kesendirian ini banyak membuatku belajar. bagaimana langkah yang ahrusnya ku tempuh. bagaimana cara untuk melangkah lagi dari terjatuh di lubang yang sama. ternyata memang kita perlu berkaca. selama ini niatku belum lurus, niat yang harusnya ku jadikan palung untuk tempatku berpijak.
desember yang sedikit abu-abu. sendu sedih yang mungkin menjadikan kenangan itu kembali hadir. sedikit saja, hanya akan membuat tanggul ini pecah. tetapi tidak dengan tahun ini. mulai tahun ini.
seperti bunga yang lelah untuk terbang. angin ingin menerbangkannya memilih arah timur untuk selalu bersama. ataukah barat yang sedang melangkahkan kaki yang sempat melangkah jauh?
sepertinya bukan keduanya. aku bukan lagi manusia yang kemarin sore masih menitikkan hari ini dengan menelungkup manja pada selimut. I wasn't like yesterday.
maafkan aku.
seperti hari ini aku ingin lebih diam dan bersabar. bukan artinya aku memakai topeng yang baru. tetapi lebih ingin menikamti desemberku ini, dengan hari yang tanpamu. tidak lagi denganmu. kamu yang temani tujuh tahun khayalan dengan tanpa permisi.
Selasa, 24 Maret 2015
dialog ketakutan
Ketakutan apa yang kalian gambarkan padaku?
Lukisan dengan gambar hitam dengan siluet merah yang sayu?
Atau apa yang dimaksud dengan kebahagiaan yang tertunda ini?
Ini bukan ketakutan.
Ini hanya kesenduan yang tak lagi bisa terkunci di kotak pandoranya.
Ini wajar, tak mengapa.
Jangan bumbui aku dengan ketakutan-ketakutan semu.
Seperti hidup dalam kekosongan saja.
Tak ada manusia yang bisa ku temui dalam hutan yang begitu rindang.
Bulu-bulu sayapku juga mulai jtuh satu-persatu.
Rasanya menyakitkan!
Tapi ini buka ketakutan‼
Kesakitan ini bisa ku obati.
Kalian‼‼
Cukup raih tanganku. Hapus airmataku.
Bukan malah memandangku begitu!
Kalian…
Dulu kalian memujaku begitu indahnya.
Hanya sesaat.
Malaikat kecilku mana? Belahan jiwaku mana?
Sudah lenyapkah? Atau kalian yang mengambilnya?
Ketakutan ini buatku buta.
Buta bahwa kalian memang bukan untukku.
Kalian hanya bungkus kado indah yang harusnya telah lama kubuka kado itu untuk tahu siapa kalian.
Hahahahahaha……
Ingin tertawa saja aku dengan semua pandangan bodohmu.
Menatap tajam dengan semua usahaku yang kalian tertawakan.
Sudah….
Sabarkan hatiku Tuhan.
Dengan menyebut namaMu yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai seluruh alam.
Kini, aku ingin berdiri dengan kayu patah yang ada di depanku.
Yang Kau sediakan dengan segenap sayang hingga ku masih di sini.
Kini, aku ingin berlari mengejar asa yang sempat menguap bersama debu.
Mengambil setiap langkah yang Kau tunjukkan padaku.
Aku bisa ‘kan?
Terimakasih.
Aku tahu, aku tak akan pernah sendiri.
goresan kata
Tak pernah berniat untuk pergi.
Tetapi sesaat saja aku merindu lagi.
Embun yang sejuk membasahi pagi itu.
Mengingatkanku akan segenggam asa yang pernah ku jamah.
Pernahkah merasa, seandainya saja bintang tak lagi ada?
Mungkinkah guguran daun yang jatuh meninggalkan batang yang rapuh?
Seakan kasih yang menyelimuti lenyap bagaikan hujan.
Andai saja semua tak lagi sama.
Kadang mata yang terlalu indah.
Menatap semua tak sama seperti matanya.
Kadang sayap yang mengepak bebas di angkasa.
Tak mampu melepaskan kelelahan dalam jeruji sangkar.
Semu seperti lenyapkan harapan.
Kosongkan ingin dalam otak yang menderu ingin keluar.
