Malam...
Sedikit kecewa ku pada diri. Begitu lemah untuk bersandar pada anak-anak tangga. Menapaki kesemuan. Dan biarkan waktu melangkah. Bukan lagi tentang diriku. Mengenal lagi seseorang yang baru, namun awal saja sudah buatku ragu. Entah.....
Keraguan yang cukup membuat ku mulai lagi mengetikkan rasa dengan jari-jari mungilku. Sayang.... Semua seperti tenggelam.
Ingin kuhidupkan lagi hati yang sempat mati. Menapaki lagi dengung-dengung sendu yang inginkan surga. Yang harusnya tak pernah pantas rasanya ku mengharap.
Liberal? Sayangnya aku tak seidealis itu. Mengaku ke-kaku-an dan peduli lirik sana-sini berkomentar dan mendengungkan ini benar -ini salah. Aku bukan manusia yang begitu. Demokratis? Aku juga bukan. Menuruti mana yang paling banyak, dan akhirnya untuk rakyat terbodoh pun, tak tahu mengapa, siapa, dimana, bagaimana, dan kapan, setara raja yang dengan licik melakukan apapun untuk kepentingan mereka. Dan aku bukan juga dari kaum borjuis pemilik tahta, namun tak ingin juga disamakan dengan air comberan
Cukup tahu untuk apa dan siapa ku bersua dan beradab. Bersuara layaknya gentongan. Tapi bukan masalah aku ini siapa?
Jiwa ini rasanya ingin bebas. Tapi juga ingin terikat saja dalam nyanyian gema. Melonglong elegi dan memeluk sukma raga yang pergi. Hujan ini.... Tak akan mengerti bahwa angin-angin berhembus tak peduli. Ingin lagi kuterbang... Tapi sayap ini tak lagi sama. Seperti kurasakan sekarang. Berpasrah. Tapi akan kubulatkan tekad.
Demi seseorang bernama Farra. Diriku. Aku. Falla. Yang begitu egois mencintai diri. Melawan ini semua. Dan berkata, aku bisa melewati kepingan-kepingan yang entah kapan akan berserakan retak. Membelengguku....
Kamis, 28 April 2016
Senin, 18 April 2016
Kosong
Teringat lagi kenangan pahit.
Haha, harusnya cukup hilangkan saja dari pikir ini.
Sekelebat dan mulai lagi menitikkan sendu-sendu kenangan.
Mulai terasa lagi bagaimana.....
Mulai terngiang lagi-lagi suara-suara.....
Datang lagi bahkan gema-gema delusi yang semegah mentari terbit dan tenggelam memaku mataku.
Harusnya senyum ini mampu buatku berlari.
Bahkan sakitku memaksa untuk merangkak.
Namun, hanya dalam khayalku.
Nyatanya, tubuh ini hanya diam.
Layaknya serpihan bakat, tanpa asahan ia menjadi dirinya.
Dan ketika orang bertanya sejarah.....
Malah menghancur luluhkan semua bakat itu, menjadikannya seperti setir mobil yang hanya dapat berjalan dengan kemudi.
Dan.... Aku tak ingin hidup seperti itu.
Mereka.... Mungkin hanya peduli saja.
Bersimpati, tanpa empati yang menenangkan.
Mereka.... Mungkin hanya tersenyum menguatkan tanpa tahu sakitnya ditinggalkan.
Berjuang memang tak sebercanda itu.
Hasil? Kalau kau tanyakan?!
Aku hanya akan tertawa terbahak melihat kau memandang sinis ke arahku.
Kerinduan...
Kadang menjadi ruam yang tiba-tiba datang dan tak mau hilang.
Sudah kubilang daridulu, jangan pernah percaya kata-kataku!!!!
Seorang penyair, penulis, atau apalah sebutanmu padaku, menuliskan apa yang ia rasa.
Bisa saja itu hanya pandangan semu tanpa arti dari yang orang ceritakan.
Sungguh, jangan pernah percaya!!!!
Bahkan, angin yang mulai jarang berhembus akan jadi musuhnya.
Karena kerinduan yang tak terobati hanya dengan menunggu.
Bualan apa lagi yang ku tulis?
Orang-orang seperti seenak jidat ongkang-angking komentar tanpa dasar dan mau bertanggung jawab dengan apa yang mereka katakan.
Stalking sana-sini dengan dalil, hanya ingin tahu saja bagaimana kabarnya 'dia'.
Entah dia siapa yang mereka maksud.
Bukan tentang 'nyinyir lambe' kata orang Jawa.
