Kamu tau bayangan ini seperti semu dalam kemunafikan.
Seruan hujan tak ku pedulikan dan hanya memandangnya saja.
Khayal keindahan goyahkan perisa pahit di lidah.
"Andai saja.....", tangisan mulai meradang.
Seperti kesetanan tak mau berhenti.
Waktu... Terlampau sepi untuk ku jalani kegilaan yang menggelayutiku.
Berbicara dengan diri bahkan lebih menyenangkan.
"Ah, aku memang selalu begini..."
Otak kananku seakan bekerja lebih dulu daripada gerak refleks tubuh.
Embun seakan sadarkanku bahwa ini bukan pagi.
Laut bahkan terlukis dalam insan yang berjalan di depanku.
Butuh seribu tahun untuk mengerti makna Tuhan.
Bahkan, seribu tak akan cukup mengartikannya.
Ah.... Kepala ini terlalu banyak berpikir.
Ingin melelapkan mata saja, harus terangkai kata-kata semacam elegi yang terbang dari sangkar.
Kadang amarah menatap remeh mereka lebih menguasai.
Kau bilang ini ***tr*!!! Tau apa kau?
Bahkan aku lebih tau! Kau hanya merayu!
Teringat di ibukota, ku teriakkan sumpah serapah.
Mulai kebun binatang ku sebutkan dan berharap legakan jiwa.
Sesak tadi tak teriakkan saja begundal-begundal yang ingin berontak.
Sial! Aku terlalu memakai hati!
Ah... Malam.
Maukah kau memelukku yang sedang rapuh?
Orang-orang seakan menertawakanku.
Tau apa mereka! Hati?
Benar salah juga belum tentu mereka tau!
Aaaahhhh, binatan*!
Melepaskan, memang tak semudah meludahi aspal seperti hujan tadi pagi yang jatuh tanpa permisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^