Kamis, 26 Oktober 2017

Mendung yang banyak b**ot!!

Kadang pertanyaan tentang hidup tidak akan pernah ada habisnya.
Semua tentang bagaimana rasa yang dirasa seperti menjejakkan kaki ke tanah. Dan bentangan kehidupan yang dilalui.
Semua terpaku pada kenangan rasa. Percaya....
Hanya kenangan rasa.

Ah, menulis tentang apalagi ini?
Ketika perut menahan mulas tak bisa ke toilet.
Dan dengan tololnya mengomentari tentang hidup.

Selasa, 24 Oktober 2017

Awan

Kadang tak perlu untuk ucap...
Cukup dengan bahasa rasa yang melegakan.
Memiliki mereka adalah takdir.
Cukup untuk kumiliki.
Dan ketika tau cukup itu seyogyanya, hanya cukup.
Kau sadar. Hidupmu harusnya lebih baik jika bertemu dengan mereka yang baik.

Tidak usah lebih baik.
Membuat hati merasa baik selalu, bukannya itu yang kau cari agar hidupmu lebih berharga?
Salahkah keinginan hidup yang baik itu menjadi suatu keharusan?
Aku tidak perlu dielu-elukan.
Tak perlu dipuji-puji.
Tak perlu dibangga-banggakan.
Selayaknya idealis seorang manusia bukanlah untuk eksistensi semata.

Ketika menemukan menjadi ungkapan bahwa hidup ini menjadi lebih berharga.
Mengapa kau anggap itu suatu keangkuhan?
Jika yang dicari hidup adalah tentang baik di mata orang.
Semua yang pernah ada di dunia. Tak akan pernah menjadi lebih baik.
Karena hanya sibuk mencari yang terbaik untuk mata mereka sendiri-sendiri.
Begitupun aku....

Landasanku berharap semua bisa saling menghargai.
Baik keputusan maupun apapun yang dipilih.
Tapi....
Menghargai katanya ada harganya.

Kupertanyakan lagi... Lagi... Dan lagi...
Apa ketulusan itu?
Apa kesungguhan itu?
Apa memang tak ada?

Awan mengiringi langkahku...
Sejuknya.
Sayapnya....

Dan aku, tetapi berada di bawahnya...
Mengaguminya.
Dan ingin memeluknya.

Minggu, 08 Oktober 2017

Entah ini kutulis kapan

dan aku merasa kehilangan.
ketakutan memunculkan lagi kenangan tentangnya.
awan tak lagi sama.
terkadang bersemu malu, sedetik kemudian menangis.
waktu memang tak akan terulang.
bahkan selalu mengulang kesalahan hanya dipenuhi harapan kesemuan.
mereka... tak akan mengerti.
ini hanya coretan di pinggir jalan.
bersuarakan kepiluan.
bukan tentang pengandaian.
nyatanya....
sejelas bulan menampakkan senyumnya.
mereka tetap tak mengerti....

Jumat, 06 Oktober 2017

Camelion

Kau tau hal yang paling menyakitkan?
Entah yang kurasa itu paling atau bukan, tapi setiap kali mengingatnya sungguh menyakitkan.
Benarkah aku bisa melewatinya?
Atau memang sudah seperti ini harusnya?

Ada kata-kata yang sangat kusuka.
Manusia memang dirancang untuk tersakiti.
Mereka begitu rapuh.
Cukup rapuh untuk percaya bahwa mereka cukup kuat untuk bertahan pada jalan hidup yang setiap orang memiliki kesakitannya masing-masing.

Menohok cukup dalam.
Berkali-kali, bahkan aku harus menghukum diriku sendiri. Semua yang butuh ku lewati sangat tidak mudah.
Harus berkali-kali jatuh dan....
Mereka bilang di sisi. Tapi nyatanya?
Hanya ingin didengar. Hanya ingin dilihat.
Tanpa mau mendengar. Tanpa mau melihat.

