudah membuatku jatuh.
Aku kelelahan, menunggumu.

Selasa, 26 Juni 2018

Review Garis Waktu - FIERSA BESARI

Mengenalmu membuatku belajar merelakan.
Menangisimu dengan segala egoku juga menjadi pelajaran untuk hidupku.
Bertahun memperjuangkan, memang bukan hal mudah.
Yang kemudian menjadi porak poranda karena orang ketiga.
Seandainya sedikit saja waktu itu kuambil keputusan yang berbeda.
Apa mampu kuperbaiki lagi?
Realita seperti mendefinisikanmu dengan bahasanya kepadaku.
Kehidupan tak pernah salah seperti waktu yang tak pernah berhenti meski kita menginginkannya.
.
Bahasa kalbu seperti menafikkan segala rasa kita.
Kita pernah mencinta, namun bukan untuk bersama.
Seperti sekedar kenangan yang menjadikannya cerita agar hati pernah belajar rasa dikhianati dan disakiti.
Yah, ke depannya agar kita juga lebih menghargai pada orang yang akan saling mengikat janji dengan kita.
Semua tidak ada yang sia-sia sekalipun yang pernah kita perjuangkan berakhir tak seperti seharusnya.
.
Bung, mungkin itu yang bisa kutangkap setelah membaca bukumu yang pertama.
Atau mungkin aku yang terlalu teringat pada hal bernama kenangan, sehingga terlalu lebur pada cerita kita yang hampir sama.
.
Terimakasih sudah menyuguhkan rangkaian sajak yang mampu membuat hati kita agar lebih mudah merelakan. Karena sejatinya cerita lalu, akan tetap menjadi cerita yang menjadikan kita sekarang. Tidak pernah hilang, namun akan teringat lagi saat penikmat senja (salah satunya mungkin aku), yang lama sudah tak dapat menikmati walau warna seindah apapun, karena hati yang belum cukup siap untuk merelakan.

Pagiku bersama gereja. Sayangku....

Menuliskan lagi...
Merangkai sajak-sajak lagi katanya.

Sayang, kebahagiaan kita.
Ingin kuniatkan hanya pada Sang Pemilik Hati.
Bahagia kita, tidak akan ada tanpaNya.
Jangan lupa untuk selalu bersyukur dalam mengingatNya di setiap hembus nafasmu.
Detak jantungku masih berdegup pun karena kuasaNya.
Sekali lagi, jangan pernah kau lupakan bahwa semua adalah jalanNya.

Sayang...
Dalam peluk malam yang dingin.
Fatamorgana bersama elegi kadang membelenggu.
Bersama mimpi sendu dan sesekali kebersamaan kita.
Jarak mungkin memisahkan kita, namun percaya semua hanya sementara.

Palungku kutancap untuk selalu menjaga hati.
Dengar suara angin sambil menatap senja yang lama tak pernah kunikmati.

Ku mulai kesulitan lagi merangkak dan memeluk.
Pena yang dulu sempat kusatukan.
Tapi denganmu...
Inginku raih lagi keapa adaannya diriku.
Bersamamu kuingin menjadi diriku.

Jika memang waktu menakdirkan kita untuk bisa mengikat janji.
Ku abdikan untuk menjadi teman hidupmu.
Mulai dari setiap jengkal jari dan langkahmu...
Inginku ikuti dan kuamini setiap do'amu.
Sayang....
Mungkin belum pantas kutuliskan segala keinginan membuncah ini.
Tapi bersamamu.
Menenangkanku dengan caramu.
Dalam diamku, kau mengerti diriku.
Tak perlu kata-kata.
Semua kau lakukan dengan bukti tulusmu.

Sayang....
Jika ini juga kau anggap berlebihan dalam ku mengungkapkan.
Maafkan semua metafora dalam majas hiperbolaku.
Karena padaNya tempat mengadu ku sematkan selalu namaMu.
Bersama dengan para malaikat-malaikatku yang membuat diriku ada.
Sayang....
Jangan kau salah takdir jika kita memang belum dituliskan untuk bersama.
Karena ku tau, semua yang terbaik akan selalu menjadi bagian kehidupan kita.

Sabtu, 09 Juni 2018

First note at my facebook (2010.11.03)

hatiku sudah terperangkap jauh dalam bayangmu .
rasa ini sudah terlalu kuat untuk aku tahan .
sakit ini terlalu sakit untuk aku bertahan .
rasakan tangisan sendu di pekat malam .

dada ini sudah tak mampu menahan jantung yang remuk .
mata ini sudah lelah menangis untukmu .
rindu ini sudah menggunung tuk ingin bertemu kamu .

sadarkah ?

rasa sakit ini sudah tak mampu ku topang .
bagai panah yang di tusuk tepat di jantungku .
sakit teramat .
tanpa tahu kapan rasa sakit ini berakhir ?

ku hanya mengenangmu , dalam balutan embun pagi .
ku hanya mampu memandang gambarmu yang tersimpan di hati .
dan ku sadar ku tak pernah mampu membunuh rasa ini untukmu .

sadarkah kau rasa ini sudah mencapai ubun ?

kepala ini rasanya di hantam palu godam ,
bagai panah yang tertancap tak bisa ku lepas ,
seperti pisau yang tak pernah membunuhku walau beribu kali ku sayatkan di nadiku .

2010.05.18

ku menangis di pojok sana .
menatap bintang yang tak pancarkan sinar .
ku lelah akan semua semua fatamorgana .
ku tak kan lagi lari tuk hadapi semua .

tapi tak ada yang peduli .
aku mati pun tak akan ada yang peduli .
lelah akan semua rasa .
lelah akan semua asa .
lelah akan semua hampa .

ingin ku memelukmu tuk tenagkan aku .
tapi itu tak akan mungkin .
biar ku jadi butiran salju yang indah .
biar ku jadi api .

yang indah , lalu mati .
yang hangat , lalu hancur menjadi abu .

kenangan semu yang tlah ku lalui .
hancurkan rasa yang tak lagi ada .

kini ku menangis di pojok sana .
berharap kau datang memelukku .
kini ku menangis di hari itu .
di derasnya hujan yang tag lagi tenangkan ku .

ku berharap ku mati , sekarang .
menghilang bersama derasnya deru air .
terbang bersama debu .