Bersama pelangi melukis hidup dengan warna terang.
Pejamkan saja mata hingga meleburkan asa yang mengendap.
Memberi ruang kosong pada mimpi baru.
Menjelmakannya dalam kenyataan yang kadang tak sama dengan impian.
hai! benarkah hanya diam?
Hai…
Bagaimana kabar kibasan merpati di kolam itu?
Sudah lama tak ku pandangi senja yang menyenangkan.
Ketika kicauan-kicauan kecil membangunkan lamunanku.
Daun-daun yang gugur juga seperti selimuti hati yang dingin.
Begitu lama aku menghilang.
Menatapnya saja membuatku begitu sedih.
Merindukan rasa yang membuat serasa kembali.
Seperti kelibatan memori yang enggan terkunci.
Memaksa keluar dari jeruji hati.
Hai….
Apakah kini semua sudah kembali?
Kau bertanya apa itu?
Ingatan.
Ingatan tentang bagaimana alam berbicara.
Yang kadang kita membuat bahasa bisu.
Hai…..
Sadarkah apa yang kini terjadi?
Bahkan mercusuar-mercusuar yang mengumandangkan adzan enggan berbagi kisah lagi.
Mengapa?
Kita terlalu sibuk.
Hai….
Bom-bom rudal sudah memporak-porandakan ya?
Aku menangis dalam kebisuan.
Keheningan hantaman yang tak kunjung usai.
Menerpa wajah dengan hembusan angin lirih.
Sampai kapan seperti ini?
Hai…..
Tahukah kamu?
Cerita takdir ini sudah tertulis.
Sudah….
Airmata ini tak mau berhenti.
Jangan tanya mengapa!
Hati nurani ini tak mampu membendungnya.
Hai…..
Apa memang sudah hancurkah?
Apanya….?
Mereka.
Kedudukan seperti menjadi raja.
Lelah mataku melihatnya.
Bekerja keras otakku memusnahkan ketakutan.
Akan jadi apa Bumi ini nanti?
Sudahlah….
Cukup diam.
Benarkah hanya diam?
istirahatkan saja
Merpati mengepak sayapnya bersama senja.
Bunga-bunga mengiringi angin menari.
Ketenangan memonopoli kesendirian.
Menangis mengucap selamat tinggal hari ini.
Hanya hari ini…..
Untuk hari ini…..
Sadari esok akan bermandikan pelangi.
Yang bersama awan pun kan ku lukis keindahan.
Air mata yang menyesak membanjiri pipi.
Menyusuri jalan yang sepi.
Hujan rintik mulai turun.
Tutupi tangisan hati yang pilu.
Tak mengapa sayap ini mulai kesakitan.
Istirahatkan saja…..
Hati mulai berceramah kelelahan ini membuat lelah.
Istirahatkan saja…..
Yah, cukup istirahatkan saja…..
Esok bersama mentari.
Gapai melodi indah kehidupan.
Sekarang…..
Istirahatkan saja…..
Tak mengapa.
Istirahatkan saja……
Seucap do’a akan selalu ada.
Dalam jiwa-jiwa yang terlelap dalam mimpi indah.
kita tak tahu persis mengapa
Satu mata hati berdendang.
Beberapa kata terangkai menjadi untaian mutiara kalbu.
Pejamkan mata.
Merasakan kesejukan embun pagi.
Tak lama lagi mentari berselimut jingga, sejenak menyapa siluet bersama malaikat yang turun tersenyum.
Seucap do’a mengiringi langkah-langkah yang mengalun merdu.
Satu mata hati yang sendu.
Entah mata yang tak mampu terpejam.
Hati berselimut mendung.
Seakan dunia berwarna sayu dan terik mentari bagai neraka.
Do’a tak sempat terucap, tertutup makian dalam hati yang mulai berakar.
Sejenak kata-kata memenuhi kepala dengan berbagai tanya.
Berganti dengan kebisuan, semua tak lagi indah.
Terpikirkah akan semua keterbalikan?
Kita semua tak persis tahu mengapa.
Terlalu banyak tanda tanya yang kadang benang merah tak mampu ditemukan di atas meja kayu yang kosong.
Ketakutan, kekecewaan.
