Rasanya selalu tenggelam di waktu ini.
Bukan untuk kembali.
Tapi menyadari bahwa yang tulus hanya aku.
Membuatku serasa sesak.
Seakan jantung ini diinjak seenak jidat.
Kemudian dengan santai kau coba sambungkan lagi.
Tak mudah.
Bahkan, memulai lagi waktu itu membuatku yakin.
Hanya aku yang tulus mencinta.
Hanya aku yang sepertinya ingin memeluknya.
Hanya aku yang sepertinya masih menjadi orang yang sama.
Orang sama yang terpenjara oleh rasa yang sama.
Senin, 20 November 2017
Hanya aku?
Sabtu, 11 November 2017
Entah
Butuh berpikir lama untuk menulis judul tulisanku ini. Banyak menulis membuatku begitu ketagihan menulis dan menulis lagi.
Apa memang 24 tahun sudah cukup untuk seseorang memulai lembar baru kehidupan?
Apa 25 tahun sudah cukup untuk akhirnya menemukan arti hidup dan mengharapkan semua berjalan sebagaimana adanya dan sedikit berpikir gila untuk mulai mewujudkannya.
Dengan orang yang memiliki pemikiran yang tak sama.
Yang kadang juga akan saling berteriak 'bodoh' entah terucap atau dalam hati saja?
Atau mungkin 25 tahun memulai kehidupan baru akan bisa sebegitu sempurna?
Atau....
Jumat, 10 November 2017
Senjaku hari ini
Mengenal seseorang bukan hanya sekedar nama.
Lalu baik keluarganya dan juga materinya.
Tidak juga hanya sekedar bukti ala kadarnya dengan segala alasan yang metafora.
Senjaku kini....
Mengajarkanku hal itu.
Memeluk orang juga tak seindahnya bahwa kusuka dia.
Dan hanya dia yang ada.
Tapi lebih pada kubutuh dia, karena tanpanya apa yang jadi pinta hanya sekedar kata.
Atau mungkin... Kubutuh dia, karena tanpanya nyamanku terusik gelisah.
Resahku meraja prasangka.
Karena itu, aku butuh dia tuk tenangkanku. Kuingin memeluknya.
Sedihku...
Tak banyak pasangan yang kukenal memaknai percaya dan saling mengerti sebagai dasar.
Atau memang ada kata lain yang membuat hubungan mereka tetap bersama?
Atau sebenarnya hati sudah lama ingin berpisah tapi tak cukup kuat karena semua terlanjur sudah kuberi semua?
Atau mungkin.... karena sendu menyelimuti karena dengannya lebih baik daripada kesendirian menyertai?
Pikirku masih dangkal dengan pikiran seputar itu saja.
Atau memang aku yang terlalu dalam memikirkan hal yang semestinya tak perlu dipikirkan dan tinggal dijalani?
Senjaku hari ini....
Membuatku tersenyum sinis.
Ketika sadar bahwa hidup hanya sekali.
Ketika sadar seyogyanya mencintai harusnya juga hanya sekali.
Ketika sadar memiliki seseorang dengan kesempatan kedua juga sekali, bahkan kadang tidak perlu ada kesempatan lain.
Hanya sekali saja.
Senjaku hari ini....
Membuatku mengingat bagaimana senjaku tiap pulang di atas jalan itu.
Memeluk bumi yang mulai tenggelam.
Menggenggam sendu yang mulai menari.
Senjaku hari ini....
Membuatku ingin memeluk sahabatku yang jauh di sana dan mengangis sepuasnya.
Senjaku hari ini....
Membuatku mengingat betapa hidup memang seperti ketakutan akan kehilangan.
Kehilangan menjadi yang lain.
Kehilangan bahwa rasa manusianya tidak ada lagi yang peduli.
Ketakutan lagi dengan segenggam rindu yang meronta ingin terbang tapi tak tahu dimana sarangnya berada.
Senjaku hari ini....
Mengajari bahwa Tuhan selalu mengelusmu dengan senyum manisnya.
Menyapamu dengan segenap rindumu padaNya.
Dan ketika kau sadari...
Tuhan begitu dekat hingga hina dan caci maki kau ucapkan pada dirimu sendiri yang selalu lupa padaNya.
Dan Tuhan dengan indahnya menuntunmu perlahan bersama senjaNya, bahwa sudah saatnya pulang bersamaNya.