Akhir tahun waktu itu (2012.12.28)

terkisah ku mengarungi samudra kehidupan .
kakiku menginjak semua yang terlalui .
kehidupan ada bukan untuk menjadikan kesedihan .
ku patuhi semua jalan .
arah yang kadang membelokkan di persimpangan .
 
dunia hadir bukan untuk menghancurkan .
kita yang kadang menghancurkannya tanpa sadar .
tak mau disalahkan .
mencari kambing hitam .
 
manusia itu kejam .
sangat .
hati tak mencinta dan tak ada rasa saja bisa melukai .
lebih sakit dari pisau .
 
tuhan ...
menciptakan semua bukan untuk mengangkat senjata dan menyalahkan .
 
sedih .
ku lalui semua dengan senyuman dan kekosongan agar  tak melarut dengan penyesalan .
sudah cukup ?
belum .
butuh ketabahan dan kesabaran yang kadang kita membuatnya kecil .
istighfar ....
istighfar ....
Tuhan tidak suka melihat makhluk yang menyiksa dirinya sendiri .
 
sabar ...
kata yang akan menenangkan hatimu .
jika kamu percaya .
dan kesedihan akan berlalu .
tidak harus hari ini keinginanmu terpenuhi .
Tuhan tidak akan ingkar seperti manusia meskipun yang paling mengasihimu .
 
Dia akan membalasnya .
keinginan nafsu itu tipis dengan keinginan malaikat .
malaikat menerima apapun .
karena waktu terus berjalan dan tidak akan terhenti .
waktu akan terus ada .
walau kita tak tahu kapan itu berakhir .
dan kita mampu lalui itu di waktu nanti .
dengan senyum .
dan indah yang selalu ada .

Mars & Venus part 5 (2013.01.21)

gereja bersiul ceria bersama mentari . dengan candaan dan gurau pelangi semua bercengkrama dalam simfoni keindahan .
pemandangan menyejukkan setra dengan awan yang sedikit kelabu karena memuat terlalu banyak air .
semua begitu indah , entahlah karena apa .
negeri langit selalu memiliki kenikmatan pemandangan yang memanjakan mata .
 
"aku bahagia Tuhan selalu memberiku kenikmatan dan selalu hadirkan senyuman tulus dari mereka yang selalu temani hariku. Kau berikan semua yang ku butuh untuk lalui semua meski tanpa semua yang ku ingini. terimakasih. terimakasih banyak." aku bersujud sejenak menujuNya yang selalu ada dalam darahku .
 
malam ini akan ku beri manusia cahaya paling terang . mungkin hujan pun juga menemani , tapi sudah cukup ku bagikan bahagiaku .
 
^^

Note (2018.06.09)
Menggapai lagi syahdu keimutan di masa lalu. Kurangkaikan kata dan telesik embun dalam hangatmu. Ah... Bersedu saja rasanya mengerti apa yang dulu kutuliskan pada takdir. Bahagia, dapatkah kau mendengarku? Sudah lama ku gak menyapamu... Bahagia? Aku sudah melakukan hal yang baik kan hari ini? Untuk diriku? Yah, minimal itu. Untuk lingkunganku? Itu nilai plus. Bahagia... Jangan datangkan sedih jika memang kau bisa selalu di sini.

Mars & Venus part 4 (2013.01.20)

Kali ini ku temui mentari yang tersenyum . ia begitu anggun dengan balutan cahaya yang bersemu jingga di ufuk Timur .
“Begitu cantiknya ia. Seandainya mampu ku seperti dia menerangi hari-hari dengan balutan bahagia untuk semua manusia.” Ah, aku sungguh iri padanya .
Aku mulai beranjak pergi dari lamunanku tentang mentari yang begitu indah . Venus melangkah menemaninya sebagai gantiku menemani Langit .
“Venus pun begitu cantik dengan cahayanya yang berkilau di pagi hari.” Aku terlalu sering memikirkan orang-orang diekitarku akhir-akhir ini .
 
Aku terduduk di temani senja di kesejukan . dia berbinar menenangkan dalam sayupan angin sepoi . aku rindu senyumnya yang indah itu .
“Selamat pagi bintang!” katanya menyapaku sambil berlari kecil .
“Pagi juga. Ada apa gerangan kau begitu bersemangat pagi ini?”
“Aku akan pulang untuk bertemu ayah dan ibuku.” Katanya sambil berbinar . matanya seperti berkata bahwa ini impian yang selama ini ditunggunya .
“Benarkah?” aku ikut antusias melihatnya bersemangat .
Ia hanya mengagguk. Semangat sekali . aku jadi ikut bersemangat melihatnya bahagia . aku juga bahagia . bulan tak lama datang . dengan senyumnya yang menenagkan itu , aku merasa hari ini begitu indah . terimakasih Tuhan .
 
“Wah, kalian sepertinya bahagia sekali? Apa karena kedatanganku?” ia suka sekali bercanda .
“GR , senja akan pulang. Ia semangat sekali, aku jadi ikut bahagia dan bersemangat juga.”
“Apakah kau juga tak ingin pulang?” tanyanya padaku .
Aku terdiam , yah ayah dan ibu . entah bagaimana kabar mereka . aku hanya menanggapinya dengan senyuman .
“Kalian ingin oleh-oleh apa setelah aku kembali?” senja memecah kebisuan karena kita terdiam cukup lama .
“Aku cukup kue bulan, sudah lama aku tak memakan itu. Kau bagaimana?” ia menyenggol sikuku yang bersebelahan dengannya
“Aku cukup melihatmu kembali lagi kesini dengan baik-baik saja. Dan salamkan untuk kedua orangtuamu senja.”
“Siap!” ia lalu melangkah pergi . ia benar-benar pulang .
 
