Sabtu, 06 November 2021

Ternyata aku masih cemen

Masih sering kepikiran apa yang dikatakan orang. Masih sering menganggap, yang mungkin seharusnya tidak diseriusi tidak terlalu dipikirkan.
Sepertinya aku perlu mengenal diriku sendiri lagi. Aku siapa? Aku bagaimana? Aku harus seperti apa? Manakah prinsipku? Memang sungguh perlu meraba, apakah yang kulakukan sudah tepat atau belum? Atau ini salah?

Overthinking? Tidak juga menurutku. Tapi yah, aku sedikit terganggu. Dan merasa apa yang sudah kubangun, bisa runtuh seketika. Apa yang kumulai, bisa saja kuhentikan seketika. Apa yang sudah kurencanakan, bisa begitu saja kubatalkan.

Apa perlu aku periksa? Aku merasa sudah lebih baik. Tapi memang, aku merasa ada yang..... Apa yang kutakutkan? Tidak ada. Aku hanya merasa bisa kuselesaikan sendiri. Aku bisa menikmati masalahku. Hanya perlu belajar, hanya perlu pembiasaan. Hanya perlu tidak ragu dan siap untuk kuhadapi semua yang terjadi, ya sudah.

Salahkah? 

Senin, 01 November 2021

Tertata

Kehidupanku sudah mulai tertata. Artinya mentalku pun sama, mulai stabil dan tidak ada pikiran buruk yang dapat mengganggu cara berpikirku.
Beberapa hari terakhir, aku disibukkan dengan permasalahan yang cukup membuat sakit kepala. Mulai dari insomnia, padahal bekerja begitu lembur. Dari pagi ketemu malam. Ditambah laporan dan beberapa deadline yang kubuat sendiri untuk membuat apa yang kubangun ini lebih baik. Kubuat dengan bahasa yang lebih sederhana.
Agar yang mungkin bisa menjadi penerusku lebih mudah memahami dan mengaplikasikan.
Yah, meskipun ada beberapa yang masih tertunda. Satu persatu bisa kulakukan. Padahal sebelumnya rasa²nya aku tidak mungkin melakukan semua itu. Ingin ku apresiasi diriku sendiri. Syukurku.

Aku ingin sedikit memhmbahas tentang religiusitasku. Yang saat ini kuanggap hanya berdasar tau, meyakini, tapi belum pada tahap melakukan sebagaimana jika dianggap beriman. Jujur, dan kuakui sungguh rasanya ateis lebih tepat kusandingkan pada diriku. Atau bukan atheis. Percaya Tuhan. Percaya saja. Hinga saat ini cukup berat memulai. Tapi perlahan, kubuat hidupku tidak perlu untuk semenyedihkan dan kutangisi. Kucoba menerima diri. Meneduhkan hati. Belajar mengungkapkan. Menyelesaikan sendiri. Kubuat seefisien mungkin regulasi diriku. Dampaknya emosiku masih belum stabil. Dalah satu staffku yang sering sekali membuat kesalahan jadi imbasnya. Ada rasa bersalah. Karena tidak biasanya aku marah, dan seakan tidak ada jalan tenang menyelesaikan itu semua. Entah aku yang tidak enakan atau memang sebaiknya mendapat teguran karena dalam kerja tim, komunikasi dia sangat minim. Tidak seperti pada awal kerja dulu.

Entahlah, dengan menjalankan pusat terapi ini sendiri saja sudah kewalahan. Ketambahan dengan staff yang harusnya membantu malah begini. Cukup membuatku lelah. Apalagi sebulan ini tidak ada hari libur sama sekali. 

Kamis, 28 Oktober 2021

Pecah

Tertahan setelah sekian lama.
Kesakitan...
Dan malam ini semua tertumpu pada satu.
Dengan menit, dengan hembusan nafas hidup yang tak kunjung memberi ruang lega.

Apakah memang ekspektasiku yang terlalu tinggi?
Hingga menjatuhkanku ke hulu yang paling dasar?
Ataukah semua yang kusiapkan hancur berantakan dari tanganku sendiri?

Kepalaku sungguh kesakitan.
Tersenyum seakan baik-baik saja.
Pertanyaan yang sama terulang....
Mana diriku yang sebenarnya?

Minggu, 24 Oktober 2021

20211024

Benar-benar disibukkan dengan semuanya. Terima kasih. Sanjungku, pintaku, Kau kabulkan seakan aku makhluk tiada dosa. Luputku, aibku, Kau tutup sedemikian rupa.
.
Tapi hatiku masih beku. Entah apa yang kucari dalam menujuMu. Sadarkanku. Meski kutak pantas meminta. 

Jumat, 01 Oktober 2021

Sabtu, 04 September 2021

Trigger

Entah siapapun yang mampu membuatmu tersenyum. Nyatanya itu bukan aku. Seakan semua yang kita lakukan hanyalah kisah terlupa yang tak perlu dikenang. Memang sengaja masihbkusimpan nomormu. Kunamakan sama masih menjadi milikku. Ingin kuterbiasa. Tanpa rasa, seperti dirimu yang menyembuhkan diri entah untuk apa. 

Jumat, 20 Agustus 2021

Siklus

Entah ini apakah akan menjadi siklusku yang baru. Setelah sekian waktu kurang dari 50 jam. Jebol sudah lagi. Lagi-lagi kutemukan tulisan yang menemukan dan membuatku mengingat tentang dirimu. Gambarmu yang semula sudah tersamar. Seakan jelas di depanku untuk memeluk hangat seperti waktu itu. Aku yang menangis sesenggukan hanya bisa pasrah. Dadaku sakit tak karuan. Bahkan, kualihkan semua menjadi hal tak berarti. Apa salahku? Di mana kurangku? Jelaskan padaku!


Rabu, 18 Agustus 2021

unhinged

Jebol juga rasanya setelah kutahan. Tanpa sebab tiba-tiba ku menangis ketika mendengar "hanya kamu yang kuinginkan". Bodoh banget...

Entah harus bagaimana. Melihat fotomu yang terbaru. Kenapa masih ada wajah pucat tak merona? Yang setidaknya menandakan kau baik-baik saja.

Setidaknya tidak ada penyesalan. Tidak ada yang perlu untuk kuselali. Sehingga aku bisa benar-benar melepasmu.

