Rasanya ingin ku hentikan waktu.
Menenggak lagi kesepian dan mengubahnya menjadi kedamaian.
Entah berapa lama air mata ini menetes begitu saja.
Berkali-kali ku sesakkan agar berhenti.
Mengalir lagi dan lagi.
Membuat kepalaku rasanya ingin pecah.
Ketika ku menutup mata...
Ku bayangkan banyangannya ada.
Ketika ku menutup mata.
Desakan rasa sakit ini semakin menggila.
Tak cukupkah aku merasa untuk merelakan?
Dan jangan lagi kesenduan ini datang.
Kepalaku tak cukup menahan tangis yang meramu seperti benturan aspal.
Ku hembuskan nafas dan ku hirup lagi.
Berharap sedikit redakan pedam di kepala.
Nyatanya tetap tak mau hilang.
Lalu apa yang harus ku lakukan?
Jumat, 22 Desember 2017
Lalu aku harus bagaimana?
Rabu, 20 Desember 2017
Tidur
Ada banyak hal yang akhirnya membuat sakit kepala.
Dan hari ini entah yang aku pikirkan sebelumnya.
Diriku.
Aku.
Lagi....
Tidak hanya aku yang memikirkan kematian.
Bagaimana harus kuakhiri hidup.
Dan ketakutanku yang lainnya.
Kepalaku sungguh sakit.
Kutahan daritadi.
Biasanya cepat menghilang.
Tapi ini tidak.
Kau ingin tidur.
Tapi tak bisa.
Jumat, 15 Desember 2017
Kecewa? Haha. Iya. Rasanya sakit. Tapi dari ini aku cukup tau.
Ingin rasanya ku menangis sendiri.
Belum pernah rasanya ku memaki diriku yang ternyata tak pernah mau tau tentang semuanya.
Cukup tau ternyata bahkan orang tersayangmu menusuk dirimu seakan dia bukan siapa-siapa.
Cukup tau dan semua itu tak bisa seenak jidat menghindari dan membuatmu sadar kau memiliki hidup sendiri.
Ingin rasanya ku berteriak pada semua orang....
Aku pun ingin kau dengar dengan segala lelah upayaku dan apa yang harus kulakukan.
Aku pun ingin sesenggukan manja pada pelukan dan semua yang kulakukan cukup.
Bahkan sedikit saja meski tanpa ucapan, setidaknya tatapan sayang menandakan bahwa aku sudah berusaha keras.
Aku sudah sangat berterimakasih.
Bahkan tak pernah sedikitpun...
Selain kata-kata yang kini kuanggap sampah dan kau ucapkan ketika saat yang membuatku hanya memasang wajah gagu.
Bingung?
Ini sama seperti kekasih yang memohon maaf padamu, namun besoknya melakukan lagi kesalahan yang sama namun kau tetap berusaha mempertahankan yang ada.
Jika saja....
Jika saja....
Semua kejikaan itu hanya sebuah pengandaian dan aku sudah lelah untuk berlari.
Setiap hari ku belajar tau diri.
Agar semua tau bahwa ku juga sedang menanti.
Sedang berdo'a.
Cukup lelah ketika kau tau semua yang kulakukan tak sama dengan yang kukatakan.
Sangat lelah.
Memang selalu salah mengharapkan sesuatu apapun pada mahkluk bernama manusia.
Cukuplah ku berharap pada Tuhanku dan diriku.
Tak pernah ada setitik pun aku pun berharap dimengerti sehari saja.
Setidaknya kalian menghormati setiap keputusanku...
Aku sudah sangat berterimakasih.
Minggu, 10 Desember 2017
Lagi...
Memandang semu nan jauh bukan kebiasaanku.
Tapi perlahan kau mengajariku sewindu ini.
Mengelap kehampaan yang harusnya telah berpulang.
Nyatanya hanya sebagian yang mengerti perbedaan ketulusan dan keangkuhan.
Aku bukanlah makhluk suci.
Tak berparas apik.
Hanya mengagumi dan mensyukuri sebagaimana aku bisa.
Kamis, 07 Desember 2017
Hujan ini lagi
Pernahkah kau berdo'a agar diajari bagaimana harusnya bersikap secukupnya?
