Minggu, 21 Oktober 2018

Harusnya tak perlu dicari

Melewati reruntuhan memang tak seharusnya diiringi dengan harapan untuk tetap hidup.
Hanya bertahan agar nafas tidak terhenti saja harusnya sudah cukup.
Tapi yang kulakukan justru sebaliknya.
Harapan yang ingin terus selamat.
Dan angan-angan lainnya jika nanti berhasil melewati reruntuhan.

Dia menggenggam tanganku pada awalnya.
Dengan segala rasa yang ada.
Tak lebih dari ingin menjaga.
Pemakluman dengan segala atributnya dalam hubungan persahabata.
Rasa itu teramini dengan segala rsa yang tak pernah berubah.
Atau lebih tepatnya, menikmati dengan tembok yang tak sengaja terbangun lebih kokoh untuk bahagianya masing-masing.

Aku masih ragu untuk menyatakan kau takdirku.
Dengan segala rasa sakit reruntuhan.
Aku lebih memilih melihatmu untuk bisa menjadi milikku seutuhnya.
Sekarang.....
Kau belum menjadi milikku.
Sedangkan ku?
Entah apakah memang sudah kuberikan hatiku??

Kututup semua hati.
Berjalan menjauhi segala labuh dalam kerinduan diri.
Mereka yang sempat menyapa....
Kuberi senyum saja, sambil dalam genggamanku ku peluk jemarimu erat.

Cukup erat.
Dan kaupun juga.
Satu hal yang sama-sama tak bisa kita toleransi hanya satu.
Membuka dan memberi hati pada orang lain selain aku dan kamu.
Kesepakatan yang sebelumnya hanya menjadi saksi bisu ceritaku yang mengajarkan ketulusan dan keikhlasan.
Atau dengan kata lainnya, kebohongan yang seribu kali terjadi dan membuatku menahan tangis untuk selalu menerima.

Kita seakan berjanji untuk menghabiskan sisa hidup bersama.
Memelukku erat dengan cara yang buat agar aku dan kau menjadi rasa.
Meleburkan curiga dengan saling percaya.
Menanam kasih yang tak akan pernah terpisah.

Jika semua tanpa jalan Tuhan.
Harusnya denganmu tak perlu mencari.
Atau bahkan rasa ini tak pernah ada.
Jika semua tanpa jalan Tuhan.
Harusnya denganmu tak perlu mencari.
Kita bisa saling menjaga dan memeluk untuk saling menghabiskan rasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^