ia tersenyum memandangku. kali ini ia bersama seseorang. laki-laki. dan dia baru mengenalnya. laki-laki itu cukup baik. cukup humoris. dan aku menyukai humornya yang berkelas dan tahu bagaimana caranya memuji wanita. bahkan perempuan yang enggan bercinta itu, sempat tertawa lepas sesaat sebelum akhirnya laki-laki itu pergi setalah meminta contact person dari perempuan yang kusebut 'Hitam'. dalam mataku cukup kuamati saja perempuan ini dengan pandangan sayuku sendiri. dengan lembut ia meraih pipiku. sambil berkata semua baik-baik saja. aku kaget, apa maksudnya? kemudian ia bercerita seperti pendongeng ulung. persis seperti yang dilakukan ayahku dulu ketika aku kecil. yang bertahan selama usiaku 5-7 tahun. setelah itu, jangan tanya. kenangan indah tetap ada. tetapi tidak ada dalam memoriku. ia tahu aku mengamati wajah sendunya. ia bilang cinta itu tak mudah. dan ia merasa kesulitan untuk mencintai dirinya sendiri. mengenal aromanya sendiri. aku hanya tertegun. apa yang ingin kau ceritakan?
demi seseorang ia pernah jatuh. demi seseorang ia pernah merasakan bahagia duniawi yang indah. demi seseorang ia pernah menjadi pencinta yang rela memberikan nyawa. demi seseorang ia pernah menangis haru tak berhenti bertahun-tahun. demi seseorang ia pernah memeluk cinta dengan rajutan kasih dan merasa melayang. berfatamorgana dengan guyuran hujan dan ia rela menangis bersama rintik-rintik air dari awan hanya untuk seseorang.
tetapi seseorang itu pergi.
ia ingin menggapai dalam pikirnya untuk dapat hidup tanpa dia. ia pernah ingin untuk mengakhiri hidup dengan rasa cinta yang membuncah itu. bahkan, ia rela menari dengan maut bahwa semua akan ia lepaskan. tetapi seseorang itu pergi. bahkan dengan kata maaf yang berwajah tanpa dosa. bisa kalian bayangkan? seseorang yang kau beri cinta dengan segenap jiwa dan hatimu, meninggalkanmu dengan kata maaf, tetapi wajahnya tidak menunjukkan kata maaf, seseorang itu hanya pergi dengan tangisan buaya hina, dan setelah itu ia hanguskan untuk selamanya.
selama ini perempuan ini menyimpan rasa dengan melihat pergelangan tangannya yang kecil. urat hijau yang senada dengan nadi bersama jantung yang berdetak. dengan keinginan menyayatnya, tetapi selalu hanya dalam khayal dan pecah pada kelenjar air mata dan dada yang menusuk. ia bercerita seperti pendongeng dengan nada kaset usang. tanpa ekspresi yang sesuai dengan jalan cerita yang ia ucapkan pada bibir merahnya. tidak ranum, tidak delima, tetapi tidak hitam juga dengan kebiasaannya merokok. cerita sendu yang ia ucapkan bahwa keingannya untuk mengakhiri hidupnya itu, ia ucapkan degan senyum bibir miris yang sangat kukenal. tak ada genangan air mata setitik pun pada matanya. hanya senyum getir. sambil menatapku dengan mata sendu lembutnya. aku? hanya duduk dengan kopi green tea-ku yang mulai dingin.
lalu aku memotong, apa itu yang membuatmu sedih? jawabannya, bukan. bukan rasa itu, tetapi menghentikan perasaan bersalah pada dirinya yang tak bisa mencintai dengan benar itulah yang membuatnya begitu sayu. untuk sebagian orang mungkin itu adalah hal yang tidak penting. tetapi untuk hidup yang hanya sekali ini. buatku, yah penyesalan selalu datang terlambat, tetapi kata penyesalan itu ada bukan untuk dikenang. penyesalan itu seharusnya masih tetap bisa kita nikmati, seperti kopiku yang hampir dingin ini.
aku bukan munafik. tetapi aku tahu, aku dan perempuan ini sama. ia terobsesi dengan kebebasan dan aku menginginkan kebahagiaan dalam hidup. oh, jangan ada dalam pikiran kalian aku jatuh cinta padanya seperti di film-film. aku masih normal untuk ukuran orang yang pesimistis tentang hidup. tetapi aku sadari, aku dan dia sama. mencoba bersikap dingin dan menikmati, mencari kesejatian hidup yang penuh misteri. berakhir seperti sungai yang tak lagi menjadi indah, bergitu busuk dan semakin digali kita tahu, kehidupan hanya tentang bagaimana kita bersikap. tidak akan ada penyesalan. penyesalan sejati itu bukan dari perkataan orang yang di negara ini begitu peduli dengan anggapan apa kata orang. dan penyesalan yang ia rasakan, bukan datang dari itu semua. penyesalan sejati datang ketika kau tak menikmati momen itu, dan bersikap sebagaimana mestinya.
dalam imajiku ketika detak-detak jam berdetk dalam keheningan. diikuti suara televisi yang meramaikan, atau agar orang-orang dari setiap meja tidak tahu apa yang diicarakan oleh meja sebelahnya. kunikmati kopiku yang sepenuhnya tidak dingin, tidak panas. biasa saja. seperti diseduh air putih. tetapi rasanya cukup membuatku nyaman. perempuan itu pamit. dan aku tetap sendiri, ku putuskan untuk pulang dengan berjalan. menatap kosong jalan di depanku, berusaha menjaga keseimbangan agar tetap lurus kemana mau da tujuanku. langkah kakiku begitu berat. ingin menangis saja malam ini. tapi air mata ini tak mau pecah. ia tertahan di sesenggukan dengan mataku yang mulai berkaca. Tuhan..... perempuan itu, perempuan ini, perempuan-perempuan dalam hidupku, bahkan laki-laki yang hadir alam kisahku. apakah salah dengan jalan hidupku yang sekarang? sedang tersesatkah aku? aku bukan lagi pemuja dan pujangga. kuputuskan untuk menutup mata. tetapi mata ini tak mau terpejam. terjaga hingga dua jam. hujan datang lagi. gerimis. aku......... berjalan saja dalam mimpi dan imaji. langkahku kuteruskan saja sekalipun banyak yang memaki dan mencaciku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^