Dan sambil memohon di guyuran hujan tadi....
Jika memang sebenarnya salah satu berencana untuk berpisah.
Sampai berdarah berjuang tak akan pernah bersatu.
Pernahkah kau berdo'a untuk seseorang yang berharga dalam hidupmu agar cepat menyadari bahwa semua yang terjadi memang harusnya begini?
Dan memintanya tak pernah lagi menyebut namamu.
Pernah?
Jauh dari perasaan tentang mencintai.
Kuungkapkan rasa terimakasihku yang kusebut syukur agar senantiasa aku tidak lupa.
Bahwa Tuhan selalu di samping manusia-manusia yang mempercayaiNya.
Hujan ini lagi....
Menjadi lebih dingin ketika berhenti.
Dalam keremangan menuliskan sesuka hati.
Memeluk cangkir kopi yang mulai dingin.
Lelap pun rasanya ingin terasa lagi.
Hujan....
Jangan sebut dirimu hujan.
Ketika kubuka mata karenamu.
Ternyata kau tak lagi di sampingku.
Hanya ruang kosong bersama udara hampa.
Sadarkah hujan ini mengingatkanku lagi?
Membangunkanku lagi dari mimpi burukku.
Tentangmu....
Bahwa kau masih di sisiku.
Jumat, 01 Desember 2017
Aku lagi
Bertemu dengan macam-macam orang sepertinya menjadi takdirku.
Banyak rencana yang tak sesuai dengan perkiraan awal pun sangat sering mengujiku.
Berkali-kali terkhianati juga seperti selalu menjadi pelajaran bagiku.
Terjatuh, sendiri, dan yang kutemukan mereka lagi.
Tertatih, dan dengan senyumnya waktu membuatku bertemu dengan kekasih terbaik yang tak pernah tertulis namanya dalam hidupku.
Mereka yang tak pernah lelah mendengar segala omong kosongku.
Dan aku sadar sekali lagi....
Bahwa takdir semua pencarianku seharusnya sudah terhenti.
Dan kuputuskan dalam hati.
Aku ingin hidup dengan mereka.
Jaga mereka.
Yang sering kulupakan.
Keluarga yang tak pernah terdaftar.
Saudara yang tak pernah sedarah.
Tuhan lagi-lagi memelukku dengan caranya.
Tuhan yang selalu kuyakini dalam hati.
Tuhan yang selalu kuyakini dalam darah yang mengalir.
Tuhan yang kini selalu ku berdo'a dalam sujud tak teraturku.
Dan TUHAN yang mulai sering kusapa dalam tangisku.
Aku memang makhluk berTuhan.
Aku sadar aku hanya manusia angkuh yang lemah.
Bersembunyi di balik kesombongan asa.
Dan selalu menjadi pelupa dengan segala alasannya.
Lupa bahwa memang semua karena-Nya.
Lupa bahwa usaha ini akan berarti bersama banyak hal yang terestui oleh-Nya.
Lupa bahwa seharusnya tidak berharap pada manusia.
Dan sering lupa bahwa Dia melihat dengan cara-Nya.
Aku bukan orang yang gila dengan segala doktrin tentang hal agamis.
Bukan karena tak ingin taat.
Mengkotak-kotakkan diri bukan hal yang selama ini kuanggap benar.
Moral dan empati yang tergerus begitu saja dengan alasan tak berdasar.
Merasa sangat manusia ketika (maaf) tak ada daya berguna bagi sesama.
Akupun masih belum sepenuhnya benar.
Akupun masih dengan segala hitam dan busuknya.
Toleransi adalah hal yang pernah kuteguk madunya.
Menatap sedih dengan segala yang terjadi.
Cukup buatku sadar.
Aku harus berdiri sendiri dengan hal yang kuyakini.
Dan Tuhanku...
Biarkan menilai dengan cara-Nya.
Aku percaya Tuhanku yang membuatku masih bernafas...
Menerkakan apa yang kulihat.
Menuntun yang kupikirkan.
Dan meneduhkanku dengan hal yang sering kulupa.
Aku selalu bersamanya, meski raga dan jiwaku berbelang-belang penuh hitam dengan segala ketidaksadarannya.