“Aku juga ingin bertemu ayah dan ibuku.”
“Pejamkan matamu.” Mars tiba-tiba datang diantara kami .
Aku menurut saja . saat ku pejamkan mata , aku melihat mereka berlari memelukku . oh , aku sangat merindukan mereka . kita makan bersama adik-adikku . aku juga sangat merindukan mereka . bermain , bercengkrama , bercerita tentang keadaan masing-masing , hingga ku tidurkan si kecil dalam pangkuanku . aku juga terlelap . dalam mimpiku aku bertemu dengan Mars . ia menyuruhku untuk bangun .
 
“Apa kau sudah bertemu mereka?” Mars tersenyum .
“Sudah, aku sangat bahagia. Aku merindukan mereka.” Mataku rasanya tergenang sesuatu .
“Kau ingin pulang juga?”
“Tidak, ini belum waktuku pulang. Tidak apa-apa. Tadi sudah cukup. Terimakasih.” Lalu aku berlari untuk menjalankan tugasku lagi .
Aku merasa sangat bahagia . entah mengapa . mungkin bertemu dengan semangatku .
 
Bagi kalian mungkin ini hal biasa . tapi tidak denganku . kalian yang masih memiliki waktu bersama dengan mereka yang tercinta , yang terkasih , bahagiakanlah mereka . aku tahu kalian sangat mencintai mereka . seperti kapal yang mencintai daratan . ia rela menerjang ombak dan badai yang dahsyat . untuk kembali dengan daratan . kalian rela melakukan apa saja untuk mereka . waktu tercipta bukan untuk terulang . renungkan yah .....

Mars & Venus part 3 (2013.01.19)

"Tuhan ampunkanku telah menjadi bintang yang hanya bisa mengeluh. Tuhan maafkan aku yang selalu dalam kasihMu namun sering ku dustakan dengan amarah iblisku. Tuhan aku terlalu takut untuk mencintaiMu hingga rasanya menyiksa hari-hariku. Tuhan, bintang ini butuh belaimu dalam tangisnya yang menyesakkan dan harap untuk menemukanMu dalam setiap aliran darahku. Tu.han ...."
Senja menatapku miris , buru-buru ku hapus airmata ini dan menutupi semua yang ada .
aku tak mau dia terbebani dengan apa yang ada difikirku .
"Kau kenapa?" tanyanya sambil menatap heran sekaligus iba mungkin .
"Aku baik-baik saja. darimana? mengapa kau berjalan sendiri tidak bersama teman-temanmu yang lain?" aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja . yah , akan  selalu baik-baik saja .
"Mereka pergi dengan mentari dan awan. mengapa kau tak dengan bulan? apa kalian sedang bertengkar?" ia mulai memegangtanganku yang basah oleh keringat .
"Kami baik-baik saja. tak perlu bicarakan siapapun. aku baik-baik saja." aku mencoba tersenyum . entah senyumku bagaimana waktu itu . aku membenci diriku yang begini .
"Bisakah kau meninggalkanku sendiri? malam hampir tiba , mendung sedang sakit . air-airnya sedang menyembuhkan. aku harus segera bertugas." aku berdiri dan mulai beranjak .
"Bintang, jangan pernah kau merasa sendiri. aku di sini. aku ....." entah mengapa butiran kristal bening mulai berkaca-kaca di bola matanya yang indah .
"Tenang saja. maaf membuatmu khawatir tentangku. aku baik-baik saja. tak perlu kau membebani pikiranmu. aku juga akan selalu ada untukmu." ku berjalan dengan berat . ingin sekali ku memeluknya dalam keadaan menyedihkan begini. apakah aku buta ? membiarkannya berpikiran tak karuan tentangku dan ku sibuk dengan duniaku ? betapa bodohnya aku ini . aku mulai tak peduli pada tatapan Venus yang memandangku dari jendela kamarnya . aku mulai berlari mengejar langkah senja . hampir saja aku jatuh . tapi tidak , kau tidak boleh terjatuh . konyol jika aku terjatuh saat seperti ini . tapi terlambat , aku tak mendapatinya di kursi taman tadi . aku duduk di sana , berharap dia kembali , sedang jam tugasku seakan berjalan lebih cepat dari biasanya .
 
"Menunggu siapa, bintang?" aku menoleh . ternyata Mars .
"Tidak menunggu siapa-siapa. aku menunggu jam kerjaku." jawabku seadanya .
"Mengapa tak kau suruh waktu memppercepat jam di dimensimu? aku bisa memanggilkannya jika kau perlu." katanya lagi .
"Tidak usah, seandainya ingin. mungkin aku lebih memilih mengulang waktu." suaraku ? kenapa lirih dan rasanya tiba-tiba sesak ? aku menghapus genangan bening i pelupuk mataku yang akan jatuh . tidak boleh jatuh .
"Kau ada masalah?" tanya Mars lagi .
"Aku harus pergi. Maaf." aku mulai bangkit dari kursi taman yang sejuk . ah , andai aku mampu sadari betapa nikmat Tuhan begitu banyak untukku .
 
"Bersyukurlah. jangan pernah menyerah ya. bintang pasti mempu melewati cobaan demi cobaan. hanya perlu bersabar dan bersyukur. jangan pernah lupakan kewajibanmu. aku akan selalu mendo'akanmu." Mars pun beranjak pergi meninggalkanku .
betapa bodohnya aku jika mengaggap semua ini hanya isapan jempol dan Tuhan itu tidak adil pada hidupku . betapa mirisnya dan gobloknya aku . apakah aku mampu memperbaiki semuanya ? oh Tuhan , inikah dunia yang kataMu dapat memalingkan cipataanMu dari diriMu ? maafkan aku .....