Bukankah hal yang paling menyakitkan dari hal yang paling sederhana?
"Karena hatimu terlalu lemah."
"Benarkah?"
Dengan tatapan kosong seperti biasa, entah apa yang kulihat. Dan semua seperti lalu lalang komentar. Bukan menguatkan. Bahkan sangat indah. Tapi semua tak seperti dirimu ada. Hanya kicauan yang semakin membuatmu sendiri.
Dalam sajak. Kutemukan satu kata yang membayangi.
"Ada banyak orang yang dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan mendengarkan. Tapi tidak semua. Jika orang yang mendengarkanmu tulus, bebanmu akan terangkat."
Seketika otak dan badanku mundur. Terasing. Semua. Mereka. Berarti tak pernahkah tulus? Adilkah aku berpikir seperti itu?

Uraian air bening dan asin di pipi, seperti menjelaskan semuanya. Tapi tak pernah terkata. Semua.... Rasanya seperti terkhianati.

"Ini adalah hal sepele. Ngapain dipikir pusing?"
Realitas dan logikaku mengaduk kepala. Pikir hal yang penting.
"Jadi hal tentang menghargai, ketulusan adalah hal yang tidak cukup penting dalam logika."
Aku sadar...

Semua norma yang diagung-agungkan demi kesopanan. Tapi tak pernah sedikitpun rasanya norma, moralitas, menghormati apa yang harusnya manusia perlu syukuri.

Dari ketulusan semuanya berhamburan hancur. Siklus yang tak pernah ada ujung untuk merangkai lagi apa yang telah hancur.

Hanya kata-kata tentang cinta

This is love... Cinta itu memberi. Cinta itu menemani. Cinta itu upaya untuk saling memahami. Cinta itu kadang pahit. Cinta itu murni. Cinta itu berwarna. Cinta itu cukup antara aku dan kamu. Cinta itu satu. Cinta itu kita. Cinta itu melindungi. Cinta itu menerima (menerima apa-adanya pasangan kita). Cinta itu cukup mengerti. Cinta itu memaafkan. Cinta itu tau kapan datang disaat yang tepat. Cinta itu tak akan menyerah hanya karena sering bertengkar. Cinta itu putih. Cinta itu menenangkan. Cinta itu mendamaikan. Cinta itu tau bahwa untuk saling memahami butuh pengorbanan. Cinta itu perjuangan. Cinta itu kesetiaan. Cinta itu tau bahwa hati cukup diisi dengan satu belahan jiwa yang menerima siapa dan bagaimana kita. Cinta itu tak peduli harta. Cinta itu ketulusan dan keikhlasan. Cinta itu menyenangkan. Cinta itu membahagiakan. Cinta itu banyak rasa, cokelat, vanilla, mocca, kopi, pahit, manis. Cinta itu sendu. Cinta itu bersabar. Cinta itu .....

Entah

kenapa rasanya tiba-tiba merindu?
bahkan sebulan lalu aku belajar untuk mengucap janji.
agar tidak menyebut namamu lagi dalam do'aku.
9tahun bukan waktu yg singkat kan?
tidur pun masih berharap mimpi beberapa tahun lalu terulang.
menggelikan kan?
merindukan orang yang sama selama itu?
drama? yah, mungkin terlalu banyak nonton drama.
masalahnya yang dirindukan tak pernah datang.
tak akan pernah.... bahkan dalam detik ia melintas di depanmu bersama siluet.
hujan waktu itu seperti guyuran serdadu menghujam jantungku yang berdetak.
bahkan orang-orang yang tersesat saja bisa menemukan jalannya....
kenapa aku tidak? Tuhan, apa karena aku meraguMu? atau aku yang berkali-kali menyerah membuatMu jengah?
aku sendiri mulai jengah. meski belum sepenuhnya.
Tuhan... frustasikah ini? Kau membuatku merasakan begini. tapi rasanya Kau juga yang membuatku menyerah, dan mereka katakan ini pilihanku, tidak akan ada sangkut pautnya denganMu. jangan bilang yang kutulis adalah kebohongan.

