Kamis, 29 Juli 2021

dingin

Kenapa semuanya jadi dingin?
Apa aku terlalu memberi ruang?
Ketika aku ingin hanya memelukmu sejenak saja.

Semuanya terasa dingin. Bahkan kebiasaan burukku ini membuatku tak nyaman. Aku sudah tak mampu lagi membedakan mana yang bisa kumaklumi dan tidak.

Jika setitik besar saja mampu goyahkan hati ini. Namun aku memilih untuk bertahan. Apakah label aku manusia bodoh menjadi setitik kejelasan aku di matamu?

Sering...
Terulang. Dan aku hanya ingin mengerti. Aku harus bagaimana. Tanpa embel-embel, bukannya kau seorang yang terpelajar?

Ingin kugaungkan rasionalku. Intelektualku. Tapi beku. Aku bukan lagi manusia, ah bukan wanita mandiri yang bisa melangkah sendiri. Padahal sejatinya, semua bisa memilih bagian mana kehidupannya yang bisa dijalani. 

mimpi

Pagi ini ku diliputi perasaan asing. Mimpi yang membuatku enggan terbangun. Mimpi yang membuatku memilih menikmati dingin dan membeku.
Pertama kalinya ku memimpikanmu. Dari segala penatku. Dalam mimpi, orang tuaku menerimamu dengan tangan terbuka. Memelukmu seperti kaupun anaknya.
Apakah bisa ini menjadi nyata?

Senin, 26 Juli 2021

tahun depan. bulan kelima. tanggal dua puluh lima.

Jika sampai saat itu semua yang diharapkan tidak terjadi. Aku akan peegi dari rumah. Kusiapkan bekal. Yang entah mudah atau tidak nanti kudapatkan. Aku harus tau bahwa aku sanggup.
Kebebasan.
Mungkin kesalahan kalian melahirkanku menjadi sagittarius. Aku benar-benar menginginkan kebebasan sebebas-bebasnya.
Tinggal sendiri.
Hidup sendiri.
Dengan caraku.
Gayaku.
Pergi dari semuanya.

Janjiku saat ini. 

bengkel

Mungkin ini sepele buatmu.
Dan karena mungkin aku bukanlah wanita terakhir dalam hidupmu.
Atau mungkin aku hanya singgahan, dan memang ini hanya hubungan yang entah kapan akan berakhir.
Entah aku yang terlalu berharap.
Entah aku yang harusnya tak berharap.
Atau harapan yang sebenarnya cukup simple.

Tapi sejenak pikirku. Kau berhak marah atas nasib yang terjadi. Yang entah salah ini memang kau sadari atau tidak. Dosaku yang bahkan tak pernah kuungkap. Dan membuat seakan semua hanya sia-sia.

Peebedaan sikapmu. Semua hanya sejenak saja katamu selesai. Kepalaku rasanya mau pecah. Benar. Entah aku yang memang terlalu memaksa. Dan begitu mudah rasanya kau membalikkan semua asaku. 

Minggu, 25 Juli 2021

masih belum

Hari ini rasanya cepet banget capek.
Ketika berdamai dengan diri. Mana yang menjadi penting dan tidak semua hanya tentang penilaian.
Tapi juga tidak menutup kemungkinan akan menjadikan yang sebelumnya tidak penting menjadi penting yang seharusnya.

Kita tidak bisa memilih memang akan dilahirkan di keluarga yang seperti apa. Menjadi anak pada orang tua yang bagaimana. Dan akhirnya menjalani hidup yang, yah kita nggak tahu.

Istilah-istilah pembenaran yang berkedok moral mulai berseliweran. Seharusnya bisa berhenti untuk mulai menghidupi sendiri. Seharusnya sudah mulai belajar untuk berjalan sendiri. Tetapi ketika ternyata bertemu pada kebenaran menurut mata kita sendiri. Akan ada banyak pemberontakan. Yang kebanyakan, dinilai dengan konotasi negatif. Padahal juga tidak begitu.

Hingga hari kesekian, masih belum istiqomah untuk menulis. Bahkan, aku mengutuk diriku yang pelupa ini. Menyumpahi kenapa sifat licik manusia ini ada. Ah, sudahlah. Nanti saja. Sifat prokrastinasi, dan pembelaan diri yang seyogyanya tidak perlu kulakukan.