Kadang menutupi kesenduan akan dahaga bahagia yang terkunci di relung jiwa.
Tersesatkah?
Hingga jiwa-jiwa yang bersedih menangis pilu?
Atau karena kasih yang tak pernah terjamah di hati?
Kita semua tak persis tahu mengapa.
Beberapa makna dalam aksara.
Suguhan indah bagai untaian mutiara.
Terkalungkan menjadi kebahagiaan yang membuat semua kadang memandang berbeda.
Ini hanya masalah bagaimana memandang.
Kepiluan dan kesedihan.
Kebahagiaan dan suka cita.
Melihat apa yang kita rasa.
Merasakan apa yang kita lihat.
Layaknya para nabi yang anggun dan santun kepada para penentangnya.
Hingga semua telinga dan mata terjaga.
Sejenak nikmati alur cerita waktu yang tak terhenti.
Kicauan burung.
Harumnya mawar.
Gugurnya daun.
Helaan nafas yang keluar masuk dalam paru-paru.
Sampai pada titik langkah-langkah kaki kecil dengan tawa candanya yang membuat tersenyum.
Sedetik penat terluap dengan atmosfer yang berubah cerah.
Seakan tertidur di atas awan yang ditemani bintang-bintang.
Mata hati berdendang dan mata hati bersedih bergandengan.
Saling menguatkan.
Tak cukupkah untuk menggapai sayap merpati dan mulai terbang bersama?
Sahabat, yang ketika semua rasa menjadi satu terucap nama ‘kalian’.
Kalian dengan malaikat yang tersenyum, yang tak berpaling meskipun kebisuan memenuhi asa.
Sahabat, yang sentuhannya bagai penghancur dahaga kepiluan.
Sahabat, kita semua tak persis tahu mengapa.
Tetapi, sahabat…. cukup menjadi penopang untuk bangkit dan merangkai sayap-sayap yang mulai jatuh.
Yang meleburkan satu.
Yang melenyapkan ketiadaan.
Dalam dunia yang kita sebut kehidupan.
Bernafas dalam atmosfir yang sama.
Menjadi saksi tak teraa di belantara antara kematian dan kelahiran.
Mendekap penuh kasih bersama do’a.
Kita semua tak persis tahu mengapa.
Yakinlah, ini semua akan selalu berakhir indah.
mimpi ini
Aku pernah bermimpi…
Dengan sayap-sayap ada di punggungku untuk menggapai bintang di sana.
Aku pernah bermimpi…
Meniti asa yang sempat tertegun sejenak dengan lagu-lagu cinta.
Aku pernah bermimpi…
Pelangi bagaikan tangga yang mengiringi kabar-kabar bahagia dengan mimpi yang terajut indah.
Mimpi itu….
Menjadi nyata dengan balutan-balutan embun yang menghiasi senyum pagi.
Menemani bintang subuh menari dengan malaikat-malaikat…
Mimpi itu….
Sanggupkah melangkah lebih jauh lagi?
Ataukah aku yang terlalu lama terdiam?
Mimpi yang sempat tertutup debu.
Mimpi yang seakan pergi tak mau kembali.
Mimpi yang terangkai begitu indah.
Bahkan ambisi yang mengalahkan nurani hati.
Kini…
Mimpi ini mengalun lagi menggedor-nggedor jendelaku dengan marah.
Mimpi ini menengok malu-malu juga dengan tatapan lugunya.
Mimpi ini bagai bayi kecil…
Mimpi ini…..?
Berakhirkah dengan tanda tanya seperti semua di sekitar.
Yang kadang memang tak pernah tahu bagaimana jalannya.
Mimpi ini…
Seperti buku berdebu dengan segala serbuk ajaibnya.
Mimpi ini…
Ambisi ini….
Merangkaikan hari dengan sejuta rencana…
Bahkan milyaran warna dengan elok dan bingkai emasnya.
Mimpi ini……
Akan indah nanti….
Aku berjanji.
dream?
Seperti bayangan hitam yang selimuti waktu.
Berjalan di belakangku untuk menunggu.
Saat bintang-bintang tak lagi seperti pelangi.
Lukisan pagi cerah berubah menjadi abu-abu di bingkai sepi.