Langit

Mengingatkanku pada semesta.
Bahwa di bumi ini akan selalu bersama.
Tak ada kata sendiri.
Tak ada secuil sepi menghampiri.

Cukup bahagiakah dengan itu?
Langit mengajarkanku dengan cara yang tak sama.
Peluknya bukan dekapan hangat.
Candanya bukan pujian gombal yang membuat pipi merah.
Tegurannya bukan sentilan tajam tak boleh ini itu.

Entah...
Sadarku cukup buta.
Mulutku terlalu kelu untuk ucapkan 'jangan buat aku merasa ingin lebih dari ini'.
Dekap hangat yang hanya kau beri saat semua terasa jatuh, 'jangan buat ku terbiasa dan memintamu melakukan itu setiap waktu.' Maaf dulu ku pergi.
Nyatanya yang kupilih tak baik untukmu maupun diriku.
'Jangan g ad kabar lagi'.
Iya...
Jika memang aku lelah, ak tak kan pernah pergi lagi tanpa kata.

Ibu

Mendengarmu saja miliki hati berparas kesejukan. Entah harus ku apakan sesak-sesak kenangan yang menitikkan airmata dapat terhenti?
Bayang... denting-denting kaca seperti wadah bagi tetesan ini. Airnya seperti berdetak mengikuti ritme jantung yang sedikit melemah. Tersenyum. Ingatan itu yang mungkin tak akan terlupa. Memeluk siluet dengan do'a yang kuucap. Semoga Tuhan meluangkan sejenak... "Pitutur nggambaraken watak, menawi sae ayu tenan kowe nduk." Ibu. Ibu dari ibuku... akan tetap jadi bagian hidupku yang paling berharga. Waktu memang tak akan membeli saat bersamamu. Dan aksara kasih nan tulus, mungkin tak sempat terdengar telingamu. Untukmu yang terkasih. Potret mungkin akan kukunci. Cukup kusimpan dalam hati. Siluet manja denganmu. Ku rindu... serindunya ini, ku berdo'a tak hanya aku.

Aamiin...

Lovesick again?

Kau tahu bahwa memiliki rasa yang seperti ini menyakitkan.
Menjaga hati yang tak pernah tersampaikan pada kelaraan hampa.
Aku sempat memiliki dan melepaskan.
Namun nyatanya semua hanya kesakitan yang tetap terjaga di malam hari.
Tak pernah kudengar lagi deru nafasmu tuk tenangkan aku.
Bahkan, melirikmu ke brlakang lagi sangat kusesalkan nanti.
Cukup kumiliki hati...
Mencintai hal yang tak patut dicinta.
Menjaga hati yang tak patut terjaga.
Entah alasan apalagi hingga ku disebut bodoh bagi mereka.
Cukup kumengerti memilikimu akan selalu sesakit ini setiap kali kumengingatmu.
Dan aku tak mau selamanya begini.
Rasanya cukup menyakitkan....

Yes Love Always could be diffirent

Kita bertemu di dunia berbeda.
Mencoba bersatu dengan hiasan sedih dan suka.
Semua seakan pergi dan datang dalam waktu yang sama.
Hari berganti, detak jantung tetap berpacu di simfoni pelita.

Tak bisa kupejamkan mata.
Luapan rasa tak bernama mengulum hati ini bulat-bulat.
Perihku kupeluk saja.
Senduku kunikmati semua.
Tangisku tetap tertahan di ujung lidah.
Perasaan yang mulai hidup perlahan mati lagi dengan semua bahasa yang terjamah.

Pernah pintaku untuk merengkuhmu sejenak.
Pernah mauku untuk memilikimu sekejap.
Pernah airmataku kau usap dan terlepas.
Pernah kau teteskan sendumu berharap mati dan lenyap.