Aku masih ingin berdamai dengan diriku. Menerima segala tamparan yang perlahan datangnya dari orang-orang sedarahku. Yang harusnya bisa kudekatkan dengan diri. Tapi mereka seakan memberi ruang dengan dalih. Dan tak sedikit pun berkenalan denganku. Aku yang seperti apa. Apa memang benar yang kutampilkan adalah diriku? Mereka tidak peduli. Jika kutunjukkan siapa aku, pertanyaan terbesarku, sanggupkah mereka menerima? Bukan, aku bukan tak mau berkompromi. Tapi mencoba menghormati yang jadi pilihanku, bukan dalam kamus mereka. Itu sudah tertulis jelas. 

Kamis, 22 Juli 2021

merindu

Aku mulai belajar untuk memberikan dirimu ruang seperti sebelumnya. Tapi tak melepas rasaku. Aku lelah menjadi egois. 

Minggu, 18 Juli 2021

kehilangan

Berturut-turut. Kehilangan satu persatu. Dan aku masih belum siap. Menyiapkan diri untuk kehilangan tidak pernah menjadi bagian dari daftar keinginanku. Aku tau kematian pasti ada. Akan ada. Tapi tidak dengan begini.
Semua, keinginan terbesarku denganmu. Menjadi bagian dalam hidupmu. Selalu menjadi keinginan yang telah kepatrikan. Aku ingin ada di sana. Bagian hidupmu.
Namun, kehilangan ini buatku kelelahan. Rasa sakitnya. Seakan menyatu menjadi diammu untukku. Dan diriku ada cerminan dirimu yang kau sembunyikan. 

Rabu, 14 Juli 2021

Berdamai dengan diri sendiri Part 1

Sepertinya akan banyak sekali part di sini. Meskipun sebelum-sebelumnya juga termasuk diriku yang bergumul dengan pikiranku. Bagaimana caranya berdamai dengan sekitarku.

Membayangkan suasana cafe yang tenang, tanpa hingar bingar. Kubuka laptop, dan mengetikkan ini. Tapi nyatanya sekarang aku terpapar virus, dan merasakan bagaimana rasanya tidak bisa menghidup aroma. Sepertinya membaca aroma karsa akan menjadi obat tersendiri.

Senin, 12 Juli 2021

egois

Aku menyadari betapa egois orang tuaku. Jika dibilang ini bentuk ikhtiar, dan saling mengorbankan satu sama lain. Sungguh, aku tidak ingin keluargaku hidup dalam pandangan yang begini.
Anakku. Jika memang kelak kupunya anak.
Melegalkan cara agar tidak menjadi buruk di depan orang. Sungguh ini penyakit.

Dan aku sungguh muak dalam diamku.

Minggu, 11 Juli 2021

pandemi ini

Sudah 3 hari ternyata.
Kerjaanku setiap hari hanya berbaring, main scroll twitter, dan melawan virus yang bisa jadi sedang menggerogotiku saat ini.
Pusing, gejala anosmia, yang syukurnya aku masih bisa merasakan semuanya, menikmati rasa dengan lidah. Tapi ada 1 hal. Hal yang kusadari makin menguatkanku untuk segera pergi dari rumah yang kutahan sejak puluhan tahun lalu.
Sikap egois yang kudapat bisa jadi adalah gen. Dan selama ini kumenolerir dengan segala empati dan kasih terhadap ibuku.
Yang meskipun berkali-kali menyakitiku, dan aku menyakitinya. Membuatku bertahan.
Dan memikirkan lagi aku tak butuh materi dengan segala yang ada. Gelar, ini bukan apa-apa. Semua bisa saja kutanggungkan sendiri.
Dari awal harusnya aku paham, pikiran yang tak pernah sejalan ini tak perlu untuk terus menerus ditoleransi.

Aku ingin menunggu waktu yang tepat, tapi kapan?
Ketika aku merasa sudah bertemu orang yang tepat, kau hancur leburkan dg kata-kata dia bukan yang terbaik untukku. Tau apa tentang terbaik?
Keluarga yang terlihat bahagia, senyum, tapi tak memberi ketenangan, tapi tak pernah ada rasa aman, bahkan keraguan tentang apa itu kehidupan menjadi titik balik kehidupanku yang hampir 28 tahun. Aku tak memiliki itu.

