Dunia selalu mengajarkanku tentang rasa sakit. Kemudian rasa bahagia. Tak lama kecewa, dan kemudian kenikmatan untuk menikmatinya dengan syukur. Jika dunia selalu begini, prinsip hidupku tidak akan berubah. Akan selalu ada kebahagiaan pada ujung kesabaran. Baik kesabaran pada porsinya masing-masing tentunya.
Aku cukup belajar beberapa tahun ini betapa mudahnya kita untuk bahagia. Bahagiaku adalah melepas lelahku bersama kucing-kucingku. Jika ditambah dengan penyemangat hari untuk mendampingi hidup, mungkin bisa jadi lebih berwarna. Usiaku sudah berkurang satu tahun. 27 tahun. Tak mengira masih bisa menghirup oksigen dengan baik.
Semalam ku menangis tak bisa berhenti. Membayangkan hal yang melipur lelahku tak ada. Jujur, ingin aku kembali ke psikolog untuk masalah mentalku. Berpikir lagi, memang sepertinya aku tak butuh untuk mengambil profesi. Kuliah yang sebenarnya sama-sama mengasyikkan, karena ku sadari orang ambivert sepertiku cukup unik untuk dapat merasa bersemangat sesuai dengan moodku.
Di tulisanku kali ini aku ingin membahas tentang aku. Dan tentunya memulai lagi untuk membulatkan niat menulis buku yang tertunda. Entah sudah berapa draft yang berhenti belum sepuluh halaman. Aku tidak cukup serius memang. Cita-citaku menjadi penulis pupus, ketika sudah cukup rasa yang membuatku patah semangat beberapa tahun lalu. Hampir 10 tahun lalu. Aku terombang-ambing, tanpa ada yang peduli. Merasa asing seorang diri. Menjadi pembohonh ulung. Entah aku menjadi siapa saja. Aku mantan penderita depresi. Yang masih kuingat, penyakit mentl ini bisa menemani siapa saja. Mencoba mengakhiri hidup berkali-kali, meski tidak sampai hati mengingat entah siapa yang bisa kuperjuangkan. Yang masih menginginkan hidupku. Hingga akhirnya pada detik ini aku mash belajar megendalikan pikiranku agar tidak berpikir untuk lebih baik mati.
Sampai detik ini aku masih saja mudah mengerluarkan air mata berkat hormon menstruasiku yang sudah dekat. PMS. Aku mudah menangis, merasa tersinggung, lelah, dan sakit kepala yang kadang cukup ringan tapi dengan obat saja tak mempan.
Aku berpikir lagi untuk apa aku hidup. Dulu hidup dengan memberontak rasanya begitu bebas. Begitu lepas. Hingga kesadaran membuatku bungkam. Ada diriku, dan orang-orang di sekitarku yang butuh untuk dibahagiakan agar dapat hidup normal seperti orang pada umumnya. Mulai berhenti berpikir berbeda, yang akhirnya membuat diriku seperti hilang sebagian.
Aku cukup lelah untuk memahami keadaan. Aku cukup lelah untuk memahami. Apa salah aku ingin dipahami cukup lama hingga aku merasa cukup untuk dapat berdiri sendiri? Entah aku termasuk wanita yang seperti apa. Tapi aku manusia yang penuh dengan dosa. Yang dengan santainya masih dengan mudah menutupi rasa dan bertanya apa gunanya hidup ini. Apa yang bisa kulakukan? Nyatanya hanya seonggok tubuh dengan jiwa yang kadang perasaannya tak dapat kukendalikan.
Jika aku menulis buku dengan kisahku, apakah aku mampu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^