Bukan piluku kuumbar untuk simpati.
Bukan sedihku kuungkap untuk mengerti.
Bukan syahduku kunyanyikan untuk teresapi.
Bukan sakitku kuceritakan untuk mengharap belas kasih.

Bagai opera drama yang kubuat sedih.
Memilih tuk tetap terjaga di lubuk hati yang terpatri.
Pohon gaharu seperti melantunkan rindu.
Harum aroma kayu tenangkan hati bersama memelukmu.

Bawa pergi saja hati ini...
Kuliti saja perasaan yang teresapi dan mulai mati.
Kubur saja dengan nisan berharap tanah lapukkan rasa.
Perlahan seperti menanti dan akhirnya hilang tak terasa.
Deburan ombak saat itu kunikmati...
Sambil memelukmu dalam wangi tembakau khas dari desah nafasmu.
Luapan kasih ini ingin milikimu yang terjerat waktu.
Kau tak usah mengerti.
Cukup aku dalam genggamanmu, sampai aku mati.

Stupid thing that I think - again

I love you, i am sorry, but i am not gonna do this again. i do not even have the right to approach you. do not love!
I do not have the ability to can give you my heart.
i live everyday exceeds my strength. every day too heavy that i cry.
i do not have any to give you.
but i miss you.
i do not even can give you said love.
but i miss you.
I do not even bold hoping that you would be mine.
but i miss you.
so i pushed you go because, i just women who do not have any, this is my heart.

I held, although it was pain even tears.
so fancy to me i do not even have the right to see you.
do not look at me!
i know that my heart been anywhere you go.
close enough our breath, even it feels like each other.
fused always in the same place more than anyone also in this world.
i love you, but i resisted.

Stupid thing I think

Aku mulai menuliskan lagi rasa yang sempat terkurung jeruji.
Kukunci agar tak seenaknya lepas dari sangkar.
Namun, semua memang memilukan mengingat hati yang terjaga setiap malam hanya untuk mengenang.
Bukan tentang kebahagiaan di masa depan.
Aku mengerti dalam bentuk sayangku padamu.
Aku mengerti dalam rasaku yang tak pernah mati kepadamu.
Namun sayangnya, kau memilih pergi dan aku tetap di sini.
Terlalu bodohkah?
Hanya kesemuan jenuh yang kuresapi bahwa aku menikmati kesendirian ini.
Mendo'akan dirimu bahagia? Tidak.
Aku terlalu naif untuk melakukannya.
Cukup ku butuh bahagia.

Deskripsi Bahagia .... Sebut saja begitu

Kebahagiaan bukanlah sesuatu yg didekte oleh manusia lain, atau bisa diukur oleh parameter uang, ketenaran atau kekuasaan. Kesempurnaan tidak akan pernah ada. Yang ada, hiduplah dalam konsep individuil akan apa makna kebahagiaan itu sendiri.

Mengapa kita begitu takut mengumbar rasa? Sementara ada kebenaran dan ketulusan dalam kejujuran. Ada substansi hakiki dalam absurditas yg ditakut-takuti norma.

Terkadang cukup mengerti saja tak cukup. Harusnya penuh bangga dengan kebahagiaan, tapi dalam arti seperti apa? Yah, akan tetap absurd seperti makna cinta yang tak perlu terurai. Seyogyanya, semua tentang hidup ini perlu tergambar, dalam konsep bahagia, konsep untuk menjalani yg semestinya... namun tak terpenjara dalam belenggu. Dan bahagia.... semoga tak seabsurd cinta.

LJ by NoRiYu, and by myself. Page 118 about 'Normalitas'.

Andai saja?