Mars & Venus part 2 (2013.01.18)

"tadi malam aku temui malam." kumulai dengan sapa dan obrolan ringan pagi ini.
"untuk apa?" tanyanya.
"aku ingin tahu mengapa bulan begitu angkuh."
"angkuh? apa maksudmu?" dengan mimik wajah heran yang berlebihan menurutku.
"tidak apa-apa. aku mulai sedikit membenci bulan. bulan sungguh tak mampu temani hatiku yang sepi. dia hanya menampakkan sebagian dirinya. selalu. hingga nanti baru ia tampakkan dirinya seutuhnya. aku lelah menunggu." sedikit menhaan isak ku tumpahkan kekecawaanku terhadap bulan .
lalu aku menoleh padanya yang hanya diam melihatku dengan tatapan kosong .
"ada apa sekarang kau diam? apa ada perkataanku yang salah?"
"tidak. perkataanmu memang benar. tapi bulan tidak angkuh. dia pun sedih, ketika kau membutuhkannya dia tidak dapat memberi semangatnya padamu untuk lalui harimu lebih indah. tapi dia lebih memilih menuruti kehendak langit dan patuh pada titah Tuhannya. agar kelak dia bisa bertemu denganmu di surga dan berbagi kebahagiaan, serta canda tawa. tahukah kamu dengan sikap bulan yang begitu sabar?" jawaban yang sangat jauh dari yang aku pikirkan sebelumnya .
mutiara bening dari bola mataku mulai mengalir . semakin deras . aku takut . takut kehilangannya . (siapa ? pasti kalian bertanya) BULAN .
 
aku takut kehilangannya . aku takut dia pergi .
negara langit ternyata mendengar keluhku dalam balutan kasih dari sang Zeus . Zeus menghapus airmata di pipi merahku . Mars dan Venus mulai menggendongku ke dalam surga . aku mulai takut . jika ke surga , aku tak akan bisa bertemu bulan .
"Venus, bisakah kau turunkan aku di sini saja?"
"Ada apa? tak inginkah kau ke surga?" dia menatapku heran .
"aku ingin sekali ke surga. tapi tidak sekarang. tunggu aku. kelak aku juga 'kan ke surga. dengan bulan. Venus dan Mars tunggu aku ya." ku mulai turun dati pundak kokoh Venus .
dia hanya memandangku dengan senyuman , Mars pun juga sama .
aku ingin bersama bulan . meskipun dia kadang tak ada di sampingku .
aku tahu , dia yang terbaik . untuk menemaniku dalam surga .
dalam balutan kasih dan sayangNya .
 
kalian ingin tahu siapa aku ?
aku bintang . perkenalkan aku bintang .
tadi adalah senja .
senja yang selalu menemani kesahku dan keluhku .
dia begitu bijak , aku tahu itu .
dan aku menyayanginya .
senjaku .
dia sahabatku .
dia belahan jiwaku .
meski tak pernah kita terlihat bersama .
dia adalah senja terbaikku yang pernah ku punya .
mungkin memang aku hanya punya satu senja .
tapi itu sudah cukup dan dia segalanya buatku .
senja , maukah kau membaca kisah imajiku ?
tentang negeri langit dan surga Azza wa Jalla yang mungkin lebih indah .
sangat jauh lebih indah dari bayangan kita .
aku berharap kau selalu dalam lindunganNya .
senjaku .
terima kasih .
 
 

Mars & Venus part 1 (2013.01.17)

"ku dapati Venus sedikit redup pagi ini .
Mars pun tak tampak cerah temani Mentari .
kenapa ?
apa ada yang terjadi di negeri langit ?
semoga pagi dan hari ini selalu indah ."
 
kemana lagi ?
imaji ibu kehidupan yang biru hijau membentang hadir di mimpiku .
arungi biru ombak dengan bangau yang terbang .
ku susuri alam yang tersenyum padaku kemarin malam .
dia datang lagi .
mewarnai , menemani , dan mungkin 'kan mencintai .
ah , tapi aku tak butuh itu .
bukan dia , kamu , atau siapapun di sampingku .
 
karena kesepian telah buatku biasa dengan mentari yang terbenam .
karena kesepian lebih tenangkan jiwaku yang teruari waktu .
karena kesepian mengajarkanku pentingnya arti kebersamaan dalam asaku yang sakit .
dalam gelombang yang mengolengkan perahu rakit .
dalam jiwaku .
senduku .
yang ku tau menyakitimu .
membiarkanmu pergi .
dan maafkan aku .
bintang itu selalu ada kok

2013.02.01

hatiku bergema memanggil nama dalam balutan rindu .
ku susuri indahnya semu dalam kasih abadi .
terurai fatamorgana dalam hujan di ujung waktu .
tak ada yang seindah bintang lagi menemani .
semua terlalu sibuk dengan topeng-topeng semu .
sudahi saja .
aku lelah .
merantai waktu , menenangkan asa .
hari ini , dingin merasuk sum-sumku dan bekukanku dalam kenangan tentangmu di bawah guyuran rintik-rintik doa .
saat ku ucapkan maaf .
semua berbeda .
agar mengerti , kilau bintang ini mulai redup seperti lampu minyak .
jendela terguyur dedaunan jatuh masuk dalam tidurku .
fibra nada-nada lagu tenangkan otak yang seakan pecah .
cukup ku hirup oksigen dan membuangnya .
tak berharga .
terinjak dalam kenangan yang terlewati masa .

2013.12.27 venuskah?

berterbangan dalam keheningan malam. aku tahu semua akan berakhir seperti ini. sejak kemarin aku seperti debu yang mengikuti saja arah angin. tanpa arah seakan rasaku tak lagi ada. kini semua hadir ketika bayangmu mengaliri relung-relung jiwa. seakan aku berlari menujumu tapi kau hempaskanku. genggaman jemari luruh dalam kepeduliannya. padamu ku alirkan rasa. ketika sudah cukup bentangan sayapku menggapai awan. petir-petir menyambarnya hingga rapuhkan helai demi helai kesakitan yang sempat ku pupus dalam harapan. asaku ada seakan tak pernah peduli. mungkin pesakitan ini mengerti. terlalu lelah menjalani yang tak pasti. keabu-abuan mengerti dirimu. seperti menumpuk memoar-memoar hitam yang terlalu kelam. mengenalmu... menyesalkah? tak pernah. hingga kini ada dalam sujudku namamu. itu hanya do'a karena ku mengingatmu. cukup mengertilah... kadang sayap hitam ini mengepakkan dalam putih dirimu. rumput-rumput yang kau pangkas dalam harapannya yang menjulang. kadang venus ini tetap ada. namun awan-awan itu menutupinya......