Iya, di mataku kini memang hanya ada dirimu.
Meski tak bertemu. Menahan rindu. Memaksa melupakanmu. Mencari sendu yang bisa membangunkanku. Di satu sisi tidak perlu ada lagi kata-kata tak penting tentang siapa pun. Hanya namamu. Namamu. Namamu. 

Senin, 16 Agustus 2021

insomnia

Jam tidurku masih sangat berantakan.
Kemarin, ku selesaikan semua dengan segala yang kubisa. Ternyata masih belum bisa memperbaiki kebiasaanku ini. Hanya 4 jam tidur. Mendekati jam 2 kurang, dan bangun di jam 6 pas.

Tertidur, di atas jam 3 sore. Tapi tidak setiap hari. Atau terbangun di jam itu. Pikiranku sering kosong. Bingung akan melakukan apa. Harus bagaimana. Tidak bisa tertahan dan menjadi orang yangs sama di satu waktu.

Aku memang masih belum peduli dengan dia. Satu lagi lelaki yang bisa jadi kujadikan suami. Setidaknya bisa membawaku segera pergi dari rumah. Yang memang setelah mas pergi. Cukup membuatku terbiasa dan nyaman. Jika pun bisa, setelah menikah tinggal dengan orang tuaku untuk mengurus semuanya.

Tapi memang lebih baik tinggal sendiri, dan sesekali saja pulang. Kepalaku mendadak sakit semalam. Tapi tak lama. Kucoba untuk membaca. Tapi gadget addictku sungguh mengganggu. Aku harus bisa mengontrol diri ini. Sudah 2 minggukah aku tak menulis? Rasanya pagi ini sedikit lega. Mulai lagi aktif untuk berolahraga. Semoga semua lebih baik.

Aku tak akan memaksa untuk melupakanmu. Dan aku pun juga tak akan membencimu. Jujur, aku juga g bisa, mas. Tapi memang, tidak ada yang indah tanpa rasa sakit. Cukup kita nikmati. Inilah yang kau bilang selesai dengan diri sendiri, kan?

Entah apakah sudah termasuk. Tetapi yang kubarap adalah saling mencinta, layaknya kita. Tapi jika tak bisa bersama apa boleh buat. 

Senin, 09 Agustus 2021

hujan oertama di bulan Agustus

Malam tadi, tetap sama. Tak mampu kupejamkan mataku jika jarum angka belum menunjukkan 1 dini hari. Kosong. Aku mengisi kosong, atau aku yang terisi kosong.
Kelelahan menjadi setitik motivasiku untuk beristirahat. Tapi nyatanya lelahku tak mampu membuatku terlelap.
Malam tadi, hujan mengguyur. Bdgitupun mataku yang tiba-tiba saja ketika masih kusuapkan sendok demi sendok makanan yang seharian belum kujamah. Tapi malah air mata dan sesenggukan yang keluar tanpa suara.

Kurenungi lagi. Sandiwarakah dirimu? Hanya untuk membalas segala ekspektasiku? Hanya untuk memenuhi janji yang sering kali kau ingkari? Dan sesekali janji kau penuhi?

Apa mungkin memang aku mencari diriku dalam dirimu? Sehingga rasanya begitu sakit ketika diriku sendiri mengabaikanku? Hanya sebatas obsesi. Bukan rasa. Yang sebenarnya tak ada rasa sedikitpun untukku. Berdamai? Tak ada yang lain? Aku yang pecemburu? Padahal hanya sekadar kata. Jika kau memang untukku, aku percaya kamu. Tapi nyatanya.....

Aku tak tahu mana yang nyata dan hanya khayalanku. Semua terlalu kau bolak-balikkan. Komunikasi tak penting. Sungguh. Aku yang sebenarnya tidak pernah mengkomunikasikan. Benar, memasukkanmu hanya untuk mengisi sendiri dan kekosonganku.

Ya, kau memang menyuruhku untuk melepasmu. Hingga aku tak tahu bagaimana caranya melepas. Hingga rasaku tak tahu bagaimana caranya melupakan.
Yang seharusnya kubiarkan saja.
Aku sungguh mati rasa dengan hal itu.
Berlalu lalang di tengah malam. Ku hanya berputar di alun-alun kota dengan mendung. Hingga turun hujan semalam. Kau tak ubahnya hanya kubayangkan menangis di pojokan. Mungkin untuk menguatkan diriku, bahwa kamu menyesal atas kepergianku yang kau paksa.

Yah, biarkan aku menyalahkanmu atas segalanya saat ini. Hingga nanti kusiap melepasmu dengan tanpa rasa. Jujur, jika kubenci. Aku tidak sedikit pun membencimu. Kubodohkan diriku. Andai aku bertemu dan memberanikan diri mengenalmu lebih dulu. Mungkin kau akan menjadi milikku seutuhnya saat ini. 

Minggu, 08 Agustus 2021

melepas

Bagaimana jika aku tidak bisa melepas?
Bagaimana jika semua tidak seperti yang diharapkan?
Bagaimana jika satu persatu bukan seperti yang diimpikan?
Bagaimana jika ternyata melepas tidak semudah seperti sebelumnya? 

Selasa, 03 Agustus 2021

Selesai

Duniaku berhenti. Berputar lebih cepat sedangkan jiwaku tetap di sana. Memandangi senagian asa yang tetap membuatku bernafas. Mati rasa.

Kau memang tak berjanji untuk tidak membuatku menangis. Kau juga tak berjanji untuk tetap tinggal. Kau juga tak pernah berjanji selalu ada. Kau hanya mengatakan, kau sayang dan cukup untuk hanya melihatku saja. Entah kau lihat darimana.

Secercah keindahan. Kurasakan lagi bungah. Memelukmu manja. Dan segala angan menikmati dirimu. Kau luluh lantakkan berhenti menjadi kepingan yang hanya bisa kudapati di kenangan.

Kau tak ada.
Kau pergi.
Kau jatuhkanku.

Kamis, 29 Juli 2021

dingin

Kenapa semuanya jadi dingin?
Apa aku terlalu memberi ruang?
Ketika aku ingin hanya memelukmu sejenak saja.

Semuanya terasa dingin. Bahkan kebiasaan burukku ini membuatku tak nyaman. Aku sudah tak mampu lagi membedakan mana yang bisa kumaklumi dan tidak.

Jika setitik besar saja mampu goyahkan hati ini. Namun aku memilih untuk bertahan. Apakah label aku manusia bodoh menjadi setitik kejelasan aku di matamu?

