Aku bermimpi lagi tentangnya.
Bagaimana kau di surga?
Aku senang melihatmu tersenyum lagi.
Sesaat yang tetap kuanggap semenit yang dapat membuatku tenang sementara ini.
Menatap saja di jendela tanpa nama.
Menunggu orion datang bersama bulan.
Saling memandang.... Awan hanya menggantung indah bagai menari dalam orkestra teromantis dan mengharu.
Kusesapi lagi kopi yang sama. Aromanya. Pahitnya. Bersama angin yang temani. Sedikit terpaksa kupakai sweater dan jaket ini lagi.
Ah, perempuan ini. Dia menelepon lagi...
Entah apa yang terpikirkan di kepalanya. Hari ini dia bahkan menghubungiku tiga kali.
Sejenak datang, lalu hilang. Aku putuskan menjauhi telepon genggamku juga.
Tapi malam ini, setidaknya perlu kutanyakan mengapa ia menghubungiku.
Kita tak pernah bertemu lagi semenjak ia berkenalan dengan pria di kafe.
Bahkan untuk bertukar pesan sekali saja, rasanya aneh. Aku tak ingin mengganggunya. Aku juga tak ingin diganggu.
Kukirimkan pesan menanyakan kabar, tidak ada balasan. Mungkin sedang ada urusan. Seperti aku... Haha, kesehatanku tak tentu. Entah cuaca, atau pikiranku yang sedang tidak di sini, tapi cukup membuat lelah tubuh ini. Cepat lelah.
Ku sesaki ruang itu lagi dengan tangisan. Tetapi itu hanya harap. Tak ada airmata yang keluar.
Mungkin ku sedang lelah. Haha, lelah sudah bukan lagi menjadi kata sifat sepertinya.
Ia membalas. Hanya ingin saja, mengobrol denganku. Aneh. Mengapa tak mengajakku ke kafe biasanya saja. Kutanyakan keberadaannya saat ini. Oh, pantas, sedang ada di ibu kota, yang aku tahu memang di sanalah ia seharusnya.
Kabar, pekerjaan, basa basi yang kulaiukan, ia balas bertanya, yah sekalipun ada satu pertanyaan yang kuhindari. Tugas akhirku. Haha. Sekalipun aku sudah berniat menyelesaikan tahun ini, tapi tetap saja, membahas itu dengannya, bukan aku, aku tak seberapa tertarik dengan obrolan akademis pribadi.
Aku menutup diri? Oh, bukan. Aku sendiri merasa sudah cukup terbuka dengan orang-orang di sekitarku. Tapi, aku tak pernah merasa nyaman dengan mereka. Tidak suka, tidak senang? Suka dan senang-senang saja aku bercerita. Tetapi, entahlah... Atau aku memang orang yang tak mudah dipahami? Haha... Entahlah.
Percakapan singkat via pesan itu berlangsung singkat. Ia tak membalas, dan aku pun menjauhi telepon genggamku. Seperti sedang enggan saja. Dan aku memutuskan untuk masuk. Ah, selimutku, dia baikkah di sana? Aku tahu... Menatapnya lagi, hanya membuatku semakin sakit saja.
Bagaimana kau di surga?
Aku senang melihatmu tersenyum lagi.
Sesaat yang tetap kuanggap semenit yang dapat membuatku tenang sementara ini.
Menatap saja di jendela tanpa nama.
Menunggu orion datang bersama bulan.
Saling memandang.... Awan hanya menggantung indah bagai menari dalam orkestra teromantis dan mengharu.
Kusesapi lagi kopi yang sama. Aromanya. Pahitnya. Bersama angin yang temani. Sedikit terpaksa kupakai sweater dan jaket ini lagi.
Ah, perempuan ini. Dia menelepon lagi...
Entah apa yang terpikirkan di kepalanya. Hari ini dia bahkan menghubungiku tiga kali.
Sejenak datang, lalu hilang. Aku putuskan menjauhi telepon genggamku juga.
Tapi malam ini, setidaknya perlu kutanyakan mengapa ia menghubungiku.
Kita tak pernah bertemu lagi semenjak ia berkenalan dengan pria di kafe.
Bahkan untuk bertukar pesan sekali saja, rasanya aneh. Aku tak ingin mengganggunya. Aku juga tak ingin diganggu.
Kukirimkan pesan menanyakan kabar, tidak ada balasan. Mungkin sedang ada urusan. Seperti aku... Haha, kesehatanku tak tentu. Entah cuaca, atau pikiranku yang sedang tidak di sini, tapi cukup membuat lelah tubuh ini. Cepat lelah.
Ku sesaki ruang itu lagi dengan tangisan. Tetapi itu hanya harap. Tak ada airmata yang keluar.
Mungkin ku sedang lelah. Haha, lelah sudah bukan lagi menjadi kata sifat sepertinya.
Ia membalas. Hanya ingin saja, mengobrol denganku. Aneh. Mengapa tak mengajakku ke kafe biasanya saja. Kutanyakan keberadaannya saat ini. Oh, pantas, sedang ada di ibu kota, yang aku tahu memang di sanalah ia seharusnya.
Kabar, pekerjaan, basa basi yang kulaiukan, ia balas bertanya, yah sekalipun ada satu pertanyaan yang kuhindari. Tugas akhirku. Haha. Sekalipun aku sudah berniat menyelesaikan tahun ini, tapi tetap saja, membahas itu dengannya, bukan aku, aku tak seberapa tertarik dengan obrolan akademis pribadi.
Aku menutup diri? Oh, bukan. Aku sendiri merasa sudah cukup terbuka dengan orang-orang di sekitarku. Tapi, aku tak pernah merasa nyaman dengan mereka. Tidak suka, tidak senang? Suka dan senang-senang saja aku bercerita. Tetapi, entahlah... Atau aku memang orang yang tak mudah dipahami? Haha... Entahlah.
Percakapan singkat via pesan itu berlangsung singkat. Ia tak membalas, dan aku pun menjauhi telepon genggamku. Seperti sedang enggan saja. Dan aku memutuskan untuk masuk. Ah, selimutku, dia baikkah di sana? Aku tahu... Menatapnya lagi, hanya membuatku semakin sakit saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^