2014.04.18 sejenak tentang amarah

sejenak berpikir amarah ini mau ku bawa lari kemana?

sejenak aku berpikir bagaimana amarah ini ku teriakkan saja didepan wajahnya yang telah menyakiti hatiku.

namun itu hanya sejenak.

ketika ku sesaki pikiran ini untuk leburkan semua asa, tak cukup sepertinya berpikir bahwa aku yang paling benar.

ketika sejenak amarah ini menguasai, nama-nama hewan di kebun binatang seakan ingin terucap semua.

amarah....

kemerahan yang bisa hancurkan setahun bahagia, sebulan bahagai, seminggu bahagia, bahkan sejam bahagia yang akhirnya menjadi suasana kelam.

terucap maaf khilaf tak lama setelah marah terluap.

cukupkah?

apa sejenak amarah yang tersirat ini begitu berharga.

apa tak bisa ku pilih sabar?

apa tak bisa ku pilih diam?

tapi amarah ini kubawa kemana?

ku tersesatkan sajakah hingga tak tau arah kemana ia harus kuungkapkan?

atau amarah ini kupendam?

bukan.

suara hati kecil ini....

lalu ku bawa kemana?

sejenak tentang amarah yang mungkin jika terucap hancurkan semua yang ada.

ambillah air dan siramlah amarah itu agar padam.

betapa semua sebegitu mudah?

padam?

memadamkan amarah tak semudah itu.

harus terluapkan.

harus.

HARUS..?

iyakah?

nuraniku tak mengiyakan.

ada Tuhan dinadimu. ada Tuhan yang selalu sesuai prasangkamu.

ku teteskan airmata yang tak sanggup ku bendung.

air kusiramkan tenangkan dadaku yang panas.

sesuci jernihnya...

seperti luruhkan amarah yang sempat bergemelut ingin keluar.

astaghfirullah....

sejenak amarah ini menguasai.

tapi KAU tiupkan sepercik keindahan dalam pikiran yang semrawut ini.

indahlah seakan semua anugerah.

tentang amarah pun kau sulap menjadi do'a.

karena-MU ku tetap ada, karena-MU pula hati ini terselimuti dinginnya salju.

karena-Mu.

sejenak tentang amarah ini, kau padamkan dengan sucinya nikmat-Mu.....

2014 third week of December

hei, apa kabar? sudah berapa lama aku mati tenggelam dalam kubangan yang bernama kesibukan. kesibukan? yah, tugas kuliah dan minggu uas yang tak henti-hentinya datang. (kalau yang ini sepertinya berlebihan).
:')
yah harus selalu dapat ternikmati setiap asa yang ku hadapi. cerita tentang kehidupan ini, aku yang berhak menuliskannya bagaimana. minggu ketiga ini, kuakui tidak mudah untuk menjalani. tanggal 15, cukup ku ingat bagaimana 7 tahun lalu kau pergi. tapi bukan itu yang membuat tahun ini istimewa. tetapi bagaimana untuk tahun ini aku memulai hari yang baru. tanpamu. dan melapaskan yang seharusnya sudah kulepas sejak lama. Tuhan selalu mengajarkan dan memeberi kejutan yang tak pernah terduga. tanggal 16, cukup bahagia kujalani hari yang baru, bertambahnya usia ibuku tercinta, ibuku tersayang, dan 7 tahun sudah bapak meninggalkan bayang yang abadi dalam kehidupan. tanggal 17, hari terindah yang tak pernah kulupa. ayah dan mama. terimakasih kuucapkan untuk semua, yang pasti dan yang pertama, Sang Pembuat Hidup dan kekasih-Nya yang menjadi jalan penenag dalam hariku yang gelap. 21 tahun terindah, yang memang tak semulus jalan pada peta, ada banyak yang Kau beri. Kau ajarkan. dan hanya sedikit yang mampu kupetik. terimakasih banyak. tepat pukul 23.00 dunia serasa menjadi surga. Baiti Jannati. selalu akan tersimpan dalam memori. mungkin ini bukan yang pertama, tapi ini yang pertama setelah sekian lama ku sematkan luka di dada, yang entahlah mengering dengan sempurna atau belum. untuk menulis saja sepertinya merasa kesulitan. ah, sindrom lazy time seperti merasuk dalam nadi ini. tanggal 18, terimakasih yang telah mengucapkan semoga do'a-do'a yang kalian beri dapat terealisasikan dengan baik. (}{) :*
tanggal 19, yah. dasar manusia. bertambah usia malah terperosok jatuh lagi. menyakiti diri lagi. sakitkah aku? hahahaha. bukan-bukan. otak ini yang butuh istirahat. emosi seperti setan yang menguasai saja sedikit rasa, sehingga semua hancur tak tersisa. khilaf. tanggal 20, aku lupa bagaimana berjalannya hari itu. tanggal 21, lebih tepat aku terperangkap dalam penjara tidur panjang. raga ini benar-benar lelah. tapi entah otak bebal ini tak mau merasa. 24 jam serasa tak cukup untuk menjalani hari penuh. satu hari yang..... sebenarnya hanya inginkan lebih baik dari hari kemarin. tapi ini seperti teguran. aku baik-baik saja. dan sekarang. aku tak akan takut berkhayal. sedikit pun tidak. bukan khayal yang sekedarnya. tapi untuk menyalakan mimpi yang mulai meredup satu persatu. do'akan aku.

2014 second week of December

Minggu terberat? Sepertinya tidak juga.
Tapi jatuh lagi bahkan dengan cara yang tak pernah terpikirkan. Iya. Sakit? Jelas.
Sedih? Entahlah... lebih tepatnya rasa ini semakin sedikit membuatku sadar. Kurang bersyukur itu, banyak macamnya.