Kamu tau bayangan ini seperti semu dalam kemunafikan.
Seruan hujan tak ku pedulikan dan hanya memandangnya saja.
Khayal keindahan goyahkan perisa pahit di lidah.
"Andai saja.....", tangisan mulai meradang.
Seperti kesetanan tak mau berhenti.

Waktu... Terlampau sepi untuk ku jalani kegilaan yang menggelayutiku.
Berbicara dengan diri bahkan lebih menyenangkan.
"Ah, aku memang selalu begini..."
Otak kananku seakan bekerja lebih dulu daripada gerak refleks tubuh.
Embun seakan sadarkanku bahwa ini bukan pagi.
Laut bahkan terlukis dalam insan yang berjalan di depanku.
Butuh seribu tahun untuk mengerti makna Tuhan.
Bahkan, seribu tak akan cukup mengartikannya.
Ah.... Kepala ini terlalu banyak berpikir.
Ingin melelapkan mata saja, harus terangkai kata-kata semacam elegi yang terbang dari sangkar.
Kadang amarah menatap remeh mereka lebih menguasai.
Kau bilang ini ***tr*!!! Tau apa kau?
Bahkan aku lebih tau! Kau hanya merayu!

Teringat di ibukota, ku teriakkan sumpah serapah.
Mulai kebun binatang ku sebutkan dan berharap legakan jiwa.
Sesak tadi tak teriakkan saja begundal-begundal yang ingin berontak.
Sial! Aku terlalu memakai hati!
Ah... Malam.
Maukah kau memelukku yang sedang rapuh?
Orang-orang seakan menertawakanku.
Tau apa mereka! Hati?
Benar salah juga belum tentu mereka tau!
Aaaahhhh, binatan*!
Melepaskan, memang tak semudah meludahi aspal seperti hujan tadi pagi yang jatuh tanpa permisi.

Asing

Pernahkah merasa terasing?
Dalam kilauan petir jendela...
Seperti lukisan yang tak pernah mati.
Tapi semua hanya ilusi dan fatamorgana.

Bukan tentang kesedihan.
Apalagi kesendirian.
Hanya tentang perasaan.
Selalu merasa hampa kesepian.
Bahkan seperti tersiksa dalam kesesakan.
Seperti penyakit jiwa yang bermoar tentang angan.

Mereka bilang karena perasa.
Bukan lagi seseorang yang dikenal.
Yah.... Dia sempat tersesat.
Entah terbelenggu di sudut kota mana.
Berkicau tentang realitas dan masa depan.
Namun kehilangan perasaan.
Yah, menghidupkan yang sudah mati itu tak mudah.
Seperti hati ini.

Poem

mungkin aku kan lenyap seperti hujan yang hadirkan pelangi.
dalam kehancuran memandang intan yang tertutup kerang.
ketika sedikit demi sedikit rasa ini melebur.
asaku berlari menapaki jalan yang penuh bunga.
bunga kekasihmu...
bertiup sedikit dan terbang lalui kisah.
aku hadir dalam kesejukkan terik mentari.
perlahan merasuk dalam oksigenmu.
dan buatku selalu ada untukmu.
hingga kau sadari, aku hanya aku.
berdiri terdiam.
memalingkan semua lelah.
menggapai mimpi yang sempat terhenti.
dalam kelembutan harmoni.
angin yang beriringan membelai di bawah sini...

Poem Bintang?

Biarkan angin ini menghampiri...
Biarkan kicau gereja bangunkan pagiku...
Biarkan sesak ini memenuhi nafasku...
Biarkan guyuran hujan ini mendekapku dalam sepi...

Jalan ini buatku terjatuh.
Begitu sakit kaki ini menapakkan jari.
Mendekap kesunyian yang berlari kecil jauhi pilu.
Namun, malam tetap memeluknya tak mau pergi.

Terenyuh ku menangis menatap wajah harumu.
Ciptakan kesenduan senja di malam tanpa bintang.
Kepakkan sayap sadarkanku bulu-bulu ini terluka.
Membekapnya dengan kain putih lusuh, untuk sembuhkan perih yang menjauh...