Sering...
Terulang. Dan aku hanya ingin mengerti. Aku harus bagaimana. Tanpa embel-embel, bukannya kau seorang yang terpelajar?

Ingin kugaungkan rasionalku. Intelektualku. Tapi beku. Aku bukan lagi manusia, ah bukan wanita mandiri yang bisa melangkah sendiri. Padahal sejatinya, semua bisa memilih bagian mana kehidupannya yang bisa dijalani. 

mimpi

Pagi ini ku diliputi perasaan asing. Mimpi yang membuatku enggan terbangun. Mimpi yang membuatku memilih menikmati dingin dan membeku.
Pertama kalinya ku memimpikanmu. Dari segala penatku. Dalam mimpi, orang tuaku menerimamu dengan tangan terbuka. Memelukmu seperti kaupun anaknya.
Apakah bisa ini menjadi nyata?

Senin, 26 Juli 2021

tahun depan. bulan kelima. tanggal dua puluh lima.

Jika sampai saat itu semua yang diharapkan tidak terjadi. Aku akan peegi dari rumah. Kusiapkan bekal. Yang entah mudah atau tidak nanti kudapatkan. Aku harus tau bahwa aku sanggup.
Kebebasan.
Mungkin kesalahan kalian melahirkanku menjadi sagittarius. Aku benar-benar menginginkan kebebasan sebebas-bebasnya.
Tinggal sendiri.
Hidup sendiri.
Dengan caraku.
Gayaku.
Pergi dari semuanya.

Janjiku saat ini. 

bengkel

Mungkin ini sepele buatmu.
Dan karena mungkin aku bukanlah wanita terakhir dalam hidupmu.
Atau mungkin aku hanya singgahan, dan memang ini hanya hubungan yang entah kapan akan berakhir.
Entah aku yang terlalu berharap.
Entah aku yang harusnya tak berharap.
Atau harapan yang sebenarnya cukup simple.

Tapi sejenak pikirku. Kau berhak marah atas nasib yang terjadi. Yang entah salah ini memang kau sadari atau tidak. Dosaku yang bahkan tak pernah kuungkap. Dan membuat seakan semua hanya sia-sia.

Peebedaan sikapmu. Semua hanya sejenak saja katamu selesai. Kepalaku rasanya mau pecah. Benar. Entah aku yang memang terlalu memaksa. Dan begitu mudah rasanya kau membalikkan semua asaku. 

Minggu, 25 Juli 2021

masih belum

Hari ini rasanya cepet banget capek.
Ketika berdamai dengan diri. Mana yang menjadi penting dan tidak semua hanya tentang penilaian.
Tapi juga tidak menutup kemungkinan akan menjadikan yang sebelumnya tidak penting menjadi penting yang seharusnya.

Kita tidak bisa memilih memang akan dilahirkan di keluarga yang seperti apa. Menjadi anak pada orang tua yang bagaimana. Dan akhirnya menjalani hidup yang, yah kita nggak tahu.

Istilah-istilah pembenaran yang berkedok moral mulai berseliweran. Seharusnya bisa berhenti untuk mulai menghidupi sendiri. Seharusnya sudah mulai belajar untuk berjalan sendiri. Tetapi ketika ternyata bertemu pada kebenaran menurut mata kita sendiri. Akan ada banyak pemberontakan. Yang kebanyakan, dinilai dengan konotasi negatif. Padahal juga tidak begitu.

Hingga hari kesekian, masih belum istiqomah untuk menulis. Bahkan, aku mengutuk diriku yang pelupa ini. Menyumpahi kenapa sifat licik manusia ini ada. Ah, sudahlah. Nanti saja. Sifat prokrastinasi, dan pembelaan diri yang seyogyanya tidak perlu kulakukan.

Aku masih ingin berdamai dengan diriku. Menerima segala tamparan yang perlahan datangnya dari orang-orang sedarahku. Yang harusnya bisa kudekatkan dengan diri. Tapi mereka seakan memberi ruang dengan dalih. Dan tak sedikit pun berkenalan denganku. Aku yang seperti apa. Apa memang benar yang kutampilkan adalah diriku? Mereka tidak peduli. Jika kutunjukkan siapa aku, pertanyaan terbesarku, sanggupkah mereka menerima? Bukan, aku bukan tak mau berkompromi. Tapi mencoba menghormati yang jadi pilihanku, bukan dalam kamus mereka. Itu sudah tertulis jelas. 

Kamis, 22 Juli 2021

merindu

Aku mulai belajar untuk memberikan dirimu ruang seperti sebelumnya. Tapi tak melepas rasaku. Aku lelah menjadi egois. 

Minggu, 18 Juli 2021

kehilangan

Berturut-turut. Kehilangan satu persatu. Dan aku masih belum siap. Menyiapkan diri untuk kehilangan tidak pernah menjadi bagian dari daftar keinginanku. Aku tau kematian pasti ada. Akan ada. Tapi tidak dengan begini.
Semua, keinginan terbesarku denganmu. Menjadi bagian dalam hidupmu. Selalu menjadi keinginan yang telah kepatrikan. Aku ingin ada di sana. Bagian hidupmu.
Namun, kehilangan ini buatku kelelahan. Rasa sakitnya. Seakan menyatu menjadi diammu untukku. Dan diriku ada cerminan dirimu yang kau sembunyikan. 

Rabu, 14 Juli 2021

Berdamai dengan diri sendiri Part 1

Sepertinya akan banyak sekali part di sini. Meskipun sebelum-sebelumnya juga termasuk diriku yang bergumul dengan pikiranku. Bagaimana caranya berdamai dengan sekitarku.

Membayangkan suasana cafe yang tenang, tanpa hingar bingar. Kubuka laptop, dan mengetikkan ini. Tapi nyatanya sekarang aku terpapar virus, dan merasakan bagaimana rasanya tidak bisa menghidup aroma. Sepertinya membaca aroma karsa akan menjadi obat tersendiri.

Senin, 12 Juli 2021

egois

Aku menyadari betapa egois orang tuaku. Jika dibilang ini bentuk ikhtiar, dan saling mengorbankan satu sama lain. Sungguh, aku tidak ingin keluargaku hidup dalam pandangan yang begini.
Anakku. Jika memang kelak kupunya anak.
Melegalkan cara agar tidak menjadi buruk di depan orang. Sungguh ini penyakit.

Dan aku sungguh muak dalam diamku.