Beberapa tahun lalu aku memutuskan atheis, dan membohongi semuanya, hanya agar untuk diterima. Apa gunanya? Je, jika dalam kuburmu kau melihatku merana. Sesalkan dirimu meninggalkanku yang kau tinggalkan karena barang terkutuk itu. Je, jika aku sudah tak pernah ke kuburmu lagi, artinya aku sedang bahagia? Tidak, kuingin segera selesaikan dan bertemu denganmu. Jujur.
Je, apa kau sudah merasa ketenangan? Kau beruntung memiliki papa yang memang bisa menerimamu apa adanya.
Je, aku rindu.
Ki, aku rindu.

Jika sejak lama aku memilih pergi, apakah semua menjadi lebih baik? 

Kamis, 08 Juli 2021

bagaimana jika aku masih menjadi PENGECUT?

Mas, bagaimana jika sampai waktu yang aku tentukan, diriku masih pengecut?
Mas, bagaimana jika sampai wwktu kau lelah, aku masih belum selesai dengan diriku seperti dirimu?
Mas, bagaimana jika kita kawin lari saja?
Hidup berdua saja. Cukup aku dan kamu.
Mas, bagaimana jika yang kupikirkan begitu picik ini, kau tak merasakan hal yang sama?
Mas, bagaimana jika meskipun aku pergi bahagiaku adalah kamu?
Mas, bagaimana jika kau dengan yang lain, dan malah membuatku cemburu?
Mas, bagaimana jika kepengecutanku ini malah membuatmu lari?
Mas, bagaimana jika aku tak sebaik yang kau pikirkan?
Mas, bagaimana jika aku tak seperti yang kau harapkan?
Mas, bagaimana setelah kau tau semua tentangku, dan masa kelamku kau pergi menjauh?
Mas, bagaimana jika semua ini menjadikanku semakin tak tahu malu dan malah menyakitimu?
Mas, bagaimana aku mengungkapkan begitu sayangnya aku?
Mas, bagaimana jika sebenarnya sabarku ini adalah egoisku untuk perlahan melepasmu?
Mas, bagaimana jika mas tahu semua ini dan malah menjauhiku?
Mas, sejak awal bertemu, mengenal mas. Ada di kelas smaping mas. Menyapa mas, hingga akhirnya aku tahu mas sudah tak bersekolah di tempat yang sama. Mas memutuskan untuk menato dan semua yang lainnya, aku sangat terima. Aku putuskan mas sebagai yang terakhir. Yang pernah kukhianati, dan dengan bangsatnya aku pergi dengan lelaki lain disaat kau entah di mana meninggalkanku. Kita selesaikan urusan sendiri-sendiri. Kubodohkan diriku. Kubohongi karena haus sayangmu. Aku bukan wanita baik-baik.
Mas, jika ada yang menangisimu. Mungkin bagiku saat itu mas hanya kakak kelas yang kusuka dan tak sempat untuk bertukar nomor.
Mas, jika suatu saat blog ini sempat kaubaca. Aku rela meninggalkan semua.
Tapi apakah mas juga bisa menerimaku dengan segala resikonya?
Ayo, kita pergi... Menghilang. Menjalani hidup sendiri.
Tapi aku tau, pendapat mas akan sangat bilang aku bodoh. Sayangnya mas bahkan rela melepasku. Bukan untuk dimiliki. Dan sayangku, masih pada taraf.....aku ingin mas selalu ada. Aku ingin mas dengan senyum, peluk, di sampingku menenangkanku. Dannmas yang selalu sesukanya datang dan pergi. Dan di sana. Aku selalu ada.

