melihat kenangan yang bergemuru di langit itu seperti mengingatkan beberapa kisah yang tersimpan entah sejak kapan dalam otak. menghilang kata orang-orang? tidak, lebih tepatnya aku telah muak dengan keadaan yang membuatku ada sekarang. yah, keeegoisanku dengan kemalasan memandang mentari muncul seketika. kemuakan yang tak pernah ku perhitungkan sebelumnya.
aku yang sudah terlanjur lelah.
spekulasi. persepsi. anggapan. peduli s**** dengan semuanya. pandangan mereka, jujur saja, aku ingin bersembunyi saja. kehilangan diriku yang dulu? iya. dan kini aku ingin mencarinya lagi. mereka? lenyap. debu datang. tapi aku terlelu enggan memulai lagi dengannya. "malam. bagaimana kabarmu?". yah, aku langsung menerima pesan itu, padahal sudah hampir dua minggu ini, handphone hanya ku pegang jika ku ingin saja. sos-med, hubunganku dengan dunia seperti terhapus. jujur, aku menikmatinya. bahkan, ingin mengakhiri dan lari, terlintas berulang-ulang dalam benak yang menyesakkan.
saya ada bukan karena kehidupan ini yang membuatku ada 'kan? karena aku memang masih ingin ada di dunia. nuraniku, "apa kamu sudah gila? kewarasanmu sudah lenyap? atau jangan-jangan kamu ingin mati? ini bukan jalan hidup yang baik." aku tahu. aku tahu itu semua. otakku tak pernah berniat masuk dalam fase 'bodoh'. karena aku memang tidak ingin.
apa yang sedang kulakukan? membuka? tidak, kenapa tak dituliskan saja di buku usangmu? hanya saja menuliskan itu semua adalah terapi, yang belum siap untuk kuhadapi. semua seperti tak berharga di matanya. yah, mata yang nanar dan mulut yang penuh dengan kepalsuan, tapi aku mencintainya. dan cinta yang tak tampak ini, membuatku terluka berkali-kali, memaafkannya, dan aku belajar untuk bisu dan tuli dengan semua.
mulai apatis? iya. dengan apa? semua. bahkan aku iri dengan mereka yang lebih bisa menikmati semua dengan asa yang dingin. aku bahkan seperti kehilangan diriku. huwaaaa... rasanya sakit sekali. tertidur dan berharap besok lebih indah. -_- apa mungkin memang aku sedang ingin mati? muak?
rasanya ingin kembali di sepuluh tahun yang lalu....
dan itu semua indah. menikmati ketika tak tahu apa-apa, hanya menikmati yang ada di depan. kata orang itu naif, iya kenaifan yang membuat semua orang enggan untuk menatap lebih jauh, dan menikmati jalan setapak, seperti kesakitan yang menikmati darah membeku, sedetik demi sedetik di setiap detiknya. ia tahu, ia akan pulang, ia tahu semua ini hanya lintasan, dan ia begitu menikmati tanpa peduli apa kata orang.
kenaifan yang kurindukan, tapi tak pernah ku jamah. ada apa denganku? entahlah, mungkin saja ini tak lebih uraian kata tentang yang kurasa. bodoh? mungkin itu cocok untukku, ipk-ku benar-benar anjlok. hha, maaf.
apa Kau sedang menghukumku?
kudengar aku bisa menentukan hidupku sendiri. menarik. kalau bisa. aku menyelesaikan semuanya, dan akan segera pergi dari tanah lahirku. menikmati semua. dan menemukan mereka. yang sempat Kau lenyapkan dari kehidupanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^