Minggu, 11 Juli 2021

pandemi ini

Sudah 3 hari ternyata.
Kerjaanku setiap hari hanya berbaring, main scroll twitter, dan melawan virus yang bisa jadi sedang menggerogotiku saat ini.
Pusing, gejala anosmia, yang syukurnya aku masih bisa merasakan semuanya, menikmati rasa dengan lidah. Tapi ada 1 hal. Hal yang kusadari makin menguatkanku untuk segera pergi dari rumah yang kutahan sejak puluhan tahun lalu.
Sikap egois yang kudapat bisa jadi adalah gen. Dan selama ini kumenolerir dengan segala empati dan kasih terhadap ibuku.
Yang meskipun berkali-kali menyakitiku, dan aku menyakitinya. Membuatku bertahan.
Dan memikirkan lagi aku tak butuh materi dengan segala yang ada. Gelar, ini bukan apa-apa. Semua bisa saja kutanggungkan sendiri.
Dari awal harusnya aku paham, pikiran yang tak pernah sejalan ini tak perlu untuk terus menerus ditoleransi.

Aku ingin menunggu waktu yang tepat, tapi kapan?
Ketika aku merasa sudah bertemu orang yang tepat, kau hancur leburkan dg kata-kata dia bukan yang terbaik untukku. Tau apa tentang terbaik?
Keluarga yang terlihat bahagia, senyum, tapi tak memberi ketenangan, tapi tak pernah ada rasa aman, bahkan keraguan tentang apa itu kehidupan menjadi titik balik kehidupanku yang hampir 28 tahun. Aku tak memiliki itu.

Beberapa tahun lalu aku memutuskan atheis, dan membohongi semuanya, hanya agar untuk diterima. Apa gunanya? Je, jika dalam kuburmu kau melihatku merana. Sesalkan dirimu meninggalkanku yang kau tinggalkan karena barang terkutuk itu. Je, jika aku sudah tak pernah ke kuburmu lagi, artinya aku sedang bahagia? Tidak, kuingin segera selesaikan dan bertemu denganmu. Jujur.
Je, apa kau sudah merasa ketenangan? Kau beruntung memiliki papa yang memang bisa menerimamu apa adanya.
Je, aku rindu.
Ki, aku rindu.

Jika sejak lama aku memilih pergi, apakah semua menjadi lebih baik? 

Kamis, 08 Juli 2021

bagaimana jika aku masih menjadi PENGECUT?

Mas, bagaimana jika sampai waktu yang aku tentukan, diriku masih pengecut?
Mas, bagaimana jika sampai wwktu kau lelah, aku masih belum selesai dengan diriku seperti dirimu?
Mas, bagaimana jika kita kawin lari saja?
Hidup berdua saja. Cukup aku dan kamu.
Mas, bagaimana jika yang kupikirkan begitu picik ini, kau tak merasakan hal yang sama?
Mas, bagaimana jika meskipun aku pergi bahagiaku adalah kamu?
Mas, bagaimana jika kau dengan yang lain, dan malah membuatku cemburu?
Mas, bagaimana jika kepengecutanku ini malah membuatmu lari?
Mas, bagaimana jika aku tak sebaik yang kau pikirkan?
Mas, bagaimana jika aku tak seperti yang kau harapkan?
Mas, bagaimana setelah kau tau semua tentangku, dan masa kelamku kau pergi menjauh?
Mas, bagaimana jika semua ini menjadikanku semakin tak tahu malu dan malah menyakitimu?
Mas, bagaimana aku mengungkapkan begitu sayangnya aku?
Mas, bagaimana jika sebenarnya sabarku ini adalah egoisku untuk perlahan melepasmu?
Mas, bagaimana jika mas tahu semua ini dan malah menjauhiku?
Mas, sejak awal bertemu, mengenal mas. Ada di kelas smaping mas. Menyapa mas, hingga akhirnya aku tahu mas sudah tak bersekolah di tempat yang sama. Mas memutuskan untuk menato dan semua yang lainnya, aku sangat terima. Aku putuskan mas sebagai yang terakhir. Yang pernah kukhianati, dan dengan bangsatnya aku pergi dengan lelaki lain disaat kau entah di mana meninggalkanku. Kita selesaikan urusan sendiri-sendiri. Kubodohkan diriku. Kubohongi karena haus sayangmu. Aku bukan wanita baik-baik.
Mas, jika ada yang menangisimu. Mungkin bagiku saat itu mas hanya kakak kelas yang kusuka dan tak sempat untuk bertukar nomor.
Mas, jika suatu saat blog ini sempat kaubaca. Aku rela meninggalkan semua.
Tapi apakah mas juga bisa menerimaku dengan segala resikonya?
Ayo, kita pergi... Menghilang. Menjalani hidup sendiri.
Tapi aku tau, pendapat mas akan sangat bilang aku bodoh. Sayangnya mas bahkan rela melepasku. Bukan untuk dimiliki. Dan sayangku, masih pada taraf.....aku ingin mas selalu ada. Aku ingin mas dengan senyum, peluk, di sampingku menenangkanku. Dannmas yang selalu sesukanya datang dan pergi. Dan di sana. Aku selalu ada.

Mas, bagaimana jika apa yang tertulis ini malah membuat mas paham bahwa aku tak sebaik yang mas pikirkan.
Aku hanya pengecut yang rela hidupnya diatur. Hanya dapat menjadi pengecut dengan segala mimpi kebebasan denganmu. Dan mas, yang menjadi alarm untuk menyadarkanku. Dan mas, yang kembali mengingatkanku. Ada banyak orang yang bisa terluka. Dan mas tak ingin aku melukai orang. Tapi, mas.....
Aku sudah sangat melukai diriku dengan caraku, dengan menyalahkan orang lain. Aku sangat vuruk sebagai anak, manusia, bahkan hanya untuk tahu bagaimana cara membalas budi pada orang yang melahirkan kita.
Aku snagat egois, dan siap membuat rencana untuk hidup denganmu.
Mas, pengecutku sudah di ubun. Bagaimana jika aku nanti meninggalkanmu? Mungkin mas bisa baik-baik saja. Atau sebaliknya. Dan aku? Aku menggali kuburanku sendiri dengan berjalan ke arah jalan yang entah kapan siap kehilanganmu. Dan aku tak akan pernah siap.
Mas, mas adalah mimpi yang aku percaya dulu bermimpi menjadi nyata. Dengan segala banyak pemgkhianatan yang pernah adek rasakan.
Mas, bagaimana jika rasa pengecutku ini menjadi boomerang di masa nanti ketika bertemu dengamu?
Mas, bagaimana caranya untuk membuat kuikhlas jika kehilanganmu?
Mas, apa adek yang pergi dulu. Bukan pergi dengan masih bernafas.
Tapi pergi.... Dan membuat semuanya menyesal mengapa tak membiarkan saja aku denganmu.
Mas, adek terlalu mencintaimu benar?
Terlalu sayang? Tidak. Adek merasa mas adalah segala kebebasan. Dan adek, terjeruju untuk mencapainya. 

