Kerjaanku setiap hari hanya berbaring, main scroll twitter, dan melawan virus yang bisa jadi sedang menggerogotiku saat ini.
Pusing, gejala anosmia, yang syukurnya aku masih bisa merasakan semuanya, menikmati rasa dengan lidah. Tapi ada 1 hal. Hal yang kusadari makin menguatkanku untuk segera pergi dari rumah yang kutahan sejak puluhan tahun lalu.
Sikap egois yang kudapat bisa jadi adalah gen. Dan selama ini kumenolerir dengan segala empati dan kasih terhadap ibuku.
Yang meskipun berkali-kali menyakitiku, dan aku menyakitinya. Membuatku bertahan.
Dan memikirkan lagi aku tak butuh materi dengan segala yang ada. Gelar, ini bukan apa-apa. Semua bisa saja kutanggungkan sendiri.
Dari awal harusnya aku paham, pikiran yang tak pernah sejalan ini tak perlu untuk terus menerus ditoleransi.
Aku ingin menunggu waktu yang tepat, tapi kapan?
Ketika aku merasa sudah bertemu orang yang tepat, kau hancur leburkan dg kata-kata dia bukan yang terbaik untukku. Tau apa tentang terbaik?
Keluarga yang terlihat bahagia, senyum, tapi tak memberi ketenangan, tapi tak pernah ada rasa aman, bahkan keraguan tentang apa itu kehidupan menjadi titik balik kehidupanku yang hampir 28 tahun. Aku tak memiliki itu.
Beberapa tahun lalu aku memutuskan atheis, dan membohongi semuanya, hanya agar untuk diterima. Apa gunanya? Je, jika dalam kuburmu kau melihatku merana. Sesalkan dirimu meninggalkanku yang kau tinggalkan karena barang terkutuk itu. Je, jika aku sudah tak pernah ke kuburmu lagi, artinya aku sedang bahagia? Tidak, kuingin segera selesaikan dan bertemu denganmu. Jujur.
Je, apa kau sudah merasa ketenangan? Kau beruntung memiliki papa yang memang bisa menerimamu apa adanya.
Je, aku rindu.
Ki, aku rindu.
Jika sejak lama aku memilih pergi, apakah semua menjadi lebih baik?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^