Bertemu dengan macam-macam orang sepertinya menjadi takdirku.
Banyak rencana yang tak sesuai dengan perkiraan awal pun sangat sering mengujiku.
Berkali-kali terkhianati juga seperti selalu menjadi pelajaran bagiku.
Terjatuh, sendiri, dan yang kutemukan mereka lagi.
Tertatih, dan dengan senyumnya waktu membuatku bertemu dengan kekasih terbaik yang tak pernah tertulis namanya dalam hidupku.
Mereka yang tak pernah lelah mendengar segala omong kosongku.
Dan aku sadar sekali lagi....
Bahwa takdir semua pencarianku seharusnya sudah terhenti.
Dan kuputuskan dalam hati.
Aku ingin hidup dengan mereka.
Jaga mereka.
Yang sering kulupakan.
Keluarga yang tak pernah terdaftar.
Saudara yang tak pernah sedarah.
Tuhan lagi-lagi memelukku dengan caranya.
Tuhan yang selalu kuyakini dalam hati.
Tuhan yang selalu kuyakini dalam darah yang mengalir.
Tuhan yang kini selalu ku berdo'a dalam sujud tak teraturku.
Dan TUHAN yang mulai sering kusapa dalam tangisku.
Aku memang makhluk berTuhan.
Aku sadar aku hanya manusia angkuh yang lemah.
Bersembunyi di balik kesombongan asa.
Dan selalu menjadi pelupa dengan segala alasannya.
Lupa bahwa memang semua karena-Nya.
Lupa bahwa usaha ini akan berarti bersama banyak hal yang terestui oleh-Nya.
Lupa bahwa seharusnya tidak berharap pada manusia.
Dan sering lupa bahwa Dia melihat dengan cara-Nya.
Aku bukan orang yang gila dengan segala doktrin tentang hal agamis.
Bukan karena tak ingin taat.
Mengkotak-kotakkan diri bukan hal yang selama ini kuanggap benar.
Moral dan empati yang tergerus begitu saja dengan alasan tak berdasar.
Merasa sangat manusia ketika (maaf) tak ada daya berguna bagi sesama.
Akupun masih belum sepenuhnya benar.
Akupun masih dengan segala hitam dan busuknya.
Toleransi adalah hal yang pernah kuteguk madunya.
Menatap sedih dengan segala yang terjadi.
Cukup buatku sadar.
Aku harus berdiri sendiri dengan hal yang kuyakini.
Dan Tuhanku...
Biarkan menilai dengan cara-Nya.
Aku percaya Tuhanku yang membuatku masih bernafas...
Menerkakan apa yang kulihat.
Menuntun yang kupikirkan.
Dan meneduhkanku dengan hal yang sering kulupa.
Aku selalu bersamanya, meski raga dan jiwaku berbelang-belang penuh hitam dengan segala ketidaksadarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^