Kita bertemu di dunia berbeda.
Mencoba bersatu dengan hiasan sedih dan suka.
Semua seakan pergi dan datang dalam waktu yang sama.
Hari berganti, detak jantung tetap berpacu di simfoni pelita.
Tak bisa kupejamkan mata.
Luapan rasa tak bernama mengulum hati ini bulat-bulat.
Perihku kupeluk saja.
Senduku kunikmati semua.
Tangisku tetap tertahan di ujung lidah.
Perasaan yang mulai hidup perlahan mati lagi dengan semua bahasa yang terjamah.
Pernah pintaku untuk merengkuhmu sejenak.
Pernah mauku untuk memilikimu sekejap.
Pernah airmataku kau usap dan terlepas.
Pernah kau teteskan sendumu berharap mati dan lenyap.
Bukan piluku kuumbar untuk simpati.
Bukan sedihku kuungkap untuk mengerti.
Bukan syahduku kunyanyikan untuk teresapi.
Bukan sakitku kuceritakan untuk mengharap belas kasih.
Bagai opera drama yang kubuat sedih.
Memilih tuk tetap terjaga di lubuk hati yang terpatri.
Pohon gaharu seperti melantunkan rindu.
Harum aroma kayu tenangkan hati bersama memelukmu.
Bawa pergi saja hati ini...
Kuliti saja perasaan yang teresapi dan mulai mati.
Kubur saja dengan nisan berharap tanah lapukkan rasa.
Perlahan seperti menanti dan akhirnya hilang tak terasa.
Deburan ombak saat itu kunikmati...
Sambil memelukmu dalam wangi tembakau khas dari desah nafasmu.
Luapan kasih ini ingin milikimu yang terjerat waktu.
Kau tak usah mengerti.
Cukup aku dalam genggamanmu, sampai aku mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^