Sejenak kisah tentang diriku kuurai lagi. Belajar lagi merangkai kata yang sempat terhenti karena cukup kusesalkan berhenti tanpa permisi. Raga yang sejatinya lelah dan mulai sakit. Karena hati yang dulu tertegun dalam pahatan sakit sekarang meluber.
Meskipun merasa sendiri. Ia tetap berteguh bahwa tidak pernah sendiri. Bahkan tentang hati yang sejatinya bukan miliknya. Menangis berkali-kali. Bahkan berteriak seribu kali. Kali ini.... Bukan mudah. Tapi seperti rasa asing.
Ketika terjatuh....
Semua orang aku yakin tak akan mampu melewatinya sendiri. Pasti ada andil satu - dua - tiga atau bahkan empat dan lima bagi mereka hanya sekedar figuran pada hidupnya yang membantu bangkit. Entah dalam khayal, kenyataan atau hanya sekedar do'a yang bahkan mereka tak pernah tau seseorang iti berdo'a untuknya.
Bahkan ketika kepercayaan sekali lagi dipertanyakan. Ia ragu bahwa percaya itu jelas nyata adanya. Apa yang ia percayai. Apa yang harusnya ia percaya. Apa yang seharusnya terpikir dalam pikirannya. Bahkan hanya sekedar apa yang harusnya diperbuat agar dirinya dianggap 'normal dan bermoral' untuk mereka.
Kujejalkan saja kata-kata makian untuk melegakan. Tapi tak pernah lega. Justru air mata menetes lagi dan lagi. Tanpa permisi. Dan begitu saja.... Berhenti, lalu datang lagi. Menyisahkan pilu meninghalkan segala nafsu makan ingin menikmati kesepian yang menyakitkan.
Atau dirinya sendiri yang membuatnya begitu menyakitkan? Atau memang kesepian itu akan diambil masa tenangnya, obat gairahnya, dan yang mereka elu-elukan hanya segelintir kata. "Semua harus kau pertanggung-jawabkan". Tanpa berpikir mereka, semua, memperngaruhi atas semua yang seharusnya mereka jaga.
Atau dirinya yang terlalu berharap? Segala angan tentang kebahagiaan? Berkali-kali berdo'a pada Tuhan yang selama ini terpatri pada keyakinannya. Namun, yang terjawab memang kenyataan yang harunya ia terima. Dan mereka berkata, "itulah takdir dan seharusnya." - "bukankah Tuhan mengatakan nasib suatu kaum bisa berubah jika mereka berusaha?" - "nyatanya semua yang harusnya dipercaya, mereka hancurkan."
Iya, dihancurkan tanpa sadar. Atau kesadaran yang tak ingin dilukai ego, bahwa "SEHARUSNYA TIDAK BEGITU".