Senin, 20 Desember 2021
Sabtu, 06 November 2021
Ternyata aku masih cemen
Senin, 01 November 2021
Tertata
Kamis, 28 Oktober 2021
Pecah
Minggu, 24 Oktober 2021
20211024
Jumat, 01 Oktober 2021
Sabtu, 04 September 2021
Trigger
Jumat, 20 Agustus 2021
Siklus
Rabu, 18 Agustus 2021
unhinged
Senin, 16 Agustus 2021
insomnia
Senin, 09 Agustus 2021
hujan oertama di bulan Agustus
Minggu, 08 Agustus 2021
melepas
Selasa, 03 Agustus 2021
Selesai
Kamis, 29 Juli 2021
dingin
mimpi
Senin, 26 Juli 2021
tahun depan. bulan kelima. tanggal dua puluh lima.
bengkel
Minggu, 25 Juli 2021
masih belum
Kamis, 22 Juli 2021
merindu
Minggu, 18 Juli 2021
kehilangan
Rabu, 14 Juli 2021
Berdamai dengan diri sendiri Part 1
Senin, 12 Juli 2021
egois
Minggu, 11 Juli 2021
pandemi ini
Kamis, 08 Juli 2021
bagaimana jika aku masih menjadi PENGECUT?
Senin, 05 Juli 2021
idk
Minggu, 04 Juli 2021
sepertinya memilikimu, aku takut akhirnya menjadi rumah
Sabtu, 03 Juli 2021
ya aku hanya "i love him, not much"
Kamis, 01 Juli 2021
melupakan hari
Rabu, 30 Juni 2021
terulang lagi
Selasa, 29 Juni 2021
Pernah
Aku pernah mencintaimu.
Menganggapmu rumah.
Menyerahkan segalanya.
Bahkan berani bermimpi setelah seputus asanya aku bermimpi.
Tetapi logika ini memilih pergi.
Dan kau dengan bajingannya pergi seolah aku yang bersalah.
Menghilang seakan kau memiliki segalanya.
Lupakan...
Itu sudah tidak penting.
Lelaki lainnya...
Aku bersamanya sewindu.
Berkali-kali dia mengkhianati pun tetap kubukakan pintu sembari menunggu ia memelukku sambil menangis.
Alih-alih ia menyesal karena mendua hingga memadu dengan yang lainnya.
Aku tau aku yang terlalu bodoh.
Hingga semua yang kutunggu hanya sekedar penantian.
Seperti menunggu kematian.
Aku hanya ingin sejenak berdua
notes
terlewat
Minggu, 27 Juni 2021
Novemberku
Sepertinya melodi suaramu terukir jelas di otakku.
Menjadi lullaby dalam lelapku.
Memelukkan senja pada untaian hangatku.
Dan sejukku yang menjadi lembutmu.
Menetes setitik demi setitik.
Bahkan seperti bahagia yang melebur.
Menatap segala rasa.
Aku tau engkau akan menjadi bahagia dan sedihku.
Tak ingin naif jika bersamamu tidak akan terus tersenyum.
Mili masa akan terus memaksa kita dengan kisah terburuknya.
Seperti maut yang siap di depan untuk selalu menunggu.
Aku mencintaimu dengan caraku.
Kau mencintaiku dengan caramu.
Namun memilihmu untuk menjadi tidurku....
Rasanya selalu menjadi bagian paling menyenangkan dalam keseharianku.
Mengukir namamu.
Menjemput cintamu.
Bermanja denganmu.
Menciumi bibirmu.
Memeluk erat pinggulmu.
Bermesraan dengan deru nafasmu.
Menatap lekat wajahmu.
Menggenggam jemari-jemarimu.
Bergandengan tangan dengan banggaku.
Mencium aroma tubuhmu.
Mendengar detak jantungmu.
Merasakan segala rasa dalam emosimu.
Aku tak pandai membacamu.
Bahkan ketika aku menangis ingin rasanya kau menjadi persinggahan sebelum lelapku.
Aku tak pandai melipur laramu.
