Rabu, 24 Januari 2018

Yah... Hanya segumpal letih

Orang-orang begitu hebat membuat segala rasa dari A menjadi E.
Kupikir lagi...
Jika memang kata-kata harus jadi pembelaan yang benar.
Kadang aku benar-benar membenci pikiran "I'm Mr./Ms. Right" - not always - but... Di pikiran itu selalu ada.
Orang-orang itu salah.
Mereka hanya mengguruiku.
Mereka tak mengerti aku.
Dikira nyari duit seenak itu apa.
Hah...?
Duit lagi yang keluar.

Entahlah.
Rasanya cukup kumakan sampah serapah (bukan sumpah - karena tak mengucap janji apapun).
Yah, andai ku tak butuh.
Mungkin sudah kutegak habis untuk tidak menatap wajah mereka.
Sungguh.
Tapi teringat lagi...
Bahwa mengeluhkan mereka adalah hal terburuk lagi.
Mau diapakan?
Mereka memiliki permasalahan juga.
Dengan anak-anak yang spesial.

Dan aku bukan mereka.

Kamis, 11 Januari 2018

Aku (lagi)

Ada banyak hal yang sebenarnya patut untukku merasa aku sedang berjuang.
Bukan hanya untuk diriku.
Bukan hanya untuk inginku.
Bukan hanya untuk mauku.

Setiap hari...
Rasanya seperti berjuang penuh bagaimana harus menjalani hari.
Hari ini.....
Inginku merasa semua akan baik-baik saja.
Tidak apa-apa semua akan berlalu dengan segenap rasa syukurku padaNya.

Dan ternyata memang setiap hari begitulah adanya.
Aku berjuang.
Untuk diriku nyaman.
Agar semua orang di sekitarku setidaknya merasa baik-baik saja di dekatku.

Dan dalam hati kecil ini selalu berucap...
Semua yang Tuhan berikan selalu cukup untukku.
Kadang jika memang kurang bagi mereka dan nafsuku, cukup kuberikan segenggam nafasku untuk hidupku.
Setiap harinya kau selalu berusaha untuk menghargai setiap hembus nafasmu.
Dan untukku, ku selalu menghargai walau kadang terasa sesak ketika dada ini tau diriku kelelahan.

Cukup bagiku ASMAMU.
Cukup bagiku SELALU MENGINGATMU.
Tak perlu kuungkap dengan segala kata dan jemariku.
Cukup bagiku baik untuk laku dan lisan yang kujaga sekuatnya agar tak terucap kata kesal.
Biar semua kusimpan hanya untuk aku dan kau yang membaca ini.

Sejak detik sepermpat abadku.
Kusangsikan.... Kuucapkan.... Kujanjikan...
Diriku untuk selalu berjuang.
Dan diriku untuk selalu bersyukur.
Dan diriku hanya cukup untukku, dan selalu tak cukup jika kuikuti kata mereka.

Dan semuku....
Kukunci dalam peluhku.
Agar kuingat bahwa kubutuh semu untuk menjadi diriku yang berharap semua akan baik-baik saja.