Bukan kuratapi keindahan ini...
Bukan juga kusiakan sisa hidup untuk berdiri.
Terlalu jemu surga kudesaki dengan air mata.
Bahkan kerinduan perlahan menyisipi relung hati yang hampa.

Melodi seperti mengalunkan nada ajaibnya.
Berdendang tak seperti biasa.
Apa bulan sudah memecah bintang yang tutupi angkasa?
Atau awan menutupi semua dengan keabu-abuan keangkuhan?
Kekasih tak akan datang sepagi ini.
Mendekapnya dari kelelahan punggung yang mulai menua.
Biarkan bintang ini menari.
Pergilah hujan hadirkan pelangi.
Senjaku kuciumi dengan rela...
Bahkan untuk selamanya pergi dari dunia.

Poem Again

Hey..
Pernahkah awan sebegini abu-abunya?
Senduku mewarnai senja.
Yang bahkan ingin kulupakan tetapi selalu ada.
Ilusi ini hanya sementara, 'kan?

Setitik embun saja....
Bisakah pagi membangunkanku lagi dengan senyum hangatnya?
Berlari malu dengan sapaan pagi yang tak pernah bisa terbohongi...
Hatiku yang bahagia, dan teringat janjimu.
Jangan....
Satu dekade ini bahkan tak cukup meski ku arungi kisah sepi.
Bayangan... Akan tetap menghantuiku.
'Aku akan selalu baik-baik saja'.
Hatiku berharap menguatkan.
Untuk melewati setiap kubuka mata ini.
Bahwa akan selalu ada hari yang harus terlewati.
24 jam yang tak pernah cukup menjadi 'hari'.

Keegoisan ini sepertinya abadi.
Mana yang benar, dan mana yang salah.
Mana ketulusan atau hanya sekedar pujian?
Semua hanya sekedar asa.
Omong kosong.
Seperti air ini....
Mengalir ke muaranya.
Kunikmati dengan arusnya.
Raga ini, hanya jasad.
Tanpa perlu tau apapun.

Poem Senyuman

Di guyuran malam ini...
Seperti lenyapkanku sekejap dari peredaran.
Sesaat sepi seperti merajai.
Dan melihat dalam ingatan sekali lagi untuk mengingat.

Senyuman...
Butuh sekian waktu memeluk bayang yang tak tampak.
Siluet-siluet manja.
Seakan keyakinan diporandakan bersama asa.
Butuh sekian waktu mencium kupu-kupu yang menari dan membiarkannya terbang lagi.

Tapi hanya.... butuh sedetik.
Sedetik melepaskan rasa, berujung goresan-goresan pena tangis yang memerah.

Jingga... malam ini terlalu jingga.
Yang bahkan berkhayal dalam nada-nada, masih terpaku berkaca menghapus tangis resah.
Menanti waktu berhenti.
Mengejar tangan yang ingin pergi.
Di persimpangan jejak langkah menyesaki.
Dalam keramaian yang kosong.
Anda...
Akan selalu jadi bayangan, dalam pandora yang entah kemana kuncinya.
Yang buat lelah mencari.
Dan menyerah.

Poem

Setiap harapan akan selalu terbang...
Seperti langit yang tidak selalu cerah.
Kadang kehampaan hanya membuat semua terasa sepi.
Kesepian yang mungkin cukup asakan mimpi.
Ini bukan tentang pengharapan.
Bukan juga tentang keputus asaan.
Hanya tentang sebuah kepastian.

Banyak kisah yang berharap bahagia.
Melewati hari dengan simfoni-simfoni.
Menari indah bersama nada-nada pujangga.
Tapi hidup ini tidak semenarik cerita novel atau tivi.
Biarkan saja kisah ini berjalan dengan arahnya.
Melangkah dengan kaki-kaki yang menuntunnya.