Bahkan ketika sendu itu datang, aku hanya mampu menahan isak dan tangis agar kau tak tahu aku menangis untukmu.
Merindumu merajamku.
Ingin rasanya segera esok hari dan berlari ke arahmu.
Ingin rasanya dalam dunia hanya ada kita berdua.
Dalam lamunan kisahnya.
Dalam balutan kemesraannya.
Agar yang kau lihat hanya aku.
Memeluk senja.
Merindunya.
Biar aku saja yang terluka.
Bukan kamu.
Peluk
Aku akan banyak bertanya tentangku
Denganmu.
Apa saja bisa menjadi indah.
Denganmu.
Akan aku tanyakan segala tentangku di matamu.
Agar aku tetap bisa mendampingimu.
Atau mungkin kau akan menegurku dengan cara memeluk dan menciumku.
Aku suka segala caramu memperlakukanku.
Semua yang kau hadirkan dalam hidupku.
Aku sempat bertanya dalam hati.
Kutatap lekat wajahmu.
Dari dahimu...
Alismu...
Kelopak matamu...
Lentiknya bulu matamu...
Hidungmu...
Bibirmu...
Semua tentangmu....
Apa memang aku mencintainya?
Apa memang aku sudah menggilainya?
Dapatkah ia menerima segala cintaku?
Apakah ia akan bosan?
Apakah ia akan menerima segala kekuranganku?
Dan bahkan bisa menerima segala kelebihanku?
Aku sendiri terlalu takut untuk memilikinya...
Takut rasaku semakin besar dan takut untuk berpisah dengannya.
Jika ini disebut ku menuhankannya...
Maut rasanya ingin kubuntu agar tak bertemu dengannya.
Sampai nafasku terhenti.
Bisakah ku selalu di sampingmu?
ada ada saja cowok jaman sekarang
ingin rasanya gue berkata kotor dan kasar untuk para lelaki yang sejatinya tidak bisa membedakan mana cinta dan pengungkapan sayang serta kekhilafan yang membuat para lelaki sungguh tak termaafkan.
semuanya memang tidak dalam satu waktu terjadi, tetapi cukup membuat sakit kepala ketika ada di depan mata. ini cuma sebagian kecil yang gue alami.
Ini...... Rindukah?
Tahukah kau waktu kuta tidak sebentar?
Kau memelukku dengan caramu.
Dan hanya kau yang mampu buatku terus terngiang.
Aku bukan pencinta yang punya banyak ambisi untuk memilikimu.
Memandangmu yang begitu kelelahan buatku cukup lelah.
Inginku mengusap kepalamu dan menyandarkan di pundakku.
Inginku menghapus keringatmu dan membuatkan teh hangat untuk mengurangi stresmu.
Bisakah kau menyadari sewindu ini telah mengukir namamu dan tak ada yang bisa mengganti?
Benar, kuhapus nomormu.
Benar, kuhapus semua foto kita.
Benar, kurobek dan buang segala kenangan saat kita bersama.
Tapi nyatanya aku tetap berharap.
Berharap tak bertemu lagi.
Biarlah jadi angan-angan rindu yang selingkuh.
Jika kita bertemu....
Entah akan berapa lama aku akan memelukmu.
Melumat bibirmu.
Mengecek keningmu.
Dan menggenggam erat jemarimu agar tidak pergi.
Aku tak peduli dengan segala urusanmu.
Biarlah aku jadi pelepas lelahmu.
Tapi ini hanya anganku.
Kau tak lagi di dekatku.
Hanya ada dalam khayalku.
Bualan hina ini tak pernah kutunjukkan untuk yang lain.
Tetap sama yang menggemgamku erat hanya engkau.
Dan aku juga yang melepasmu trga tak menoleh untuk pergi.
Kita tak bisa bersama.
Malaikat itu membutuhkanmu.
Malaikat itu mencintaimu.
Malaikat itu seutuhnya bagian hidupmu.
Kupilih untuk pergi.
Aku tak akan menelan lagi ludah yang kubuang.
Bahagialah dengan pilihanmu.
Aku akan turut bahagia dalam lantunan rinduku.