Senin, 29 Juli 2019

senyawa

aku membayangkan semua yang terjadi saat kita merasa semua hanya tentang usang.
kita menggali semua harta yang kita punya hanya untuk menjadi permata.
tanpa tahu kadang semua galian itu tetap menyisahkan perih yang bisa kapan saja menganga.
sejenak mungki nakan terpikir bahwa semua yang kita rasakan hanya sesaat.
tanpa mengerti selamanya bisa dengan mudah tercipta dari rasa yang begitu sejenak.
kapan semua menjadi nyata, menjadikan memeluk yang tak kasat mata menjadi begitu lebih menyenangkan.
hanya dengan memandang..
memeuk seakan menjadi harta yang cukup berharga.

pertanyaan-pertanyaanmulai menghantui dengan segala kesenjaan yang ada.
bukan lagi tentang kenyataan menyenangkan yang seakan tercipta.
cita dan asa yang seakan menyelimuti bisa dengan mudah dipatahkan dengan asa pengharpan.
kita terlalu tinggi bermimpi, hingga kadang lupa menjadi ingat tentang apa itu realita.
bukan lagi tentang cinta dan rasa. tetapi pahit yang menjadikannya semua tak lagi bernyawa membuat semua kesepatan seperti tercipta untuk dilewatkan.

hidup bukan hanya untuk sekedar persinggahan.
rasanya begitu manis untuk menyisahkan ruang getir di nadi yang dengan sejenak demi setapak mengepakkan sayapnya yang begitu bebas.
dan semua menjadi kesemutan seperti terjangkit kesakitan dan akhirnya mengingat yang harusnya lenyap.

mengepakkan sayap tak lagi sama ketika setiap asa hanya tercipta dengan getir getir rasa.
tak pernahkah kau berpikir bahwa semua tentang kia itu hanya sedikit asa?
tapi dengan mudahnya kau buang segala asa dan menggantinya dengan kekecewaan tanpa bisa dikendalikan.
entah apa yang kutuliskan ini dapat kau mengerti.

Minggu, 21 Juli 2019

Gone

Pusing ini semakin menjadi. Aku hanya berharap semoga aku tak jatuh lagi. Merasakan sesak. Dan bahkan naik turun berat badan sangat kuperhatikan untuk tetap stabil. Ah, kehilangam model apalagi ini?

Sepertinya setiap malam butuh aspirin dan paracetamol untuk meredakan ini. Atau kembali lagi diriku menjadi pecandu kopi?

Aku tak menganggap siapapun memilikiku. Cukup diriku. Dan diriku yang bahkan kau akan merasa tak mengenal ku lagi.

Aku tidak berubah. Hanya saja sikapmu yang membuatku tak lagi sama memperlakukan mu. Tak penting lagi bagiku. Tak berharga lagi dalam nuraniku.

Seburuk itu kini aku dalam mencinta. Meski harus kupendamkan rasa yang harusnya ada.
Aku mengakhirinya.
Aku menyudahinya.
Anggap saja begitu, sejak kau putuskan menghilang dari hadapanku.

Jika kau bisa anggap ku tak ada. Aku lebih bisa membalaskan rasa sakitku. Itu kebiasaan burukku. Jadi..... Bisakah kau pergi perlahan saja. Jika kau baca ini, dan tak menghubungiku, atau memang kau cukup pintar untuk memahami. Aku mundur dari hidupmu. Bahkan untuk jemari dan bayangan terkecilku.

Selasa, 05 Maret 2019

Pride... Again. Suddenly i miss you

Tiba-tiba ku merindukanmu.
Sampai detik ini pun tak terasa sedikit pun aku kehilangan rasa itu.
Cukup kita pendam.
Ku memendam.
Dan tak perlu lagi ku menemukanmu dalam kenyataanku.

Kamu tau apa yang paling menyakitkan?
Melihatmu namun tak bisa memelukmu...
Bahkan semenit rasanya ingin kupalingkan wajah ini dan berharap kita tak usah bertemu.

