Jumat, 24 Agustus 2018

Apakah ini yang sebenarnya?

Rasanya pagiku hampa.
Tapi aku mulai terbiasa.
Bahkan, aku kini mampu lewati sakit ini tanpa terasa.
Apakah kehampaan yang lebih memenuhiku?

Aku tau aku yang salah.
Aku yang bersalah dengan segala keputusanku yang mengira kau dewasa.
Ternyata tak lebih dari anak kecil manja yang sungguh buatku mengelus dada.
Iya, semuanya terletak pada keputusanku yang ternyata tak lebih hanya dalam anganku.

Aku juga bukan wanita baik-baik yang seperti diharapkan.
Aku bukan wanita yang bisa memberi segalanya.
Yang terpenting dari itu semua, kecewaku membuatku takut melangkah lebih jauh untuk mengenalmu.
Dan menguburkan rasa ini.

Jika perasaan yang kurasa bagimu tak penting dan akhirnya kita tetap bersama.
Aku tak yakin.
Apa baiknya kita sendiri-sendiri saja untuk waktu yang lama?
Menikmati kesendirian dengan intropeksi diri.
Tapi rasanya diammu, sungguh kini kuterbiasa dan acuh tak acuh.

Jika komunikasi menurutmu bukan hal terpenting.
Itu sungguh bukan kebiasaanku.

Ada banyak hal yang memang sangat berseberangan aku dan kamu.
Aku tak pernah ada rasa. Dulu saat ku akhirnya memutuskan menghabiskan waktu denganmu. Aku sudah punya kekasih. Dan dia ada denganku saat malam itu.
Aku memang tak sampai hati menjelaskan ini padamu.
Kita tak pernah ada ikatan. Jika memang ini takdir seperti katamu.
Justru ingin rasanya aku menolak takdir itu.
Seperti takdir yang menolakku dengan orang yang sudah kusayang namun kenyataannya dia tak denganku.

Aku tak pernah suka lelaki lebih muda. Dan nyatanya usia kita memang berbicara segalanya.
Latar belakang pemikiran kita yang berbeda. Bukan perkara basic education kita.
Semuanya yang dulu kumklumi rasanya sudah cukup buatku lelah dengan segala apa yang menurutmu benar.

(Inikah yang selalu membuat aku tak bisa bertahan lama dalam berhubungan? Lalu bagaimana aku dan dia yang hampir sewindu ini? Lalu mereka yang hampir 662 hari menemani hariku yang nyatanya kukecewakan?)

Aku bertanya berkali-kali dalam sepiku, apa aku yang memang tak bisa berpikir jernih?
Pikir pakai perasaan? Perasaan yang bagaimana lagi, yang remuk redam begini mau dibuat mikir.

Aku tak bisa. Jika kamu mengenalku. Aku tak pernah ingkar dengan kata-kataku. Aku bisa berikan yang terbaik. Tapi rasanya yang kulakukan belum cukup dalam nanarmu.

Aku berpikir lagi, apa tiga bulan awal dan sampai akhirnya kutau engkau dengan yang lain hanyalah hormon serotonin dan feromon yang sementara?
Dan setelah itu hilang?
Hari demi hari rasanya begitu cepat. Begitu pun hari yang sudah kita jalani dalam menjalin ikatan tak jelas ini.

Tapi aku menikmati ketidakjelasan ini.
Aku sudah bilang bukan wanita baik-baik.
Aku lebih suka bekerja.
Dan jika kini kau merasa aku berubah.
Tanyakan lagi di hatimu. Siapa yang berubah?
Keadaan? Dan aku tak di sana?
Realitasnya aku tak di sana.
Bukankah memang itu alasannya kita terpisah jarak. Berat diongkos katamu. Sampai di hari bahagiaku pun kau tak datang. Miris.

Tapi memang itu tak penting. Do'amu yang entah aku kau do'akan atau tidak. Aku sudah tak peduli lagi.

Jika kau ingin menjagaku. Nyatanya kau tak pernah menyentuhku. Apa aku yang kelewat berpikir kotor kalau kau tak tertarik denganku?
Dengan segala kurangku.
Jujur, aku tersinggung, bahkan ketika hanya berdua.
Kau bilang karena jaga-jaga.
Nyatanya kedewasaan dan kini aku sadar, kau memang belum dewasa.
Sampai akhirnya lebih milih bermaon dengan wanita lain yang secara fisik memuaskanmu. Dan semakin kau lepaskan suntukmu dengan memandangi mereka.

Muak aku rasanya.

Jika ini cemburu, rasanya bukan.
Jika lelaki lain juga melakukan ini, rasanya tidak.
Dan jika yang telah lalu kau yang membodohiku, yah kau berhasil.
Otakku bagian amigdala-lah yang mungkin harus disalahkan karena terlalu berharap.

Nyatanya kau dari awal memang hanya melihat diriku tak lebih dari peruntunganmu yang dikirim Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^