Menangis sendiri tertunduk dalam diam.
Kebisuan yang memecah sendu-sendu alam.
Apakah memang alam sedang bersedih?
Hujan yang paling merindu saja masih bisa tersenyum dengan warna-warna yang bermelodi.
Mencari ruang lapang untuk oksigen yang akan kumonopoli.
Sendiri ini cukup membuatku layaknya berada di surga.
Terlelap melewati dentangan jam yang berlalu.
Detik-detik dalam mimpi yang kosong.
Terbangun dalam pangkuan tangan lusuh menengadah.
Apa yang terjadi? Puisi-puisi dalam bait yang kutulis luruh.
Berjalan di tempat asing seperti berkelana dalam negeri dongeng antah berantah.
Bertemu dengannya seperti bertemu lagi dalam dunia mimpi.
Dulu hanya dalam khayalku…..
Adilkah dengan apa yang terlukis di bola mataku?
Dalam kotak gambar yang bergerak itu, mereka sungguh bahagia hanya dengan melangkah.
Terbalut mewah dalam raga sandang berbagai rupa.
Namun, di depanku…….?
Layaknya cerita yang biasanya hanya kudengar.
Atau memang ini kenyataan dalam luruh selimut yang membutakan?
Buta karena tak mau memandang, seakan lebih baik dari mereka.
Terlintas dalam benak saja…. Enggan.
Diamku mengisyaratkan untuk kembali.
Pulang….
Memeluk sayap yang kutinggalkan.
Menenggelamkan sesak hati.
Sendiri? Tak pernah ku sendiri.
Sayap indah membentang.
Kenangan bahagia.
Mereka yang buatku ada.
Aku terbangun dengan keringat dingin.
Ternyata mimpi….
Terlalu sesakkah sakit hingga mimpi kosong yang biasanya hadir menjadi pemandangan sendu?
Terukir jelas di otak.
Tuhan, buat mereka selalu ada.
Dalam setiap nafas yang Kau beri.
Untuk kalian….
saat hujan turun
Saat hujan turun, aku terpaku di balik jendela rumah yang mulai usang ini.
Menyaksikan tetes demi tetes air yang membasahi pertiwi.
Aku senang kala hujan turun, duduk bersila sembari mengguratkan tangankuke jendela.
Menuliskan beberapa kata yang berada di benak kepalaku,
Yang menggelayuti semenjak kepergianmu.
Tak kusangka, sosokmu yang selalu menjadi pedoman hidupku telah sirna seiring berjalannya waktu.
Andaikan aku mampu mengirimkan surat kepada-Nya,
akan kupinta tuk ulangi waktu barang sekejap saja.
tuk memohon maaf atas segala kesalahanku,
namun segalanya telah berlalu,yang ada kesedihan yang teramat mendalam di balik kalbu yang rapuh ini.
kalbu yang rindu akan belaianmu, kasih sayangmu dan cintamu padaku yang hidupkan jiwa yang antah berantah ini.
Ibu, maafkan aku yang tak pernah bisa bahagiakan engkau hingga engkau tiada mampu aku jamah kembali.
Maafkan aku anakmu, ibu.
Ibu,
aku ingin engkau kenakan gaun itu padaku.
gaun putih berenda yang amat berkilau.
sisirlah rambutku agar tak kusut.
dan ikatlah rambutku dengan pita merah muda itu.
kenakanlah pula sepatu cantik itu, ibu…
aku ingin menjadi bak putri.
karna aku akan kembali kepada-Nya.
Relakan aku, ibu.
Jangan tangisi kepergianku.
Aku tak akan pernah berpaling daripadamu ibu.
Ikhlaskan aku untuk menjadi putri di kerajaan nirwana.
sejenak saja
Seperti merindu pelangi yang hiasi awan sore ini.
Ketenangan apa yang ku tunggu?
Menjejalkan rasa yang indah membuat kakiku lelah.
Tak bisakah untuk sejenak mengambil nafas dan merubah arah mengambil salju yang cairkan asa di otakku?
Sejenak saja…
Pinta tubuh ini mengambil nafas dan duduk bersila memandang awan putih.