All by Myself - Eric Carmen
Dengerin lagu ini jadi keinget zaman-zaman 'Meteor Garden 2'. Waktu Sanchai (entah gimana nulis namanya yang bener) muter-muter nyari Tao Mingtse di Barcelona. Dan disitulah gue ngerasa, hanya dari cerita itu... betapa sakitnya perpisahan. Nggak pernah terbayang sedikit pun kalo kehilangan bisa sangat ngehantui kaya gini.
Gue juga nggak seberapa ngikutin alur cerita drama Taiwan itu sampe selese. Tao Mingtse ketemu Yesha di situ dan mereka saling jatuh cinta sampe Yesha harus sembuh dari penyakitnya pun, buat gue... Cukup Sanchai berjuang buat Tao Mingtse. Dan semenjak itu, gue putusin hidup yang penuh perjuangan kaya Sanchai yang notabene melabeli diri dengan rumput liar, harusnya bisa gue jalani. Orang cuma gitu doang. Tapi kenyataannya, tidak pernah semudah itu. Mulai dari awal buka mata sampe tidur dan banyaknya variabel-variabel yang bakal muncul di keseharian. Semua itu jauh dari kata nyaman. Buat gue? Nggak, buat semua orang yang berpikir. Tapi sayangnya kebanyakan nggak berpikir sampai sana. Hidup yah dijalani. Lulus dari satu tempat ke tempat lainnya. Sampai pada satu titik, belajar untuk hidup tidak pernah ada kata lulus. Kecuali batu nisan sebagai ijazah loe buat nandain loe udah lulus dari kehidupan. Dan.... hidup nggak pernah mudah dijalani seperti khayalan. Menghela nafas karena semua yang terjadi. Ketakutan mulai merambati.... Membuat banyak orang lebih memilih berlari. Atau hanya sekedar mencoba berlari dan menggagalkan pilihan rencana hidupnya itu, dan -belajar- menerimanya.
Jujur, sampe umur 23 beranjak 24 ini. Di mana udah pada nanyain kapan nikah? Dan komentar jangan ditunda. Ntar Mama kenalin sama anak temen Mama. Rasanya ada pertanyaan yang terus muncul. Apa hidup harus dijalani begitu? Bagaimana kalau sedang asyik mahsyuk dengan kesendirian ini. Rasanya aku belum bahagia sejenak saja menjadi diriku sendiri. Setelah kuselesaikan yang harusnya sudah lama selesai, rasanya seperti harus siap membuka pintu baru lagi.
Dan kembali pertanyaan muncul, apa memang hidup untuk dinikmati di kesendirian ini adalah sebuah dosa? Rasanya seperti hutang yang harus segera dibayar tanpa tahu siapa penagih hutang. Ah, bukan... Hanya saja entah belum siap atau memang sedang ingin bermesraan dengan diri sendiri, atau standart "orang yang akan hidup dengan gue sudah jadi kaya milih rumah yang bakal gue tempati". Entahlah....
Membuka wish list yang dibuat beberapa tahun yang lalu saja sangat cukup enggan atau lrbih tepatnya takut. Karena sadar banyak yang sudah terlewat. Bukan masalah waktunya atau kegiatan apa yang harus dilakukan. Tapi begitu banyak hal yang terlewat untuk tau bahwa gue selama ini hidup buat diri gue seperkian persen, dan buat keegoisan gue hampir 90%. Gue nggak mau nyangkal itu. Tapi bukan untuk bermesraan, tapi keegoisan. Meski gue tau, egois dan kata yang merembet lainnya bakal jadi sumpah serapah buat kelakuan gue.
Gue juga nggak terlalu bangga dan sedih dengan kehidupan gue. Karena jauh di sana, gue terlalu menikmati hidup gue sampe lupa banyak orang yang hidupnya jauh lebih di bawah gue.
Yah, bahkan semuanya gue lakuin sendiri. Dan waktu gue nulis ini di pagi buta jam satu lebih, gue sadar. Air mata gue, cuma sekedar perasaan. Dan gue.... Masih terlalu takut untuk melangkah. Mengenal lagi. Memulai lagi. Bertanya-tanya lagi, apa memang dia bisa nerima gue yang gini? Apa bisa hidup gue sama kaya yang gue jalani sekarang? Pertanyaan mulai muncul dan semenit kemudian mulai enggan lagi untuk melangkah. Dan melangkah sendirian untuk jalani kualitas hidup yang lebih bisa buat gue bahagia, jadi pilihan gue. Bukan lagi untuk mengenal dan dikenal lagi.