Kau tau hal yang paling menyakitkan?
Entah yang kurasa itu paling atau bukan, tapi setiap kali mengingatnya sungguh menyakitkan.
Benarkah aku bisa melewatinya?
Atau memang sudah seperti ini harusnya?
Ada kata-kata yang sangat kusuka.
Manusia memang dirancang untuk tersakiti.
Mereka begitu rapuh.
Cukup rapuh untuk percaya bahwa mereka cukup kuat untuk bertahan pada jalan hidup yang setiap orang memiliki kesakitannya masing-masing.
Menohok cukup dalam.
Berkali-kali, bahkan aku harus menghukum diriku sendiri. Semua yang butuh ku lewati sangat tidak mudah.
Harus berkali-kali jatuh dan....
Mereka bilang di sisi. Tapi nyatanya?
Hanya ingin didengar. Hanya ingin dilihat.
Tanpa mau mendengar. Tanpa mau melihat.
Bukankah hal yang paling menyakitkan dari hal yang paling sederhana?
"Karena hatimu terlalu lemah."
"Benarkah?"
Dengan tatapan kosong seperti biasa, entah apa yang kulihat. Dan semua seperti lalu lalang komentar. Bukan menguatkan. Bahkan sangat indah. Tapi semua tak seperti dirimu ada. Hanya kicauan yang semakin membuatmu sendiri.
Dalam sajak. Kutemukan satu kata yang membayangi.
"Ada banyak orang yang dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan mendengarkan. Tapi tidak semua. Jika orang yang mendengarkanmu tulus, bebanmu akan terangkat."
Seketika otak dan badanku mundur. Terasing. Semua. Mereka. Berarti tak pernahkah tulus? Adilkah aku berpikir seperti itu?
Uraian air bening dan asin di pipi, seperti menjelaskan semuanya. Tapi tak pernah terkata. Semua.... Rasanya seperti terkhianati.
"Ini adalah hal sepele. Ngapain dipikir pusing?"
Realitas dan logikaku mengaduk kepala. Pikir hal yang penting.
"Jadi hal tentang menghargai, ketulusan adalah hal yang tidak cukup penting dalam logika."
Aku sadar...
Semua norma yang diagung-agungkan demi kesopanan. Tapi tak pernah sedikitpun rasanya norma, moralitas, menghormati apa yang harusnya manusia perlu syukuri.
Dari ketulusan semuanya berhamburan hancur. Siklus yang tak pernah ada ujung untuk merangkai lagi apa yang telah hancur.