Sudah berapa lama aku mendekam diam?
Bahkan, badai datang tak ku hiraukan.
Apa sekarang memang sedang ingin?
Ah, aku tak tau.
Memandang langit yang tak sama. Begitu abu-abu. Bukan aku tak suka. Hanya saja, langit seperti tau apa isi hatiku. Putih dan biru bukankah lebih indah? Bahkan senja begitu pudar. Merindukan diriku yang bisa berlari juga tidak pernah sesulit ini. Apakah memeluk bulan selalu penuh dengan jalan yang begitu rumit begini?
Sudah kubuka mata, tapi rasanya masih tetap ingin menatap lebih bebas. Memandang luasnya langit yang kuanggap laut. Dan burung-burung yang terbang bebas itu ikan. Indahnya....
Jangan bilang kalau saat ini, lebih omong kosong dari biasanya. Bahkan, aku tak merencanakan semua, tapi sakit ini begitu saja hadir menikam berkali-kali. Apa perasaan ini selalu saja benar? Ingin kumaki saja diriku sendiri. Bahkan menjadikan diriku berkeping-keping begini.
Yah, mungkin aku sudah gila. Begitu gilanya, bahkan saat aku tau. Semua ini tidak bisa hanya jadi kesalahanku. Terlalu baik? Aku bahkan tak tau mana orang baik dan tidak. Buatku, sama saja...
Aku ingin pulang. Entah pulang kemana pun aku rela. Dengan siapapun yang memelukku setelah tau kekuranganku, aku akan terus di sampingnya. Terlalu mustahil, ya? Rasanya seakan matahari tau betapa bodohnya aku mematikan diri perlahan. Pilunya, mereka pun tertawa. Seakan tertawa, tanpa kusadari, tanpa kumengerti, seakan dosaku dan aku adalah yang paling hina.
Apa mengenalnya juga bagian dari cerita? Apa bertemu tak sengaja juga bagian dari rasa yang harusnya terimpan di pandora? Aku ingin lepaskan semua. Bukan untuk lari. Tapi memulai lembar baru. Tanpa membuang lembar usang yang sedikit terbakar, cukup menutupnya. Agar tak menghantui seperti hari ini. Seakan dosaku ini begitu brutal untuk aku, yang wanita ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih ^_^