Senin, 05 Juli 2021

idk

Aku kudu gimana?
Rasanya sejak sore ini begitu sesak.
Aku harus menyesuaikan?
Begitukah? Lagi?
Kenapa tangisanku g bisa berhenti?
Sesaknya juga. Apa yang harus aku lakukan?
Rasanya seperti orang gila yang sadar.
Tanpa bisa tidur. Kelelahan. Namun sulit beristirahat.

Gemericik semu.
Syahdu angin sepoi bahkan bisa melukai.
Kesakitan lagi.
Apa yang harus kulakukan?
Bagaimana menghentikan ini?
Merindukah? Atau apa? 

Minggu, 04 Juli 2021

sepertinya memilikimu, aku takut akhirnya menjadi rumah

Perasaan cemburu.
Aku takut mengungkapkan dan akhirnya kita menjadi hanya saling mengalah.
Bukan untuk saling mengasihi.
Rasanya seperti tempat singgahku untuk pulang ditempati orang lain.
Yang secara harfiah, aku memang hanya menumpang dan diletakkan di hatimu itu saja.

Aku punya memori yang cukup buruk akhir akhir ini.
Dan menghabiskan waktu denganmu benar-benar tak cukup hanya sekejap.
Rasaku semakin tumbuh, dan tumbuh.
Kau mungkin ada di titik bahwa sewajarnya denganku sudah cukup.
Tapi belum denganku.

Bisakah kau menuntunku melangkah bersamamu? 

Sabtu, 03 Juli 2021

ya aku hanya "i love him, not much"

Kita perjelas semua.
Kau kumpulkan keberanin setelah meluapkan segala hal yang sekiranya belum selesai. Dan mungkin kini giliranku yang ingin kau bantu.
Hidup denganmu mulai membuatku berpikir, bahwa kau memang pantas kuperjuangkan.
Tapi belum sepenuhnya yakin.
Kau ajarkan aku bagaimana menjadi cukup "sewajarnya".
Dan ku sadari dunia ini memang ada kau dan aku dalam kelap indah.
Genggaman tanganmu, jujur tak membuat berdetak seperti dulu.
Dingin. Biasa. Tidak hangat. Tapi nyaman.
Memelukmu. Merebahkan kepalaku yang penat di pelukmu.

Ku mulai nyamankan bagaimana cara bicaraku bisa sesabar itu padamu. Tapi memang begitu jika di hadapan orang yang kusuka. Tidak meninggi, meski kata-kataku kadang menjengkelkan.

Kamis, 01 Juli 2021

melupakan hari

Semakin sering, ingatan hari apa hari ini, tanggal berapa, tadi mau ngapain, gue ke sini ngapain, dan ketidakkonsistenan pilihan memilih mengerjakan satu hal yang sudah diniatkan sejak awal. Tiba-tiba membatalkan janji, dengan segala alasan yang tidak benar-benar terjadi. Keinginan untuk tidur terus menerus. Perasaan yang kadang mania. Yang masih bingung harus bersikap bagaimana di depan orang-orang; apakah sudah tepat atau belum, apakah tersinggung atau tidak, dan apakah sudah sesuai dengan orang-orang kebanyakan. Pertanyaan-pertanyaan yang kadang tak pernah usai untuk aku renungkan. Dan kemarin tenggatnya. Ku melupakan lagi hari, seperti ku pernah lupa angka 23, 33, dan namanya. 

Rabu, 30 Juni 2021

terulang lagi

Postingan yang begitu banyak sebelumnya adalah postingan yang sudah terpoating namun kudraft karena banyak kalimat erotis menurutku. Yang entah kenapa, menjadi suatu tanda tanya jika seseorang membacanya. Tetapi kuposting ulang. Karena, peduli apa dengan pendapat mereka tentang perasaanku.
Yah, aku begitu egois tentang perasaan. Dapat kutahan dan juga kulepas semaunya. Hingga lupa cara mengontrol yang semestinya.

Namun, saat ini. Aku mulai merasakan kelelahan lagi tentang rasa. Yang harusnya indah membiru. Berubah menjadi kelabu. Seharusnya memang tidak perlu kudramatisir begitu. Karena semua semu menjadi satu ketika diri ini memilih untuk denganmu.

Yang merasa pernah menjadi segala untuk seseorang, yang entah memang harusnya itulah yang perlu kita bicarakan tentang diri kita.

Selasa, 29 Juni 2021

Pernah

Aku pernah mencintaimu.
Menganggapmu rumah.
Menyerahkan segalanya.
Bahkan berani bermimpi setelah seputus asanya aku bermimpi.
Tetapi logika ini memilih pergi.
Dan kau dengan bajingannya pergi seolah aku yang bersalah.
Menghilang seakan kau memiliki segalanya.

Lupakan...
Itu sudah tidak penting.

Lelaki lainnya...
Aku bersamanya sewindu.
Berkali-kali dia mengkhianati pun tetap kubukakan pintu sembari menunggu ia memelukku sambil menangis.
Alih-alih ia menyesal karena mendua hingga memadu dengan yang lainnya.

Aku tau aku yang terlalu bodoh.

Hingga semua yang kutunggu hanya sekedar penantian.
Seperti menunggu kematian.

