Mulai tergugu ku menjalani hidup.
Sesak nafasku seakan sudah jenuh dengan kekhilafan.
Semua layaknya keserakahan akan ada maka dia ada yang menjadi alasan.
Tanpa tahu mengapa.
Tanpa peduli harus bagaimana.
Semua terkurung dalam ego.
Berpuluh tahun kumaklumi, bahkan menerima bahwa memang ini harus diterima.
Semua seperti prosa lama.
Mengulang lagi episode gila yang semakin mengerti mengapa kebodoham melewati masa hibernasi yang tak kunjung usai.
Aku yang terlalu perasa? Benarkah?
Berkali-kali ku sesaki dan ku jejali diri jika ini memang seharusnya.
Bahkan kupasrahkan diri dengan berharap perubahan yang berarti mulai menapakiku dengan indah.
Semua hanya sampah!!!!!
Perhtikan kata-kataku! Hanya S.A.M.P.A.H!!!!!
Keegoisan seperti menjadi raja.
Berlari menghunus pedang dan siap mencabik ketika kulewat.
Bahkan nuraniku yang berkata cukup ku tepis karena ini memang jalan yang harus kujalani.
Ini jalan berliku yang hanya setapak.
Namun penuh belukar, dan tak ada jalan lain lagi.
Ah, kupaksakan memangkasnya satu persatu tetapi belukar ini seperti tahu aku begitu rapuh bahkan menyayatku berkali-kali.
Se*an! Harus ku maki-kah di depan mereka agar mereka mengerti?
Jika memang yang mereka tawarkan materi, aku siap. Dengan kedua tanganku ku buka lebar mendongak dan meminta berapa-pun yang aku mau.
Tapi ini tidak begitu.
Bahkan, hati yang lelah harus terkoyak lagi dengan ungkapan tak tertatap, dan menjadi do'a dari bibir sang surga.
Tak perlu lagu sendu untuk buatku menangis melihat hidupku saja sudah bisa membuatku terkuku dan diam.
Ingin berlari tapi seperti terjerat dalam kehampaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^