Aku yakin bisa melewatinya. Kau ulurkan tangan seraya menyambutku dengan senyuman sendu. Aku tahu, senyuman ini hanyalah topeng belaka.
Kududuk seakan itu rumahku. Melihat bagaimana rupa dindingnya. Atapnya. Bahkan debu dan sarang laba-laba yang kucari di setiap sudut ruangan. Dinding berwarna hijau dengan semu kekuningan menjadi cat seakan wallpaper usang karena bocor. Atap dengan lampu kuning maram yang sangat kontras dengan ruangan dapur yang terlihat dari ruangan itu. Kursi yang dengan cantik berwarna nude seperti sengaja dibuat begitu nyaman dengan lengan yang empuk.
Ruangan ini cukup luas untuk berleha. Hanya ada satu kursi nyaman itu dan meja dengan buku-buku yang menumpuk di penyangganya.
Setengah jam hanya diam, aku putuskan mengambil buku di tumpukan meja. Judul yang sangat jarang kutemui. 'A words of Anger'. Belum sempat kubuka, kau mengajak aku masuk ke ruangan tempat kita harusnya bekerja.
Yah, aku dan kamu tak lebih partner sebagai penenang. Penenang di kala kebuntuan hidup hari yang penuh dengan realitas yang harus kita temui setiap hari. Penenang. Aku menyebutnya begitu. Entah denganmu.
Kita bekerja seperti bagaimana orang bekerja. Membuka laptop masing-masing dan menempatkan diri pada dunia yang harus kita selami. Dunia imaji dengan khayalnya masing-masing. Tapi bukan begitu alur dari kisah kita.