Aku hanya ingin sejenak berdua

Bertemu denganmu pernah sejenak terlintas di pikiranku. 
Namun tak pernah secanggung itu. 
Ingin memelukmu tapi tak bisa.
Mendekap hangat tubuhmu rasanya kau menjauh. 
Apa karena kita tak mengakhiri dengan benar?
Perasaanku menjadi secarik kertas yang teremas.
Diam. Rindu. 
Rindu. 

notes

Sorry kalau tulisannya agak kacau.  Tiba-tiba ngerasa semua yang ada di hari ini g bener. Berkali-kali di kepala cuma ada peristiwa-peristiwa yang harusnya udah lama gue lupain. Harusnya semuanya g tiba-tiba hadir kaya gini. Harusnya semua g kaya gini. Dada rasanya nyeri. Pengen semuanya udah cukup. Gue pengen tidur. Tapi g bisa. Semuanya salah di mata gue. Kenapa lagi ini? Harusnya gue yang lebih tau penyebab diri gue kenapa. Harusnya.... Harusnya.... Harusnya.... Air mata ini g bisa berhenti. Ada apa? Kenapa tiba-tiba? Sekali lagi gue cancel semua yang udah direncanain. Gue kecewain lagi. Gue bener-bener ulung buat ngehindar. Gue bener-bener sakti buat alasan. Gue pinter banget buat sembunyi. Dasar pengecut! Gue pengen sudahi. Sungguh.... Tanpa ngerasa gini lagi. Sungguh.

terlewat

Seharian kemarin ternyata nggak sempet nulis sama sekali.
Tidur lebih awal. Dan yah, tidur terus dari kemarin. Sakit kepala yang sangat nggak nahan sebenernya. Tapi gue males minum obat.

Minggu, 27 Juni 2021

Novemberku

Sepertinya melodi suaramu terukir jelas di otakku.
Menjadi lullaby dalam lelapku.
Memelukkan senja pada untaian hangatku.
Dan sejukku yang menjadi lembutmu.

Menetes setitik demi setitik.
Bahkan seperti bahagia yang melebur.
Menatap segala rasa.
Aku tau engkau akan menjadi bahagia dan sedihku.

Tak ingin naif jika bersamamu tidak akan terus tersenyum.
Mili masa akan terus memaksa kita dengan kisah terburuknya.
Seperti maut yang siap di depan untuk selalu menunggu.

Aku mencintaimu dengan caraku.
Kau mencintaiku dengan caramu.
Namun memilihmu untuk menjadi tidurku....
Rasanya selalu menjadi bagian paling menyenangkan dalam keseharianku.
Mengukir namamu.
Menjemput cintamu.
Bermanja denganmu.
Menciumi bibirmu.
Memeluk erat pinggulmu.
Bermesraan dengan deru nafasmu.
Menatap lekat wajahmu.
Menggenggam jemari-jemarimu.
Bergandengan tangan dengan banggaku.
Mencium aroma tubuhmu.
Mendengar detak jantungmu.
Merasakan segala rasa dalam emosimu.

Aku tak pandai membacamu.
Bahkan ketika aku menangis ingin rasanya kau menjadi persinggahan sebelum lelapku.
Aku tak pandai melipur laramu.
Bahkan ketika sendu itu datang, aku hanya mampu menahan isak dan tangis agar kau tak tahu aku menangis untukmu.

Merindumu merajamku.
Ingin rasanya segera esok hari dan berlari ke arahmu.
Ingin rasanya dalam dunia hanya ada kita berdua.
Dalam lamunan kisahnya.
Dalam balutan kemesraannya.

Agar yang kau lihat hanya aku.
Memeluk senja.
Merindunya.
Biar aku saja yang terluka.
Bukan kamu.

Peluk

Aku tak pernah mampu melepaskan... 
Apalagi bertemu denganmu meski tak setiap hari seperti dulu. 
Lagu-lagu yang belum pernah kudengar saja bisa membuatku memikirkanmu lagi. 
Berangan memeluk lagi dirimu.
Yang saat itu memilih sibuk dengan gadgetmu. 
Aku menangis sesenggukan. 
Kujawab dengan suara yang kukuatkan.
Agar tak pecah, biar air mataku jatuh dalam baju yang kau pakai. 
Kita berpelukan.
Ah, bukan.....
Aku yang memelukmu terlalu erat.
Dan kau hanya mengelus manja rambutku yang kau suka harumnya.
Tak ingin lepaskan. 
Seperti esok tak ada waktu lagi untuk kita. 

Kadang aku membenci diriku yang begitu mengedepankan realita. 
Harus menjalankan logika sebagaimana mestinya. 
Aku merindukan diriku yang tak peduli.
Dikatakan bodoh karena benar-benar jatuh dan mencinta. 
Meluapkan segala asa dengan bertahan sekuatnya. 

Peluk ini....

Aku akan banyak bertanya tentangku

Denganmu.
Apa saja bisa menjadi indah.
Denganmu.
Akan aku tanyakan segala tentangku di matamu.
Agar aku tetap bisa mendampingimu.
Atau mungkin kau akan menegurku dengan cara memeluk dan menciumku.
Aku suka segala caramu memperlakukanku.
Semua yang kau hadirkan dalam hidupku.

Aku sempat bertanya dalam hati.
Kutatap lekat wajahmu.
Dari dahimu...
Alismu...
Kelopak matamu...
Lentiknya bulu matamu...
Hidungmu...
Bibirmu...
Semua tentangmu....
Apa memang aku mencintainya?
Apa memang aku sudah menggilainya?

Dapatkah ia menerima segala cintaku?
Apakah ia akan bosan?
Apakah ia akan menerima segala kekuranganku?
Dan bahkan bisa menerima segala kelebihanku?
Aku sendiri terlalu takut untuk memilikinya...
Takut rasaku semakin besar dan takut untuk berpisah dengannya.

Jika ini disebut ku menuhankannya...
Maut rasanya ingin kubuntu agar tak bertemu dengannya.
Sampai nafasku terhenti.
Bisakah ku selalu di sampingmu?

ada ada saja cowok jaman sekarang

kali ini postingan tentang yang benar-benar ada-ada saja.
ingin rasanya gue berkata kotor dan kasar untuk para lelaki yang sejatinya tidak bisa membedakan mana cinta dan pengungkapan sayang serta kekhilafan yang membuat para lelaki sungguh tak termaafkan.

semuanya memang tidak dalam satu waktu terjadi, tetapi cukup membuat sakit kepala ketika ada di depan mata. ini cuma sebagian kecil yang gue alami.