Hanya saja, bercanda dengan diam seperti ini.
Cukup menyiksa kepalaku!
Rasanya mau pecah!
Hingga berdiri saja, dengan senyum menertawakan diri yang lemah dan akhirnya lelah mati-matian berjuang untuk bangun, dan tidur lagi di kasur empuk memeluk selimut dan guling sambil berharap semua ini hanya sementara untuk kesekian-kalinya.
Awan mendung bahkan seperti tak tahu malu.
Mengintip seenaknya, namun hujan yang ditunggu-tunggu seperti menunggu kemustahilan.
Rintik-rintik untuk sejukkan pernafasan saja tak turun hanya sekedar mengurangi somatis diri yang begitu kesakitan sambil menenangkan emosi.
Bintang ini biru....
Seperti lautan mati yang mulai kelam.
Bahkan senja hanya menjadi siluet kosong di Negeri ini!
Bedebah apa lagi yang muncul di otakku?
Lambaian ombak, nyanyian gereja, seperti obat pengantar tidur dan lagu 'lullaby' terindah.
Bersautan dengan syaraf-syaraf yang mulai redupkan mata, dan membuat semua pada satu titik....
Tidur.
Saat Tahajud yang kulewatkan sambil menunggu gelisah terbang.
Haha, harusnya cukup hilangkan saja dari pikir ini.
Sekelebat dan mulai lagi menitikkan sendu-sendu kenangan.
Mulai terasa lagi bagaimana.....
Mulai terngiang lagi-lagi suara-suara.....
Datang lagi bahkan gema-gema delusi yang semegah mentari terbit dan tenggelam memaku mataku.
Harusnya senyum ini mampu buatku berlari.
Bahkan sakitku memaksa untuk merangkak.
Namun, hanya dalam khayalku.
Nyatanya, tubuh ini hanya diam.
Layaknya serpihan bakat, tanpa asahan ia menjadi dirinya.
Dan ketika orang bertanya sejarah.....
Malah menghancur luluhkan semua bakat itu, menjadikannya seperti setir mobil yang hanya dapat berjalan dengan kemudi.
Dan.... Aku tak ingin hidup seperti itu.
Mereka.... Mungkin hanya peduli saja.
Bersimpati, tanpa empati yang menenangkan.
Mereka.... Mungkin hanya tersenyum menguatkan tanpa tahu sakitnya ditinggalkan.
Berjuang memang tak sebercanda itu.
Hasil? Kalau kau tanyakan?!
Aku hanya akan tertawa terbahak melihat kau memandang sinis ke arahku.
Kerinduan...
Kadang menjadi ruam yang tiba-tiba datang dan tak mau hilang.
Sudah kubilang daridulu, jangan pernah percaya kata-kataku!!!!
Seorang penyair, penulis, atau apalah sebutanmu padaku, menuliskan apa yang ia rasa.
Bisa saja itu hanya pandangan semu tanpa arti dari yang orang ceritakan.
Sungguh, jangan pernah percaya!!!!
Bahkan, angin yang mulai jarang berhembus akan jadi musuhnya.
Karena kerinduan yang tak terobati hanya dengan menunggu.
Bualan apa lagi yang ku tulis?
Orang-orang seperti seenak jidat ongkang-angking komentar tanpa dasar dan mau bertanggung jawab dengan apa yang mereka katakan.
Stalking sana-sini dengan dalil, hanya ingin tahu saja bagaimana kabarnya 'dia'.
Entah dia siapa yang mereka maksud.
Bukan tentang 'nyinyir lambe' kata orang Jawa.
Hanya saja, bercanda dengan diam seperti ini.
Cukup menyiksa kepalaku!
Rasanya mau pecah!
Hingga berdiri saja, dengan senyum menertawakan diri yang lemah dan akhirnya lelah mati-matian berjuang untuk bangun, dan tidur lagi di kasur empuk memeluk selimut dan guling sambil berharap semua ini hanya sementara untuk kesekian-kalinya.
Awan mendung bahkan seperti tak tahu malu.
Mengintip seenaknya, namun hujan yang ditunggu-tunggu seperti menunggu kemustahilan.
Rintik-rintik untuk sejukkan pernafasan saja tak turun hanya sekedar mengurangi somatis diri yang begitu kesakitan sambil menenangkan emosi.
Bintang ini biru....
Seperti lautan mati yang mulai kelam.
Bahkan senja hanya menjadi siluet kosong di Negeri ini!
Bedebah apa lagi yang muncul di otakku?
Lambaian ombak, nyanyian gereja, seperti obat pengantar tidur dan lagu 'lullaby' terindah.
