Rabu, 19 September 2018

Bisakah kau ucapkan selamat tinggal untuk selamanya?

Aku yang mati rasa.
Membuatku mulai lagi dengan kisah yang terlelap.
Bergerak menghilang tak pernah kurasa sesakit ini.

Kubuka lagi luka yang dulu kusadari untuk kupergi.
Yang harusnya tak kupaksakan kenangan itu bisa diperbaiki.
Tak perlu ada yang ada.
Tak butuh ku ada yang mengerti.

Bisakah kesadaranku terus ada? Bahwa itu semua hanya rayuan semumu, untuk mengikatku.
Sesaat kau tak ada.
Rasanya ingin kusudahi semua.

Ingin kini kau yang ucapkan selamat tinggal.
Bukan aku.
Bisakah?
Kini ingin rasanya ku hilangkan semua.
Berharap hanya kenangan yang bisa kukuburkan.
Kuharapkan hanya kenangan indah.
Tapi nyatanya terus-terusan kubuat luka.
Dan dirimu....
Membuatku lagi dengan rasa bersalah yang sama.

Aku tau ini hanya dalam pikirku.
Tapi kini ku mulai mengerti mengapa setiap detik rasanya ingin kusudahi.
Tak sanggup menatap wajah mungil itu.
Bahkan hanya gambar yang kadang kau sanjungkan.

Aku tak berharap lagi kau menjadi rumahku.
Aku bukan meninggalkanmu.
Kenyataannya kau memang bukan untukku.
Dapatkah kau meninggalkanku?

Jumat, 14 September 2018

Lelah

Seberapa banyak waktu aku harus menunggu.
Sayangnya aku tak pernah lelah menunggumu.
Aku yang terlalu naifkah?
Atau memang tempatku pulang hanya dalam pelukmu?

Ketika waktu itu ku memilih pergi.
Penyesalanku masih tetap menghantuiku.
Apakah aku yang harus pergi merelakanmu?
Atau tetap menjaga perasaanku dan mengenangmu saja dalam hatiku.

Aku hanya takut.
Jika kita bertemu...
Luruh sudah apa yang kubangun.
Apakah itu juga untukmu?

Rabu, 12 September 2018

Home

Harusnya aku sadar....
Rumah itu senyaman-nyamannya tempat kembali.
Rumah itu senyaman-nyamannya tempat yang paling bisa nerima apa adanya.

Harusnya gue sadar....
Nggak akan ada tempat lain selain rumah yang bisa nyintai gue sebrengsek apapun gue.
Label pemberontak bahkan ada di diri gue, dan rumah tetap nerima gue.

Harusnya gue sadar....
Sekalipun fisik tetap di lain tempat.
Hati nggak akan pergi kemana pun.

Harusnya gue sadar....
Loe rumah buat gue, dan gue rumah buat lu.

Atau gue yang terlalu bodoh jadiin rumah persinggahan?
Atau memang rumah yang seharusnya loe tempatin?

Harusnya gue gak ninggalin rumah saat itu.
Dengan segala kehausan gue akan ilmu.
Dengan segala keegoisan gue akan diri.
Dengan segala keserakahan gue akan mimpi.

Dampaknya?
Tiga tahun gue berhasil jadi makhluk hidup gak bernyawa.
Mulai nyebat.
Logika balik lagi muncul, diiringi kesadaran....
Nggak lama. Hilang lagi kaya mayat.

Gue tau, mungkin bisa gue sikapi sekarang.
Tapi keinginan buat mengakhiri rasa sakit ini tetep ada.
Terlintas pun rasanya begitu mudah.
Mudah-mudahan hanya sekedar bayangan.
Tak ingin direalisasikan.

Kata mereka dekatkan diri saja pada Tuhan.
Bagaimana? Aku sudah lama tak berTuhan.
Atheis?
Mungkin. Tapi jauh dari itu....
Aku percaya Tuhan ada.
Aku percaya segala ceritaNya di hidupku akan selalu ada makna.

Melompat saja di terpaan angin, tapi ternyata bisa jatuh...
Aku takut. Sungguh...
Karena tak pernah ada tempat untuk pulang lagi.
Tak ada lagi canda tawa menyapaku saat mentari bersedih.
Pelukanmu yang selalu menghangatkanku.
Bahkan hanya belaian lembutmu bisa buatku terlelap dalam lelahku.

Sesederhana itu....
Bahkan sejak saat itu.
Rasanya jatuh bukan lagi alasanku untuk bersedih.
Dan kini merelakanmu lagi.... Seperti membunuhku kedua kali.

Atau belum ada pengganti?
Nyatanya sama.
Sesaat saja....
Dan kau kembali memenuhi lagi hormon endorfinku untuk bergejolak dan buat airmata ini lagi dan lagi ada.

Sayangnya.... Tak pernah ku sempatkan untuk bertukar cerita dengan siapapun.
Kamu, hanya untukku.
Bukan yang lain.
Meski kau bagian hidupku.

Selasa, 11 September 2018

Bacot gue

Aku tau g akan sama lagi.
Nyakitin kamu.
Dan aku bisa lagi dengan bebas deket sama siapa aja.

Tapi cukup kamu tau.
Cuma kamu...
Dan realitasnya begitu.

You just answer "as your wish"

"As your wish."

Selalu...
Jawaban yang kamu kasih. Entah senang atau sedih.
Yang aku tau. Kita..... Lagi nyakitin diri sendiri.