pertama, gue janjian sama temen gue. iya cuma temen, kita janjian nongkrong sama nonton. gue emang orangnya karet, tapi selalu dateng pas banget, jadi bukan tipe orang yang nunggu dari jauh-jauh waktu yang dijanjiin, beda hal lagi kalo gue udah urusan sama kerjaan dan juga mungkin buat orang yang spesial. karena gue cukup ogah-ogahan orangnya, kalau g sesuai sama keadaan gue saat itu. atau bisa dibilang g menarik menurut gue. tapi ini temen gue, ampun.... dia yang janjian, dia yang telat, dia yang g bawa kendaraan, dia yang cuma bayarin makan, gue bukannya g berterima kasih karena udah dibayarin makan dan nonton, toh duitnya g seberapa, ceban doang. terus penampilan, wah, gue tipe yang minimal sebelelnya gue pake baju, kaos oblong sama celana trainin, ya seenggaknya yang sopan. kaya menghargai diri kita sendiri gitu lho. loe ogah-ogahan mandi, dandan, mau pake daster keluar juga gak papa. asal sopan, dan nunjukin diri loe bukan orang yang patut dicibir. apalagi gue abis ngajar, yang pasti pake kemeja, yah emang gak rapih-rapih banget. tapi seenggaknya kalau loe tau gue baru pulang kerja buat nyempetin nongki sama lu, yah.... agak jadi risih aja gue sendiri. gue sih gamau ngelukain harga diri lelaki yah, mau loe keluar sama cewe cuma pake kolor, gpp. tapi minimal loe tau sikon. bukan buat nonton lu pake baju yang cocoknya buat tidur, malah lebih sopan lu pake piyama. gue g ngejauhin temen gue juga, tapi cukup ngebuat mood gue agak down. buat lu cowo-cowo, minimal penampilan rapih dan wangi kalau diri lu mau dihormati sama cewe. love your self. siapa lagi kalau bukan diri lu sendiri.

terus ini ada lagi, yah, lu kalau punya cewek, minimal kalau emang lu juga deket sama cewek lain, itu yah mbok ojo ketoro nemen-nemen. aku seng koncomu isin. eh, eh, jadi basa jawa gue. jadi gini, ada satu temen gue, yang lumayan deket lah, mulai dari kesukaan kita lumayan ada beberapa yang sama, makannya gue betah temenan sama dia. cuma pas dia ngejamu cewek nih, ya ampun, ternyata cukup playboy. gue nanya, kok lu dulu bisa jadian sama cewe lu? karena dia penurut. jadi gue bisa kemana-mana dan g terlalu ngurusin urusan gue. hah? gue jadi bertanya-tanya. apalagi ini cewenya mau dijadiin istri. lu g butuh temen buat berbagi apa? secara kan mau lu jadiin istri. kan ada lu, sharing-sharing sama lu. hahahaha. gue cuma bisa ketawa, iya kalau ntar gue dapet suami yang ngebolehin lu bisa ngonrol sesuka gue kaya sekarang. jadi sebenernya temn-teman lelaki ini maunya begimana? apa menikah haya sekedar mencari wanita penurut, tanpa aling-aling berkomunikasi yang berkualitas?

terus cerita baru, dan yang ngalamin udah buanyak banget. mereka memilih jalan yg bukan saling menjalin rasa, namun imaji semu manipulatif dengan hal yang gue g paham apa yang mereka lakukan. dan saat ini 27 Juni 2021, dan gue pertama kali menuliskan catatan ini tahun 2017/2018, pengubahan kalimat untuk lebih metafora ingin kumunculkan lagi pada diriku yang kelelahan.

aku merindukan diriku yang dulu. pertanyaannya? diriku yang dulu yang bagaimana?

Ini...... Rindukah?

Tahukah kau waktu kuta tidak sebentar?
Kau memelukku dengan caramu.
Dan hanya kau yang mampu buatku terus terngiang.

Aku bukan pencinta yang punya banyak ambisi untuk memilikimu.
Memandangmu yang begitu kelelahan buatku cukup lelah.
Inginku mengusap kepalamu dan menyandarkan di pundakku.
Inginku menghapus keringatmu dan membuatkan teh hangat untuk mengurangi stresmu.

Bisakah kau menyadari sewindu ini telah mengukir namamu dan tak ada yang bisa mengganti?
Benar, kuhapus nomormu.
Benar, kuhapus semua foto kita.
Benar, kurobek dan buang segala kenangan saat kita bersama.

Tapi nyatanya aku tetap berharap.
Berharap tak bertemu lagi.
Biarlah jadi angan-angan rindu yang selingkuh.
Jika kita bertemu....
Entah akan berapa lama aku akan memelukmu.
Melumat bibirmu.
Mengecek keningmu.
Dan menggenggam erat jemarimu agar tidak pergi.

Aku tak peduli dengan segala urusanmu.
Biarlah aku jadi pelepas lelahmu.
Tapi ini hanya anganku.
Kau tak lagi di dekatku.
Hanya ada dalam khayalku.

Bualan hina ini tak pernah kutunjukkan untuk yang lain.
Tetap sama yang menggemgamku erat hanya engkau.
Dan aku juga yang melepasmu trga tak menoleh untuk pergi.
Kita tak bisa bersama.

Malaikat itu membutuhkanmu.
Malaikat itu mencintaimu.
Malaikat itu seutuhnya bagian hidupmu.
Kupilih untuk pergi.
Aku tak akan menelan lagi ludah yang kubuang.
Bahagialah dengan pilihanmu.
Aku akan turut bahagia dalam lantunan rinduku.

Menulis lagi...

Setelah sekian lama,akhirnya aku bisa menata kembali rasa. Memutuskan untuk menulis lagi. Dengan harapan apa yang kutulis bisa mengingatkan lagi dan mengurangi rasa yang tak perlu kudramatisi. Badan cukup sakit semua. Mungkin efek vaksin masih terasa. 

mulai sekarang kutulis semuanya

Ingin rasanya memelukmu untuk yang terakhir. Mungkin dengan itu, obsesiku padamu berakhir. Ingin rasanya aku menggenggam erat jemarinu yang lentik. Mungkin dengan itu, anganku dulu bergandengan tangan denganmu sudah menjadi nyata tanpa perlu kuterluka.

Aku merasa jantungku berdegup terlalu kencang, hingga cukup menyesakkan.
Membuat banyangan dan angan gila.
Bukan....
Menciummu hanya akan membuat candu. Dan aku hanya ingin. Entah bagaimana aku meminta tolong padamu. Mimpiku mengalahkan alam bawah sadarku, bahwa aku tak perlu membutuhkanmu agar bisa hidup.

Dan aku tak perlu merasa kau berharga agar rasa yang muncul tak perlu bergejolak dan membuatku terluka.
Alismu yang tegas. Matamu yang tajam. Bulu matamu yang melengkung. Bibirmu yang tak merah. Aku mengganbarkan diriku seakan melihat tangkapan segar akan imaji liarku.