Atau hati yang sudah mulai sesak dengan keadaan yang semakin tak jelas?
Melihat jari-jari yang saling tuding berkata ‘dialah yang salah’.
Melihat dada-dada yang membusung bangga untuk berkata ‘akulah yang benar’.
Sesak.
Seperti merpati yang tersangkar dan tak mampu terbang.
Melihat keluar ingin kepakkan sayapnya melayang melewati awan yang tak akan pernah lelah menaungi bumi dari mentari yang terik.
Terlalu banyakkah aku berkicau?
Atau memang hati ini yang tak mau berhenti mengungkapkan rasa?
Perlahan saja….
Sejenak saja….
Merasakan ini semua….
Menjadikan realita seakan jawaban terindah pada semuak seperti mimpi yang menggantung dengan harapan.
Kata-kata ini memang tak seperti permata yang begitu anggun dan berkilau indah.
Namun, perjalanan seperti apa yang seharusnya ada?
Jika Tuhan saja member rasa yang begitu nikmat dan membuat bersyukur dengan hidup yang apa adanya.
Entah, harus berucap berapa kali terimakasih.
Tuhan tak akan pernah lelah menaungi langkah.
Tuhan tak akan pernah mengambil jalan yang salah untuk membuat mengerti.
Cukupkan saja mengerti ini semua sudah terbagi.
Menerima….
Menerima akan kehidupan.
Seperti benang merah yang dengan rela masuk dalam sela jarum yang akhirnya memberikan arti.
Untuk menjadi satu.
Dalam setiap langkah yang cukup….
Cukup untuk membuat kita berkaca.
Cukup untuk membuat kita mensyukuri semua….
seperti ilusi
Seperti ilusi-ilusi…
Halunasi menyelimuti tangisan yang terselimuti keindahan.
Keindahan semu, tapi..? akankah keindahan ini selamanya?
Merasakan di sekitar …
Luruhkan jauh ke dalam dasar…
Lembutnya sepoi angin saat senja.
Riangnya suara gereja di pagi buta.
Dan permata-permata tersenyum temani angkasa.
Seandainya semua lukisan kehidupan layaknya pelangi.
Daun yang gugur tak akan menyerukan rasa sakit yang tertahan.
Seandainya semua hiasan kehidupan seirama simponi hati.
Tetesan air mata bersimbah peluh dan debu seperti surga keindahan.
Seandainya senyuman-senyuman do’a melindungi semua.
Mungkin kerapuhan akan mengikis abu-abu kehidupan yang bertambah kelam dalam kesedihan.
amarah?
Hujan ini jatuh teruai Tuhan.
Aku cukup kedinginan.
Tak bisakah awan sejenak menapakkan kehangatan?
Tak bisakah setitik saja bulan tersenyum walau hanya sesabit memandangku?
Terperangkapkah ini?
Atau bintang sengaja bersembunyi untuk pergi?
Datar...
Pilu ini butuh perban yang mampu hentikan rasa.
Guyuran ini runtuh basahi tanah.
Otak kananku rasanya ingin berontak.
Istirahatkan....
Amarah ini istirahatkan...
Percaya...
Aku sadar hanya pada-Mu rasa ini bisa kupercayakan.
Damaikan deru ombak badai itu.
Agar ikan bisa berenang dengan tenang.
Lelapkan angin yang menderu ranting-ranting rapuh itu.
Biar lelap kupandangi hijau yang tenang bersama awan.
Biar...
Kelam ini sejenak.
Biar...
Makian ini terderap.
Biar....
Cukup kupeluk hangat itu.
Menjadi kenangan...
Cukup kenangan.
Karena cinta akan berkali-kali memaafkan.
Aku cukup kedinginan.
Tak bisakah awan sejenak menapakkan kehangatan?
Tak bisakah setitik saja bulan tersenyum walau hanya sesabit memandangku?
Terperangkapkah ini?
Atau bintang sengaja bersembunyi untuk pergi?
Datar...
Pilu ini butuh perban yang mampu hentikan rasa.
Guyuran ini runtuh basahi tanah.
Otak kananku rasanya ingin berontak.
Istirahatkan....
Amarah ini istirahatkan...
Percaya...