Kepikiran bgt kalo ini balas dendamku. Baru aja terlintas. Sedetik. Nahan kamu. Semauku. Hidup rasanya kaya hari esok yang g ada tapi harus tetep kita jalani.

Tapi balas dendam? Ke kamu? G pernah sedetik pun selain aku sama kamu, udah.

Kalo aku hidup sendiri. Mungkin apapun asal sama kamu aku rela.
Sebegitu butanya sayang ini ke kamu.

Maaf dengan segala egoisku.

* Abis enak-enak gue seneng. Abis itu loe gue buang. G ada sedikit pun ini ada. Tapi gue kaya bilang gitu ya?

This is just my diary, if you read this.

I just really love you.

Kalo pun entah apa yang akan kita lalui, akhirnya kita bisa sama-sama lagi. Aku g akan ngelepasin kamu lagi. Sedetikpun.

Senin, 03 September 2018

Gue lagi sensi kayanya

Entah gue yang sensi atau apa. Atau rasa humor gue mulai meluap. Tapi bacain komik yang isinya body shaming gitu agak gimana ya...

Gue gak gendut, gue kurus banget malah. Gue pengen gendut minimal berisi lah ya...
Tapi gue sadar, gue cuma perlu syukurin apa yang ada.

Loe aja sih gak pernah ngerasa gendut, itu hiburan tau'. Tapi lama-lama risih juga, padahal gak ngejek jadinya sensi. Gue yang emang cuek atau gimana ya biasa aja, mau dibilang kecil, cebol, anak SD. Loe manggil gimanapun juga gur senyum doang. Awet muda kan jadinya. Padahal umur udah mo seperempat abad aja.

Iya, balik lagi. Serius gak suka aja. Bahan humor aja buat hiburan. Tapi kalo hal kaya gitu jadi lumrah. Gue pernah nangani secara gak sengaja di tempat gue dulu jadi konselor abal-abal. Gegara model begituan yang dibilang bercanda ada yang sampe berniat bunuh diri. Emang bukan itu aja faktornya. Banyak pendukung lainnya, kaya ngerasa sendiri (gak punya temen), keluarga, pola pikir. Sedangkan yanh dibutuhkan sebenernya support.

Maybe sejak itu juga, mau gimanapun. Gue nyantai aja. Apalagi masalah kesehatan. Mau gue jogging katanya malah buat kurus, jujur g lebih buat daya tahan tubuh gue. Gue orangnya gampang capek, makan nasi merah juga gitu. Gak lebih buat kesehatan gue. Tapi orang-orang bilangnya gue diet. Lha, bukan serius. Tapi kalo dengerin kata orang emang gak akan ada abisnya.

Semenjak itu, gue gak peduli. But morality, tetep gue jaga. Suka-suka aja. Yang penting gue gak ngerugiin mereka. Kalo apa yang gue lakuin ngerugiin. Gue emang yang harus stop. Udah, simple aja.

Pride

Gue mau jujur. Loe pernah jadi segalanya. Loe pernah jadi yang pertama. Loe yang sampe sekarang selalu ada, di sini. Di hati gue. Tapi gue sadar loe bukan milik gue.

Gue tau semua ini atas dasar suka saling suka. Tapi gatau lagi butuhkah? Bahagiakah? Hanya selingan mata? Atau memang sudah lama terperangkap pake hati?

Gue tau diri. Sejak awal gue bilang. Gue gatau kapan gue capek. Kapan gue nemu lagi yang bisa nyenengin gue. Atau mungkin seseorang yang bakal sandingan sama gue ntar di pelaminan. Atau kapan gue bakal ngubur lagi dalam-dalam perasaan gue ke loe. Atau juga, ada takdir yang gak pernah kita tau.

Gue gak pernah sedikit pun ngerasa terbebani. Seriously. Sekarang, loe dengan kehidupan loe. Gue gatau. Kenapa akhirnya loe tetep lagi baliknya ke gue. Sejak loe pacaran sama yang dulu-dulu, akhir-akhirnya juga ke gue? Apa gue yang emang terlalu cinta sama loe sampe gak peduli apapun yang loe lakuin, gue terima?

Nurani gue berkali-kali bilang loe bangsat. Bajingan. Tapi matamu g pernah bohong. When we meet, we just be our self. You naked me. And you just be you.

Kalo waktu bisa diulang, apa mungkin kita bisa lebih bahagia dari sekarang? Terlepas alasan loe yang ternyata takut orang tua gue gak setuju. Kalo sekarang ya jelas gak setuju. Tapi kalo kemarin-kemarin. For our happy, i've dream everyday when we together for make our happy. No reason for my parents said no for our relationship. But, when you decide, I broke you, I choose for leave, and I regret it.

Kucing dikasih ikan mah yah jelas mau. Apalagi sama-sama cinta. Masalahnya moralnya dimana? Kok ngomongin itu lagi? Dibilang kalo gue capek, gue bakal berhenti. Dan gue yakin loe sangat maklumin itu ketika gue milih buat ninggalin loe lagi.

Do you really love me?
Do you really need me?
Do you really wanna me be with you?
Or just for fun like I think?
For now, you just 'friend with benefits'.
I need you, you need me.
I feel you, you feel me.

No more.

Sabtu, 01 September 2018

Berulang kali

Kita bertemu lagi di ruang yang sama. Aku ingin mulai menceritakan dengan cara biasa. Agar semua tau. Dan agar mereka tau.

Atau memang aku yang tak mau tau.

Tapi rasanya setiap hembusan nafasmu tak lebih hanya segenggam asa yang tak pernah ku mengerti.