Tgl 8, sepertinya tdk ada yang spesial. Bahkan lebih terkesan, aku hidup di hari itu. Di raga yang sama namun tak pasti jiwaku akhir-akhir ini lebih suka berkelana. Tgl 9 cukup membahagiakan. Setelah sekian lama selasa menjadi hari yang cukup tak dianggap untukku. Tgl 10 hari yang aku berharap segera terlewati. Tgl 11 kebahagiaan terhias di wajah ini. Entah kenapa. Aku tak cukup baik dalam mengingat. Mungkin karena mentari cukup baik, atau karena mimpi dan kenangan yang tanpa permisi lebih memilih untuk teredam tawa bahagia. Tgl 12 aku lupa apa yang terjadi hari itu. Tgl 13  aaaahhhh, harusnya aku lebih berfikir dewasa lagi. Terdiam di zona nyamanku saja. Tgl 14 jatuh untuk kesekian kali. Dengan cara yang berbeda, dengan jalan yang tak sama. Dan merenungi adalah jalan kuambil. Kalau bisa kubeli waktu. Aku ingin mengulangnya dari awal. Dimana tak mengenal siapapun, dan pergi adalah cara yang harusnya aku pilih waktu itu.

Hhhhaaaaa, sayangnya itu hanya pikiran sesat yang sekelebat hilang. Jika memang waktu bisa terbeli. Ak mungkin lebih memilih untuk tetap diam. Menikmati waktu yang terlewat begitu saja. Sekali lagi. Cukup di sana. Bukan takut esok bagaimana. Tapi untukku 24 jam itu terlalu singkat. Dan airmata memilih bersembunyi. Memeluk angin. Terasa hangat. Tapi tak seindah bintang.

2014 first week on December

Butuh jadi pribadi baru untuk bulan indah ini. Hujan yang pertama hadir. Pelangi yang menemani senja. Bintang yang mulai memilih untuk sedikit terlelap dalam selimut awan.

Senyum, murung, tawa, bahkan kesedihan seperti jadi kepingan puzzle untuk menyempurnakan hari yang kadang rumit. Tapi, justru rumit ini yang membuat banyak hal perlu kacamata yang lebih lebar lagi untuk melihat dunia, cermin yang tidak hanya indah, tapi perlu dibersihkan berkala untuk membuat berkaca diri lebih.

Pijakan ini perlu disemen ulang untuk kuat temani langkah yang kadang... aku tak hanya melangkah, tapi berlari dan meloncat girang.

Tgl 1 hidup ini harus berubah. Dan aku ingin berubah. Tgl 2 aku sedikit kehilangan semangat, badan ini sudah mulai kelelahan. Tgl 3 aku memilih diam, bahkan tangisan ini mulai mengalir tak berhenti sedikit. Tgl 4 telah cukup aku beristirahat. Banyak yang perlu diselesaikan. Tugas, tanggung hawab (yang entahlah, atau ini kepribadianku yang membuatnya begitu), tapi tak berjalan lancar, aku ketakutan. Memikirkannya pun, cinta. Akan kesakitan lagi. Tgl 5 ada janji yang kubuat dengan hati yang mulai mati. Hidup ini tak sekedar mampir. Rindu dalam pelukan kedinginan di sudut ruangan. Yah, hari yang seperti biasa. Tgl 6 memandang lagi semangat dari senyum yang pernah kuhancurkan. Setidaknya cukup untuk jadi pemantik kecil hati yang mati. Dan hari ini, aku harus cukup sadar, kematian ini telah cukup. Keombang-ambingan ini perlu dibuatkan perahu. Mimpi-mimpi yang dulu tertulis perlu diyakini lagi. Bahkan perlu melewati lagi lembar-lembar yang sempat terkubur.

Dan hari ini, hari dimulai untuk membuang sesakit apapun. Sesempit pikiran yang dulu pernah tergenggam. Merindu... yang dulu mati harus hidup lagi.
Mimpiku, sastra, hidupku, bahkan mata yang menatap dan mati, harus hidup lagi. HARUS! Dan hari ini, aku hanya akan ada aku. Farra Laila. Farra yang akan memulai lagi, mimpi yang sempat mati.

2015.03.17

dua orang sahabat sudah lama tak bertemu. ingin sekali rasanya bintang memeluk bulan dengan tangkapan hangat. tapi.... bulan begitu sibuk termenung, seperti ada hujaman rasa sakit yang menahan air matanya jatuh. hanya karena ada dalam keramaian. bintang akhirnya hanya menepuk bahu bulan. hanya menepuk. senyum getir dan palsu tersungging di bibir bulan. bintang bertanya ada apa, hanya dijawab dengan senyum dan kalimat rasa ini sungguh sesak. berkali bintang bertanya ingin kejelasan yang lebih, tapi hanya jawaban yang sama. seperti kaset rusak, dan bulan menatap kosong. kekesalan dan kesedihan menyatu di benak bintang. ada apa ini, tanpa sadar tangan kanannya melayang dan membuyarkan lamunan kosong bulan. tamparan kasih sayang untuk menyadarkannya.
 
- aku heran melihatmu kenapa begitu tega dengan perasaanmu! beri saja aku satu alasan!
+ satu saja alasan mengapa sampai saat ini aku bertahan.
- apa?!
+ sadar bahwa rasa ini memang butuh keikhlasan.
- maksudmu?
+ rasa ini, cukup menerima apa adanya, memberi segalanya.
- apa maksudmu? aku benar-benar tidak mengerti.
+rasa ini, bin. tentang rasaku yang memang dengan seharusnya dapat menerima segala lebih dan kekurangannya. dan aku memang tidak akan pernah bisa meninggalkannya.
- yakin?
+ kalau aku tidak yakin, aku tidak akan mengorbankan rasa hingga seperti ini.!
- kuatkah?
+ aku tidak tau. (pandangannya mulai tertunduk menatap kosong)
- hmmm (menghela nafas panjang), aku tidak pernah tau bagaimana jalan berfikirmu. cukuplah itu yang kau rasa. tapi perlu kau ingat, aku sahabat yang akan selalu ada.
+ he em.
- (dalam hati) jika memang kau masih peduli denganku.
 
