Jumat, 10 November 2017

Senjaku hari ini

Mengenal seseorang bukan hanya sekedar nama.
Lalu baik keluarganya dan juga materinya.
Tidak juga hanya sekedar bukti ala kadarnya dengan segala alasan yang metafora.
Senjaku kini....
Mengajarkanku hal itu.

Memeluk orang juga tak seindahnya bahwa kusuka dia.
Dan hanya dia yang ada.
Tapi lebih pada kubutuh dia, karena tanpanya apa yang jadi pinta hanya sekedar kata.
Atau mungkin... Kubutuh dia, karena tanpanya nyamanku terusik gelisah.
Resahku meraja prasangka.
Karena itu, aku butuh dia tuk tenangkanku. Kuingin memeluknya.

Sedihku...
Tak banyak pasangan yang kukenal memaknai percaya dan saling mengerti sebagai dasar.
Atau memang ada kata lain yang membuat hubungan mereka tetap bersama?
Atau sebenarnya hati sudah lama ingin berpisah tapi tak cukup kuat karena semua terlanjur sudah kuberi semua?
Atau mungkin.... karena sendu menyelimuti karena dengannya lebih baik daripada kesendirian menyertai?
Pikirku masih dangkal dengan pikiran seputar itu saja.
Atau memang aku yang terlalu dalam memikirkan hal yang semestinya tak perlu dipikirkan dan tinggal dijalani?

Senjaku hari ini....
Membuatku tersenyum sinis.
Ketika sadar bahwa hidup hanya sekali.
Ketika sadar seyogyanya mencintai harusnya juga hanya sekali.
Ketika sadar memiliki seseorang dengan kesempatan kedua juga sekali, bahkan kadang tidak perlu ada kesempatan lain.
Hanya sekali saja.

Senjaku hari ini....
Membuatku mengingat bagaimana senjaku tiap pulang di atas jalan itu.
Memeluk bumi yang mulai tenggelam.
Menggenggam sendu yang mulai menari.

Senjaku hari ini....
Membuatku ingin memeluk sahabatku yang jauh di sana dan mengangis sepuasnya.

Senjaku hari ini....
Membuatku mengingat betapa hidup memang seperti ketakutan akan kehilangan.
Kehilangan menjadi yang lain.
Kehilangan bahwa rasa manusianya tidak ada lagi yang peduli.
Ketakutan lagi dengan segenggam rindu yang meronta ingin terbang tapi tak tahu dimana sarangnya berada.

Senjaku hari ini....
Mengajari bahwa Tuhan selalu mengelusmu dengan senyum manisnya.
Menyapamu dengan segenap rindumu padaNya.
Dan ketika kau sadari...
Tuhan begitu dekat hingga hina dan caci maki kau ucapkan pada dirimu sendiri yang selalu lupa padaNya.
Dan Tuhan dengan indahnya menuntunmu perlahan bersama senjaNya, bahwa sudah saatnya pulang bersamaNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^