Bersautan dengan syaraf-syaraf yang mulai redupkan mata, dan membuat semua pada satu titik....
Tidur.
Saat Tahajud yang kulewatkan sambil menunggu gelisah terbang.
Minggu, 10 April 2016
Seucap...
Aku mencari. Bahkan sedetik saja rasanya melelahkan. Seandainya cerita itu milikku. Menemukannya, memutuskan bersama, kalaupun akan kehilangan... Tentunya rasa sakit lagi. Namun, berakhir dengan satu nama. Tetapi hidup tak seenaknya bisa kita tuliskan. Bertemu siapa, jatuh cinta dengan siapa, bahkan merasa nyaman dengan siapa. Semua itu mustahil untuk direncanakan. Namun, cukup terlepas dan sering mereka sebut dengan kebetulan. Seucap saja bertanya dalam hati, apakah ini memang kebetulan?
Namun, sahabat menepuk pundakku dan mengingatkan. Tidak ada yang kebetulan, semua sudah terencana dalam skenario Pencipta. Aaahhh, fikirku. Kemana saja aku kemarin? Melupakan nikmat Tuhan bahwa memang semua jalan hidup ini sudah ter-skenario semedikian rupa. Kita, hanya menuliskan impian dan berusaha mewujudkan! Sial, bagaimana aku bisa lupa? Tersesatkah aku kemarin?
Puing-puing sepi seperti menamparku. Dingin ini, hadirkan rasa sesal! Mengapa aku tak tertidur saja? Berjalan sendirian begini... Sudah terlalu malam. Jam lembur bahkan tak bisa pejamkan mata yang lelah ini. Rasanya seperti membakqr mimpiku.
Namun, sahabat menepuk pundakku dan mengingatkan. Tidak ada yang kebetulan, semua sudah terencana dalam skenario Pencipta. Aaahhh, fikirku. Kemana saja aku kemarin? Melupakan nikmat Tuhan bahwa memang semua jalan hidup ini sudah ter-skenario semedikian rupa. Kita, hanya menuliskan impian dan berusaha mewujudkan! Sial, bagaimana aku bisa lupa? Tersesatkah aku kemarin?
Puing-puing sepi seperti menamparku. Dingin ini, hadirkan rasa sesal! Mengapa aku tak tertidur saja? Berjalan sendirian begini... Sudah terlalu malam. Jam lembur bahkan tak bisa pejamkan mata yang lelah ini. Rasanya seperti membakqr mimpiku.
Kamis, 07 April 2016
Entahlah...
Memandang suasana yang seperti kenyataan.
Merindukan hal yang tak ada.
Bukan aku terlalu pujangga tuk menuliskan semua.
Tertatih menata diri.
Terperosok berkali-kali dan ku nikmati.
Ah, aku sedang sial dengan hidupku.
Tapi aku tak pernah menyesal.
Hanya saja....
Semua berjalan tak seperti yang dipikirkan.
Tak semestinya terlalu perasa.
Bukan.
Ini hanya tentang peka yang mau terungkapkan atau hanya tak perlu dan tak ingin terungkap.
Kalian tak mengerti dan tak akan mengerti.
Seperti kalimat yang kalian baca barusan.
Aku membuat yang mudah dimengerti menjadi tak dimengerti.
Lepaskan saja kesombongan itu.
Pergi saja...
Peluh lelahku tak lagi sama.
Seakan menjadi kotoran untukku sendiri.
Anj++*! Inginku memaki saja.
Kelainan?
Hahahahah, aku mungkin sudah porak poranda sebelum dunia tau aku hanya seorang brengsek dan pengecut yang hanya bermodal topeng sok kuat dan menjadikan nyata kata-kata tak berarti.
Gila!
Mungkin akan tau aku tak seperti ini.
Hanya, mengenalku saja belum cukup.
Kadang kuungkapkan apa yang tak kurasa.
Kulukiskan laku yang tak ku mengerti.
Dan semua berjalan dengan nama kehidupan.
Bersama omong kosong yang berjalan mengiringinya...
Merindukan hal yang tak ada.
Bukan aku terlalu pujangga tuk menuliskan semua.
Tertatih menata diri.
Terperosok berkali-kali dan ku nikmati.
Ah, aku sedang sial dengan hidupku.
Tapi aku tak pernah menyesal.
Hanya saja....
Semua berjalan tak seperti yang dipikirkan.
Tak semestinya terlalu perasa.
Bukan.
Ini hanya tentang peka yang mau terungkapkan atau hanya tak perlu dan tak ingin terungkap.
