Jumat, 20 Agustus 2021

Siklus

Entah ini apakah akan menjadi siklusku yang baru. Setelah sekian waktu kurang dari 50 jam. Jebol sudah lagi. Lagi-lagi kutemukan tulisan yang menemukan dan membuatku mengingat tentang dirimu. Gambarmu yang semula sudah tersamar. Seakan jelas di depanku untuk memeluk hangat seperti waktu itu. Aku yang menangis sesenggukan hanya bisa pasrah. Dadaku sakit tak karuan. Bahkan, kualihkan semua menjadi hal tak berarti. Apa salahku? Di mana kurangku? Jelaskan padaku!


Rabu, 18 Agustus 2021

unhinged

Jebol juga rasanya setelah kutahan. Tanpa sebab tiba-tiba ku menangis ketika mendengar "hanya kamu yang kuinginkan". Bodoh banget...

Entah harus bagaimana. Melihat fotomu yang terbaru. Kenapa masih ada wajah pucat tak merona? Yang setidaknya menandakan kau baik-baik saja.

Setidaknya tidak ada penyesalan. Tidak ada yang perlu untuk kuselali. Sehingga aku bisa benar-benar melepasmu.

Iya, di mataku kini memang hanya ada dirimu.
Meski tak bertemu. Menahan rindu. Memaksa melupakanmu. Mencari sendu yang bisa membangunkanku. Di satu sisi tidak perlu ada lagi kata-kata tak penting tentang siapa pun. Hanya namamu. Namamu. Namamu. 

Senin, 16 Agustus 2021

insomnia

Jam tidurku masih sangat berantakan.
Kemarin, ku selesaikan semua dengan segala yang kubisa. Ternyata masih belum bisa memperbaiki kebiasaanku ini. Hanya 4 jam tidur. Mendekati jam 2 kurang, dan bangun di jam 6 pas.

Tertidur, di atas jam 3 sore. Tapi tidak setiap hari. Atau terbangun di jam itu. Pikiranku sering kosong. Bingung akan melakukan apa. Harus bagaimana. Tidak bisa tertahan dan menjadi orang yangs sama di satu waktu.

Aku memang masih belum peduli dengan dia. Satu lagi lelaki yang bisa jadi kujadikan suami. Setidaknya bisa membawaku segera pergi dari rumah. Yang memang setelah mas pergi. Cukup membuatku terbiasa dan nyaman. Jika pun bisa, setelah menikah tinggal dengan orang tuaku untuk mengurus semuanya.

Tapi memang lebih baik tinggal sendiri, dan sesekali saja pulang. Kepalaku mendadak sakit semalam. Tapi tak lama. Kucoba untuk membaca. Tapi gadget addictku sungguh mengganggu. Aku harus bisa mengontrol diri ini. Sudah 2 minggukah aku tak menulis? Rasanya pagi ini sedikit lega. Mulai lagi aktif untuk berolahraga. Semoga semua lebih baik.

Aku tak akan memaksa untuk melupakanmu. Dan aku pun juga tak akan membencimu. Jujur, aku juga g bisa, mas. Tapi memang, tidak ada yang indah tanpa rasa sakit. Cukup kita nikmati. Inilah yang kau bilang selesai dengan diri sendiri, kan?

Entah apakah sudah termasuk. Tetapi yang kubarap adalah saling mencinta, layaknya kita. Tapi jika tak bisa bersama apa boleh buat. 

Senin, 09 Agustus 2021

hujan oertama di bulan Agustus

Malam tadi, tetap sama. Tak mampu kupejamkan mataku jika jarum angka belum menunjukkan 1 dini hari. Kosong. Aku mengisi kosong, atau aku yang terisi kosong.
Kelelahan menjadi setitik motivasiku untuk beristirahat. Tapi nyatanya lelahku tak mampu membuatku terlelap.
Malam tadi, hujan mengguyur. Bdgitupun mataku yang tiba-tiba saja ketika masih kusuapkan sendok demi sendok makanan yang seharian belum kujamah. Tapi malah air mata dan sesenggukan yang keluar tanpa suara.

Kurenungi lagi. Sandiwarakah dirimu? Hanya untuk membalas segala ekspektasiku? Hanya untuk memenuhi janji yang sering kali kau ingkari? Dan sesekali janji kau penuhi?

Apa mungkin memang aku mencari diriku dalam dirimu? Sehingga rasanya begitu sakit ketika diriku sendiri mengabaikanku? Hanya sebatas obsesi. Bukan rasa. Yang sebenarnya tak ada rasa sedikitpun untukku. Berdamai? Tak ada yang lain? Aku yang pecemburu? Padahal hanya sekadar kata. Jika kau memang untukku, aku percaya kamu. Tapi nyatanya.....

Aku tak tahu mana yang nyata dan hanya khayalanku. Semua terlalu kau bolak-balikkan. Komunikasi tak penting. Sungguh. Aku yang sebenarnya tidak pernah mengkomunikasikan. Benar, memasukkanmu hanya untuk mengisi sendiri dan kekosonganku.

Ya, kau memang menyuruhku untuk melepasmu. Hingga aku tak tahu bagaimana caranya melepas. Hingga rasaku tak tahu bagaimana caranya melupakan.
Yang seharusnya kubiarkan saja.
Aku sungguh mati rasa dengan hal itu.
Berlalu lalang di tengah malam. Ku hanya berputar di alun-alun kota dengan mendung. Hingga turun hujan semalam. Kau tak ubahnya hanya kubayangkan menangis di pojokan. Mungkin untuk menguatkan diriku, bahwa kamu menyesal atas kepergianku yang kau paksa.

Yah, biarkan aku menyalahkanmu atas segalanya saat ini. Hingga nanti kusiap melepasmu dengan tanpa rasa. Jujur, jika kubenci. Aku tidak sedikit pun membencimu. Kubodohkan diriku. Andai aku bertemu dan memberanikan diri mengenalmu lebih dulu. Mungkin kau akan menjadi milikku seutuhnya saat ini. 

Minggu, 08 Agustus 2021

melepas

Bagaimana jika aku tidak bisa melepas?
Bagaimana jika semua tidak seperti yang diharapkan?
Bagaimana jika satu persatu bukan seperti yang diimpikan?
Bagaimana jika ternyata melepas tidak semudah seperti sebelumnya? 

Selasa, 03 Agustus 2021

Selesai

Duniaku berhenti. Berputar lebih cepat sedangkan jiwaku tetap di sana. Memandangi senagian asa yang tetap membuatku bernafas. Mati rasa.

Kau memang tak berjanji untuk tidak membuatku menangis. Kau juga tak berjanji untuk tetap tinggal. Kau juga tak pernah berjanji selalu ada. Kau hanya mengatakan, kau sayang dan cukup untuk hanya melihatku saja. Entah kau lihat darimana.

Secercah keindahan. Kurasakan lagi bungah. Memelukmu manja. Dan segala angan menikmati dirimu. Kau luluh lantakkan berhenti menjadi kepingan yang hanya bisa kudapati di kenangan.

Kau tak ada.
Kau pergi.
Kau jatuhkanku.