Mas, bagaimana jika sampai waktu yang aku tentukan, diriku masih pengecut?
Mas, bagaimana jika sampai wwktu kau lelah, aku masih belum selesai dengan diriku seperti dirimu?
Mas, bagaimana jika kita kawin lari saja?
Hidup berdua saja. Cukup aku dan kamu.
Mas, bagaimana jika yang kupikirkan begitu picik ini, kau tak merasakan hal yang sama?
Mas, bagaimana jika meskipun aku pergi bahagiaku adalah kamu?
Mas, bagaimana jika kau dengan yang lain, dan malah membuatku cemburu?
Mas, bagaimana jika kepengecutanku ini malah membuatmu lari?
Mas, bagaimana jika aku tak sebaik yang kau pikirkan?
Mas, bagaimana jika aku tak seperti yang kau harapkan?
Mas, bagaimana setelah kau tau semua tentangku, dan masa kelamku kau pergi menjauh?
Mas, bagaimana jika semua ini menjadikanku semakin tak tahu malu dan malah menyakitimu?
Mas, bagaimana aku mengungkapkan begitu sayangnya aku?
Mas, bagaimana jika sebenarnya sabarku ini adalah egoisku untuk perlahan melepasmu?
Mas, bagaimana jika mas tahu semua ini dan malah menjauhiku?
Mas, sejak awal bertemu, mengenal mas. Ada di kelas smaping mas. Menyapa mas, hingga akhirnya aku tahu mas sudah tak bersekolah di tempat yang sama. Mas memutuskan untuk menato dan semua yang lainnya, aku sangat terima. Aku putuskan mas sebagai yang terakhir. Yang pernah kukhianati, dan dengan bangsatnya aku pergi dengan lelaki lain disaat kau entah di mana meninggalkanku. Kita selesaikan urusan sendiri-sendiri. Kubodohkan diriku. Kubohongi karena haus sayangmu. Aku bukan wanita baik-baik.
Mas, jika ada yang menangisimu. Mungkin bagiku saat itu mas hanya kakak kelas yang kusuka dan tak sempat untuk bertukar nomor.
Mas, jika suatu saat blog ini sempat kaubaca. Aku rela meninggalkan semua.
Tapi apakah mas juga bisa menerimaku dengan segala resikonya?
Ayo, kita pergi... Menghilang. Menjalani hidup sendiri.
Tapi aku tau, pendapat mas akan sangat bilang aku bodoh. Sayangnya mas bahkan rela melepasku. Bukan untuk dimiliki. Dan sayangku, masih pada taraf.....aku ingin mas selalu ada. Aku ingin mas dengan senyum, peluk, di sampingku menenangkanku. Dannmas yang selalu sesukanya datang dan pergi. Dan di sana. Aku selalu ada.
Mas, bagaimana jika apa yang tertulis ini malah membuat mas paham bahwa aku tak sebaik yang mas pikirkan.
Aku hanya pengecut yang rela hidupnya diatur. Hanya dapat menjadi pengecut dengan segala mimpi kebebasan denganmu. Dan mas, yang menjadi alarm untuk menyadarkanku. Dan mas, yang kembali mengingatkanku. Ada banyak orang yang bisa terluka. Dan mas tak ingin aku melukai orang. Tapi, mas.....
Aku sudah sangat melukai diriku dengan caraku, dengan menyalahkan orang lain. Aku sangat vuruk sebagai anak, manusia, bahkan hanya untuk tahu bagaimana cara membalas budi pada orang yang melahirkan kita.
Aku snagat egois, dan siap membuat rencana untuk hidup denganmu.
Mas, pengecutku sudah di ubun. Bagaimana jika aku nanti meninggalkanmu? Mungkin mas bisa baik-baik saja. Atau sebaliknya. Dan aku? Aku menggali kuburanku sendiri dengan berjalan ke arah jalan yang entah kapan siap kehilanganmu. Dan aku tak akan pernah siap.
Mas, mas adalah mimpi yang aku percaya dulu bermimpi menjadi nyata. Dengan segala banyak pemgkhianatan yang pernah adek rasakan.
Mas, bagaimana jika rasa pengecutku ini menjadi boomerang di masa nanti ketika bertemu dengamu?
Mas, bagaimana caranya untuk membuat kuikhlas jika kehilanganmu?
Mas, apa adek yang pergi dulu. Bukan pergi dengan masih bernafas.
Tapi pergi.... Dan membuat semuanya menyesal mengapa tak membiarkan saja aku denganmu.
Mas, adek terlalu mencintaimu benar?
Terlalu sayang? Tidak. Adek merasa mas adalah segala kebebasan. Dan adek, terjeruju untuk mencapainya.