ia pergi... yah, pergi. ia membiarkan segala lamunan dan pikiran itu melambung dengan segala imaji hitamnya. seakan lantunan nada dan simponi kesedihan mengalirkan perasaan pilu untuk semuanya. ia pergi.... yah, pergi. pergi dengan segala kehampaan yang sempat ia ingin merasakan berdua dengan cinta yang terpendam. jalan pikiran ini tidak akan pernah bisa diselesaikan hanya dengan logika hampa. logika yang hanya menyelesaikan bahwa hukum gravitasi ini mampu menarik segalanya ke Bumi. yang membuat semua orang dapat berdiri. yah, sayangnya logika yang begitu umum ini, bukanlah logika bulan yang unik. cukup aku memandang. memandangnya dengan segala kesiapan bahwa bahu ini mampu menopang segala kesakitan. yang memang, cukup untuk membuat cerita pilu pada sebuah novel romantis yang kehilangan kekasihnya.
 
sayangnya, cerita pilu. bukan cerita yang sebenarnya......

Senin, 04 Juni 2018

Tulisan

Dengan lirih kusebut namamu dalam do'aku
Orang-orang bilang jika memang berjodoh hanya perlu dijaga dengan do'a
Namun, kadang logika menjadi kecut
Takut kehilangan seakan menjadi penyakit yang tiba-tiba mengelilingi fikirku

Maaf, bukan bermaksud untuk memaksa mengerti bagaimana aku
Aku pun hanya mengharapkan semua yang telah terjadi bukan mimpi
Ketika semua do'a seakan terjawab, aku hanya selalu mengaharap padaNya
Engkau mungkin jawaban, dan jujur kuamini dengan segala keseriusanmu

Mengingat lagi, bagaimana kau tiba-tiba datang
Entah apakah kini ku percayai takdir yang sempat kutampikkan dan akupun tersesat

Hanya bernafas yang kusyukuri waktu itu
Elegi senja bahkan tak mampu lagi membahagiakan mataku
Sinar mentari pun sempat tak pernah sedikitpun menjadi harapanku
Ingatan ketakutan muncul dan membuatku terpenjara
Sesak yang sudah seperti aliran darah lagi-lagi seperti datang
Tak pernah terasakan, dan kini karenamu aku merasakan lagi
Angan semu muncul lagi bersama ketakutan
Ninabobo suaramu seakan menjadi lagu tidurku, seperti dendang murottal yang kini seakan membuatku menuhankanmu
Tolong, jangan buatku seperti ini....

Jumat, 27 April 2018

Tralala

Harus sampai kapan aku dibuat kecewa?
Atau memang seyogyanya aku yang terlalu perasa?
Ingin mendengar tetapi malah pergi.
Mendengar dari hatikah?
Atau telepati rasa?
Harus bertapa berapa lama?

Katanya ini adalah sabar.
Cara yang lebih membuat hati lebar.
Menerima tanpa disakiti.
Berjalan lagi menembus waktu untuk berlari.

Rasanya dé javu berkali-kali dalam pikiranku.
Dan otakku meregakan upaya tentang masa depan daripada yang aku kira.
Ketika semua tentang masa depan kita anggap masa bodoh.
Semua yang terekam rasa, rasanya terulang lagi seperti masa lalu.

Dan.....
Kesemuan menanti membuat ingin bersumpah serapah.
Berlari ke jembatan sepi.
Berteriak kebun binatang dengan segala rasa khilaf nanti.
Mulai dari semut hingga jerapah.

Aaahhh....
Kenapa kesal sekali rasanya tadi.
Sendiri berteriak seru.
Seakan EMPATI mati untuk dipatri.
Layu untuk dibuat menjadi lebih angkuh.

Huruf demi huruf terangkai menjadi kata.
Lalu menjadi kalimat satu.
Sedikit polesan menjadi prosa.
Dan goresan kata idiom untuk melukiskan kerengganan perisa malam.

Hah? Aku ini bicara apa.
Hanya kelelahan karena menanti.
Atau karena fatamorgana kearoganan semu yang diciptakan diri.
Menjadi sesosok potret dalam ilusi hati.

Aaahhh..
Kata andalanku keluar lagi kan...?
Apa?

ENTAHLAH❣❣❣❣

Kamis, 12 April 2018

Begin F end D

Kadang aku sulit sekali mendeskripsikan kata ini...

Entah aku yang terlalu perasa atau memang siklus dalam hidup begitu adanya.

Ketika kita mengulurkan tangan kadang ada banyak hal yang terpikirkan.
Tapi entah mengapa.
Sepertinya pemikiran seperti itu, hahaha...
Baru ini kutemui.

Bukan. Bukan.
Karena satu kata ini bukan barang. Jadi untuk berpikir jika kuulurkan waktu dan tanganku, akan bagaimanakah aku....
Aku tak pernah berpikir sejauh itu.

Karena pemikiran itu mungkin dalam auto thinkingku hanya berlaku pada barang. Untuk apa, seberguna apa, tahan berapa lama, untungkah, rugikah, aaahhh...

Ingin rasanya kuteriak.
Sebenarnya, apa-apaan aku?
Apa karena aku berpikir begitu jadi orang berpikir begini? Atau aku di mata mereka hanya sekedar ....?
Entah kalian menyebutnya apa.
Tapi aku menyebutnya krisis kepercayaan.

Entah sejak kapan sulit aku untuk mempercayai orang.
Hingga akhirnya kutepiskan pemikiran dangkal itu, bahwa setiap orang memang harusnya begitu.
Tapi...

Lagi-lagi nuraniku tak merasa bahwa itu tidak benar.
Aaaahhhh... Polos? Sok polos? Berlagak polos?
Iya, tapi enggak juga. Aku kadang ingin bertanya kepada banyak orang, wajarkah? Dan mereka bilang iya wajar, tapi hati kecilku mengatakan, kenapa aku tetap merasa tidak wajar?

Kalau pergaulan yang kurang luas, sepertinya bukan. Tetapi karena mindsetku yang sebegini saja 😂
Oke, abaikan....
Terlepas dari normal menurut orang lain a.k.a wajar.
Apa emang tiap kita ngelakuin sesuatu harus ada suatu timbal balik?
Nggak kan? ( Di sini agak ngegas 😊)
So, when we need someone to share something, and you have it (whose thing they need).
You think again for share it for your someone?
You didn't lose anything. Just share.

