Senin, 03 Oktober 2016

gomen ne, sayonara Pride...

Maaf aku tak bisa menepati janji. Maaf. Aku lebih memilih mengucapkan selamat tinggal dengan begini. Entah kau akan membenciku, mengutukku atau justru sebaliknya. Bertemu denganmu akan menjadi rantai dalam ikatan merah lagi. Sedangkan aku, menginginkan untuk melepaskan semua. Seharusnya sejak aku tahu, aku lebih memilih menjauh. Tapi kenyataannya, aku tak akan pernah bisa menjauh. Semua tentangmu cukup menguras air mataku dan membuatku seakan-akan ingin mengulang waktu. Itu semua bukan apa yang aku mau. Ku harap kau mengerti.

Banyak pertanyaan yang ingin kutumpahkan bersama amarah, hingga aku memutuskan akan lebih baikkah jika kau membaca ini?

Kenapa dia? Atau memang sudah lamakah kau berencana dengannya? Aku ingin berteriak, mengapa bukan aku?! Apa karena terlalu bodohkah? Hingga tak ada tantangannya? Atau aku terlalu terenyuh dengan semua kemanisanmu yang tak pernah kucela dan hanya kupendam sehingga dengan indahnya kau mainkan saja bermain peran 'seperti tak terjadi apa-apa'? Aku juga ingin kau menjawab semua pertanyaan yang hanya ada dalam kepalaku ini. Bagaimana mungkin semua yang telah pergi datang lagi tanpa permisi dan.... Begitu saja semua terjadi dan mempermainkan perasaan hingga campur aduk tak keruan. Ini hanya rasa yang hampir 8 tahun terbendung dan tak akan pernah berubah. Kau mengenalku dengan sangat baik. Seandainya hari ini kita bertemu. Aku mungkin memilih untuk tetap di sampingmu. Tetapi hati kecilku mengatakan sebaliknya. Menutup hati dengan segala cara agar kau tak pernah masuk lagi meski dengan memohon, kau pikir mudah? Iya, aku akan belajar menjadikan semua menjadi mudah.

Kita, cukup menjadi ulasan kata dengan kenangan dalam kepala kita. Aku tak akan pernah menyalahkan takdir yang mempertemukan dan memilihmu, aku tak akan pernah menyesal. Cinta pertama memang akan selalu menyenangkan, begitu juga kau. Tapi takdir yang kau pilih bukan aku. Mengertilah untuk pilihanmu yang terakhir, kau telah menjadi dermaga untuk kapal dan menjadi rumah jangkar serta tempatnya pulang. Jaga janji yang kau ucap. Aku akan dengan senang hati menjaganya juga. Maafkan aku yang sempat egois memilih menyakitimu. Datang dan pergi seenakku, begitu pula dirimu. Mari kita hentikan keegoisan kita. Kau tahu, kita bukan lagi anak SMP dan SMA yang dengan gampang datang lalu pergi. Berganti baju, makan, lalu meninggalkan semua tanggung jawab dan kita tersenyum gembira, bermain seakan melupakan semua masalah.

Lepaskanlah. Aku tahu kita tak akan pernah saling melupakan, tetapi memilih meninggalkan untuk kali ini cukup indah tanpa perlu tahu air mata masing-masing dalam pelukan yang sekali kurasakan, kau tahu tak akan pernah mudah untuk terlepas. Dan kita perlu untuk belajar melepaskan.
Mari kita tidak usah bertemu lagi. Cukup untuk saling tersenyum dengan hidup yang kita pilih. Dan jangan pernah menyesal kita menjalaninya. Buat hidupmu penuh dengan bahagia. Jangan lupa untuk tersenyum, bahkan ketika mengingat kenangan paling pahit. Maaf. Terimakasih banyak. Mari kita bahagia.

Setidaknya berjanjilah pada dirimu sendiri untuk kalimatku yang terakhir. :’)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih ^_^