Selasa, 29 Juni 2021

Pernah

Aku pernah mencintaimu.
Menganggapmu rumah.
Menyerahkan segalanya.
Bahkan berani bermimpi setelah seputus asanya aku bermimpi.
Tetapi logika ini memilih pergi.
Dan kau dengan bajingannya pergi seolah aku yang bersalah.
Menghilang seakan kau memiliki segalanya.

Lupakan...
Itu sudah tidak penting.

Lelaki lainnya...
Aku bersamanya sewindu.
Berkali-kali dia mengkhianati pun tetap kubukakan pintu sembari menunggu ia memelukku sambil menangis.
Alih-alih ia menyesal karena mendua hingga memadu dengan yang lainnya.

Aku tau aku yang terlalu bodoh.

Hingga semua yang kutunggu hanya sekedar penantian.
Seperti menunggu kematian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^