Selasa, 24 Maret 2015

dialog ketakutan

Ketakutan apa yang kalian gambarkan padaku?
Lukisan dengan gambar hitam dengan siluet merah yang sayu?
Atau apa yang dimaksud dengan kebahagiaan yang tertunda ini?
Ini bukan ketakutan.
Ini hanya kesenduan yang tak lagi bisa terkunci di kotak pandoranya.
Ini wajar, tak mengapa.
Jangan bumbui aku dengan ketakutan-ketakutan semu.

Seperti hidup dalam kekosongan saja.
Tak ada manusia yang bisa ku temui dalam hutan yang begitu rindang.
Bulu-bulu sayapku juga mulai jtuh satu-persatu.
Rasanya menyakitkan!
Tapi ini buka ketakutan
Kesakitan ini bisa ku obati.

Kalian‼‼
Cukup raih tanganku. Hapus airmataku.
Bukan malah memandangku begitu!
Kalian…
Dulu kalian memujaku begitu indahnya.
Hanya sesaat.
Malaikat kecilku mana? Belahan jiwaku mana?
Sudah lenyapkah? Atau kalian yang mengambilnya?

Ketakutan ini buatku buta.
Buta bahwa kalian memang bukan untukku.
Kalian hanya bungkus kado indah yang harusnya telah lama kubuka kado itu untuk tahu siapa kalian.
Hahahahahaha……
Ingin tertawa saja aku dengan semua pandangan bodohmu.
Menatap tajam dengan semua usahaku yang kalian tertawakan.

Sudah….
Sabarkan hatiku Tuhan.
Dengan menyebut namaMu yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai seluruh alam.
Kini, aku ingin berdiri dengan kayu patah yang ada di depanku.
Yang Kau sediakan dengan segenap sayang hingga ku masih di sini.
Kini, aku ingin berlari mengejar asa yang sempat menguap bersama debu.
Mengambil setiap langkah yang Kau tunjukkan padaku.
Aku bisa ‘kan?
Terimakasih.
Aku tahu, aku tak akan pernah sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^