Rabu, 31 Agustus 2016

R

jika memelukmu bisa tenangkan hati ini, aku ingin memelukmu setiap hari.
jika dengan menatap matamu bisa buat jantung ini berdetak karuan, seharusnya tak pernah kulepas tanganmu dariku sejak dulu.
jika belaianmu bisa buatku sebegitu nyaman, tertidur seharian dalam bahumu akan selalu jadi obatku.
namun itu semu adalah jika.

kini kau tak pantas lagi kurasa.
bahkan, ciuman terakhir kita, tak akan pernah berakhir sejak kau mengucap janji suci.
sayang...
benarkah cinta sejati itu ada?
bukan aku yang mengkhayalkannya atau berharap kau memang tercipta untukku?

beribu pelabuhan kusinggahi untuk tahu apa memang bisa kupautkan jangkarku.
namun, kau dan aku, bersatu lagi dalam kebisuan nyaman dan saling memeluk mesra.
aku tak pernah ingin buatmu menangis
tetapi nyatanya, aku selalu buatmu menangis.

aku pendosa. entah dirimu.
dia baikkah? dia mengerti dirimukah?
atau dia tahukah dengan semua kesukaan dan kebiasaanmu?
atau aku yang memang merindukan di tempatnya untuk buatkan makanan dan segala kebutuhanmu?

aku terlalu buta untuk memeluk dan melepaskanmu lagi.
aku bahkan terlalu pincang hingga tak bisa berpikir jernih.
kurelakan cinta ini tanpa harap yang pasti.
balasan dengan keindahan cinta yang kutahu....
kau dan aku akan selalu di sini.

maafkan aku wahai bunga tanpa nama yang tak pernah kukenal.
kau bukan malaikat, tapi aku juga tahu... kau hanya kau.
tanpa tahu dia akan selalu sama.
bahkan bahagiaku, cukup untuk melihat kau mengerti dia sepertiku mengerti dirinya.
bisakah?
agar kurela melepasnya...
agar kutahu, kau memang pantas untuknya.

Reup : 06 08 2016

Sabtu, 20 Agustus 2016

16 08 20

Aku bermimpi lagi tentangnya.
Bagaimana kau di surga?
Aku senang melihatmu tersenyum lagi.
Sesaat yang tetap kuanggap semenit yang dapat membuatku tenang sementara ini.
Menatap saja di jendela tanpa nama.
Menunggu orion datang bersama bulan.
Saling memandang.... Awan hanya menggantung indah bagai menari dalam orkestra teromantis dan mengharu.
Kusesapi lagi kopi yang sama. Aromanya. Pahitnya. Bersama angin yang temani. Sedikit terpaksa kupakai sweater dan jaket ini lagi.
Ah, perempuan ini. Dia menelepon lagi...
Entah apa yang terpikirkan di kepalanya. Hari ini dia bahkan menghubungiku tiga kali.
Sejenak datang, lalu hilang. Aku putuskan menjauhi telepon genggamku juga.
Tapi malam ini, setidaknya perlu kutanyakan mengapa ia menghubungiku.
Kita tak pernah bertemu lagi semenjak ia berkenalan dengan pria di kafe.
Bahkan untuk bertukar pesan sekali saja, rasanya aneh. Aku tak ingin mengganggunya. Aku juga tak ingin diganggu.
Kukirimkan pesan menanyakan kabar, tidak ada balasan. Mungkin sedang ada urusan. Seperti aku... Haha, kesehatanku tak tentu. Entah cuaca, atau pikiranku yang sedang tidak di sini, tapi cukup membuat lelah tubuh ini. Cepat lelah.
Ku sesaki ruang itu lagi dengan tangisan. Tetapi itu hanya harap. Tak ada airmata yang keluar.
Mungkin ku sedang lelah. Haha, lelah sudah bukan lagi menjadi kata sifat sepertinya.

Ia membalas. Hanya ingin saja, mengobrol denganku. Aneh. Mengapa tak mengajakku ke kafe biasanya saja. Kutanyakan keberadaannya saat ini. Oh, pantas, sedang ada di ibu kota, yang aku tahu memang di sanalah ia seharusnya.
Kabar, pekerjaan, basa basi yang kulaiukan, ia balas bertanya, yah sekalipun ada satu pertanyaan yang kuhindari. Tugas akhirku. Haha. Sekalipun aku sudah berniat menyelesaikan tahun ini, tapi tetap saja, membahas itu dengannya, bukan aku, aku tak seberapa tertarik dengan obrolan akademis pribadi.

Aku menutup diri? Oh, bukan. Aku sendiri merasa sudah cukup terbuka dengan orang-orang di sekitarku. Tapi, aku tak pernah merasa nyaman dengan mereka. Tidak suka, tidak senang? Suka dan senang-senang saja aku bercerita. Tetapi, entahlah... Atau aku memang orang yang tak mudah dipahami? Haha... Entahlah.

Percakapan singkat via pesan itu berlangsung singkat. Ia tak membalas, dan aku pun menjauhi telepon genggamku. Seperti sedang enggan saja. Dan aku memutuskan untuk masuk. Ah, selimutku, dia baikkah di sana? Aku tahu... Menatapnya lagi, hanya membuatku semakin sakit saja.

Jumat, 12 Agustus 2016

Lagi

Rasanya seperti turbulensi waktu yang mengekang.
Tiruan angin dan hujan berdinamis membentuk dimensi ke-aku-an.
Sajak ku dendangkan bersama cahaya.
Benarkah Andromeda ada di sana?

Peluk sesal tahun itu menghantui.
Hanya senyuman miris dan mendekap lutut.
Sayang.... Menatap senyumanmu bisakah tenangkan gundaku?
Atau pelukmu mampu lipurkan laraku?

Menapaki jalan ini, menatap hamparan awan.
Berbaring saja bersama rumput ilalang.
Damaikan asa...
Ingatkanku tentangnya.
Dosakah? Bahkan tanpa sadar tetesan bening menghiasi pipi.
Pualam nisan kupandangi. Namanya.
Dan aku pergi...