Sabtu, 19 Desember 2020

Aku - 27 tahun

Dunia selalu mengajarkanku tentang rasa sakit. Kemudian rasa bahagia. Tak lama kecewa, dan kemudian kenikmatan untuk menikmatinya dengan syukur. Jika dunia selalu begini, prinsip hidupku tidak akan berubah. Akan selalu ada kebahagiaan pada ujung kesabaran. Baik kesabaran pada porsinya masing-masing tentunya.

Aku cukup belajar beberapa tahun ini betapa mudahnya kita untuk bahagia. Bahagiaku adalah melepas lelahku bersama kucing-kucingku. Jika ditambah dengan penyemangat hari untuk mendampingi hidup, mungkin bisa jadi lebih berwarna. Usiaku sudah berkurang satu tahun. 27 tahun. Tak mengira masih bisa menghirup oksigen dengan baik.

Semalam ku menangis tak bisa berhenti. Membayangkan hal yang melipur lelahku tak ada. Jujur, ingin aku kembali ke psikolog untuk masalah mentalku. Berpikir lagi, memang sepertinya aku tak butuh untuk mengambil profesi. Kuliah yang sebenarnya sama-sama mengasyikkan, karena ku sadari orang ambivert sepertiku cukup unik untuk dapat merasa bersemangat sesuai dengan moodku.

Di tulisanku kali ini aku ingin membahas tentang aku. Dan tentunya memulai lagi untuk membulatkan niat menulis buku yang tertunda. Entah sudah berapa draft yang berhenti belum sepuluh halaman. Aku tidak cukup serius memang. Cita-citaku menjadi penulis pupus, ketika sudah cukup rasa yang membuatku patah semangat beberapa tahun lalu. Hampir 10 tahun lalu. Aku terombang-ambing, tanpa ada yang peduli. Merasa asing seorang diri. Menjadi pembohonh ulung. Entah aku menjadi siapa saja. Aku mantan penderita depresi. Yang masih kuingat, penyakit mentl ini bisa menemani siapa saja. Mencoba mengakhiri hidup berkali-kali, meski tidak sampai hati mengingat entah siapa yang bisa kuperjuangkan. Yang masih menginginkan hidupku. Hingga akhirnya pada detik ini aku mash belajar megendalikan pikiranku agar tidak berpikir untuk lebih baik mati.

Sampai detik ini aku masih saja mudah mengerluarkan air mata berkat hormon menstruasiku yang sudah dekat. PMS. Aku mudah menangis, merasa tersinggung, lelah, dan sakit kepala yang kadang cukup ringan tapi dengan obat saja tak mempan.

Aku berpikir lagi untuk apa aku hidup. Dulu hidup dengan memberontak rasanya begitu bebas. Begitu lepas. Hingga kesadaran membuatku bungkam. Ada diriku, dan orang-orang di sekitarku yang butuh untuk dibahagiakan agar dapat hidup normal seperti orang pada umumnya. Mulai berhenti berpikir berbeda, yang akhirnya membuat diriku seperti hilang sebagian.

Aku cukup lelah untuk memahami keadaan. Aku cukup lelah untuk memahami. Apa salah aku ingin dipahami cukup lama hingga aku merasa cukup untuk dapat berdiri sendiri? Entah aku termasuk wanita yang seperti apa. Tapi aku manusia yang penuh dengan dosa. Yang dengan santainya masih dengan mudah menutupi rasa dan bertanya apa gunanya hidup ini. Apa yang bisa kulakukan? Nyatanya hanya seonggok tubuh dengan jiwa yang kadang perasaannya tak dapat kukendalikan.

Jika aku menulis buku dengan kisahku, apakah aku mampu?

Kamis, 26 November 2020

Tuhan, aku lelah.....

Beberapa hari ini aku sungguh kelelahan. Semua terasa salah. Bahkan untuk bertahan. Rasanya begitu berat.

Tuhan.... 
KataMu mengingatMu bisa membuat tenang? 
Bisa membuat lebih jernih? 
Tuhan.... 
Kini aku ingin kau bersihkan sejenak kepalaku agar lebih bids menjalani hari dengan baik.
Bisakah?

Kamis, 04 Juni 2020

Penenang

Aku memasuki pintu itu. Dengan melangkah mantap, kusunggingkan senyumku pada dunia. 
Aku yakin bisa melewatinya. Kau ulurkan tangan seraya menyambutku dengan senyuman sendu. Aku tahu, senyuman ini hanyalah topeng belaka.
Kududuk seakan itu rumahku. Melihat bagaimana rupa dindingnya. Atapnya. Bahkan debu dan sarang laba-laba yang kucari di setiap sudut ruangan. Dinding berwarna hijau dengan semu kekuningan menjadi cat seakan wallpaper usang karena bocor. Atap dengan lampu kuning maram yang sangat kontras dengan ruangan dapur yang terlihat dari ruangan itu. Kursi yang dengan cantik berwarna nude seperti sengaja dibuat begitu nyaman dengan lengan yang empuk.
Ruangan ini cukup luas untuk berleha. Hanya ada satu kursi nyaman itu dan meja dengan buku-buku yang menumpuk di penyangganya. 
Setengah jam hanya diam, aku putuskan mengambil buku di tumpukan meja. Judul yang sangat jarang kutemui. 'A words of Anger'. Belum sempat kubuka, kau mengajak aku masuk ke ruangan tempat kita harusnya bekerja.

Yah, aku dan kamu tak lebih partner sebagai penenang. Penenang di kala kebuntuan hidup  hari yang penuh dengan realitas yang harus kita temui setiap hari. Penenang. Aku menyebutnya begitu. Entah denganmu. 

Kita bekerja seperti bagaimana orang bekerja. Membuka laptop masing-masing dan menempatkan diri pada dunia yang harus kita selami. Dunia imaji dengan khayalnya masing-masing. Tapi bukan begitu alur dari kisah kita. 

Minggu, 12 April 2020

12 April

Kau tau hari ini aku kesakitan?
Airmata tak bisa berhenti menetes. 
Mungkin kau belum tau kebiasaanku yang satu ini. 
Seperti saat pertama kau menghubungiku. 
Setelah tanpa kabar, kau bilang kita diamkan dulu suasana. 
Betapa lega hati ini. 
Tanpa kata kau pergi. 
Tapi rasanya masih sama. 
Ingin ku berkata maaf. 
Mungkin untuk melegakan hatiku. 
Bisakah kau tau kuingin berbicara berdua? 

Jika kau berkata kita selesai. 
Inginku berkata tidak. 
Tapi hidup yang kuhancurkan akan lebih banyak. 
Maaf... 
Maaf. 

Sabtu, 29 Februari 2020

Arah?

Pertama kali bertemu denganmu aku tau rasa itu ada. Kutahan sekuat tenaga agar aku biasa saja. Nyatanya hati tak bisa. Bukan maksudku menghilangkan arah yang hilang. Kadang sedetik saja inginku gapai tanganmu dan kugenggam. Agar tak lagi lepas. Agar rasaku segera berbalas. 

Namun hari tinggal menjadi jam.
Jam berganti menjadi menit. 
Dan menit menjadi detik-detik aku mengkhayalkanmu menjadi milikku.

Hingga relung ini telah terukir namamu.
Namun kau memilih pergi.
Rasa luka yang kupendam dengan namamu ada di sana, masih terasa dan menyisahkan lara.....