Kalian tak mengerti dan tak akan mengerti.
Seperti kalimat yang kalian baca barusan.
Aku membuat yang mudah dimengerti menjadi tak dimengerti.
Lepaskan saja kesombongan itu.
Pergi saja...
Peluh lelahku tak lagi sama.
Seakan menjadi kotoran untukku sendiri.
Anj++*! Inginku memaki saja.
Kelainan?
Hahahahah, aku mungkin sudah porak poranda sebelum dunia tau aku hanya seorang brengsek dan pengecut yang hanya bermodal topeng sok kuat dan menjadikan nyata kata-kata tak berarti.
Gila!
Mungkin akan tau aku tak seperti ini.
Hanya, mengenalku saja belum cukup.
Kadang kuungkapkan apa yang tak kurasa.
Kulukiskan laku yang tak ku mengerti.
Dan semua berjalan dengan nama kehidupan.
Bersama omong kosong yang berjalan mengiringinya...
Selasa, 05 April 2016
Tenanglah...
Melupakan. Tidak akan pernah ada cerita mudah. Hampir 8tahun berlalu dan ceritanya tetap sama.
Ingin rasanya jadi pelukis. Jatuh cinta dengan gambarnya. Tak perlu tau bagaimana wajah pelukisnya. Cukup jatuh cinta saja...
Apa sesajak ini menjelaskan?
Ingin rasanya jadi pelukis. Jatuh cinta dengan gambarnya. Tak perlu tau bagaimana wajah pelukisnya. Cukup jatuh cinta saja...
Apa sesajak ini menjelaskan?
Senin, 04 April 2016
Pergi
Kini ku relakan semua tentang kita untuk pulang ke tempatnya masing-masing. Berlarian memecah lagi bagian-bagian semu untuk pergi lagi kemana mereka mau.
Dengan senyum ku tertawakan hari yang pernah ku tangisi.
Berkawankan hujan dan pelangi sekejap yang memanjakan mata dan hati yang bersedih.
Ah... Kata itu lagi. Harusnya ku hilangkan saja dari kamusku.
Kata mereka, mata ini mulai meredup.
Aku bukan keturunan orang C*** yang memiliki mata sipit.
Tapi memang... Tatapanku tak sesendu dulu dengan keriput yang hiasi kelopak mataku yang lelah.
Banyak catatan dalam piluku yang ingin ku buang.
Lingkarang putih hiasi mimpi, seakan sayap-sayap merpati sadarkanku.
"Aku ingin terbang!"
Hiasan suara guntur.
Amarah dalam simfoni kalbu.
Kerikil-kerikil bisu yang hanya menatap diam saat kaki ini melangkah saja tak tentu arah.
Berlari di pagi subuh.
Menghirup oksigen bersama debu.
Membuat semuanya seperti pertama kali aku melangkah.
Belajar untuk mulai bisa berjalan.
Bahkan hanya untuk mendorongku jatuh.
Dan kau ambil lagi serpihan kaca.
Kau lukis satu nama.
Namaku.....
Dan menari. Seperti orang hilang akal.
Kita menari.
Hitamku semakin semu.
Berjalan di keabu-abuan tidak akan pernah menyenangkan.
Berlari....
Memelukmu.
Tidak lagi dalam khayalku.
Pergi.
Dengan senyum ku tertawakan hari yang pernah ku tangisi.
Berkawankan hujan dan pelangi sekejap yang memanjakan mata dan hati yang bersedih.
Ah... Kata itu lagi. Harusnya ku hilangkan saja dari kamusku.
Kata mereka, mata ini mulai meredup.
Aku bukan keturunan orang C*** yang memiliki mata sipit.
Tapi memang... Tatapanku tak sesendu dulu dengan keriput yang hiasi kelopak mataku yang lelah.
Banyak catatan dalam piluku yang ingin ku buang.
Lingkarang putih hiasi mimpi, seakan sayap-sayap merpati sadarkanku.
"Aku ingin terbang!"
Hiasan suara guntur.
Amarah dalam simfoni kalbu.
Kerikil-kerikil bisu yang hanya menatap diam saat kaki ini melangkah saja tak tentu arah.
Berlari di pagi subuh.
Menghirup oksigen bersama debu.
Membuat semuanya seperti pertama kali aku melangkah.
Belajar untuk mulai bisa berjalan.
Bahkan hanya untuk mendorongku jatuh.
Dan kau ambil lagi serpihan kaca.
Kau lukis satu nama.
Namaku.....
Dan menari. Seperti orang hilang akal.
