Selasa, 24 Maret 2015

kita tak tahu persis mengapa

Satu mata hati berdendang.
Beberapa kata terangkai menjadi untaian mutiara kalbu.
Pejamkan mata.
Merasakan kesejukan embun pagi.
Tak lama lagi mentari berselimut jingga, sejenak menyapa siluet bersama malaikat yang turun tersenyum.
Seucap do’a mengiringi langkah-langkah yang mengalun merdu.

Satu mata hati yang sendu.
Entah mata yang tak mampu terpejam.
Hati berselimut mendung.
Seakan dunia berwarna sayu dan terik mentari bagai neraka.
Do’a tak sempat terucap, tertutup makian dalam hati yang mulai berakar.
Sejenak kata-kata memenuhi kepala dengan berbagai tanya.
Berganti dengan kebisuan, semua tak lagi indah.

Terpikirkah akan semua keterbalikan?
Kita semua tak persis tahu mengapa.
Terlalu banyak tanda tanya yang kadang benang merah tak mampu ditemukan di atas meja kayu yang kosong.
Ketakutan, kekecewaan.
Kadang menutupi kesenduan akan dahaga bahagia yang terkunci di relung jiwa.
Tersesatkah?
Hingga jiwa-jiwa yang bersedih menangis pilu?
Atau karena kasih yang tak pernah terjamah di hati?
Kita semua tak persis tahu mengapa.

Beberapa makna dalam aksara.
Suguhan indah bagai untaian mutiara.
Terkalungkan menjadi kebahagiaan yang membuat semua kadang memandang berbeda.
Ini hanya masalah bagaimana memandang.
Kepiluan dan kesedihan.
Kebahagiaan dan suka cita.
Melihat apa yang kita rasa.
Merasakan apa yang kita lihat.
Layaknya para nabi yang anggun dan santun kepada para penentangnya.

Hingga semua telinga dan mata terjaga.
Sejenak nikmati alur cerita waktu yang tak terhenti.
Kicauan burung.
Harumnya mawar.
Gugurnya daun.
Helaan nafas yang keluar masuk dalam paru-paru.
Sampai pada titik langkah-langkah kaki kecil dengan tawa candanya yang membuat tersenyum.
Sedetik penat terluap dengan atmosfer yang berubah cerah.
Seakan tertidur di atas awan yang ditemani bintang-bintang.

Mata hati berdendang dan mata hati bersedih bergandengan.
Saling menguatkan.
Tak cukupkah untuk menggapai sayap merpati dan mulai terbang bersama?
Sahabat, yang ketika semua rasa menjadi satu terucap nama ‘kalian’.
Kalian dengan malaikat yang tersenyum, yang tak berpaling meskipun kebisuan memenuhi asa.
Sahabat, yang sentuhannya bagai penghancur dahaga kepiluan.
Sahabat, kita semua tak persis tahu mengapa.
Tetapi, sahabat…. cukup menjadi penopang untuk bangkit dan merangkai sayap-sayap yang mulai jatuh.
Yang meleburkan satu.
Yang melenyapkan ketiadaan.
Dalam dunia yang kita sebut kehidupan.
Bernafas dalam atmosfir yang sama.
Menjadi saksi tak teraa di belantara antara kematian dan kelahiran.
Mendekap penuh kasih bersama do’a.
Kita semua tak persis tahu mengapa.

Yakinlah, ini semua akan selalu berakhir indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^