Aku sadar hanya pada-Mu rasa ini bisa kupercayakan.
Damaikan deru ombak badai itu.
Agar ikan bisa berenang dengan tenang.
Lelapkan angin yang menderu ranting-ranting rapuh itu.
Biar lelap kupandangi hijau yang tenang bersama awan.
Biar...
Kelam ini sejenak.
Biar...
Makian ini terderap.
Biar....
Cukup kupeluk hangat itu.
Menjadi kenangan...
Cukup kenangan.
Karena cinta akan berkali-kali memaafkan.
Minggu, 22 Maret 2015
18 januari 2015
melihat kenangan yang bergemuru di langit itu seperti mengingatkan beberapa kisah yang tersimpan entah sejak kapan dalam otak. menghilang kata orang-orang? tidak, lebih tepatnya aku telah muak dengan keadaan yang membuatku ada sekarang. yah, keeegoisanku dengan kemalasan memandang mentari muncul seketika. kemuakan yang tak pernah ku perhitungkan sebelumnya.
aku yang sudah terlanjur lelah.
spekulasi. persepsi. anggapan. peduli s**** dengan semuanya. pandangan mereka, jujur saja, aku ingin bersembunyi saja. kehilangan diriku yang dulu? iya. dan kini aku ingin mencarinya lagi. mereka? lenyap. debu datang. tapi aku terlelu enggan memulai lagi dengannya. "malam. bagaimana kabarmu?". yah, aku langsung menerima pesan itu, padahal sudah hampir dua minggu ini, handphone hanya ku pegang jika ku ingin saja. sos-med, hubunganku dengan dunia seperti terhapus. jujur, aku menikmatinya. bahkan, ingin mengakhiri dan lari, terlintas berulang-ulang dalam benak yang menyesakkan.
saya ada bukan karena kehidupan ini yang membuatku ada 'kan? karena aku memang masih ingin ada di dunia. nuraniku, "apa kamu sudah gila? kewarasanmu sudah lenyap? atau jangan-jangan kamu ingin mati? ini bukan jalan hidup yang baik." aku tahu. aku tahu itu semua. otakku tak pernah berniat masuk dalam fase 'bodoh'. karena aku memang tidak ingin.
apa yang sedang kulakukan? membuka? tidak, kenapa tak dituliskan saja di buku usangmu? hanya saja menuliskan itu semua adalah terapi, yang belum siap untuk kuhadapi. semua seperti tak berharga di matanya. yah, mata yang nanar dan mulut yang penuh dengan kepalsuan, tapi aku mencintainya. dan cinta yang tak tampak ini, membuatku terluka berkali-kali, memaafkannya, dan aku belajar untuk bisu dan tuli dengan semua.
mulai apatis? iya. dengan apa? semua. bahkan aku iri dengan mereka yang lebih bisa menikmati semua dengan asa yang dingin. aku bahkan seperti kehilangan diriku. huwaaaa... rasanya sakit sekali. tertidur dan berharap besok lebih indah. -_- apa mungkin memang aku sedang ingin mati? muak?
rasanya ingin kembali di sepuluh tahun yang lalu....
dan itu semua indah. menikmati ketika tak tahu apa-apa, hanya menikmati yang ada di depan. kata orang itu naif, iya kenaifan yang membuat semua orang enggan untuk menatap lebih jauh, dan menikmati jalan setapak, seperti kesakitan yang menikmati darah membeku, sedetik demi sedetik di setiap detiknya. ia tahu, ia akan pulang, ia tahu semua ini hanya lintasan, dan ia begitu menikmati tanpa peduli apa kata orang.
kenaifan yang kurindukan, tapi tak pernah ku jamah. ada apa denganku? entahlah, mungkin saja ini tak lebih uraian kata tentang yang kurasa. bodoh? mungkin itu cocok untukku, ipk-ku benar-benar anjlok. hha, maaf.
apa Kau sedang menghukumku?
kudengar aku bisa menentukan hidupku sendiri. menarik. kalau bisa. aku menyelesaikan semuanya, dan akan segera pergi dari tanah lahirku. menikmati semua. dan menemukan mereka. yang sempat Kau lenyapkan dari kehidupanku.
Langganan:
Postingan (Atom)