Mas, bagaimana jika apa yang tertulis ini malah membuat mas paham bahwa aku tak sebaik yang mas pikirkan.
Aku hanya pengecut yang rela hidupnya diatur. Hanya dapat menjadi pengecut dengan segala mimpi kebebasan denganmu. Dan mas, yang menjadi alarm untuk menyadarkanku. Dan mas, yang kembali mengingatkanku. Ada banyak orang yang bisa terluka. Dan mas tak ingin aku melukai orang. Tapi, mas.....
Aku sudah sangat melukai diriku dengan caraku, dengan menyalahkan orang lain. Aku sangat vuruk sebagai anak, manusia, bahkan hanya untuk tahu bagaimana cara membalas budi pada orang yang melahirkan kita.
Aku snagat egois, dan siap membuat rencana untuk hidup denganmu.
Mas, pengecutku sudah di ubun. Bagaimana jika aku nanti meninggalkanmu? Mungkin mas bisa baik-baik saja. Atau sebaliknya. Dan aku? Aku menggali kuburanku sendiri dengan berjalan ke arah jalan yang entah kapan siap kehilanganmu. Dan aku tak akan pernah siap.
Mas, mas adalah mimpi yang aku percaya dulu bermimpi menjadi nyata. Dengan segala banyak pemgkhianatan yang pernah adek rasakan.
Mas, bagaimana jika rasa pengecutku ini menjadi boomerang di masa nanti ketika bertemu dengamu?
Mas, bagaimana caranya untuk membuat kuikhlas jika kehilanganmu?
Mas, apa adek yang pergi dulu. Bukan pergi dengan masih bernafas.
Tapi pergi.... Dan membuat semuanya menyesal mengapa tak membiarkan saja aku denganmu.
Mas, adek terlalu mencintaimu benar?
Terlalu sayang? Tidak. Adek merasa mas adalah segala kebebasan. Dan adek, terjeruju untuk mencapainya. 

Senin, 05 Juli 2021

idk

Aku kudu gimana?
Rasanya sejak sore ini begitu sesak.
Aku harus menyesuaikan?
Begitukah? Lagi?
Kenapa tangisanku g bisa berhenti?
Sesaknya juga. Apa yang harus aku lakukan?
Rasanya seperti orang gila yang sadar.
Tanpa bisa tidur. Kelelahan. Namun sulit beristirahat.

Gemericik semu.
Syahdu angin sepoi bahkan bisa melukai.
Kesakitan lagi.
Apa yang harus kulakukan?
Bagaimana menghentikan ini?
Merindukah? Atau apa? 

Minggu, 04 Juli 2021

sepertinya memilikimu, aku takut akhirnya menjadi rumah

Perasaan cemburu.
Aku takut mengungkapkan dan akhirnya kita menjadi hanya saling mengalah.
Bukan untuk saling mengasihi.
Rasanya seperti tempat singgahku untuk pulang ditempati orang lain.
Yang secara harfiah, aku memang hanya menumpang dan diletakkan di hatimu itu saja.

Aku punya memori yang cukup buruk akhir akhir ini.
Dan menghabiskan waktu denganmu benar-benar tak cukup hanya sekejap.
Rasaku semakin tumbuh, dan tumbuh.
Kau mungkin ada di titik bahwa sewajarnya denganku sudah cukup.
Tapi belum denganku.

Bisakah kau menuntunku melangkah bersamamu? 

Sabtu, 03 Juli 2021

ya aku hanya "i love him, not much"

Kita perjelas semua.
Kau kumpulkan keberanin setelah meluapkan segala hal yang sekiranya belum selesai. Dan mungkin kini giliranku yang ingin kau bantu.
Hidup denganmu mulai membuatku berpikir, bahwa kau memang pantas kuperjuangkan.
Tapi belum sepenuhnya yakin.
Kau ajarkan aku bagaimana menjadi cukup "sewajarnya".
Dan ku sadari dunia ini memang ada kau dan aku dalam kelap indah.
Genggaman tanganmu, jujur tak membuat berdetak seperti dulu.
Dingin. Biasa. Tidak hangat. Tapi nyaman.
Memelukmu. Merebahkan kepalaku yang penat di pelukmu.

Ku mulai nyamankan bagaimana cara bicaraku bisa sesabar itu padamu. Tapi memang begitu jika di hadapan orang yang kusuka. Tidak meninggi, meski kata-kataku kadang menjengkelkan.

Kamis, 01 Juli 2021

melupakan hari

Semakin sering, ingatan hari apa hari ini, tanggal berapa, tadi mau ngapain, gue ke sini ngapain, dan ketidakkonsistenan pilihan memilih mengerjakan satu hal yang sudah diniatkan sejak awal. Tiba-tiba membatalkan janji, dengan segala alasan yang tidak benar-benar terjadi. Keinginan untuk tidur terus menerus. Perasaan yang kadang mania. Yang masih bingung harus bersikap bagaimana di depan orang-orang; apakah sudah tepat atau belum, apakah tersinggung atau tidak, dan apakah sudah sesuai dengan orang-orang kebanyakan. Pertanyaan-pertanyaan yang kadang tak pernah usai untuk aku renungkan. Dan kemarin tenggatnya. Ku melupakan lagi hari, seperti ku pernah lupa angka 23, 33, dan namanya.