Yah, hanya sepenggal unek-unek lagi dan kesekian kalinya tentang orang yang sama.

Selasa, 13 Maret 2018

Udah lama aja

Udah lama banget nggak pernah nulis.

Yah....
Hingga detik ini ku berkutat lagi melakukan kesalahan yang tidak disadari.
Atau memang kusadari tapi begitu kunikmati.
Dan kini berjalan tertatih lagi, aku tak ingin sendiri.
Salahkah?

Atau aku yang terlalu manja?
Atau aku yang mungkin lelah?
Haha...
Kadang jawaban entah selalu ada dalam setiap tulisanku.
Baik untuk diriku ataupun orang lain.
Tapi kini.... Ingin kusudahi saja jawaban yang tak jelas juntrungannya itu.
Bukan lagi entah...
Tapi "aku harus bagaimana?".
Karena kadang melakukan tak semudah mengoceh ngalur ngidul dan ketawa haha hihi.

Jika ku telaah sendiri diri ini.
Yah, sebagian besar ciri-ciri depresi ada di diriku.
Namun, optimisme dalam diri selalu menguatkanku.
Sangat membantuku melewati hari.
Jujur, aku juga tidak tahu sejak kapan dimulai.
Tapi itu sangat terasa.... Jika kuingat...
Tahun 2015? Iya... Bulan Agustuskah? Atau sebelumnya?
Aku memutuskan untuk menyudahi. Menghilang. Dan kita bertemu lagi dengan status yang tak sama.
Bukan lagi sekedar 'kekasih'.
Dan rasanya hancur semua.
Dan ketika ku pergi. Bertemu lagi dengan orang yang salah. Mengulang lagi bagian terlelah. Tersakiti. Dan bagian yang terlelah. Berjuang, dan logika seperti mencabik-cabik ingin segera bangun.

Yah, tetapi lelah ini sungguh lelah.
Dan aku menghilang.
Dari semuanya.
Tak bertemu siapapun.
Iya. Siapapun.
Keluar hanya untuk lari pagi. Meletihkan diri lagi.
Tak sadar menangis sejadinya.
Dan diam lagi.
Namun, tanpa kopi, tanpa teman.
Dan berkenalan dengan ***
Yang meskipun cukup buat melek merem.

Aku tak tahu berapa orang yang sade.
Atau hanya menyalahkan.
Dengan kata-kata...
Apa susahnya?
Nunggu apa?
Bisa ini itu tapi itu kok g selese?
Itu itu itu.... Skripsi.

Hahahahaha.
Stuck lagi kan gue di tempat sama.

Tapi ini yg dibahas bukan skripsi.
Diri gue.
Ada yang bisa seenggaknya ngeredahin sakit kepala gue? Udah hampir setahun lebih. Sempet ilang, nggak lama akhir-akhir ini muncul lagi.

Rabu, 24 Januari 2018

Yah... Hanya segumpal letih

Orang-orang begitu hebat membuat segala rasa dari A menjadi E.
Kupikir lagi...
Jika memang kata-kata harus jadi pembelaan yang benar.
Kadang aku benar-benar membenci pikiran "I'm Mr./Ms. Right" - not always - but... Di pikiran itu selalu ada.
Orang-orang itu salah.
Mereka hanya mengguruiku.
Mereka tak mengerti aku.
Dikira nyari duit seenak itu apa.
Hah...?
Duit lagi yang keluar.

Entahlah.
Rasanya cukup kumakan sampah serapah (bukan sumpah - karena tak mengucap janji apapun).
Yah, andai ku tak butuh.
Mungkin sudah kutegak habis untuk tidak menatap wajah mereka.
Sungguh.
Tapi teringat lagi...
Bahwa mengeluhkan mereka adalah hal terburuk lagi.
Mau diapakan?
Mereka memiliki permasalahan juga.
Dengan anak-anak yang spesial.

Dan aku bukan mereka.

Kamis, 11 Januari 2018

Aku (lagi)

Ada banyak hal yang sebenarnya patut untukku merasa aku sedang berjuang.
Bukan hanya untuk diriku.
Bukan hanya untuk inginku.
Bukan hanya untuk mauku.

Setiap hari...
Rasanya seperti berjuang penuh bagaimana harus menjalani hari.
Hari ini.....
Inginku merasa semua akan baik-baik saja.
Tidak apa-apa semua akan berlalu dengan segenap rasa syukurku padaNya.

Dan ternyata memang setiap hari begitulah adanya.
Aku berjuang.
Untuk diriku nyaman.
Agar semua orang di sekitarku setidaknya merasa baik-baik saja di dekatku.

Dan dalam hati kecil ini selalu berucap...
Semua yang Tuhan berikan selalu cukup untukku.
Kadang jika memang kurang bagi mereka dan nafsuku, cukup kuberikan segenggam nafasku untuk hidupku.
Setiap harinya kau selalu berusaha untuk menghargai setiap hembus nafasmu.
Dan untukku, ku selalu menghargai walau kadang terasa sesak ketika dada ini tau diriku kelelahan.

Cukup bagiku ASMAMU.
Cukup bagiku SELALU MENGINGATMU.
Tak perlu kuungkap dengan segala kata dan jemariku.
Cukup bagiku baik untuk laku dan lisan yang kujaga sekuatnya agar tak terucap kata kesal.
Biar semua kusimpan hanya untuk aku dan kau yang membaca ini.

Sejak detik sepermpat abadku.
Kusangsikan.... Kuucapkan.... Kujanjikan...
Diriku untuk selalu berjuang.
Dan diriku untuk selalu bersyukur.
Dan diriku hanya cukup untukku, dan selalu tak cukup jika kuikuti kata mereka.

Dan semuku....
Kukunci dalam peluhku.
Agar kuingat bahwa kubutuh semu untuk menjadi diriku yang berharap semua akan baik-baik saja.