Kita terlalu banyak menghabiskan waktu bersama.
Hingga semua dirimu memenuhi apa yang menjadi inginku.

Merindukanmu akan menjadi hal biasa buatku.
Cukup sakit.
Tapi tak sesakit dulu.
Waktu dan keadaan membuatku perlahan merelakan hal yang mampu kulepas.
Karena memang tak akan pernah kulepas.
Aku hanya memberi ruang masing-masing.
Dimana diri kita menjadi kotak pandora yang memang akan menjadi tempat bersandar ternyaman nanti....

Pertanyaannya, sanggupkah nanti seperti ini terus? Haruskah nanti jika kita bertemu, aku berpura-pura tak mengenalmu dan tiba-tiba iblis merasukiku dan menciummu diam-diam dalam tangis kita?

Sabtu, 19 Januari 2019

Lagi....

Aku sebenarnya sudah lelah.
Tapi kenangan itu muncul lagi.
Kau yang sudah bahagia.
Kau yang memulai semuanya.
Dan aku yang membuka lebar-lebar pelukan tanganku.
Kenangan ini mulai bermuara lagi untuk digali.
Harusnya tak perlu dibuka, tapi lantunan melodi dan lirik membuat semua seakan tiba-tiba berputar dan memainkan lagi dan lagi film usang yang sama.
Apa aku masih belum mencinta seutuhnya?
Bahagiaku apakah hampa?
Tak seharusnya kan aku begini?
Tapi kenangan kita datang.
Semua yang sudah terhapus tetap saja di amigdala dan memori ini tetap ada.
Tentangku yang memintamu tetap ada.
Tentangku yang memintamu tetap singgah.
Tentangku yang dengan seenaknya meminta waktumu.
Dan sebrengseknya dirimu untuk salah di mataku.
Aku tetaplah yang paling brengsek.
Tidak ada yang tau.
Tidak ada yang perlu tau.

Tuhan mungkin sudah menistakan.
Benar, seperti yang ayah bilang.
Aku adalah wanita serendah-rendahnya.
Tak perlu harusnya aku tersinggung.
Mungkin sepatutnya air mata menetes pun aku tak punya hak.
Mengingatmu bukan menjadi penyakit.
Bukan.
Dirimu tetap menjadi kisah.
Hingga Tuhan menuliskan kisah yang sebegini indahnya, bukan untuk disesali juga.
Dia hadiah terindahku.
Sekalipun banyak ragu.
Masa depan yang tak bermuara kejelasannya.
Arti berjuang.

Dan bahagiamu.
Menjadi pemicuku untuk bahagia juga.
Jika begini. Mungkin benar....
Harusnya tak perlu kusebut nama Tuhan.
Terlalu hina mulutku menyebut namaNya.
Kunikmati semua yang bisa kunikmati.
Dalih manusiawi.
Nyatanya tak lebih memang aku yang daridulu tak tau diri.

Dan mungkin dengan inilah....
Menjauh adalah salah satu raga ternyaman.
Cukup sekenanya.
Dan mengenangmy. Di tempat itu.....
Memelukmu.
Mendekap erat tubuhmu.
Adalah yang pertama.
Tapi semua kucurahkan, ciuman hangat, mesra....
Do'akan perjuanganku bermuara untuknya.

Apakah kau baca?
Dalam rinai yang kutatap dari jendela.
Dalam hawa yang menusuk kebasahan.
Harusnya bukan begini jalan hidupku.
Di jalanan saja.
Mendekap keheningan.
Berteman kekosongan.

Aku bukan orang baik seperti anggapan orang kebanyakan.

Selasa, 08 Januari 2019

Kabarmu

Kegelisahan tak terjamah tanpa kabar darimu.
Dimana kamu?
Haruskah pikiran ini mulai berpikir tak karuan?
Bagaimana sakitku jika terjadi apa-apa padamu?
Aku tak pernah ingin memikirkan bagaimana hidupku tanpamu.
Sedetik saja satu huruf darimu sangat berarti untukku.
Beri aku kabar.