Selasa, 24 Maret 2015

saat hujan turun

Saat hujan turun, aku terpaku di balik jendela rumah yang mulai usang ini.
Menyaksikan tetes demi tetes air yang membasahi pertiwi.
Aku senang kala hujan turun, duduk bersila sembari mengguratkan tangankuke jendela.
Menuliskan beberapa kata yang berada di benak kepalaku,
Yang menggelayuti semenjak kepergianmu.
Tak kusangka, sosokmu yang selalu menjadi pedoman hidupku telah sirna seiring berjalannya waktu.
Andaikan aku mampu mengirimkan surat kepada-Nya,
 akan kupinta tuk ulangi waktu barang sekejap saja.
tuk memohon maaf atas segala kesalahanku,
namun segalanya telah berlalu,yang ada kesedihan yang teramat mendalam di balik kalbu yang rapuh ini.
kalbu yang rindu akan belaianmu, kasih sayangmu dan cintamu padaku yang hidupkan jiwa yang antah berantah ini.
Ibu, maafkan aku yang tak pernah bisa bahagiakan engkau hingga engkau tiada mampu aku jamah kembali.
Maafkan aku anakmu, ibu.
Ibu,
aku ingin engkau kenakan gaun itu padaku.
gaun putih berenda yang amat berkilau.
sisirlah rambutku agar tak kusut.
dan ikatlah rambutku dengan pita merah muda itu.
kenakanlah pula sepatu cantik itu, ibu…
kecuplah keningku agar berbunga hatiku.
aku ingin menjadi bak putri.
karna aku akan kembali kepada-Nya.
Relakan aku, ibu.
Jangan tangisi kepergianku.
Aku tak akan pernah berpaling daripadamu ibu.
Ikhlaskan aku untuk menjadi putri di kerajaan nirwana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^