Kita menari.
Hitamku semakin semu.
Berjalan di keabu-abuan tidak akan pernah menyenangkan.
Berlari....
Memelukmu.
Tidak lagi dalam khayalku.
Pergi.
Minggu, 03 April 2016
Sajak saja... Tanpa rasa.
Terimakasih, Tuhan...
Kau hadirkan lagi rasa yang sama.
Yang perlu ku lakukan sekarang hanya memandang awan.
Dengan segala dayaku untuk menjadikannya pelangi tanpa hujan.
Biar seperti memecah andromeda.
Bingkisan terindah di antariksa yang tak terjamah, hanya mengira.
Palung karang membelah ombak di lautan.
Mata sayuku hanya mengawasi dan berharap menjadi camar untuk lari.
Ku nikmati awan yang mulai mengarak matahari bangun.
Warna jingganya....
Sendu senjanya.
Seakan membuatku ingin berlari ke sana dan membelai mesra rona merahnya.
Tak mudah. Aku tau...
Bahkan ku dapati diriku berjalan.
Dan duduk saja seperti peri yang cahaya mati.
Remukkah? Sayap-sayap ini apakah remuk?
Kau hadirkan lagi rasa yang sama.
Yang perlu ku lakukan sekarang hanya memandang awan.
Dengan segala dayaku untuk menjadikannya pelangi tanpa hujan.
Biar seperti memecah andromeda.
Bingkisan terindah di antariksa yang tak terjamah, hanya mengira.
Palung karang membelah ombak di lautan.
Mata sayuku hanya mengawasi dan berharap menjadi camar untuk lari.
Ku nikmati awan yang mulai mengarak matahari bangun.
Warna jingganya....
Sendu senjanya.
Seakan membuatku ingin berlari ke sana dan membelai mesra rona merahnya.
Tak mudah. Aku tau...
Bahkan ku dapati diriku berjalan.
Dan duduk saja seperti peri yang cahaya mati.
Remukkah? Sayap-sayap ini apakah remuk?
Jumat, 01 April 2016
Redial -15 12 15
Hey..
Pernahkah awan sebegini abu-abunya?
Senduku mewarnai senja.
Yang bahkan ingin kulupakan tetapi selalu ada.
Ilusi ini hanya sementara, 'kan?
Setitik embun saja....
Bisakah pagi membangunkanku lagi dengan senyum hangatnya?
Berlari malu dengan sapaan pagi yang tak pernah bisa terbohongi...
Hatiku yang bahagia, dan teringat janjimu.
Jangan....
Satu dekade ini bahkan tak cukup meski ku arungi kisah sepi.
Bayangan... Akan tetap menghantuiku.
'Aku akan selalu baik-baik saja'.
Hatiku berharap menguatkan.
Untuk melewati setiap kubuka mata ini.
Bahwa akan selalu ada hari yang harus terlewati.
24 jam yang tak pernah cukup menjadi 'hari'.
Keegoisan ini sepertinya abadi.
Mana yang benar, dan mana yang salah.
Mana ketulusan atau hanya sekedar pujian?
Semua hanya sekedar asa.
Omong kosong.
Seperti air ini....
Mengalir ke muaranya.
Kunikmati dengan arusnya.
Raga ini, hanya jasad.
Tanpa perlu tau apapun.
Pernahkah awan sebegini abu-abunya?
Senduku mewarnai senja.
Yang bahkan ingin kulupakan tetapi selalu ada.
Ilusi ini hanya sementara, 'kan?
Setitik embun saja....
Bisakah pagi membangunkanku lagi dengan senyum hangatnya?
Berlari malu dengan sapaan pagi yang tak pernah bisa terbohongi...
Hatiku yang bahagia, dan teringat janjimu.
Jangan....
Satu dekade ini bahkan tak cukup meski ku arungi kisah sepi.
Bayangan... Akan tetap menghantuiku.
'Aku akan selalu baik-baik saja'.
Hatiku berharap menguatkan.
Untuk melewati setiap kubuka mata ini.
Bahwa akan selalu ada hari yang harus terlewati.
24 jam yang tak pernah cukup menjadi 'hari'.
Keegoisan ini sepertinya abadi.
Mana yang benar, dan mana yang salah.
Mana ketulusan atau hanya sekedar pujian?
Semua hanya sekedar asa.
Omong kosong.
Seperti air ini....
Mengalir ke muaranya.
Kunikmati dengan arusnya.
Raga ini, hanya jasad.
Tanpa perlu tau apapun.
Langganan:
Postingan (Atom)