Jumat, 27 April 2018

Tralala

Harus sampai kapan aku dibuat kecewa?
Atau memang seyogyanya aku yang terlalu perasa?
Ingin mendengar tetapi malah pergi.
Mendengar dari hatikah?
Atau telepati rasa?
Harus bertapa berapa lama?

Katanya ini adalah sabar.
Cara yang lebih membuat hati lebar.
Menerima tanpa disakiti.
Berjalan lagi menembus waktu untuk berlari.

Rasanya dé javu berkali-kali dalam pikiranku.
Dan otakku meregakan upaya tentang masa depan daripada yang aku kira.
Ketika semua tentang masa depan kita anggap masa bodoh.
Semua yang terekam rasa, rasanya terulang lagi seperti masa lalu.

Dan.....
Kesemuan menanti membuat ingin bersumpah serapah.
Berlari ke jembatan sepi.
Berteriak kebun binatang dengan segala rasa khilaf nanti.
Mulai dari semut hingga jerapah.

Aaahhh....
Kenapa kesal sekali rasanya tadi.
Sendiri berteriak seru.
Seakan EMPATI mati untuk dipatri.
Layu untuk dibuat menjadi lebih angkuh.

Huruf demi huruf terangkai menjadi kata.
Lalu menjadi kalimat satu.
Sedikit polesan menjadi prosa.
Dan goresan kata idiom untuk melukiskan kerengganan perisa malam.

Hah? Aku ini bicara apa.
Hanya kelelahan karena menanti.
Atau karena fatamorgana kearoganan semu yang diciptakan diri.
Menjadi sesosok potret dalam ilusi hati.

Aaahhh..
Kata andalanku keluar lagi kan...?
Apa?

ENTAHLAH❣❣❣❣

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^