Minggu, 24 Juli 2016

Apa memang selalu begitu?

Ada banyak cerita yang kutahu semua berakhir sama. Entah dalam film, novel, bahkan drama yang jelas-jelas kenyataan tak akan bercerita secara dramatis seperti itu. Tapi kenyataan yang kujalani.... Apakah nanti juga berakhir begitu? Semua seakan menjadi sugesti.

Bahkan, aku kuliah sekarang pun seperti jalan salah yang telah kuambil. Hanya untuk sebuah gelar. Gelar yang dulu kuyakini mampu membuat bangga. Sarjana. Aku kadang berpikir, apa hanya aku manusia yang berpikir mendapatkan ijazah atau gelar ini menjadi sebuah penyesalan? Atau hanya aku satu-satunya orang yang diberi kesempatan dan menyia-nyiakannya? Dengan alasan keadaan pribadiku yang sekarang? Aku akui, aku orang yang berbeda sekarang. Bukan lagi Fall yang dulu. Dan aku tak menyesali perubahanku ini. Justru pilihan-pilihan yang dulu kubuat, dan masih kujalani hingga saat ini, membuatku banyak merasakan penyesalan.

Mengapa dulu tak kuambil jalan yang lain? Tetapi mengenal mereka semua. Menjadi suatu kehormatan. Yang mungkin, apabila kuambil jalan lainnya, aku tidak akan bertemu mereka. Yang saat ini, beberapa membuatku merasa seperti pecundang terbesar. Haha. Bukan, aku tak mengolok mereka. Justru menertawakan diriku. Yang mungkin sedang mereka lakukan di belakangku.

Apa semua berakhir seperti yang kuharapkan?

Entah apa yang merasukiku atau memang banyak hormon yang berubah dalam diriku. Tetapi aku menikmatinya. Sungguh. Bahkan, bertemu perempuan-perempuan yang sempat kuceritakan sebelumnya membuatku percaya. Hidup ini memang tak mudah.

Menangis sendirian pun. Terlintas untuk mengakhiri hidup pun, pernah terbang dalam pilihan hidup yang kupilih. Yeah, aku tahu. Aku sangat lemah. Bahkan, pelangi yang dulu kuanggap indah, tak lagi sama di mataku. Hanya kesemuan. Yang memang indah tetapi kehilangan makna. Dan kita manusia, hanya menikmati itu. Keindahan... Tanpa tahu makna-makna sejati apa tujuan kita untuk hidup. Jujur, kesuksesan bukan tujuan hidupku. Aku mencari bahagia. Bahagia seperti apa? Bahagia yang bahkan aku sendiri ingin menghapus segala sesak hidup ini. Yang seperti tadi kutuliskan, andai dulu aku memilih sisi yang lain.

Aku bukan orang yang pandai memulai interaksi. Bukan orang yang mudah akrab, jika memang seseorang itu tak membuka diri padaku. Aku bukan ingin mengunci diriku. Aku juga bukan orang yang ingin diremehkan. Jauh dari itu semua.... Tidak ada yang mengenalku. Mereka anggap, saat aku diam, aku menyukainya. Saat aku tersenyum, aku menikmatinya. Saat aku bersedih, aku merenungkannya. Saat aku menikmati, aku menginginkannya. Bahkan, saat tersenyum getir adalah pilihan terakhirku untuk melewati hariku, di mata mereka, aku hanya memanjakan diriku. Semua bisa saja hanya kamuflase.

Seperti fatamorgana. Dan di dunia ini, aku hidup bukan untuk diriku. Dalam budaya ini. Harusnya aku bisa memutuskan. Tetapi aku masih takut. Jika masalahnya uang. Yah, salah satu kendala utama. Namun, andai aku lebih berani. Senyuman ini, tak perlu diwarnai tangis diam-diam pada malam harinya.

Samudra senja, 11:40 pm.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^