Tak bisakah kita melakukannya sekali saja? Agar aku tau, apa memang perasaan ini nyata atau hanya buatanku saja? 

ternyata aku terlambat menulis hari ini 26 Juni yang telat 2 jam

Ku habiskan waktu untuk mulai terbiasa.
Tetapi semua kelelahan.
Harusnya kubisa lewati.
Entah apa yang sedang kuketikkan ini.
Kau mulai membalas pesanku yang kukirim setiap hari.
Awalnya ku tak ingin menuliskanmu seditik pun. Seperti yg lalu, kuhapus semua jejaknya.
Semua inigurasiku.
Semua kenanganku.
Namun terpatri beku.

Sakit kepala yang kurasakan harusnya tidak ada, kan?
Aku ingin mencintaimu apa adanya.
Tak peduli dengan sekitar dan moral.
Tapi semua malah hanya menjadi buntuku.
Ku golakkan gejolakku sendiri.
Hingga kelelahan. 

Jumat, 25 Juni 2021

awal - do'aku agar aku rutin menuliskan dan kubuat terapiku sendiri. perjalanan awalku dimulai hari ini.

Episode ini datang lagi, hingga membuat semua yang sudah kurencanakan, buyar.
Aku menangis sesenggukan sendirian, dan tak bisa berhenti. Tidak lama. Tapi aku tidak bisa menghentikan tangisanku yang seperti kehilangan orang tersayang. Yang mungkin kali ini adalah diriku.

Aku seperti sudah tau jawabannya. Hanya aku tak bisa melangkah semakin jauh. Aku terperangkap. Sesak sendirian.

Jika bersamanya salah satu pencetus episode ini muncul. Apakah artinya aku harus pergi meninggalkannya? Ketika bersamanya aku kembali merasa seperti manusia. 

Senin, 05 April 2021

melukis

Menggoreskan tinta dengan keindahan bersama alunan gemulai jemari.
Ingin segera menjadikan makna dalam kehidupan yang sempat terasa tak terarah.
Apakah cukup seketika itu juga ku tak dapat menerima keadaan?
Dengan segala rasa yang diharapkan.
Harusnya memang manusia bukanlah tempat untuk saling berharap.

Senin, 25 Januari 2021

find some notes

"ku dapati Venus sedikit redup pagi ini .
Mars pun tak tampak cerah temani Mentari .
kenapa ?
apa ada yang terjadi di negeri langit ?
semoga pagi dan hari ini selalu indah ."

kemana lagi ?
imaji ibu kehidupan yang biru hijau membentang hadir di mimpiku .
arungi biru ombak dengan bangau yang terbang .
ku susuri alam yang tersenyum padaku kemarin malam .
... dia datang lagi .
mewarnai , menemani , dan mungkin 'kan mencintai .
ah , tapi aku tak butuh itu .
bukan dia , kamu , atau siapapun di sampingku .

karena kesepian tlah buatku biasa dengan mentari yang terbenam .
karena kesepian lebih tenangkan jiwaku yang teruari waktu .
karena kesepian mengajarkanku pentingnya arti kebersamaan dalam asaku yang sakit .
dalam gelombang yang mengolengkan perahu rakit .
dalam jiwaku .
senduku .
yang ku tau menyakitimu .
membiarkanmu pergi .
dan maafkan aku .

Selasa, 19 Januari 2021

at the time

Hari yang melelahkan berlalu
Dua orang di bawah sinar rembulan
Satu bayangan
Ketika aku menutup mata, aku merasa seperti tertangkap
Masih di sana
Patah hati
Bahkan mimpimu
Bahkan di tempat teduh
Ingat, orang yang kamu cintai terluka
Di sekitarku
Terkadang meski jalan ini terlihat jauh
Bahkan jika air mata mengalir di hatiku yang sedih
Sampai semuanya menjadi kenangan
Kita berdua
Akan menjadi tempat istirahat satu sama lain
Saat aku berjalan denganmu
Ke mana harus pergi
Saat jalan tidak terlihat
Aku akan mengingatmu sendirian
Dunia pada hari yang mempesona itu
Masih canggung dan kurang
Aku akan selalu ada di sampingmu
Bahkan jika aku tersesat di malam yang gelap
Kita berdua
Akan menjadi cahaya satu sama lain
Di masa depan yang jauh, di luar pelangi
Bahkan jika mimpi yang kita cari tidak ada
Menghabiskan denganmu dan aku
Kali ini
Apa yang lebih berharga bagiku
Terkadang meski jalan ini terlihat jauh
Bahkan jika air mata mengalir di hatiku yang sedih
Sampai semuanya menjadi kenangan
Kita berdua
Menjadi tempat istirahat satu sama lain
Canggung dan kurang
Aku akan berada di sana selamanya
Bahkan jika angin kencang berhembus lagi
Diantara kita berdua
Aku akan melewati tahun-tahun yang sulit itu

Selasa, 12 Januari 2021

secercah sambutan

Tuhan... Izinkanku lebih banyak mengeluh hari ini. 
Kehidupan apa yang sebenarnya sedang Engkau ajarkan kepadaku?
Begitu banyak prinsipku yang Kau jebol dengan segala takdir-Mu. Ketidakmampuanku. 
Tuhan.... Aku memang pezinah. Kau kulupakan. Kutinggalkan. Dan begitu cinta dengan rasa dunia.
Tuhan.... Aku memang pendosa. Rasaku kau seluk belukkan mencariMu. Hingga ku mati rasa mengharap apa yang kucari dapat kutemukan. 
Tuhan.... Aku hanya manusia ciptaanMu. Kau ciptakan juga rasa. Dengan warna. Dan aku merasakannya. 

Jika cintaku yang pernah tumbuh, menyakitkan dan tak pantas. Padamkan rasa ini dan dekatkanku padanya yang Kau takdirkan.
Jika rasaku untuknya akhirnya hanya dapat buatku bertanya dan meragukanMu. Pendam dan kubur sedalam-dalamnya kesalahan dan aib yang pernah kubuat.

Tenangkan hatinya. Lapangkan pikirnya. Jika memang kebencian menyeruak dalam dadabya padaku. Sadarkan jika rasaku tulus dan sesalkan dia.

Tuhan.... 
Banyak sekali asaku ingin kucumbu.
Tunggulah aku.